
"Kamu tidak ingin memiliki keluarga yang bahagia seperti itu" Davina berbisik ditelinga Sam. Sam pun langsung berpaling, tanpa sengaja bibirnya menyentuh hidung mancung milik Davina. Pipinya pun langsung memerah.
"Kalau mau minta kiss bilang saja. Tidak usah curi-curi ciuman seperti ini".
"Cup" Davina langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Sam.
Sam terdiam menerima serangan mendadak dari Davina. Agresif, Davina memang agresif. Tapi Sam menyukainya. Sebab, dia tipikal pria yang tidak romantis dan tidak bisa berbasa-basi dengan wanita. Davina pun meninggalkan Sam yang terdiam karena sebuah ciuman yang dia berikan. Davina sangat suka melihat sikap malu-malu dari Sam seperti itu. Hal itulah yang membuat dirinya begitu penasaran dan menyukai Sam. Davina merasa umurnya sudah tidak muda lagi, makanya dia tidak malu untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tergolong perempuan yang sulit untuk jatuh cinta dan ditaklukan oleh pria. Namun bila dia sudah mencintai seseorang maka kesetiaan darinya tidak perlu diragukan lagi.
"Do you like him?" Darren tiba-tiba muncul dihadapan Davina.
"Oh gosh".
"I thought you were a ghost bro" Davina terkejut dengan kehadiran kakaknya yang muncul dihadapannya.
"What?".
"Look at me. Kakakmu yang masih tampan dan rupawan ini kamu anggap hantu" cebik Darren tidak terima.
"Come on. Jangan mendo'akan kakakmu ini
cepat mati. Aku baru saja bangun dari koma yang begitu lama dan bisa menikmati waktu bersama cucu-cucuku sekarang ini. Do'akanlah aku panjang umur sissy" Darren berujar seolah meraju.
"Hei bro. Apa tidak terbalik? Kamu yang mengagetkan aku. Apa kamu ingin aku terkena serangan jantung?" Davina tidak kalah kesalnya dengan kelakuan kakaknya yang labil seperti ABG. Tidak pernah berubah usilnya.
Sejak dulu memang Darren suka menjahili adiknya tersebut. Dia selalu suka bikin onar. Mereka seperti Tom and Jerry kalau lagi kumpul berdua. Mungkin karena jarak umur mereka yang begitu terpaut jauh, hingga membuat Darren selalu menganggap adiknya itu seperti anak kecil hingga sekarang. Jika orang yang tidak tahu, mungkin akan menganggap Davina anaknya Darren atau istri mudanya.
"Tapi kan kamu tidak memiliki riwayat sakit jantung my little sissy" Darren mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar, kakak tidak punya otak. Sini aku bongkar isi kepalamu itu" Davina berlari mengejar Darren. Hal itu menjadi tontonan yang sangat lucu bagi semua yang melihatnya. Cucu-cucunya Darren ikut tertawa, melihat keseruan opanya dan gemmanya. Oma Rachel pun tak kalah ikut tertawa. Sudah tua masih bermain kejar-kejaran.
__ADS_1
"Mereka memang saudara yang akrab dan kompak" ucap oma Rachel. Kanaya pun mengangguk, setuju dengan ucapan oma Rachel. Pengejaran berhenti ketika Davina mendorong Darren terjatuh ke dalam kolam renang.
"Help. Help".
"Kakiku keram" teriak Darren yang hendak tenggelam. Davina yang melihat kakaknya hampir tenggelam tanpa pikir panjang langsung bercebur ke dalam kolam renang untuk menyelamatkannya. Semua yang hadir pun ikut panik karena jeritan Darren tadi. Mereka pun kini berdiri di pinggiran kolam renang. Setelah Davina berhasil meraih Darren.
"I got you" Darren pun tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu Davina. Melihat kakaknya seperti itu Davina marah dan memukuli Darren. Setelahnya dia menangis dan menjerit.
"Hey. Hey. What's wrong?".
"I'm just kidding" Darren menjelaskan perihal jeritannya tadi.
"It's not funny" Davina semakin menangis kencang.
"Aku pikir tadi bakal kehilanganmu lagi" isak Davina yang kesal karena candaan Darren yang dianggapnya tidak lucu. Davina tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya sekarang. Dia rindu momen-momen ketika Darren membawakan boneka untuknya. Menghabiskan waktu jalan-jalan bersama istrinya dan juga almarhum Radit. Darren lebih dari sekedar seorang kakak bagi Davina. Dia seperti sosok pengganti papinya. Darren dapat merasakan betapa takutnya Davina kehilangan dirinya.
"Jangan bercanda seperti itu lagi kak" semua yang melihat kejadian tadi merasa terharu. Adrian pun tersentuh dengan sikap Darren. Terlihat sekali dia sangat menyayangi Davina.
"Hey boy, berenang sama kakek" ajak Darren kepada Revan.
"Ma" Revan meminta izin kepada Kanaya terlebih dahulu. Kanaya pun mengangguk memberi izin kepada anak bungsunya itu. Kemudian Revan pun ikut bercebur bergabung dengan kakek dan gemmanya.
Tony yang jahil, memiliki ide yang cukup cemerlang. Sudah lama dia tidak menjahili bos usilnya sekaligus sahabatnya itu. Melihat Adrian yang lengah Tony langsung mendorong Adrian masuk ke dalam kolam renang. Adrian yang terkejut tak bisa mengelak hingga tercebur masuk. Dia pun kini telah basah karena ulah Tony.
"Hahahaha. Papa mau ikutan mandi" teriak Revan yang merasa senang melihat ayah sambungnya ikutan main dalam kolam renang bersamanya.
"Tony" teriak Adrian.
Namun Tony justru meledek Adrian dengan gerakan mulut dan matanya. Hal itu membuat Revan terus tertawa. Adegan lucu ini menjadi tontonan yang menggemaskan bagi semuanya. Tak mau kalah jahil dan usil, kini giliran Mely yang mendorong Tony hingga terjatuh ke dalam kolam renang.
__ADS_1
"Ooops. Sorry! Tanganku licin bro" Mely mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Adrian memberikan jempol atas tindakan Mely tersebut. Adrian pun langsung menjitak kepala Tony dan memasukan kepalanya ke dalam air.
"Hei Mel, sekali-kali kamu dukung aku dong. Kenapa kamu selalu berpihak sama Adrian terus" Tony seakan tidak terima atas balasan yang diberikan oleh Mely.
"Lagi jahil. Lagi usil. Bakalan tidak aku gajih kamu nanti".
"Tidak apa-apa bro kamu tidak menggajih aku. Nanti aku minya duit sama oma. Weeek" ledek Tony ke Adrian.
"Iya kan oma" oma Rachel melingkar jari membentuk bulatan tanda ok. Niki pun tak mau ketinggalan kegembiraan ini. Dia mendorong oma Rachel supaya ikutan main air dan basah-basahan dengan yang lainnya.
"Sorry ma" teriak Niki. Angga dengan sigap menggendong istrinya yang kini telah lengah. Dia pun menceburkan dirinya yang tengah menggendong Niki. Akhirnya mereka berdua pun ikut basah dan mandi air bersama dalam kolam renang.
"Makanya jadi anak jangan durhaka. Kualat kan. Hahahaha" oma Rachel tertawa senang.
Sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan yang penuh kekonyolan seperti sekarang. Akhirnya acara baby shower tidak hanya dilakukan oleh Kanaya melainkan yang lainnya. Randy dan Raniya pun tidak mau ketinggalan dalam keseruan ini, mereka berdua pun ikut menceburkan diri untuk bergabung dengan semuanya kini asyik bermain air. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kebersamaan bisa menciptakan tawa dan senyum bahagia. Itulah arti bahagia pada sejatinya.
*****
Darren menikmati malam dengan secangkir kopi dan sebatang roko untuk menemaninya malam ini. Dia tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan berwarna seperti ini. Semenjak kematian Radit, Darren merasa hidupnya hampa dan tak bersemangat lagi. Dia melupakan orang-orang terdekatnya yang selalu peduli dan menyayanginya. Dia melupakan Davina yang akan hidup sebatang kara jika dia meninggalkan dunia ini. Dia lupa akan keberadaan cucu-cucunya yang kini telah mewarnai hari-harinya. Merubah hidupnya menjadi lebih semangat lagi.
"Maaf, bolehkah saya duduk disini" Sam berbicara dengan begitu sopan kepada pemimpin keluarga Marven yang paling dihormati dan disegani. Darren pun terkejut saat mengetahui kalau Sam yang tengah mengganggu kesendiriannya saat ini.
"Oh tentu saja. Lagi pula sepi kalau duduk sendirian tidak ada teman mengobrol" dengan ramah Darren membalas sapaan dari Sam. Sam pun duduk disamping Darren.
"Bukankah kamu pria yang disukai oleh adik saya?" Darren berbicara secara to the point tanpa basa basi. Mendengar hal itu Sam langsung merinding dan merasa kengerian. Aura seorang Darren yang begitu mematikan benar-benar terasa begitu jelas saat ini. Kini bibir Sam membeku seakan tak mampu untuk membuka mulutnya.
"Itu" Sam tergagap mengucapkan satu kata tersebut.
"Apakah kamu ingin menikahi adikku?" Sam terkejut mendengar pertanyaan dari Darren.
__ADS_1