
Tanpa ada arahan dari siapapun dan aba-aba, Randy langsung memulai aksinya. Dia berlari membuka pintu yang baru saja ditutup oleh Davina. Davina yang sebelumnya masih berpikir bagaimana cara untuk mengalahkan musuh yang lebih banyak dari mereka. Kini harus berlari mengejar Randy yang membabi buta melepaskan tembakan. Dengan gesit Randy berlari dan bergerak lincah menghindari tembakan. Gerakannya persis seperti film matrix. Meliuk, berputar serta berguling.Tidak hanya menembaki musuhnya, tapi dia juag menyerang menggunakan pisau. Menyayat tangan, melukai kaki ataupun menusuk pada tubuh musuh.
"Daebak" Raniya kagum dengan aksi abangnya tersebut. Dia benar-benar sungguh terpesona dengan kehebatan aksi dari Randy.
"Oppa. Kamu keren bingits" jerit Raniya yang bersorak girang.
"Aku tidak boleh kalah keren, aku juga anak mafia" celertuk Raniya.
"Kak, kita keluar juga yuk. Masa cuma bang Randy saja yang bisa keren seperti mafia-mafia. Kita juga dong" Revan memegang dagunya dan berpose keren. Anak-anak Kanaya, kini sifatnya sama persis dengan Adrian. Meski tidak sedarah entah kenapa, semuanya memiliki sifat hampir sama dengan Adrian. Kalau ditanya apakah Radit seperti itu. Jawabannya tidak, dia pria yang cinta damai dan tidak suka bersikap keren tapi lebih ke humoris.
"Kuy, gas" Raniya membulatkan tangannya memberi kode OK.
"Gimana kalau kita saingan, siapa yang lebih banyak melumpuhkan musuh dia yang menang? Bagaimana kak?" Revan mengajak taruhan Raniya. Anak sekecil Revan, kini sudah tidak terlalu suka yang namanya bermain mobil-mobilan. Tapi lebih suka permainan yang ada unsur war.
"Ok, biar lebih semangat mengalahkan mereka".
"Gimana kalau yang kalah membayar uang sebesar dua juta rupiah" Raniya mencoba memberikan nilai taruhan yang cukup menggiurkan. Raniya ingin membeli satu set pakaian ala-ala mafia wanita yang pernah dia lihat di salah satu aplikasi e-comerse jual online.
"Ok, deal" jawab Revan.
"Sekarang eksekusi dari hasil main gameku selama ini" ujar Revan dengan semangat. Dia memang sangat menggemari permainan yang beradu kecepatan menembak musuh. Menembak dalam game bukan hal yang sulit baginya, sebab dia sering menang dalam pertempuran. Kalau untuk the real action, ini adalah aksi keduanya. Setelah kejadian dilapangan.
"Aku harus lebih mengembangkan kehebatanku. Aku harus seperti bang Randy" gumam Revan dalam hati.
Revan dan Raniya saling mengangguk. Keduanya pun langsung keluar ikut aksi tembak menembak. Badan Revan yang kecil, membuang dirinya sangat mudah menghindari. Larinya yang lumayan kencang dengan mudah menerjang musuhnya dengan meluncurkan beberapa tembakan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh" Revan menghitungi korban yang berjatuhan akibat menerima serangan darinya. Raniya hanya geleng-geleng kepala dengan adiknya itu. Sedangkan dirinya, tidak menghitung musuh yang sudah dia lumpuhkan. Raniay lupa dengan perjanjian yang dia buat dengan Revan tadi.
"Ah, bodo amat. Mau berapa banyak sudah yang kutembaki, yang penting keselamatan lebih diutamakan. Jangan sampai aku tertembak" ucap Raniya cuek.
__ADS_1
Melihat tiga bersaudara yang penuh semangat untuk menang mengalahkan musuh. Membuat anak buah Adrian juag ikut bersemangat. Merek tidak mau kalah dengan anak kecil seperti mereka. Dengan serentak mereka ikut bertempur. Fokus utama, tetap melindungi tiga serangkai tersebut. Ternyata, jika mereka bersatu. Akan sangat mudah mengalahkan musuh. Seandainya mereka masih bersikap pesimis seperti tadi, mungkin mereka sudah kalah jika diserang musuh terus menerus tanpa perlawanan.
"Revan, awas" teriak Davina kemudian meluncur ke arah tubuh Revan.
"Dor" satu tembakan bersarang di bahu sebelah kirinya. Tubuhnya kini menindihi tubuh kecil Revan.
"Gemma" teriak Revan terkejut serta meringis sakit karena ditindih oleh Davina. Namun raut wajahnya seketika memucat, ketika melihat Davina terluka karena menolong dirinya.
"Gemma, maafin Revan yang ceroboh" Revan sedikit mengalami syok melihat kejadian tadi.
"It's fine. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan diri kamu. Ini hanya luka kecil" Davina mengelus wajah Revan yang memucat.
"Brak" sebuah mobil masuk dan langsung menabrak beberapa musuh yang ada di dalam halaman. Sang pengemudi pun langsung menembaki mereka semua dengan dua pistol dikiri dan kanan tangannya.
Dia pun langsung menghampiri Davina, menariknya sert menggendong Revan untuk dibawa ke tempat yang lebih aman. Sam, dialah yang baru saja datang. Dia sengaja memutar balik pulang setelah mengantarkan Adrian.
Flashback on
"Tentu bos, kan bos sudah janjian juga dengan mereka" jawab Sam. Dia mengira, Adrian tengah membicarakan Tony, Mely dan juga Fery.
"Bukan, tapi mereka yang tengah mengawasi perjalanan kita kemari".
"Aku memiliki firasat buruk, sebaiknya kamu langsung pulang saja ke markas. Aku merasa cemas dengan anak-anak" ujar Adrian dengan pikiran yang menerawang.
"Apa bos yakin?" tanya Sam. Dia juga merasakan hal yang sama. Namun pikirannya mencemaskan Davina. Wanita yang dia anggap kurang satu ons.
"Tentu aku yakin. Kamu langsung pulang, jika mereka menyerang kamu diperjalanan. Sudah bisa dipastikan, markas diserang. Kamu harus sesegera mungkin datang ke markas. Kamu paham" Adrian menatap serius kepada Sam. Kini hanya dia yang Adrian harapkan saat ini.
"Baik bos, saya akan melaksanakan perintah bos dengan baik" jawab Sam tegas.
__ADS_1
"Kamu hati-hati" ucap Adrian sebelum keluar dari mobil dan menyapa tiga orang penting dalam organisasinya.
"Tuan, sepertinya Devan akan beraksi hari ini. Sebaiknya tuan Robert segera kirim yang lain ke markas selatan" Sam menghubungi pimpinan kelompoknya. Yakni, pak Robert yang menjadi pengawal pribadi Randy.
"Bertahanlah selama lima belas menit. Kami akan segera kesana" jawab pak Robert. Kebetulan, memang pak Robert sedang berada di daerah sana bersama beberapa orang kepercayaannya. Serta juga Miko yang merupakan pengawal pribadi Revan. Oma Rachel memang sengaja menyurh Robert menyusul kesana. Sebab, dari info yang dia dapat. Devan tengah bersiap untuk menyerang.
"Baik tuan" jawab Sam. Saat menuju ke markas dia dihadang oleh sebuah mobil hitam. Mereka memberikan tembakan ke arah mobil yang dibawa oleh Sam. Tak perlu banyak gaya Sam langsung menabrak. Kemudian menembaki mereka semua dengan cepat. Cara Sam memang sedikit ekstrim, namun cepat terselesaikan. Sam mengambil semua senjata milik orang-orang yang menyerang dirinya.
"Lumayan" cengir Sam senang setelah mengambil semua pistol yang ada.
Flashback off
"Hah, ternyata kamu tak setangguh dan sehebat kata-katamu" cibir Sam ke Davina yang tengah memegangi luka tembaknya.
"Baru segitu saja sudah kesakitan" lagi Sam mencibir Davina maksud hati sebenarnya Sam tengah menggoda Davina. Padahal jauh dalam hatinya, Sam begitu sangat khawatir dengan Davina. Kondisinya dalam keadaan tidak baik, tapi dia tetap bertahan untuk melindungi anak-anak Kanaya.
Kemudian sebuah mobil datang lagi dan terdengar decitan yang nyaring dari suara gesekan dari ban yang direm. tembakan beruntun pun langsung bergema. Keseruan yang ada disana tidak bisa dilihat oleh Davina ataupun Revan. Sebab, mereka tengah berlindung dari serangan musuh. Sam meletakkan jarinya dibibir, menandakan untuk diam. Dan meminta mereka untuk tetap disana.
"Aku akan melihat keadaan disana dulu" kata Sam dan diangguki oleh Davina.
"Semoga saja bantuan yang datang tadi, kalau bukan bisa gagal pecah telor perjakaku".
"Ya Allah jangan ambil nyawaku dulu, hambamu ini masih perjaka" gumam Sam dalam hati yang merasa berat meninggalkan Davina dan Revan disana.
Sam pun mengendap kemudian mengintip. Secara perlahan mereka mendengar percakapan. Salah satu dari suara tersebut sangat begitu familiar di telinganya.
"Tuan Robert" teriak Sam saat sudah yakin itu suara kepala pimpinan kelompoknya Robert pun berpaling ke arah suara yang memanggilnya. Robert pun tersenyum, dia merasa ada kebanggaan kepada mereka yang mampu bertahan disana. Kebanggaan terbesarnya adalah Randy. Anak muda yang beranjak remaja tersebut, ternyata lebih mengesankan dari perkiraannya.
"Kamu memang bisa sangat aku andalkan" ucap Robert senang.
__ADS_1
Deru mesin mobil lain datang ke dalam halaman markas. Semuanya bersedia untuk menyambut, jika yang datang adalah musuh.
"Nyonya Kanaya diculik" ucap Rendy setelah membuka pintu mobil dengan tergesa. Bajunya penuh dengan cairan merah. Serta kepalanya pun juga berdarah, terlihat darah yang mengering menempel pada lehernya. Randy pun langsung menatap ke arah Rendy.