Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Chandra Tak Berkutik


__ADS_3

"What? Giselle"


"Kamu panggil aku tadi Giselle".


"Mata kamu itu rabun apa buta sih?" Kanaya memarahi Chandra yang telah salah menyebutkan nama dirinya.


"Lihat aku" tunjuk Kanaya kepada dirinya.


"Dari atas sampai bawah, aku sama Giselle itu beda jauh. Kayak langit sama bumi".


"Rambut Giselle warnanya blonde, rambutku warnanya hitam. Badanku lebih langsing dari Giselle yang baru saja melahirkan".


"Songong amat sih jadi penculik" jitak Kanaya dikepala Chandra. Seketika anak buah suruhan Chandra bersiap untuk menghampiri Kanaya.


"Mau apa kalian? Mau maju, sini maju. Beraninya keroyokan. Selangkah saja kalian maju. Dia bakalan ku bikin tinggal nama" Kanaya memperagakan tangannya yang mengarah pada lehernya. Artinya Chandra akan dia buat mati. Mereka pun langsung melangkah mundur. Sedangkan Chandra, dibuat gemetaran dengan ucapan ancaman dari Kanaya tadi.


"Berani sekali ya kamu mau menculik adik ipar aku. Mau mati kamu hah".


"Masih muda, kelakuan kayak penjahat. Seharusnya kamu itu bekerja keras biar jadi pemuda yang sukses. Setelah itu membina keluarga kecil agar hidupmu itu bahagia. Bukan berlagak jadi kriminal begini. Kalau masuk penjara masih mending. Coba kalau mati, sudah tidak ada kesempatan kedua lagi bro" Kanaya memarahi habis-habisan Chandra.


"Duduk disini" tunjuk Kanaya dilantai kamar penyekapan dirinya.


"Kalian semua juga duduk disini".


"Cepat" teriak Kanaya langsung membuat mereka patuh seperti kerbau dicucuk.


Busyet, aura ke mafiannya Kanaya kini terpampang nyata. Dalam balutan wajah cantiknya, tapi aura ketegasan begitu terpancar pada sorot matanya yang tajam.


"Duduk yang rapi. Jangan kayak anak TK kalian susah diatur" ucapnya lagi.


"Nah bagus kalau duduk rapi dan teratur seperti ini" ujar Kanaya setelah merasa puas mengatur mereka. Dia pun duduk di pinggiran ranjang yang ada.

__ADS_1


"By the way, kenalin namaku Kanaya istrinya Adrian kakak ipar Andre dan Giselle. Wanita yang hendak kalian culik" ujar Kanaya memperkenalkan dirinya.


"Hah, jadi kakak istrinya kak Adrian" Chandra langsung menelan ludahnya. Terasa tercekat air ludah yang masuk ke dalam kerongkongannya. Rasanya seperti menahan nyeri.


"Kamu kenal Adrian?" tanya Kanaya kepada Chandra. Dengan spontan Chandra langsung mengangguk.


Chandra pun teringat akan kejadian di masa lalu. Dimana dia melihat Adrian berkelahi melawan beberapa preman seorang diri. Para preman tersebut langsung terkapar tak berdaya setelah mendapat serangan dari Adrian. Melihat seringai mengerikan dari wajah Adrian setelah menghajar para preman. Chandra begitu merasa takut sekaligus kagum, pada saat itu dia ingin menjadi seperti Adrian ketika setelah dewasa nantinya. Menjadi seorang mafia pasti keren pikirnya. Begitulah pikir Chandra saat itu. Dia merasa kasian kepada Adrian karena mempunyai adik seperti Andre. Dia terlalu lemah dan lembek jadi adik seorang Adrian.


Chandra tidak tahu kalau sebenarnya Andre juga jago dalam berkelahi. Sebab, Andre selalu bersikap lembut dan ramah kepada siapapun. Berbeda dengan Adrian yang selalu bersikap dingin dan penuh wibawa. Sehingga membuat siapa saja yang melihatnya akan terpsesona dengan kharisma kuat yang dimiliki oleh seorang Adrian.


"Kalian semua ini memang pada bego ya, nyulik tapi nggak modal sama sekali. Masa nyulik orang nggak dikasih makan. Lapar tau" teriakan Kanaya langsung membuyarkan memori Chandra pada masa sekolah dulu.


"Kalau tadi bakalan diculik, aku bakalan makan banyak tadi" gerutu Kanaya kesal


"Bukannya tadi sebelum diculik sudah makan tapi kok masih lapar sih ?" kata pria yang mengikuti Kanaya di mall tadi. Dia merupakan salah satu komplotan pria yang ditugaskan untuk menculik Kanaya. Dia juga yang bertugas untuk membekap mulut Kanaya hingga membuatnya pingsan .


"Tapi kan itu tadi porsi sedikit nggak banyak aku makannya, jadi masih lapar tahu. Namanya juga busui" Kanaya mengedipkan matanya. Dia terlihat begitu sangat manis dan cantik sekali.


"Cantik-cantik ternyata rakus juga makannya" celoteh salah satu anak buah Chandra ngasal setelah melihat senyuman Kanaya.


"Lagian aku makan pakai duit sendiri bukan duit kamu. Dasar cowok pelit dan kere" ucapan Kanaya langsung membuat anak buah Chandra kena mental. Benar juga sih, Kanaya kan makan pakai duitnya sendiri.


"Mana dadaku sekarang mengeras lagi, butuh dipompa nih asinya biar anakku nggak kehausan nantinya" ucap Kanaya sambil memegangi dadanya yang terasa keras.


"Apa kakak perlu pompa? Biar nanti aku dibelikan" tanya Chandra dengan senyuman yang lebar untuk menarik perhatian agar bisa dilepaskan. Kan lucu, yang menculik kok takut sama yang diculik. Malah pengen kabur dari orang yang diculik. Melawan hukum alam dalam dunia culik menculik.


"Nggak perlu, yang ada nanti kamu malah kabur lagi".


"Aku belum ngasih pelajaran kepada kalian semua".


"Sudah salah nyulik, nggak dikasih makan, nggak dikasih minum. Aku teriak-teriak nggak didengerin. Kalian itu udah bikin aku capek tau. Jadi kalian harus membayar semua itu" Kanaya memarahi mereka semua.

__ADS_1


"Kamu itu tidak punya otak sama sekali mau nyulik orang. Apa kalian nggak mikir keselamatan korban kalian culik nanti hah?" Kanaya kembali memarahi mereka dengan menunjuk satu persatu semua yang duduk terdiam di lantai.


"Kalian tahu nggak kalau Giselle itu baru saja melahirkan. Dia baru saja melahirkan secara sesar tau. Kalau kenapa-kenapa dengan luka operasinya kalian memangnya mau tanggungjawab?" tanya Kanaya serius. Sontak semuanya langsung menggelengkan kepalanya. Tak terkecuali dengan Chandra juga. Dia yang berinisiatif untuk menculik istrinya Andre tapi tidak ingin bertanggung jawab jika Giselle mengalami nasib yang buruk. Pengecut!


"Tuh kan, pada nggak mau tanggungjawab kan. Dasar pengecut kalian semua" cibir Kanaya.


"Penjahat amatiran" pukul Kanaya di bahu Chandra.


"Aduh" jerit Chandra kesakitan.


"Kak, tadi aku ada beli makanan sama minuman buat kakak" Chandra mencoba untuk membujuk Kanaya. Sebab dia yakin, jika dirinya bakal dijadikan bulan-bulanan kekesalan Kanaya karena sedang menahan lapar. Jadi dia harus membuatnya kenyang lebih dahulu agar bisa dilepaskan.


"Oh ya, mana makanan sama minumannya. Bawa sini" pinta Kanaya sambil mengulurkan tangannya. Chandra merasa sedikit lega, kini dia memiliki sedikit kesempatan untuk kabur dari sini.


"Tunggu saya ambilin sebentar kak diluar" ucap. Chandra. Dia perlahan berdiri hendak beranjak pergi.


"Eits, siapa yang nyuruh kamu berdiri. Jongkok" perintah Kanaya kepada Chandra. Mau tidak mau, Chandre mengikuti perkataan Kanaya dengan berjongkok.


"Bagus, sekarang ambilkan nasinya sama minumnya dengan cara jalan jongkok" Chandra hanya bisa pasrah saja dengan permintaan Kanaya. Dia benar-benar dibuat tidak berkutik oleh Kanaya. Sedangkan anak buah Chandra saling menahan tawa melihat ekspresi tidak berdaya bosnya.


Ada rasa senang dalam hati Kanaya karena mengerjai mereka semua. Kanaya dapat melihat dari semua tatapan mata orang-orang yang ada di depan Kanaya saat ini mereka bukanlah penjahat. Mereka seolah-olah hanya ingin menunjukkan bahwa mereka itu kejam dan mengerikan. Tapi hal itu bagi mereka membuat mereka merasa keren apalagi jika mereka disebut mafia. Sepertinya hanya sebuah keakuan saja yang mereka ingin dapatkan.


"Ini kak nasi sama minumannya" Chandra memberikan dua buah plastik berisikan barang-barang yang dia belikan tadi setelah beberapa waktu.


"Baiklah kalau begitu, sebagai hukumannya. Kalian semua berpasangan dengan teman disamping kalian. Untuk saling bergantian mencabut bulu kaki kalian" ujar Kanaya langsung membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Mau protes" belum sempat bersuara ingin protes sudah ditanyain lebih dahulu oleh Kanaya. Hanya ada kepasrahan saja di dalam hati mereka semua.


"Ayo cepat mulai, buka bagian bawah celana panjang kalian. Biar bulu kakinya mudah untuk dicabutin" terang Kanaya.


Dengan santainya Kanaya menonton mereka semua. Sambil menikmati makanan yang sudah dibelikan oleh Chandra tadi. Aksi saling cabut bulu kaki menjadi hiburan yang menyenangkan tersendiri bagi Kanaya. Mereka semua saling menjerit karena bulu kakinya dicabutin. Suara jeritan kesakitan mereka seperti nyanyian yang merdu di telinga Kanaya.

__ADS_1


"Sayang" teriak Adrian saat memasuki rumah dan melihat asal dari kegaduhan yang dia dengar tadi. Mata Adrian melongo karena terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Dalam pikirannya disepanjang jalan tadi dia begitu mengkhawatirkan Kanaya. Malah sempat terbesit tentang bagaimana aksi heroiknya nanti dalam menyelamatkan istri tercinta. Tapi kenyataan yang ada jauh berbalik dari keinginannya.


"Hai sayang" lambai Kanaya dengan tangannya yang penuh dengan sambal dari makanan yang dia makan. Adrian hanya melongo sambil membalas lambaian tangan Kanaya.


__ADS_2