
Adrian merasa menang karena telah membungkam Ades dan juga Dio. Penawaran yang begitu menarik dan sangat menguntungkan bagi mereka tentu saja akan membuat mereka langsung menerima. Lagipula dia tidak pernah menyakiti mereka berdua secara langsung, hanya faktanya dia membuat mental mereka yang menjadi kempis karena takut. Adrian duduk disamping saat acara akan dimulai, ditemani oleh Dio. Agak sedikit canggung tapi Dio mencoba mengusir rasa canggung diantara mereka.
"Maaf pa, memangnya hari ini bapak nggak sibuk? " tanya Dio yang merasa aneh dengan pertanyaan dia sendiri. Adrian tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol dari Dio.
"Orang yang dengar pertanyaan kamu itu pasti berpikir kamu itu aneh. Kamu pikir saja sendiri, kalau saya bisa ada disini artinyakan saya tidak sibuk. Meskipun sibuk tetap saya luangkan waktu saya untuk menemani istri saya" kata Adrian santai namun mendapatkan perhatian dari Dio.
"Apa bapak beneran serius dengan kak Kanaya? " tanyanya untuk memperjelas.
"Kamu ini manggil Kanaya dengan sebutan kakak, dengan saya manggilnya bapa. Memangnya kamu pikir saya ini bapak kamu apa? " kata Adrian sedikit protes.
"Terus saya mesti manggilnya apa. Kak Adrian juga ya" kata Dio yang sedikit masih canggung.
"Panggil saja bang Adrian kalau diluar, kalau dikantor nanti ya tetap panggil saya pak Adrian. Kan saya bos kamu, hehehe" ujar Adrian mencoba menjalin keakraban dengan suami Ades ini.
"Siap bang" jawab Dio tegas sambil mengangkat tangan pertanda hormat. Kemudian keduanya tertawa seperti dua orang sahabat akrab. Setelahnya keakraban terjalin antara Adrian dan juga Dio.
Oma Rachel, mama Adrian dan juga Kanaya masih tetap berada di rumah Dio sampai selesai acara. Mama Dio sangat menghormati mertuanya Kanaya dan juga omanya. Mereka bercengkrama dan berbincang-bincang seperti keluarga.
"Oh ya nak Kanaya, ibu belum sempat berterima kasih sama kamu. Kalau bukan karena kamu mungkin pernikahan Dio dan Ades tidak akan terjadi" kata mama Dio memulai cerita baru diantara mereka. Ades masih berada di belakang bersama mamanya Adrian jadi dia tidak tahu kalau ibu mertuanya sedang membahas permasalahan yang tidak seharusnya diceritakan sesuai kesepakatan dengan Adrian.
"Ah, nggak apa-apa kok bu. Memang waktunya mereka menikah kan" kata Kanaya yang tidak ingin membahas masalah ini di depan oma Rachel. Pasti nantinya akan jadi masalah buat Adrian jikalau oma sampai tau. Oma Rachel mencoba untuk mencerna pembicaraan keduanya.
"Kanaya ya yang jadi mak comblangnya bun? " tanya oma Rachel agak penasaran.
"Oh bukan, waktu itu pas akad nikah Ades bapanya dan menggagalkan prossesi ijab kabulnya. Setelah itu Ades diculik sama orang-orang yang berbadan besar dan menakutkan. katanya dibawa ke Aston Hotel" cerita mama Dio yang membuat oma Rachel terperanjat kaget mendengar nama hotelnya disebutkan. Kanaya melihat raut wajah oma yang seketika berubah bingung bagaimana cara untuk menyudahi pembicaraan ini.
"Maksudnya bunda gimana ya? " tanya oma Rachel lembut.
"Owh, itu katanya bapanya Ades punya hutang sama seseorang, nggak tau juga namanya. Jadi Ades dijadikan sebagai pengganti buat bayar hutang bapanya. Untung saja Kanaya nolongin Ades, jadi Ades nggak dijadikan istri muda si maniak gila itu" kata mama Dio bercerita kepada oma Rachel.
Tepat saat mama Dio bercerita tentang si maniak gila mamanya Adrian datang menghampiri. Sedikit terkejut mendengar panggilan maniak yang sama persis dikatakan oleh Ades kemaren membuat mamanya Adrian sedikit curiga. Kenapa keluarga ini hobi sekali menyebutkan kata "maniak".
__ADS_1
"Kok ada yang nyebutin si maniak gila, memangnya siapa? " tanya mama Adrian kepada mama Dio. Timingnya pun sangat pas sekali saat Adrian masuk ke dalam. Niatnya Adrian ingin mengajak pulang Kanaya, oma serta mamanya pulang. Ternyata malah dia yang dikejutkan oleh mamanya yang menyebutkan kalimat "si maniak gila".
"Apes dah" kata Adrian dalam hati.
"Ini lo Nik, katanya si Ades pas waktu ijab kabul sempat di culik dan di bawa ke hotel kita. Gila ya itu yang nyulik, masa mau nyekap orang malah dibawa ke hotel kita. Coba saja kalu viral malah kita nanti berurusan dengan polisi. Rusak reputasi hotel kita nanti. Untung saja menantu kita yang cantik ini yang nyelametin Ades" cerita oma Rachel berapi-api penuh kebanggaan kepada cucu mantunya.
"Emang ibu punya hotel ya? " tanya mama Dio polos.
"Iya. Aston Hotel itu milik keluarga kami. Sekarang diserahkan ke Adrian untuk dikelola. Suaminya Kanaya ini" kata oma Rachel dengan bangga menyebutkan nama cucunya dan cucu mantunya.
"Owh suami nak Kanaya namanya Adrian ya. Namanya bagus persis sama orangnya ganteng" kata mama Dio memuji Adrian.
"Memangnya nggak dilaporkan ke polisi masalah penculikan Ades nya bu? " tanya mama Adrian yang masih penasaran tentang sosok si maniak gila. Apakah dia itu Adrian anaknya?
"Saya nggak berani mau lapor polisi. Sudah dibebaskan syukur, takutnya kenapa-kenapa sama anak saya dan menantu saya nanti. Katanya Ades kemaren kalau pria tua itu bukan orang sembarangan. Jadi lebih baik tidak usah berurusan sama dia. Tapi katanya Kanaya yang ganti berurusan dengan dia" mama Dio menjelaskan kembali perihal masa perdebatan di hotel itu. Seharusnya ditutupi dan tidak boleh dibongkar.
"Tapi nak Kanaya kamu nggak diapa-apain kan sayang? Ibu sangat khawatir sama kamu. Tapi setelah katanya kamu sudah mempunyai suami membuat ibu sedikit tenang. Mungkin si maniak itu nggak bakalan gangguin kamu lagi" kata mama Dio dengan perasaan sedih dan juga haru.
"Adrian coba cari tahu siapa sih yang berani menjadikan hotel kita sebagai tempat penyekapan korban penculikan? " kata oma Rachel memberi perintah.
"Baik oma" jawab Adrian tegas.
"Ah paling-paling si ono noh yang melakukannya. Orang lain mana mungkin bisa dan berani. Malah kepalanya yang hilang duluan kalau berani begitu" kata Niki asal ceplos menyiratkan kecurigaan dia selama ini.
"Siapa? " tanya oma Rachel serentak dengan mama Dio.
"Tanya Adrian" kata Niki santai seakan tak memiliki beban dengan wajah yang tak berdosa. Dimana-mana orang tua selalu membela dan melindungi anaknya. Beda dong dengan Niki, kalau anaknya salah ya patut menerima hukuman.
Adrian yang disebut namanya oleh mamanya sendiri menjadi panas dingin. Keringat mengucur dibadannya, kini semua mata mengarah kepadanya. Gugup sekaligus takut itulah yang dirasakannya kini.
"Gila kena perangkap hyena".
__ADS_1
" Gini amat sih punya emak yang nggak bisa dinego" ucap Adrian dalam hati. Memang Adrian paling takut sama mamanya karena tidak ada kata tawar menawar dengan dirinya. Lain halnya dengan oma, dia masih ada sedikit pengertian dan selalu memaklumi kesalahan Adrian.
"Oma... Maafin Adrian" kata Adrian yang langsung bersimpuh pada omanya.
"Adrian tau Adrian salah, tapi Adrian nggak bermaksud nyulik Ades kok. Sebenarnya Adrian mau memberikan penawaran buat Ades, kalau dia mau menjadi calon istri aku yang akan diperkenalkan sama oma aku akan melunaskan semua hutang ayahnya. Sekalian juga nanti dia juga aku kasih imbalan" kata Adrian yang membuat semua orang terkejut. Terutama mama Dio yang tidak mengira kalau penculik Ades itu sebenernya masih muda dan berwajah begitu tampan. Dia bersyukur ternyata Ades tetap memilih untuk bersama Dio meski ada pria setampan Adrian di depan matanya. Itu pertanda kalau Ades adalah wanita yang baik dan juga setia. Beda halnya dengan Kanaya, dia begitu terharu dengan kejujuran Adrian yang terbilangnya sangat berani. Tidak semua orang mampu untuk mengucapkan kata maaf, apalagi mengakui semua kesalahan karena banyak yang memilih untuk tetap dengan egonya.
"Mama sudah menduga" kata Niki santai.
"Dasar gila, ngapain juga kamu melakukan hal yang nggak berguna dan memalukan seperti itu hah cucu kurang ajar" kata oma Rachel marah-marah sambil menjewer telinga Adrian.
Semua yang melihatnya terperangah, seperti Dio dan Ades yang tidak menyangka jika seorang Adrian bakal di perlakukan seperti itu oleh keluarganya. Dipikiran mereka Adrian pasti akan didukung oleh keluarganya karena mereka adalah orang yang memiliki segalanya. Meskipun Adrian berbuat salah pasti akan tetap ditutupi kesalahannya. Faktanya jauh lebih mengerikan daripada ekspektasi mereka.
"Sudah oma sakit, malu oma" ringis Adrian.
"Kelakuan kamu itu bikin malu keluarga tau, apa ada di ajarin dalam keluarga kita hal seperti itu" kata oma dengan emosi kemudian menjambak rambut Adrian.
"Oma... Oma sudah. Adrian sudah menyesal kok oma. Dia nggak sejahat itu kok" bela Kanaya tentang suaminya itu.
"Sekarang kamu jujur, kamu menikah dengan Adrian karena apa? Soalnya seperti bom nuklir yang meledak secara tiba-tiba" tanya oma Rachel kepada Kanaya.
"Itu... Sebenarnya" Kanaya sedikit takut menghadapi kemarahan oma Rachel. Kalau menghadapi sepuluh preman dia berani, kalau oma Rachel angkat tangan deh. Damagenya bukan main.
"Jawab Kanaya. Nggak usakh takut, kalau ada yang berani nyakitin kamu, tenang bakalan oma pelintir itu tangannya nanti" oma Rachel seperti sedang dalam puncak amarah. Niki malah asyik memvideo mamanya yang sedang memarahi anaknya. Sudah lama dia tidak melihat pertengkaran cucu dan neneknya ini.
"Kanaya yang gantiin posisi Ades oma" jawab Kanaya lugas namun terasa begitu beban kepada Adrian.
"Sorry" kata Kanaya ke arah Adrian dengan mulut berucap tanpa suara.
"I'm ok" jawab Adrian dan mengangguk.
Oma Rachel langsung terduduk lemas karena keterkejutan dengan masalah ini. Cerita konyol seperti apa ini, sehingga terjalin hubungan pernikahan. Pernikahan bukanlah hal yang untuk dipermainkan, itu sebuah ikatan yang sakral dan bukan untuk ajang coba-coba.
__ADS_1