
Mely melanjutkan tugasnya untuk memeriksa keuangan di perusahaan Kanaya, rupanya selama kepergian Kanaya mereka mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Beberapa karyawan yang ketahuan melakukan korupsi langsung dipecat tanpa pesangon dan tidak diminta ganti kerugian. Hanya beberapa aset yang akan diambil, kurang dari separo nilai hasil yanh dikorupsi. Tapi namanya akan masuk daftar blacklist yang bisa dipastikan tidak akan pernah diterima bekerja diperusahaan manapun.
Tentang korupsi yang dilakukan oleh pak Rahman sudah dilaporkan ke polisi, dan pak Rahman yang dilaporkan hilang oleh keluarganya pun kini dianggap buronan karena kabur dari tanggung jawabnya.
Semua persiapan untuk pernikahan ulang Kanaya dan Adrian juga hampir rampung. Dalam acara ini tidak hanya dilangsungkan pernikahan Adrian dan juga Kanaya. Tapi Andre dan Giselle pun juga akan dinikahkan. Ayah Giselle akan datang untuk menjadi wali pernikahan anak semata wayangnya itu. Kabar gembira ini disambut bahagia oleh seluruh keluarga.
"Nay, aku mau ngomong sama kamu. Sebenarnya famali tau kalau nikahnya barengan seperti ini. Katanya itu, salah satu pasangan akan berpisah atau nggak bakal teejadi cobaan yang besar" Kartika mengungkapkan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.
"Itukan cuma mitos Tika".
"Lagian aku sudah lebih dulu nikah, lihat aja nih, aku lagi hamil" tunjuknya pada perutnya yang sedikit gemuk.
"Tapi setidaknya kan bisa waspada Kanaya" kata Kartika yang memang selalu cerewet.
Kanaya tidak terlalu pusing dengan semua perkataan sahabatnya itu. Dia tau kalau Kartika sangat begitu peduli terhadap dirinya dan menyayanginya dengan tulus. Meski terbesit ada sedikit rasa khawatir di dalam hatinya, apalagi mengingat saat pak Rahman mengatakan nama Ronald. Kanaya selalu memikirkan lelaki brengsek yang dulu membuat dirinya hampir mati.
Sebenarnya dia sudah mengingat kejadian masa kecilnya, tapi dia merahasiakannya agar orang tuanya dan orang disekitarnya merasa cemas dengan dirinya. Dirinya yang sekarang bukan dirinya yang dulu tak berdaya ketika disakiti. Hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong, karena dia masih kecil. Kanaya bertekad akan mencari tahu keberadaan Ronald dan ingin membuat perhitungan dengan dirinya. Selain itu juga ingin mengucapkan terimakasih karena telah membuat dirinya jauh lebih kuat.
Semuanya disibukkan dengan persiapan pernikahan, Adrian dan Andre pun juga sibuk mencek ke gedung yang kini tengah dihiasi para pendekor. Mereka tampak kompak dan terlihat begitu senang melakukannya. Ada yang terlihat sambil berbincang-bincang dan juga yang sambil bercanda. Namun ada dua orang yang mendapat perhatian oleh Adrian. Mereka sedang menata bunga dekorasi yang akan dihiasi di atas panggung yang kini tampak megah.
"Nyawa yang bungol tahu lah" ucap salah satunya. Adrian yang bingung dengan perkataan mereka penasaran dengan arti yang diucapkan oleh mereka berdua.
("Kamu itu bodoh tahu tidak")
(Nyawa merupakan kata kasar untuk penyebutan "kamu" sama seperti halnya dengan "loe". Untuk kata yang lembut dalam bahasa banjar sebagai kata kamu adalah "pian").
(Kata bungol sama dengan artinya bodoh, bego, ataupun goblok).
"Nyawa toh, lain unda. Coba nyawa pikirkan, bungol mana haur membayari pacar makan kah atau kada tahu diselingkuhi" ucap satunya lagi.
("Kamu itu, bukan aku. Coba kamu pikir deh, bodohan siapa yang suka membayari makan pacarnya atau yang tidak tahu lagi diselingkuhin").
(Kata "unda" merupakan kata kasar dalam penyebutan kata "aku" sama seperti "gue" untuk kata yang sopan atau lebih tepatnya halus. Maka kita harus mengucapkan kata "ulun" yang artinya "aku").
(Untuk kata "haur" biasa digunakan tergantung kalimat atau apa yang kita maksud. Ada yang artinya "sibuk" dan ada yang artinya "selalu").
Adrian yang begitu penasaran dan bingung saat mereka mengatakan kata "nyawa" apakah ada seseorang yang sedang sekarat di ruangan ini. Tapi semuanya terlihat sehat dan baik-baik saja.
"Andre, aku mau nanya. Nyawa bungol itu apa artinya?" tanya Adrian kepada adiknya. Dia rasa mungkin Andre tahu dan mengerti, secara dia sudah tinggal lama di daerah sini. Setidaknya bisa berbicara bahasa daerah sini atau tidak mengerti dengan bahasa para warga disini.
"Oh itu, artinya kamu cantik atau kamu ganteng" kata Andre santai dengan wajah tanpa dosa.
"Owh..... " seru Adrian yang paham. Sebuah senyum bahagai terpancar di wajah Adrian setelah mengetahui artinya.
"Kita mampir belanja ke minimarket dulu, oma minta belikan es krim nih sama berbagai cemilan. Katanya mau mukbanh sama anak-anak" kata Andre sambil memperlihatkan chat dari oma Rachel.
__ADS_1
Mereka berdua pun membeli berbagai macam rasa es krim dan juga berbagai macam jenis cemilan yang akan di bawakan buat anak-anak kesayangannya. Adrian keluar lebih dulu untuk membayar parkir, sedangkan Andre masih dikasir merapikan barang belanjaan mereka. Adrian menghampiri tukang parkir dan memberikan selembar uang lima puluh ribuan kemudian dia berkata.
"Nyawa bungol" Adrian mencoba perkataan yang baru saja dia pelajari hari ini. Dia tersenyum ke tukang parkir tersebut, tapi sayangnya si tukang parkir wajahnya berubah marah dan langsung meninju wajah Adrian. Adrian yang tak terima otomatis langsung membalas memukulnya. Dia bingung kenapa dia pukul setelah dia memuji si tukang parkir tersebut. Seharusnya dia senang karena dipuji seperti itu. Andre terkejut melihat kakaknya sedang ribut di parkiran dan segera berlari menghampiri.
"Ada apa ini ka? Kakak kenapa juga mukuli abang parkir? " tanya Andre yang tidak tahu permasalahannya.
"Tahu tuh, dia yang mulai duluan. Aku tadi cuma bilang kalau nyawa bungol".
"Dia langsung nonjok aku, ya aku balas lah. masa diam aja. Dipuji kok malah ngajak kelahi sih" gerutu Adrian kesal. Sedangkan Andre terdiam dan langsung menepuk jidatnya. Dia tidak menyangka kalau kakaknya akan senekat ini berbicara kepada warga lokal. Andre langsung mendatangi si abang tukang parkir dan berbisik kepadanya.
"Maafkan kakak saya bang. Dia tidak bisa bahasa banjar, baru datang dari jakarta. Tadi dengar orang bicara seperti itu jadi dia ikutan juga. Maafin ya bang" kata Andre malu-malu karena sebenarnya ini semua salahnya. Seandainya dia tidak memberitahukan arti yang salah. Mungkin Adrian tidak akan mengucapkan kata itu.
"Kada dipadahi kah artinya? " tanya si tukang parkir.
("Tidak di beritahukah artinya?").
Andre mengelengkan kepalanya pertanda dia tidak memberitahukan artinya tersebut. Pasti dia akan dia hajar oleh Adrian saat ini juga kalau dia tahu artinya. Jadi sekarang dia memilih untuk berbohong agar dia selamat dari amukan Adrian.
"Ayuha, dimaafkan. Padahi kakanya jangan totok lagi to" kata si tukang parkir kepada Andre kemudian berlalu pergi meninggalkan.
("Baiklah, dimaafkan. Lain kali dikasih tau kakanya harus lebih sopan lagi").
Dasar Adrian rese, memang dasar selalu sok terus jadi orang. Andre menggerutu dalam hatinya karena Adrian memang suka membuat masalah saja. Coba saja tidak usah sok berbicara ke warga lokal kalau tidak bisa berkomunikasi.
"Diem, bisa nggak sih. Ngomel terus kayak perempuan lagi dapet aja" Andre yang kini tampak kesal. Dia harus segera pulang, agar bisa menghindari Adrian untuk beberapa waktu.
Andre langsung memberikan semua barang belanjaan yang oma titip minta belikan tadi ke oma Rachel dan langsung berlari kecil meninggalkan oma. Oma Rachel masih ingin ngobrol dengan cucunya yang sudah lama pergi dari rumah itu. Tapi ya sudah lah mungkin dia sibuk, pikirnya.
"Kenapa itu Andre? Mukanya ditekuk seperti itu, lagi berantem ya sama kamu?" tanya oma Rachel yang penasaran dengan wajah kedua cucunya yang tampak masam.
"Tau tuh manusia aneh" jawab Adrian singkat.
"Nah itu muka kamu, kenapa?" oma Rachel khawatir setelah melihat wajah Adrian yang kini terlihat lebih tampan karena memar.
"Sudah mau nikah masih saja berkelahi sama saudara sendiri. Kalian itu harus akur, sudah dewasa dan sebentar lagi akan jadi orang tua. Masa ada masalah sedikit langsung berantem" oma Rachel mengomel mengira Adrian berkelahi dengan Andre. Adrian terlihat kesal, tapi dia tidak ingin membantah atau pun mencoba untuk menjelaskan kebenarannya.
"Aku masuk ke kamar dulu oma" Adrian pergi meninggalkan oma Rachel yang masih merasa bingung dan kesal karena diacuhkan oleh kedua cucunya.
Adrian langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk dan merasa tubuhnya sedikit terelaksasi. Dia masih marah dan penasaran dengan si tukang parkir yang telah meninju wajahnya hingga membuat dia terjatuh ke tanah. Adrian benar-benar kesal dan akan membuat perhitungan. Kanaya yang semula terlelap tidur terbangun karena merasa ada gerakan dikasur yang mengusik ketenangan tidurnya. Dia menoleh ke samping, melihat Adrian tampak begitu gelisah. Tapi fokus utama yang dia lihat adalah wajah suaminya itu terlihat memar.
"Mukamu kenapa sayang?" tanyanya ke Adrian. Adrian pun terkejut dan merasa bersalah karena sudah mengganggu tidur istrinya tercinta.
"Kamu bangun, maaf ya udah bikin kamu terbangun" kata Adrian.
"Nyawa bungol, apalagi baru bangun tidur" ujar Adrian mencoba mengucapkan kata-kata tadi kepada istrinya. Dia yakin respon Kanaya akan sangat bahagia kalau dia memuji Kanaya dengan bahasa daerah disini.
__ADS_1
Namun respon Kanaya jauh terbalik dari perkiraannya. Matanya langsung melotot ke Adrian, seperti ingin memakan dirinya.
"Duh kenapa? Kok responnya sama seperti tukang parkir tadi" ucap Adrian dalam hati
"Darimana kamu tahu kata-kata itu? " tanya Kanaya sinis.
"Tadi pas ke gedung untuk mencek persiapan pernikahan kita, soalnya aku ingi yang terbaik buat kamu" ujar Adrian sambil mengelus pipinya istrinya itu.
"Siapa yang mengucapkan kata-kata itu? " Kanaya menyelidiki orang yang meracuni suaminya dengan perkataan yang tidak sopan. Apalagi sudah mengatai istrinya bodoh sehabis bangun tidur, kan nggak lucu.
"Entahlah, para pekerja yang disana berbicara seperti itu" kata Adrian jujur.
"Kamu tau artinya? " tanya Kanaya lagi.
"Tau, kamu cantikkan artinya".
"Memangnya kenapa sih kamu nanyanya sampai begitunya? " Adrian merasa istrinya seperti seorang wartawan saja.
"Astaga".
"Siapa yang bilang artinya itu? " tanya Kanaya lagi yang mulai mengerti dengan situasinya.
"Andre yang bilang, ada yang salah ya" kata Adrian polos.
"Kamu itu dikerjai Andre" Kanaya berkata dengan cukup keras sehingga membuat Adrian sedikit terkejut.
"Artinya apa? " tanya Adrian.
"Kamu itu bodoh" jawab Kanaya.
"Apa? Kamu ngatain aku bodoh, salah apa aku? Apa karena dikerjai Andre jadi kamu bilang aku bodoh" Adrian tersulur emosi. Dia merasa hari ini memang sangat menyebalkan.
"Bukan itu maksudku, kamu tadi ngucapin nyawa bungol kan".
"Nah, nyawa bungol itu artinya kamu bodoh" jelas Kanaya langsunh membuat Adrian terkejut.
"Hah, serius".
"Pantas si abang tukang parkir tadi meninju wajahku".
"Apa kamu bilang? Kamu tadi habis ditinju sama tukang parkir? " tanya Kanaya yang sedikit bingung dengan cerita suaminya.
"Iya tadi, maksudku kan mau muji si abang tukang parkir tadi. Kalau si abang tukang parkir tadi ganteng. Bukannya malah senang aku bicara seperti itu, tapi malah ditinju".
"Makanya pantas saja dia marah, kalau aku ngatain dia bodoh. Dasar Andre sialan" kata Adrian yang langsung membuat Kanaya tertawa terbahak-bahak karena tingkah konyol Adrian yang mau saja percaya sama Andre. Sudah tau Andre memang jahilnya parah level tinggi, percaya aja. Kanaya benar-benar tidak bisa berhenti tertawa, sedangkan Adrian merasa malu karena telah salah mengucapkan kata umpatan seperti itu.
__ADS_1