
"Mereka siapa?" tunjuk Mira pada layar ponsel milik Vanya.
"Aku juga tidak tahu kak, Aku juga baru mencek kamera CCTV. Padahal, tidak ada yang tahu jalan masuk kesini. Sebab, lorong ini sengaja dibuat untuk mengecohkan jika ada yang berniat jahat".
"Apa mereka mengincar Kanaya?" sorot mata maam Kanaya menatap ke arah Kanaya yang tengah tertidur.
"Sebaiknya, kita harus segera memindahkan Kanaya secepatnya. Sebelum mereka sampai ke kamar ini" Vanya menyarankan hal tersebut kepada Mira. Vanya tidak berani bertindak gegabah. Semua CCTV diseluruh kliniknya dia cek. Tak disangka, ternyata pria asing yang masuk secara diam-diam ini sungguh keji. Ketiga satpamnya di bunuh. Terlihat mayat mereka yang tergeletak begitu saja. Selain CCTV yang ada di atas, Vanya juga menambah kamera pengintai yang berukuran kecil. Kamera tersebut diletakkan disudut yang tak terlihat, sehingga tempat itu akan dianggap aman dari kamera. Namun sebenarnya tidak.
Terhitung ada lima orang yang sedang masuk ke dalam klinik dibagian belakang ini. Meski tidak terlalu banyak, Vanya tidak ingin mengambil resiko. Takutnya, mereka adalah orang-orang yang profesional. Tanpa sepengetahuan yang lain, Vanya mengirim pesan kepada orang yang dianggapnya bisa membantunya saat ini. Siapalagi kalau bukan oma Rachel.
"Kak, sebaiknya bangunkan Kanaya sekarang. Kita harus pergi dari sini sekarang juga" pinta Vanya kepada Mira.
"Nay, Naya. Bangun nak" Mira membangunkan Kanaya yang begitu lelap tertidur. Sedangkan Vanya menyiapkan kursi roda untuk Kanaya. Selain itu juga Vanya menyimpan beberapa obat-obatan ke dalam tas. Setelahnya mengambil dua buah pistol beserts amunisi yang dia simpan dibawah meja disamping tempat tidur Kanaya.
"Ada apa ma?" tanya Kanaya yang bingung melihat Vanya yang tampak sibuk, serta wajah mamanya yang pucat ketika membangunkan dirinya.
"Syuuut" Mira meletakkan jari ke bibirnya. Pertanda Kanaya jangan berbicara nyaring.
"Kita harus pergi secepatnya dari kamar ini. Ada orang-orang yang ingin berniat buruk kepada kita" Mira berucap dengan nada cemas.
"Siapa ma?" Kanaya tampak bingung. Namun dia ingat dengan insiden saat ingin membawa dia ke klinik.
"Apakah mereka?" tanya Kanaya dalam hati.
"Kak, bantuin saya buat mindahan Kanaya" Mira pun mengangguk setuju. Mereka berdua memindahkan Kanaya ke dalam kursi roda.
"Kanaya, kamu gendong putrimu erat-erat ya. Kak Mira yang dorong kursi rodanya. Aku yang akan jaga dibelakang kalian" Vanya berkata dengan mantap dan penuh keyakinan yang bulat.
"Tapi tan, Kanaya bisa..." tangan Vanya langsung menyanggah ucapan Kanaya.
"Kita harus secepatnya pergi dari sini. Kita sudah tidak punya banyak waktu. Kondisi tubuh kamu masih belum pulih, sangat begitu berbahaya untuk kesehatan kamu jika terlalu banyak gerak" Vanya mengintruksikan Mira untuk segera mendorong kusi roda yang sudah diduduki oleh Kanaya.
Mereka pun langsung keluar dari kamar perawatan. Klinik kecantikan milik Vanya memang tidak dijaga ketat olehnya. Dia memang tidak memiliki pengawal pribadi. Secara dia menganggap dirinya hanya orang biasa. Bukan orang yang berpengaruh, jadi tidak perlu pengamanan. Dalam kondisi seperti ini Vanya sangat merutuki pilihannya yang menolak pengamanan dari oma Rachel dulunya.
"Tante Rachel, cepetan datang tan" Vanya berharap pertolongan dari tantenya itu segera datang.
"Hei, semuanya mereka ada disini" teriak salah satu dari mereka yang tengah mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
"Cepat kak bawa Kanaya kesana. Biar mereka aku yang hadapi dulu" Vanya meminta Mira untuk membawa Kanaya ke sebuah pintu yang bercat putih.
Vanya mencoba untuk menghadang mereka. Untuk memperlambat gerak mereka tentunya. Vanya menghadiahi mereka beberapa tembakan. Hal itu membuat Kanaya merasa bersalah tidak bisa membantu Vanya. Mira sekuat tenaga mendorong kursi roda yang tengah diduduki oleh Kanaya.
"Ma" Mira menghentikan dorongannya.
"Izinkan aku menolong tante Vanya ma? Kanaya khawatir" Mira pun juga merasakan hal yang sama. Kini Mira dilanda kebimbangan, haruskah dia mengizinkan Kanaya untuk membantu Vanya? Tiba-tiba saja pintu yang dilewati oleh Kanaya dan mamanya tadi terdorong dengan kasar. Mira sudah dilanda ketakutan jika yang akan muncul dibalik pintu tersebut adalah musuh yang mereka hindari. Namun kehadiran Vanya membuat mereka berdua lega.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Vanya saat akan menghampiri.
"Dor" satu tembakan melesat ke arah Vanya dari depan. Hal itu langsung membuat Mira mematung. Serangan tak terduga dan dadakan membuat semuanya tak siap menerimanya. Tembakan tersebut mengenai lengan kanan Vanya.
"Awww" Vanya meringis kesakitan. Darah segar langsung mengucur ke tangannya. Rasa sakit akibat tembakan tersebut membuat rasa kram pada tangan kanannya. Hingga pistol yang dipegangnya pun terlepas.
"Vanya" teriak Mira tanpa sadar langsung berlari menghampiri Vanya.
"Mengapa kakak kesini?".
"Aku mengkhawatirkanmu".
"Bagaimana dengan Kanaya kak?" Mira baru tersadar jika kini Kanaya tidak mungkin bisa berbuat banyak seperti biasanya. Kondisinya baru habis melahirkan.
Salah satu dari mereka akan mencoba untuk menghampiri Kanaya. Mamanya pun sigap berdiri untuk menolong Kanaya. Namun sebuah pistol mengacung kepadanya. Hal tersebut membuat Mira menjadi takut. Wajahnya memucat seketika.
"Jangan mencoba untuk melangkah, jika tidak ingin nyawanya melayang" pistol tersebut kemudian mengarah kepada Kanaya yang masih tenang memangku sang putri yang masih terlelap tidur.
Kanaya menyibak selimut yang menutupi putrinya. Dia tidak menyangka jika dalam selimut tebal tersebut, terselip sebuah pistol. Kanaya menatap ke arah sang mama, seolah mengerti dengan maksud Kanaya dia pun menganggukkan kepalanya. Kanaya langsung mengarahkan pistol tersebut dan menembaki mereka berdua secara bergantian. Akhirnya mereka berdua terkapar jatuh ke lantai dengan luka pada dada dan kepala.
Mira sengaja mengambil pistol milik Adrian sebelumnya tanpa Adrian sadari. Dia menyimpan benda yang paling tabu untuk dia pegang tersebut dengan dalih untuk jaga-jaga.
"Sayang" teriak Mira menghampiri Kanaya dan merangkul sang anak. Vanya pun berjalan menghampiri dan berdiri di samping kanan kursi roda Kanaya.
"Cepat kita harus bergerak. Takutnya yang lainnya dari mereka akan menyusul kemari" pinta Vanya yang sudah terlihat kacau. Lukanya hanya dia tekan dengan tangan kirinya. Kini tangan kanannya sudah bisa memegang pistol. Meski tidak terlalu kuat.
"Apakah masih banyak lagi tan?" tanya Kanaya yang juga sedikit merasa khawatir.
"Entahlah. Aku tadi sudah menghabisi lima orang. Yang ini ada dua orang. Berarti sudah ada tujuh yang masuk ke dalam sini. Mungkin masih ada beberapa lagi yang akan menghadang kita" Vanya berasumsi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita menghubungi Adrian" ucap Kanaya.
"Aku sudah menghubungi tante Rachel. Semoga saja bantuan untuk menyelamatkan kita segera datang" Vanya menghembus nafas begitu berat.
"Sebaiknya tante saja yang duduk di kursi roda ini, tante lagi terluka" pinta Kanaya.
"Ini. Luka ini tidak seberapa. Aku bukan wanita yang cengeng Kanaya" Vanya berjalan dan berlalu pergi berjalan meninggalkan mereka lebih dulu untuk melihat situasi didepan mereka. Lebih tepatnya mencek keamanan.
"Dor" sebuah tembakan tepat dari belakang mereka. Hal itu langsung membuat Vanya terkejut dan langsung refleks membalas tembakan tersebut. Kanaya didorong ke arah persimpangan lorong oleh mamanya untuk menghindari tembakan berikutnya. Terjadi adu tembak antara Vanya dan beberapa orang dari pihak musuh. Kanaya merasakan ada sesuatu yang membasahi bahunya.
"Darah" Kanaya pun berbalik ke belakang arah mamanya yang sedang berdiri. Mira tengah memegangi dada sebelah kirinya yang sudah berdarah.
"Mama" Kanaya refleks langsung berdiri. Tidak ada rasa sakit lagi pada bagian area intimnya yang baru saja habis melahirkan.
"Astaghfirullah ma" Kanaya langsung memegangi mamanya yang hampir saja terjatuh. Dia menggiring mamanya untuk segera duduk dikursi roda. Mira sempat menolak, tapi Kanaya memaksanya. Dia menyerahkan bayinya untuk dipangku oleh Mira.
"Mama" Kanaya menangis melihat luka tembak pada dada kirinya. Melihat mamanya terluka dan bersimbah darah seperti itu membuat Kanaya murka. Tanpa berpikir apapun dia berlari untuk membalas tembakan tadi. Vanya yang berada di lorong lain tidak tahu kalau Mira tertembak. Dia berpikir jika di lorong arah Kanaya, mereka tengah dihadang beberapa orang lainnya. Vanya sempat bingung dan heran bagaimana mereka bisa tahu seluk beluk bagian dalam kliniknya?
"Dor".
"Dor" Kanaya menembaki mereka tanpa ampun. Tembakannya langsung mengenai mereka berdua hingga jatuh tersungkur. Kanaya dengan santai menghampiri mereka sambil mengacungkan pistolnya. Vanya yang melihat aksi Kanaya tersebut merasa terkejut. Bagaimana bisa Kanaya berdiri dan berjalan sesegar sekarang? Tidak tampak sama sekali jika dia baru saja melahirkan.
"Siapa yang menembak mamaku?" teriak Kanaya penuh amarah.
Mendengar ucapan Kanaya tadi, Vanya berlari mendatangi Mira. Vanya menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Melihat wajah Mira yang sudah memucat, tangan kirinya merangkul cucunya dengan sisa kekuatan yang dia miliki. Sedangkan tangan kanannya untuk menutupi luka tembak tadi.
"Astaga kak" Mira hanya tersenyum kepada Vanya. Terdengar dua kali bunyi tembakan dari arah Kanaya tadi.
"Vanya, tolong jaga anak dan cucuku. Aku sudah tidak sanggup lagi" ucap mama Kanaya lemah.
"Jangan berkata seperti itu kak. Kamu kuat, kamu harus bertahan demi Kanaya dan bayi mungil ini" Mira menggelengkan kepalanya pertanda tidak. Kemudian dia menyerahkan bayi yang masih tertidur lelap kepada Vanya. Setelahnya Mira mengucapkan syahadat dengan lancar meski dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Kemudian menutup matanya seakan dia hendak tertidur.
"Kak, kak Mira" teriak Vanya dan setelahnya Vanya menangis histeris. Mendengar tangisan Vanya. Kanaya langsung berlari menghampiri Vanya.
"Mama" saat Kanaya melihat kepala mamanya sudah tergolek lemas dikursi. Dia pun menjatuhkan diri disamping kepala mamanya.
"Mama" Kanaya menangis sambil memegangi kepala mamanya.
__ADS_1
"Aku akan membiarkan kamu untuk menangisinya" suara dari seseorang yang Kanaya tidak kenal. Mata Kanaya menatap nyalang ke arah pria tersebut. Setelah beberapa detik kemudian.
"Siapa kamu?".