Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Pamor Niki


__ADS_3

"Sayang kamu tidak apa-apa kan? Ditodong dibagian mana kamu sayang? Sakit sayang?" tanya Niki yang tak berhenti menelisik badan suaminya. Putar kiri putar kanan, depan belakang. Seperti sedang razia narkoba saja mencek ke seluruh badan. Niki, gitu lho! Kalau sudah berurusan dengan sang suami. Bakalan tau deh sebucin apa dia sama Angga.


"Papa sih, tadi ngeyel nggak mau dikawalin. Coba kalau kenapa-kenapa tadi. Mama pasti merasa bersalah banget. Papa nggak sayang mama" Niki mode merajuk seperti biasanya yang dia lakukan. Bagi yang serumah dengan Niki hal ini sudah biasa. Bagi mereka yang selalu melihat sosok Niki yang tegas dan garang pasti heran dan tidak menyangka jika Niki memiliki sisi yang lembut. Malah Niki seperti dianggap bukan perempuan sama anak buahnya, karena kalau ngamuk lebih mengerikan dari Adrian yang notabene laki-laki.


Niki masih tidak menyadari jika banyak pasang mata yang tengah mengamati dirinya yang lagi sibuk khawatir pada suaminya. Padahal sudah tau tidak apa-apa tapi tetap saja rentetan pertanyaan dia lontarkan pada sang suami. Hingga akhirnya oma Rachel yang berhasil menghentikan ocehan Niki hanya dengan sekali deheman.


"Eeehhhmmm" Niki pun langsung berpaling melihat ke arah suara mamanya. Keadaan pun terlihat tegang setelahnya, karena apa. Niki baru saja menyadari kesalahannya. Kenapa sikap manja dan bucinnya kepada sang suami harus dilihat oleh para anak buah


Blackhunter.


"Ah, sial. Bisa turun pamor kalau begini. Aduh, kenapa jadi kebawa sih sikap bucinku. Aaarrrgghh" Niki begitu frustasi dalam pikirannya. Habislah riwayatku sudah, bisa pada tidak respect lagi mereka padaku.


"Sebaiknya kita pulang lebih dulu, untuk kelanjutan ceritanya bisa dilakukan dirumah" dengan tegas oma Rachel berucap.


Sungguh dia tidak bisa menjadi seperti mamanya ini. Mama memang selalu royal dan fleksibel kepada anak buahnya. Sehingga mau dia tegas atau sedang lagi mode komedian tidak jadi masalah. Sebab tidak berpengaruh pada imej mamanya itu yang memang sedari dulu memang begitu. Selalu pecicilan, namun tegas dalam bertindak. Tidak seperti dirinya, yang sedari awal membuat imej dirinya kuat, tangguh dan bengis. Agar dia disegani oleh anggota Blackhunter. Menjadi orang yang jauh lebih ditakuti daripada Adrian tentunya.


"Baik ma" jawab Niki. Dia tetap berusaha berjalan dengan sikap yang biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Memang tidak terjadi apa-apa sebenarnya. Hanya dirinya saja yang merasa rendah diri, hilang kepercayaan diri. Uh, Niki yang malang. Kasihan pada sang suami, malah kini dirinya yang perlu dikasihani. Hilang sudah imej tangguh, kuat dan bengisnya. Kini berganti dengan imej istri bucin, manja, dan juga protektif. Semua mata anak buahnya, anak buah Adrian dan juga oma Rachel menatap aneh kepadanya. Jadi salah tingkah Niki dibuat oleh mereka.


"Tuh kan, dilihatin kek begini. Habis dah imejku hancur. Ini gara-gara kamu sayang. Coba kalau bukan suami tercinta. Sudah pasti bakalan aku bejek-bejek jadi debu" gerutu Niki dalam hati. Membayangkan jika dirinya menyiksa suaminya itu. Pasti sangat seru dan menyenangkan. Apalagi jika setelah selesai menyiksa dia akan menguliti suaminya itu diatas ranjang. Berbagi keringat, saling memburu nafas, juga meraih tangga kenikmatan yang tiada tara bersama-sama. Angga sedikit heran kepada istrinya yang dari tadi senyum-senyum sendiri, entah apa yang dia pikirkan sekarang.

__ADS_1


"Sayang kamu lagi mikirkan apa jadi senyum-senyum seperti itu?" tanya Angga sedikit bingung dengan istrinya. Apa ada yang salah dengan kepalanya? Apa karena gara-gara dirinya yang hampir saja bertemu dengan malaikat maut? Jadi istrinya senyum-senyum sendiri. Angga jadi berpikiran jika dia benar-benar telah mati, mungkin tidak hanya akan senyum-senyum seperti ini kekasih hatinya ini. Mungkin bisa menangis kemudian tiba-tiba tertawa karena tidak sanggup kehilangan dirinya.


"Oh sayangku, aku janji tidak akan pernah lagi membantah dirimu. Overprotektifmu memang tidak hanya untuk kebaikan diriku. Melainkan untuk kewarasanmu juga. Maafkan aku sayang telah membuatmu seperti ini" Angga beranggapan jika Niki terkena serangan keterkejutan. Hingga membuat dirinya sedikit linglung sekarang. Angga pun merangkul tubuh sang istri yang masih dalam mode berimajinasi dengan keindahan berpagut kasih dengan sang suami. Sedangkan sang suami tengah membayangkan betapa bersedihnya dia jika Niki akan kehilangan akal bila kehilangan dirinya. Pikiran dua insan yang saling mencinta ternyata berbeda. Tidak sejalan, tapi memang perbedaan itulah yang selalu menyatukan. Hehehe...


"Mama ingin kalian semua berkumpul kembali, Kanaya kali ini juga ikut. Randy dan Revan juga harus ikut serta. Sebab ini ada kaitannya dengan masa depan mereka, jadi mereka harus tahu segalanya" kata oma Rachel ketika mereka telah sampai di rumah kebesaran Aston.


"Bagaimana dengan Raniya ma?" tanya Hendry perihal cucu perempuannya yang juga memiliki masa depan yang sama dengan Randy dan Revan. Oma Rachel tampak sedikit berpikir dulu, apakah Raniya akan dilibatkan?


"Kak Yaya, aku sudah coba alat yang kemarin itu. Lihat ini, kerenkan" cerita Revan senang dan memperlihatkan tangan kecilnya yang telah dilingkari empat cincin yang memiliki mata bola besi pada setiap jarinya. Cincin yang memang tersambung pada empat jari, cincin yang dirancang khusus untuk tangan kecil Revan sebagai senjata dia untuk melukai musuhnya. Senjata untuk mempertahankan dirinya seperti yang dia lakukan tadi pas di lapangan.


"Kak Yaya juga nanti harus coba senjata kakak itu buat melawan musuh yang ganggu kakak. Seperti bang Randy dan juga aku tadi" dengan jujur dia bercerita kepada Raniya. Wajahnya Raniya sedikit memucat, karena takut akan ketahuan sama mama dan kakeknya jika dia telah berlatih bela diri begitu giat. Serta memiliki senjata khusus miliknya, tidak terlalu berbahaya seperti milik Randy tentunya. Namun itu cukup menyiksa musuh-musuhnya. Randy telah menceritakan kejadian yang menimpa papanya, makanya mereka bertiga sudah sepakat untuk saling melindungi satu sama lain. Kedewasaan pada usia dini.


"Bang Randy hebat kak, tembakan pertamanya langsung tepat kepala. Tidak sia-sia latihan kita selama ini" dengan mata yang berbinar Revan menceritakan hal itu. Ada kebanggaan pada intonasi ucapannya.


"Dia ikut" jawab oma Rachel kemudian berlalu masuk ke dalam ruangan yang akan dijadikan rapat. Sedangkan Niki terlebih dahulu mendatangi kaki tangannya yang bernama Onta. Kenapa jadi diberi nama onta? Karena mukanya sedikit berwajah orang arab, jadi diberi gelar onta. Sebab hewan tersebut hanya ada di daerah wilayah sana.


"Onta bagaimana keadaan semuanya" tanyanya.


"Semua terkendali Lady" jawabnya penuh hormat.

__ADS_1


"Baguslah, selama kami rapat. Tolong kamu handle segalanya ya" pinta Niki.


"Baik Lady".


"Oh ya Lady, maaf lancang. Tapi sekarang Lady tengah jadi perbincangan hangat para anggota Blackhunter" Niki langsung memucat.


"Jatuh sudah pamorku sebagai wanita kuat. Aduh, bagaimana ini. Pasti nanti banyak yang tidak respek dan akan mengolok-olok diriku. Apesnya, ya tuhan. Jika bisa mukaku kini dijadikan seperti tembok" ingin sekali dia berteriak mengeluh akan kecerobohannya.


"Maafkan semuanya Lady".


"Mereka semua terkejut dengan sikap Lady yang bisa lembut seperti itu" ujar Onta berbicara sambil menundukkan kepalanya. Takut jadi amukan bos cantiknya ini. Sebab wajah ganteng bak orang arab itu akan menemui sang pujaan hati nanti malam.


"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Niki dengan dingin. Dia ingin tahu apa yang mereka gosipkan tentang dirinya. Agar dia bisa mengambil hukuman yang sesuai dengan ucapan yang mereka berikan kepadanya.


"Mereka mengatakan, kalau mereka tidak menyangka jika Lady bisa menjadi wanita yang lembut ketika khawatir dengan bos Angga. Mereka memuji Lady, dimana Lady tetap menghormati suami Lady. Meski Lady memiliki kuasa, serta kuat dan mandiri. Mereka salut kepada Lady yang tetap pada kodratnya sebagai wanita. Mereka pikir, Lady begitu kejam juga pada bos Angga. Mereka beranggapan jika bos Angga selama ini tersiksa beristri Lady. Mereka bangga memiliki bos seperti Lady" Onta pun tersenyum mengatakannya. Terlihat dari sorot matanya jikalau dia tidak sedang berbohong.


"Apa aku tidak salah dengar? Mereka bangga padaku yang tidak dalam mode nganggur. Masih adakah yang ingin kamu laporkan?" tanya Niki yang sudah berbicara dengan keadaan normal dan santai. Ternyata pemikiran dia sudah buruk terhadap anak buahnya itu.


"Kita lanjutkan obrolan ini nanti, aku harus segera menyusul mamaku" ucap Niki dengan senyum sumringah karena dugaan bakal dibuly atau dicaci anak buahnya salah.

__ADS_1


"Senangnya hatiku, hatiku berbunga terus jika begini" ucapan Niki yang hanya dia dan Allah yang tahu.


__ADS_2