Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Meredam Emosi


__ADS_3

"Papa" panggilan yang disematkan oleh Ryan kepada Dio membuat semuanya terkejut. Terutama Ades, dia merasa bingung kenapa Ryan memanggil sebutan kata papa kepada Dio.


"Hai anak kecil, papamu mana. Aku bukan papamu?" Dio berjongkok setinggi Ryan dan mengusap pucuk kepalanya lembut.


"Aku ingin punya papa seperti anda" ucapnya begitu polos membuat Dio tersenyum.


Dio pun menggandengnya dan berjalan ke arah Ades. Kini mereka begitu tampak serasi, wajah Ryan dan Dio memang begitu mirip. Bak pinang dibelah dua. Seulas senyum tersungging di bibir Kanaya. Dia merasa puas kini melihat wajah Ivanka yang memucat.


"Got you" ucapnya dalam hati.


"Anak siapa dia?" tanyanya pada istrinya Ades.


"I... itu" Ades tidak bisa mengatakan kalau itu adalah anak Adrian setelah kejadian Ryan memanggil Dio papa. Apalagi wajahnya begitu sangat mirip. Apakah anak kecil ini anak Dio? Mungkinkah maksud Kanaya bertanya perihal waktu itu hanya untuk mendengar pendapatnya?


"Dia anak Adrian, tertulis dalam lembaran kertas hasil tes DNA".


"Mungkin naluri seorang anak jauh lebih peka siapa ayahnya dibandingkan hasil dari sebuah kertas yang tak berarti" sindir Kanaya menatap sinis ke Ivanka.


Dio lalu menatap ke arah Ivanka, tadi dia hanya melihat sekilas. Namun kini dia menatapnya untuk lebih jelas lagi


"Bukankah dia wanita yang di klub" Dio mencoba mengingat wajah Ivanka. Dia mengingatnya samar, namun tidak begitu yakin dia atau bukan orangnya. Wajahnya memang mirip, tapi wanita yang didepannya terlihat lebih dewasa dibandingkan wanita yang pernah menghabiskan waktu semalaman bersamanya.

__ADS_1


"Dio perkenalkan dia mama dari anak yang tengah kamu gandeng sekarang. Namanya Ivanka" Kanaya memperkenalkan Ivanka kepada Dio. Terlihat wajah Ades marah dan cemburu kepada suaminya. Selain itu juga dia merasa kesal, seakan tidak menghargai dirinya. Dengan sengaja memperkenalkan seorang wanita di depan matanya. Sungguh menyakitkan.


"Oh iya Dio" ujar Dio mengulurkan tangannya.


"I.... Ivanka" tangannya begitu dingin ketika menyambut uluran tangan perkenalan dari Dio. Dio tampak tidak terlalu merasa terganggu dengan kehadiran Ivanka. Tapi justru Ivanka yang terlihat salah tingkah dan merasa canggung.


Kali ini Adrian begitu terpukau dengan rencana cerdik Kanaya. Dia begitu bangga dengan aksi istrinya yang sungguh elegan mempermalukan Ivanka. Tak perlu membuang tenaga berlebih untuk menjatuhkan harga dirinya. Dia begitu sangat mengaguminya, lebih mengaguminya. Cerdik, pintar dan terkontrol. Benar-benar luar biasa. Dia merasa senang karena Kanaya percaya kalau anak itu bukan anaknya. Bagaimana tidak, Kanaya selalu membuat Adrian jatuh cinta lagi dan lagi kepada Kanaya.


"Perkenalkan ini, Ades istriku" Dio tersenyum kepada Ades dan memperkenalkan dirinya ke Ivanka. Ada sedikit rasa bahagia dihati Ades karena Dio tidak malu-malu mengakuinya sebagai istri di depan orang yang baru dia temui. Padahal itu hal yang wajar, namun hal sesimple itu bisa membuat hati para wanita merasa dirinya sangat berharga.


"Hai Ades" sapa Ivanka canggung. Ingin rasanya Ivanka berlari keluar dari lingkaran yang sekaan mencekik dirinya hingga tak sanggup untuk bernafas. Apalagi sekarang dia merasa sangat malu dengan Adrian. Mungkin dia akan menyelidiki perihal tentang Ryan dan meminta tes ulang DNA. Kenapa begitu rumit seperti ini? Ivanka begitu frustasi karena semua ini diluar rencana yang sudah tersusun rapi. Dimana dia harus menggoyahkan dan menghancurkan rumah tangga Adrian dan juga Kanaya?


"Apa kalian saling satu sama lain?" Ades bertanya kepada Ivanka, dia hanya ingin langsung ke intinya. Meyakinkan tentang kehadiran Ryan, menurut hati kecilnya Ryan adalah anak Dio. Meski dia berusaha untuk tegar namun sebenarnya gurat kecemasan begitu terlihat pada wajah tembemnya yang menggemaskan.


"Kita belum pernah saling mengenal, hanya pernah berpapasan sekali".


"Dia pernah menolongku" ucap Ivanka, ada sedikit rasa sesak dalam ucapannya. Terdengar begitu berat, mungkin ada cerita dibalik ucapannya.


Adrian hanya mengamati dan tidak berpendapat apapun. Sulit untuk menerka dan menebak semua ini. Cuma satu hal yang pasti kini dia rasakan. Dia kasian dengan Ades. Berharap dia kuat menerimanya jika Ryan adalah anak Dio dengan Ivanka. Namun kapan mereka saling mengenal? Hal itu yang terlintas dalam pikiran Adrian.


"Kalau begitu aku mau pamit dulu. Ayo sayang kita pulang dulu" ajak Ivanka kepada anaknya yang masih memegang tangan Dio begitu erat. Ades pun merasa heran, mungkinkah ini ikatan batin seperti yang diucapkan oleh Kanaya tadi.

__ADS_1


"Tapi yayan mau disini" celoteh nya khas anak kecil dengan berucap sedikit cadel.


"Nanti kita kesini lagi" bujuk Ivanka, agar Ryan mau ikut dengannya pergi sekarang.


"Sini sayang, mau pegang perut tante nggak. Disini ada dede bayi lo" kini Ades mencoba untuk ramah dan bersikap tenang dulu. Meskipun berat, dia harus melakukannya seperti yang biasa Kanaya ajarkan. Selalu tenang dalam menghadapi setiap masalah. Yakin pasti ada jalan keluarnya.


Ryan dengan spontan menghampiri Ades dan mengelus perut Ades lembut dengan tangan kecilnya. Jari jemarinya yang begitu halus menyentuh perut seperti sebuah sengatan. Ada perasaan aneh yang menggelitik dihatinya. Sesuatu yang hangat, seakan memberikan kekuatan pada dirinya. Ades tidak mampu untuk membenci anak kecil yang ada didepannya sekarang. Seandainya dia benar-benar anak Dio, dia harus belajar menerimanya mulai sekarang. Ades memutuskan hal ini.


"Kita pulang dulu ya, mama belikan mainan baru yang Ryan mau. Ok" Ryan akhirnya mau dibujuk oleh Ivanka untuk pulang dengan menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih" ucap Ivanka kepada Ades. Senyuman yang dia berikan seperti sebuah senyuman merasa tidak enak. Namun ketika matanya saling menatap dengan Kanaya. Justru percikan amarah yang tertuju untuk Kanaya. Dia tidak bisa meremehkan Kanaya, dia begitu cerdik sekali membuat dirinya merasa dipermalukan.


"Urusan kita belum selesai. Aku ingin membicarakan hal yang penting untuk masa depan anakku".


"Jadi jangan pernah mencoba untuk menghindar Adrian" Ivanka mencoba melampiaskan kekesalannya kepada Adrian. Sebenarnya dia ingin sekali melampiaskan emosinya saat ini kepada Kanaya. Justru takutnya akan berakibat fatal baginya. Padahal dirinya juga takut untuk berbicara seperti itu kepada Adrian, tapi itu jauh lebih baik. Mungkin dia tidak akan terlalu menggubrisnya.


"Tenang saja aku tidak akan lari. Silahkan saja hubungi aku, kapan pun kamu ingin bertemu dan membicarakan hal ini aku akan menemuimu" Adrian kini begitu santai menanggapi setiap perkataan Ivanka. Dia belajar dari istrinya untuk bersikap tenang. Jika sebelumnya dia akan mudah terpancing emosi, kini dia harus bisa menekankan semua emosinya.


"Kirim nomer rekeningmu, aku akan memberikan uang untuk anakku pergi bermain" Adrian menunjukkan sikap lebih tidak diprediksi oleh Ivanka. Begitu tidak sesuai ekpestasi. Ivanka pun mengirim pesan berisi nomer rekening miliknya.


"Sudah ku transfer" kini Adrian tersenyum menatap ke arah Ivanka. Tampan, seperi itulah kini wujud Adrian. Satu senyuman yang begitu berharga dari diri seorang Adrian. Senyum yang begitu jarang dia berikan dan perlihatkan dari wajah tampannya yang begitu dingin. Ivanka sungguh tak kuasa menahan berkah ini. Wajah itu yang membuatnya begitu tergila-gila. Senyuman manis itu yang selalu dia damba untuk dilihatnya setiap pagi menyambutnya ketika bangun tidur

__ADS_1


"I'm not in dream" ucapnya dalam hati. Sungguh kini dia merasa berbunga-bunga, tak mampu menyembunyikan kegirangan hatinya mendapatkan senyuman dari Adrian. Raut wajahnya berubah bahagia seketika, apalagi ditambah melihat nominal uang yang dikirim oleh Adrian. Kini benar-benar merasa sangat bahagia, dan mengira Adrian menerima dirinya dan juga Ryan untuk hadir dalam kehidupannya.


"Setelah ini, tunggu saja pembalasanku Kanaya. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku pastikan Adrian akan memilihku dan meninggalkan dirimu" ucap Ivanka dalam hatinya.


__ADS_2