Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kanaya Beraksi


__ADS_3

Mungkin akan terdengar aneh, Kanaya membantu orang yang sudah berniat jahat padanya. Ini murni rasa kemanusiaan, tidak mungkin dia membiarkan seseorang tertindas apalagi dia seorang perempuan. Kanaya melihat pria itu menghampiri Ivanka yang masih duduk di bangkunya. Dia terlihat marah dan menampar wajah Ivanka, sepertinya dia sedang mengancam Ivanka.


"Apakah pria itu yang bernama Fredy?" tanya Kanaya dalam hati.


Biarlah aku liat sampai mana dia akan berlaku kasar kepada Ivanka. Dengan kasarnya dia menarik lengan Ivanka. Menariknya sampai keluar cafe.


"Aku mohon lepaskan sakit. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan. Aku tidak menceritakan apapun sama Kanaya" Ivanka memohon dengan lirih untuk dilepaskan tangan kekar itu dari tangannya.


Terlihat sekali Ivanka meringis kesakitan, kemudian dia mendorong tubuh Ivanka ke mobil AVP silver. Disana terlihat dua orang pria yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Apa kamu sudah menghubungi bos?" tanya pria yang menarik Ivanka tadi kepada temannya yang berambut cepak.


"Sudah, bos bilang kita disuruh memberikan pelajaran kepada wanita ini" ucapnya sambil meraih dagu Ivanka.


"Kata bos, dia wanita yang gila dengan sentuhan laki-laki" kemudian dia menjilati leher Ivanka, terlihat sekali Ivanka merasa jijik disentuh oleh pria berbadan besar dan berkulit hitam tersebut. Kanaya yang melihat hal itu merasa geram dan merasa sangat tidak pantas dilakukan ditempat umum. Ini sama saja dengan pelecehan seksual.


"Hai Ivanka" sapa Kanaya mengagetkan ke empat orang yang berada disana. Tiga pria tadi tampak serba salah. Namun yang memegang Ivanka langsung mendekati Kanaya.


"Apa kamu juga ingin minta di sentuh seperti dirinya cantik?" pria berkulit hitam mencolek pipi Kanaya. Tak pikir panjang, Kanaya langsung menyerang bagian intim pria itu menggunakan lututnya. Dia langsung meringis kesakitan dan segera dibantu oleh salah satu temannya.


"Dasar wanita kurang ajar, aku akan mengajarimu cara mematuhi seorang laki-laki" ucapnya dengan penuh kebanggaan dengan gendernya sebagai seorang laki-laki.


Terlihat jelas kalau dia sedang mengintimidasi Kanaya. Kanaya paling benci dengan pria yang suka menindas dan menyakiti wanita. Selalu merendahkan dan menganggap wanita adalah orang yang lemah. Kanaya langsung menodongkan pistol yang ada di dalam tasnya tadi dan menembak kakinya. Darah segarpun langsung mengalir di kakinya. Pria itu tampak meringis kesakitan dan memegangi kakinya.


"Jangan pernah menyakiti dia lagi, kalau kalian masih ingin hidup".

__ADS_1


"Aku tidak segan-segan menghabisi kalian dengan tanganku sendiri. Ingat itu".


"Oh ya aku lupa, titip salamku untuk bos kalian Fredy. Adrian merindukannya" Kanaya berpaling melangkahkan kakinya dan menarik Ivanka untuk pergi dari sana. Namun tiba-tiba salah satu pria yang belum diberi pelajaran oleh Kanaya ingin menyerangnya dengan sebuah belati.


"Dooor" satu tembakan langsung mengenai bahunya hingga belati tadi terlepas dari tangannya.


"Apa kata-kataku tadi kurang jelas didengar oleh kalian?" kata-katanya begitu sinis didengar dan penuh penekanan sebuah ancaman. Kanaya benar-benar begitu berkharisma. Ivanka saja tercengang tidak percaya. Dia salah mengira Kanaya wanita biasa, nyatanya dia sama seperti Adrian. Dia membayangkan jika tadi Kanaya menembakkan pistol itu ke kepalanya. Itu bukanlah pistol mainan yang bisa melukai orang sampai berdarah seperti itu. Artinya Kanaya tidak berniat untuk mengancam dia sebelumnya, mungkin ingin menghabisi dia.


"Kirim salamku pada bos kalian, aku akan menghancurkannya jika dia masih mengusik kehidupanku" ancam Kanaya sambil menodongkan pistol ditangannya tadi ke arah para preman milik Fredy.


Kanaya masih berusaha untuk sabar tidak menyakiti mereka dari tadi. Namun sepertinya dia memang harus melepaskan semua emosi yang terpendam selama ini. Dia merasa ada sedikit perasaan bahagia dan senang. Iya, dia merindukan momen seperti ini.


"Ka.. Kanaya. Terimakasih" ucap Ivanka gugup, tangannya begitu dingin. Sedingin es, matanya pun terlihat membeku.


"Lebih baik kamu sembunyi dan menyelamatkan dirimu sendiri" kata Kanaya menyuruh Ivanka.


"Carilah tempat yang menurutmu aman, aku tidak bisa menjamin akan memberikan keamanan untukmu dan anakmu. Sekarang anakmu sudah aman, dia bersama ayahnya sekarang dikantor" kata Kanaya membuat Ivanka terkejut dan bingung. Ayah Ryan? Apakah dia bersama Adrian?


"Dia bersama Dio" Kanaya menjawab semua pertanyaan yang ada dikepala Ivanka. Dia pun hanya mengangguk mendengar kata Kanaya.


"Itu bukan pistol mainan kan?" Ivanka menanyakan perihal pistol yang ditodongkan Kanaya kepadanya tadi.


"Bukan, ini pistol mainan kok. Mainan kesayanganku" Kanaya tersenyum dan pergi meninggalkan Ivanka.


Sebenarnya Kanaya pergi ke cafe ditemani oleh Tora. Namun Tora hanya disuruh Kanaya untuk mengawasinya dari jauh. Sebelumnya Kanaya bertanya perihal tentang fredy kepada Tora. Tora pun menjelaskan kalau Fredy adalah mata-mata yang sengaja dikirim musuh untuk mengawasi gerak gerik Adrian. Jadi dia mengerti, kalau ini adalah balas dendam. Dengan sengaja dia mengatakan kalau Adrian merindukan Fredy. Menunjukkan kalau dia tau siapa dalang semuanya, dan kanaya tidak takut dengan dirinya.

__ADS_1


***


Adrian tersenyum bahagia melihat video aksi Kanaya memberikan pelajaran kepada tiga pria yang menggangu Ivanka. Dia merasa begitu bangga dengan istri cantiknya itu. Perfect! Satu kata itu pantas disematkan untuk dirinya. Tora lah yang mengirimi dia video Kanaya tersebut. Dia sengaja menyuruh Tora untuk mengawal Kanaya sekarang. Adrian khawatir dengan musuh-musuhnya yang sudah mulai berani bergerak menyerang. Mungkin saja Kanaya akan menjadi target mereka berikutnya.


Masih tidak ada kabar mengenai keberadaan Fredy, kenapa begitu sulit dilacak? Kali ini dia benar-benar sudah kalah langkah. Musuhnya sudah menyusun rencana dengan begitu sempurna untuk kehancurannya. Lagi-lagi dia hanya bisa kesal. Adrian sengaja meminta Dio pulang lebih awal dan mengajak Ryan pulang bersamanya. Adrian pun mengatakan dengan tegas kalau anak laki-laki itu adalah darah dagingnya. Meskipun sempat menolak dan keberatan dengan permintaan Adrian. Namun Adrian mengatakan hanya untuk sementara, karena hidupnya sedang terancam. Menurutnya, mungkin Ades akan mengerti karena dia memiliki sifat keibuan.


Adrian juga berjanji, jika semua masalah selesai. Dia dan Kanaya yang akan mengasuh Ryan. Mereka tidak ingin keharmonisan rumah tangga Ades dan Dio akan berantakan. Kanaya dan Adrian sudah membicarakan semua hal ini sebelumnya. Mereka sepakat untuk menjadi orang tua angkat buat Ryan. Satu masalah sudah ada titik terang penyelesaiannya. Tinggal mencari tahu keberadaan Fredy dan Ronald.


***


Ivanka melajukan mobilnya dengan cepat, dia berniat akan membawa anaknya pergi ke California. Tinggal bersama papanya lagi, dirinya dan Ryan pasti akan aman jika berada disana. Saat Ivanka fokus dengan rencananya untuk menyelamatkan diri dari masalah yang bukan dia perbuat. Terlihat sebuah mobil hitam mengikuti mobil Ivanka.


Ivanka sadar kalau dirinya sekarang sedang diikuti. Dalam keadaan yang panik dia hanya mengingat satu nama yang harus dia hubungi. Kanaya, hanya nama Kanaya yang terlintas dalam kepalanya. Dia pun langsung menghubungi nomer Kanaya. Panggilan pertama tidak dijawab, ketika panggilan kedua baru diangkat oleh Kanaya.


"Kanaya, tolong aku. Sepertinya aku sedang diikuti" kata-kata Ivanka bergetar ketika berbicara dengan Kanaya. Dia begitu ketakutan.


"Kamu ada dimana sekarang? Aku akan segera menyusulmu" jawab Kanaya yang juga khawatir.


"Aku ada di jalan menuju perumahan Griya Permai".


"Brruuukkk" terdengar sebuah hantaman dari mobil yang dikendarai Ivanka. Kanaya tampak begitu cemas dan khawatir. Tanpa pikir panjang dia menyuruh Tora untuk membawa mobil pergi ke tempat Ivanka berada.


"Ivanka dalam bahaya" kata Kanaya menghubungi Adrian. Adrian pun langsung menyusul pergi bersama Tony.


"Fery, tolong jaga Mely. Jangan kau biarkan dia sendiri" tak perlu banyak bertanya. Fery sudah mengerti dengan maksud Adrian tersebut. Situasi sekarang berarti benar-benar harus waspada. Dia hanya mengangguk paham.

__ADS_1


"Aku titip Amanda" ucap Tony kemudian menepuk bahu Fery. Fery hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kini dia sebagai tempat penitipan. Kalau disuruh menjaga Mely istrinya sendiri tanpa diminta pun dia pasti akan menjaganya dengan segenap nyawa nya. Menjaga Amanda, itu bukan kewajibannya. Apa boleh buat?


__ADS_2