
"Tak usah kamu berpikir keras tentang apapun. Aku hanya ingin melihat kematian kalian saja hari ini. Tidak ingin lagi aku gagal untuk kesekian kalinya" ucap Fredy seolah merasa kesal atas kegagalannya selama ini.
"Pasti sulit ya, karena rencanamu selalu gagal" ejek Tony.
"Dua kali aku terlepas dari rencana busukmu untuk melenyapkanku. Bukankah sangat begitu mengesalkan" Tony mencoba untuk mengulur waktu sebab, Niki dan Hendry sebentar lagi akan tiba.
"Kita lihat, berapa banyak nyawa yang kamu miliki untuk selalu terhindar dari kematian. Akan aku pastikan kalau kau akan meregang nyawa hari ini Tony" teriak Fredy yang merasa kesal dengan Tony. Iya, dia sangat kesal dan sedikit frustasi karena selalu gagal untuk melenyapkannya.
"Aku tidak akan mati hari ini ataupun besok. Sebab aku tidak akan mati ditangan bajingan seperti dirimu" tunjuk Tony dengan tatapan yang penuh berapi-api.
Fredy pun memberikan aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerang mereka. Semua anak buah Adrian sudah bersiaga sejak tadi. Sebelumnya mereka tidak pernah membawa senjata, tapi karena keadaan sudah mulai genting. Mereka diintruksikan oleh oma Rachel untuk membawa senjata tanpa ketahuan oleh Adrian. Setidaknya mereka memiliki satu pisau lipat yang mudah untuk dibawa.
Perkelahian antara dua kubu pun tak terelakkan, pertempuran terjadi begitu sengit. Adrian dan Tony mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk melawan semua musuh yang kira-kira berjumlah hampir tiga puluh orang. Beberapa orang anak buah Fredy terkapar tak berdaya sehingga hanya menyisakan beberapa orang saja. Ya, pastinya kemampuan anak buah Adrian yang hanya berlima melebihi kemampuan anak buah yang dimiliki Fredy. Sehingga mereka mudah untuk mengalahkan mereka semua.
Fredy kemudian bersiul, datanglah beberapa orang lagi untuk menyerang Adrian cs. Sepertinya mereka jauh lebih profesional. Terlihat dari gaya mereka dan juga postur tubuh mereka yang lebih menjanjikan.
"Sial, aku rasa dia memang sengaja merencanakan ini semua. Dia sengaja membuat tenaga kita terkuras lebih dulu. Barulah pertempuran sesungguhnya dia berikan".
"Memang sungguh licik sekali, brengsek" umpat Tony kesal. Dia sengaja menguras tenaganya untuk menghajar anak buah Fredy. Agar cepat dia bisa mengajar Fredy denga tangannya sendiri. Bagaimana dia tidak dendam dengan pria yang sudah menipunya? Berlagak seperti pahlawannya, padahal dia sendiri lah yang ingin membunuh dirinya.
"Kita harus bisa melawan mereka, sampai Andre datang kemari" ujar Adrian. Ya, dia tidak tahu kalau mama dan mertuanya sudah hampir sampai ke tempatnya.
"Kita harus bereskan semua ini. Aku tidak akan menyerah hingga titik darah penghabisan" ucap Adrian penuh semangat.
__ADS_1
"Siiiiiiaaaaaap" teriak anak buahnya yang memang solid.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat" kata Niki melangkah setelah menghajar beberapa anak buah Fredy.
"Apa kau kewalahan anakku sayang?".
"Sepertinya kamu harus lebih melatih stamina ketahanan tubuhmu itu" Niki masih sempat meledek putranya itu.
"Mama" Adrian terkejut dengan kehadiran sang mama. Kemudian dia lebih terkejut lagi adanya sang mertua disini.
"Papa" Adrian kini tercengang kemudian dia melihat ke arah Tony. Tony hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kalau pun gatal mungkin Tony punya ketombe kali ya.
"Oh jadi dia ya yang sudah membunuh papa" tunjuk Niki ke arah Fredy yang masih berdiri terpaku melihat hal ini. Sekali lagi tidak sesuai dengan prediksi ataupun rencana yang sudah dibuatnya dengan matang. Fredy pun tampak sedikit gentar, sebab dia tahu sekali dengan Hendry yang seperti malaikat pencabut nyawa jika sudah ke medan perkelahian.
"Kembali seperti dulu abangku sayang" kedip Niki kepada Hendry sambil tersenyum.
Tanpa basa basi Niki langsung menerjang dua orang sekaligus. Adrian dan Tony pun terpana dengan aksi berkelahinya Niki. Dia tidak menyangka jika mamanya begitu sangat lincah dan agresif jika sedang berkelahi. Auranya seperti seorang predator yang siap memangsa korbannya. Matanya begitu tajam setajam mata elang. Sedangkan Hendry, satu pukulannya langsung bisa membuat lawannya terkapar. Senior memang beda tampilannya ya.
"Doooor" sebuah tembakan berbunyi nyaring melesat. Semuanya berhenti saling berkelahi. Mereka mencari darimana arah tembakan tersebut dan siapa yang tertembak.
Adrian memegangi dada kirinya dan sedikit meringis. Rupanya saat Adrian lengah, Fredy mengambil kesempatan tersebut untuk menembaknya. Licikkan, memang dia licik.
"Adrian...... " teriak Niki saat melihat anaknya memegangi dada kirinya.
__ADS_1
"Adrian..... " Tony memegangi tubuh Adrian. Dada itu, dada yang ditunjuknya saat dia bercerita tentang firasatnya yang merasa sedikit nyeri dibagian dadanya itu. Mungkin ini maksud dari ucapannya tadi.
Fredy memberikan kode kepada anak buahnya untuk mundur. Mereka yang terkapar disana dibiarkan saja. Fredy tersenyum senang, karena dia telah meraih kemenangan. Untuk kedua kalinya dia berhasil melenyapkan suami Kanaya.
"Memang hari ini adalah hari kamu untuk menemui ajalmu Adrian" gumam Fredy berlalu pergi dari tempat pertempuran mereka.
"Adrian, tidak mungkin. Maafkan aku Adrian " Tony merasa telah gagal melindungi bosnya sekaligus sahabatnya itu. Berbagai momen persahabatan mereka yang terekam dikepala Tony bermunculan diingitannya. Susah senang yang mereka lewati dan lalui bersama. Berbagai macam medan pertempuran dan perkelahian telah mereka hadapi bersama-sama. Tak pernah terlintas dalam pikirannya jika dia akan melihat Adrian dalam keadaan seperti ini.
"Adrian kamu harus kuat, ingat Kanaya ingat anakmu yang masih dalam kandungannya. Apakah kamu tidak ingin melihat wajahnya mirip siapa?" Tony merasa tak sanggup jika dia akan kehilangan sahabat terbaiknya itu.
"Sayang, sayang mama. Buka matanya nak, ini mama nak. Mama datang untuk membantumu nak. Mama datang untuk memastikan kamu baik-baik saja nak" Niki menggoyan-goyang tubuh anaknya yang kini telah berada dalam pangkuan Tony.
Andre yang baru saja sampai terkejut melihat kerumunan yang ada. Bukankah akan terjadi perkelahian disini atau dia datang terlambat? Dia melihat ada sosok Hendry yang tengah berdiri kemudian berjongkok disamping tubuh seorang perempuan.
"Mama" gumamnya.
"Adrian mama mohon bangun Adrian" Andre mendengar teriakan sang mama menyebut nama kakaknya tersebut.
"Tidak, tidak mungkin" pikirannya kini berkecamuk membayangkan hal yang buruk.
"Tidak boleh, tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi" Andre menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk tentang hal yanh menimpa Adrian sekarang. Dengan langkah gontai dia menghampiri kerumunan tersebut. Para anak buah Aston memberikan jalan kepada Andre yang baru saja datang. Dia melihat tubuh kakaknya itu kini dipeluk oleh mamanya.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Jangan lagi... Jangan. Jangan mati kamu Adrian" teriak Andre histeris. Andre menjambaki rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Andre, Adrian Ndre.... " isak Niki berlinang air mata.