Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kekalahan


__ADS_3

"Lama tidak berjumpa" sapa Adrian di hadapannya. Raut wajahnya pun langsung menegang ketika melihat sosok Adrian.


Fredy terkejut dengan kedatangan Adrian cs. Dia tidak menyangka jika mereka akan datang secepat ini. Sebab dari informasi anak buahnya yang mengawasi kediaman Aston. Bahwa mereka baru saja keluar dan hendak menuju ke markas yang telah dikuasai oleh Devin. Semua keberhasilan ini adalah rencana dari Devin. Menyerang mereka secara bersamaan dalam waktu yang sama. Meski harus mengorbankan banyak anak buah, tapi rencana Devin memang terbaik. Fredy pun salut dengan rencana brilian ini.


"Semuanya kemari" teriak Fredy gusar. Rasanya tidak akan mungkin jika dia melawan mereka sendirian.


"Mereka tidak akan mungkin mendengar teriakanmu Fredy" Tony pun tidak kalah untuk menyudutkan dirinya.


Tanpa disangka Fredy langsung menyerang Tony. Sebuah pisau dia tancapkan di bahu Tony. Adrian dengan sigap langsung menendang Fredy. Mely pun langsung menolong Tony yang terluka. Lumayan dalam luka tusukan yang diberikan oleh Fredy tadi.


"Brengsek" geram Tony yang masih memegangi bahunya yang terluka. Dibantu oleh Mely dan juga Fery untuk didudukkan pada sebuah sofa.


"Adrian dimana P3K nya?" teriak Mely pada Adrian yang masih sibuk berkelahi dengan Fredy.


"Entahlah aku tidak tahu. Cari saja sana" jawab Adrian setelah memukul telak wajah Fredy.


"Cepat kamu cari, biar lukanya aku yang tekan" suruh Fery kepada istrinya.


"Baik. Hei Ton, kamu harus bertahan. Kamu pasti ingin lihat aku menggendong anak kan?" Mely harus membuat Tony tetap sadar. Makanya dia terus mengajak Tony berbicara. Tony terlihat hampir hilang kesadaran karena pendarahan pada lukanya.


"Jangan mati sekarang nanti Amanda bisa digaet sama Martin lo" Mely tetap berusaha untuk membuat Tony terus tersadar.


"It's not working" teriak Mely frustasi. Sebab dia juga belum bisa menemukan kotak P3K tersebut.


"Sayang bawa Tony ke rumah sakit sekarang juga. Biar aku yang akan bantu Adrian disini" pinta Mely yang sangat begitu khawatir pada Tony. Dia begitu cemas, sebab bibir Tony mulai membiru. Biasanya ketika menerima sebuah tusukan tidak akan sefatal ini. Pikir Mely.


"Ok. Jaga dirimu sayang" Fery mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Mely.


"Aku akan kembali secepat mungkin" Fery langsung membopong tubuh Tony yang mulai lemas.


"Kamu berhutang nyawa lagi kepadaku untuk ke sekian kalinya bro" Fery memulai pembicaraan kepada Tony.


"Ya, kamu selalu menjadi penyelamatku. Thank you Fery".


"Sepertinya pisau tersebut sudah diolesi racun. Hingga membuatku lemah begini" Tony benar-benar meringis kesakitan.


"Aku rasa tidak, hanya lukanya terlalu dalam hingga membuatmu pendarahan Ton" ujar Fery untuk menenangkan Tony. Meski pikiran Fery pun sependapat dengan Tony. Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Fery mengajak Tony untuk mengobrol agar kesadarannya tetap terjaga.


****

__ADS_1


"Aku rasa Tony tidak akan bisa bertahan lama".


"Dia akan meninggal sebelum dia sampai dirumah sakit. Hahahaha" Fredy tertawa seakan dirinya telah menang.


"Apa yang kamu bicarakan?" Adrian begitu kesal karena ulah Fredy yang telah melukai Tony.


"Belati itu sudah aku olesi racun bisa ular Adrian. Aku rasa Tony tidak akan mampu untuk bertahan" Adrian pun langsung memberikan pukulan yang membuat Fredy langsung terjengkang.


"This is for Tony" Mely memberi pukulan pada Fredy. Telak mengenai hidung mancung Fredy. Membangunkannya dengan kasar kemudian menendang perut Fredy dengan keras. Hingga membuat Fredy langsung pingsan. Mely benar-benar jengah dibuat oleh Fredy. Seperti ada dendam dalam hati Mely.


"Kamu urus dia seperti biasanya. Kita harus biarkan dia tetap hidup. Hingga keadaan Tony membaik. Biar dia yang mengeksekusinya. Sebab Tony yang lebih banyak dirugikan oleh Fredy" Adrian melemaskan otot-otot tangannya yang terasa kaku setelah berkelahi dengan Fredy tadi.


"Aku akan menyusul oma untuk menyelamatkan Kanaya. Aku memintamu untuk menjaga tempat ini. Kupercayakan semua yang ada disini padamu Mel" Adrian menepuk bahu Mely. Kemudian dia pergi keluar meninggalkan rumah megah keluarganya.


"Kita akan segera memulai permainan kita beb" ucap Mely memegangi wajah Fredy.


"Bawa dia ke tempat biasa" perintah Mely menyuruh Tigor.


****


"Niki, kamu sudah siap?" tanya Hendry. Niki hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hendry tadi.


"Siap om! Saya akan melakukan apa saja untuk keselamatan keluarga saya" dengan tegas Andre berucap kesiapan dirinya untuk bertempur hari ini.


"Ayo kita serang mereka secara perlahan dan diam-diam" perintah Hendry.


Dengan perlahan mereka menghampiri markas mereka yang telah dikuasai Devin. Hendry mengarahkan tangannya memberikan kode. Kalau Andre ke kiri, Niki ke kanan. Sedangkan dirinya ke depan. Mereka pun saling mengangguk satu sama lain. Dengan cepat dan sigap mereka telah melumpuhkan penjagaan bagian depan. Kemudian mereka bertiga beserta anak buah masing-masing masuk ke dalam rumah besar yang menjadi markas keluarga Aston.


"Welcome home" sambut Devin seakan telah menanti kedatangan mereka.


Hendry dan yang lainnya pun tercengang ketika mereka masuk ternyata sudah disambut dengan pistol yang mengarah kepada mereka semua. Apakah ini semua ini jebakan? Niki terlihat gusar dan juga geram. Bukan karena takut, namun marah kepada Devin yang begitu licik.


"Aku sudah menanti kedatangan kalian. Namun sayangnya tamu spesial yang aku inginkan tidak kemari ya. Apa masih dijalan?" ucapnya dengan santai sambil memegang gelas yang berisi wine.


"Apakah kamu menunggu Adrian?" Hendry langsung menyebutkan nama menantunya itu. Sebab dia pikir hanya Adrian orang yang sekarang sangat berpengaruh untuk Devin.


"Tentu saja. Aku ingin memberikan penawaran kepadanya. Aku akan melepaskan keluarga Aston. Asal dia memberikan ketiga anak Radit" dengan nada yang sombong Devin berucap. Hendry mengepalkan tangannya karena marah, sebab yang dimaksud Devin adalah cucunya.


"Tak akan pernah aku biarkan kamu menyentuh cucuku" teriak Hendry lantang.

__ADS_1


"Wow, fabulous. Tidak aku duga sama sekali. Ternyata aku bertemu dengan mantan mertua Radit. Hello besan apa kabar?" ucap Devin mulai ramah kepada Hendry.


"Tidak usah berbincang tentang omong kosong dan sok baik. Aku tidak akan pernah menganggap dirimu bagian keluargaku ataupun keluarga Radit sekalipun" dengan geram Hendry berucap.


"Santai saja besan. Akan aku pastikan kamu juga tidak akan melihat kematian ketiga cucumu. Sebab kamu akan aku kirim lebih dulu" wajah Devin yang penuh marah serta sorotan tajam yang seakan membunuh Hendry seketika. Sama sekali tidak membuat Hendry gentar sedikitpun.


"Dor" sebuah tembakan diberikan ke bahu kanan Hendry.


"Ini hanya permulaan" ujar Devin memberikan wajah dinginnya. Matanya memperlihatkan betapa kejam dirinya. Devin kembali meminum wine yang tadi sudah dia letakkan diatas meja. Sedangkan Hendry memegangi bahunya yang kini telah bersimbah darah.


"Hendry" panggil Niki. Dia sedikit terluka melihat musuh bebuyutannya kini terluka.


"om".


"Tidak apa-apa. Tenang saja" ucap Hendry kepada Andre. Hendry tidak akan mudah dikalahkan meski hanya dengan satu tembakan.


"It's ok. Jika kamu ingin melihat cucumu masih dalam keadaan sehat. Maka selamat lah hari ini. Sebab, aku yang akan menjadi pencabut nyawa kalian semua. Hahahaha" kini ruang ini penuh dengan tawanya Devin yang menggelegar bagaikan suara iblis.


"Dor".


"Dor".


Anak buah Devin ditembaki oleh seseorang dari luar. Entah siapa tidak ada yang mengetahuinya. Hal ini menguntungkan Hendry dan lainnya untuk menyerang. Sebab mereka sekarang sedikit lengah. Hendry mengangguk pada Andre dan juga Niki. Setelah aba-aba mereka pun memulai penyerangan kepada Devin. Kini Devin merasa tersudut, dia seakan tengah di bombardir oleh lawan yang tak terlihat oleh mata dari luar serta penyerangan langsung ke dalam markas dari Hendry cs.


"Sial, brengsek" umpatnya kesal. Sebab rencananya hari ini gagal untuk melenyapkan semua klan Aston.


"Siapa yang berada diluar sana yang telah begitu berani merusak acaraku?" Devin terus saja menembaki Hendry.


Sebab dialah yang harus bisa dia lenyapkan agar rencananya tidak terlalu gagal. Justru dia yang kena tembakan dari Hendry. Tangan kanannya tertembak. Darah segar pun langsung mengalir pada tangannya. Satu sama terluka kena tembak.


"Damn it" jeritnya kesal.


"Kalian urus semuanya yang ada disini" perintahnya kepada anak buahnya yang ada disana.


Dengan tergopoh dan tergesa-gesa Devin keluar dari markas utara milik Aston. Dia pergi menuju ke mobilnya yang terparkir di belakang.


"Kenapa jadi gagal seperti ini?" gerutu Devin yang selalu merasa gagal dalam setiap langkahnya.


Termasuk menguasai aset Marven. Padahal Darren tengah terbaring koma, tetap saja dia tidak bisa menguasai sepenuhnya agar utuh menjadi miliknya. Devin pun segera masuk ke dalam mobilnya. Takut jika ada musuh yang menembaknya secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Halo brother" sapa seseorang dibelakang kursi mobil milik Devin. Devin pun langsung terkejut melihat siapa yang tengah menodongkan pistol ke kepalanya. Wajah Devin kini benar-benar pucat pasi melihat sosok tersebut.


__ADS_2