
Pagi.
Udara sejuk Khas pedesaan. Angin berhembus menebarkan bau basa dari embun pagi. Aku berdiri di dekat jendela, menikmati hawa dingin nan menyejukkan kulit. Menenangkan sekali. Mampu membuat kegelisahan di hati sedikit menghilang.
Dering ponsel mengganggu ketenangan ini. Mengabaikannya dan kembali termenung. Sejenak melupakan semua masalah malam itu.
Kembali ponsel berdering. Entah siapa yang menelpon sepagi ini. Aku beranjak dari duduk di dekat jendela. Meraih benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar.
Devan!
“Pagi, sayang. Apa kabarnya?”
Puja kerang ajaib!
Ini bukan yang aku inginkan. Kenapa harus telpon sepagi ini? Membuat moodku semakin hancur.
“Ngapain telpon gue!”
“Dih, kok jutek sih. Aku ada di depan rumah kamu nih.”
Mata membulat, hati mengeluarkan api. Ingin rasanya menelan hidup-hidup makhluk yang bernama Devan.
Di depan rumah? Darimana dia tahu alamat rumahku? Itu berarti dia telah pulang ke Indonesia. Oh, tidak! Tamatlah riwayatku.
Hidup tidak akan tenang jika keberadaanku telah di ketahui olehnya.
“Halo, sayang. Kamu masih di situ kan?”
“Gue bukan pacar Lo, jadi jangan panggil gue sayang!”
Devan tertawa.
“Yaudah keluar gih!”
Seketika keusilanku bergejolak. Sekali-kali boleh dong ngerjain Devan.
“Oke, tunggu aja dulu gue keluar bentar.”
“Siap, sayang.”
Aku mematikan panggilan dari Devan. Lalu menelpon rumah agar Mbok Nah yang menemui Devan.
Tinggal tunggu beberapa menit saja, Devan pasti akan menelpon sambil marah-marah.
Nggak bisa ngebayangin gimana reaksi lelaki itu saat melihat siapa yang menemui dirinya.
Aku tertawa geli saat membaca pesan WhatsApp dari Devan. Dia marah.
Masa bodoh dengannya, karena aku memang tidak menyukai dirinya. Perasaan nggak bisa di paksakan. Mungkin perasaan Devan sama sepertiku. Mencintai seseorang tapi bertepuk sebelah tangan.
“Kak Mey, udah bangun belum?” Suara Raisa dari luar.
Aku melirik ke arah benda yang terpasang di dinding. Jam setengah tujuh! Terlalu asyik dengan Devan hingga lupa membantu ibu menyiapkan sarapan.
“Iya, Rai!” sahutku seraya melangkah membukakan pintu.
Raisa berdiri di depan pintu dengan pakaian olahraga.
“Kamu nggak sekolah?”
“Kan ini hari minggu. Aku mau lari-lari, Kakak mau ikut nggak?”
Lari-lari di cuaca dingin begini? Rasanya kok malas ya, tapi boleh juga sih. Sudah lama nggak olahraga pagi.
“Boleh deh. Kakak ganti baju dulu ya.”
“Oke. Aku tunggu di depan.”
Aku mengangguk. Masuk ke kamar lagi mengambil pakaian joging. Untung aja bawa.
Selesai mengganti aku melihat sekeliling. Tumben suasana rumah sepi. Biasanya Ibu sudah beres-beres dan Kak Tomy ikut membantu.
Kemana mereka?
“Rai, kok sepi?”
__ADS_1
Raisa yang duduk di kursi teras menoleh.
“Ibu lagi ke pasar, Kak. Diantar Kak Tomy.”
“Oh, ya udah ayo berangkat.”
Raisa mengangguk lalu mengunci pintu. Kami bersiap lari pagi di alun-alun. Setiap minggu di sana ada car free day. Jadi tempat paling enak berolahraga ya di alun-alun.
Selain banyak kuliner, di alun-alun juga ada fasilitas olahraganya juga.
Ah, enak sekali tinggal di sini.
***
“Kak, laper nih. Sarapan yuk!” ajak Raisa saat kami duduk di tepi trotoar.
“Boleh, mau makan apa?”
“Jalan aja ke sana. Nanti Kakak aja yang milih.” Raisa menunjuk ke arah timur alun-alun. Tempat dimana begitu banyak para penjual makanan, pakaian, aksesoris dan masih banyak lainnya.
Suasana di sini lumayan rame. Hampir semua pedagang makanan di serbu para pembeli. Aku jadi bingung mau makan apa. Kebanyakan tempat sudah penuh oleh mereka yang kelaparan.
“Rai, makan apa? Kakak bingung soalnya penuh banget.”
Raisa melihat sekeliling. Tidak ada yang lega, kami pun berjalan kembali. Mencari tempat yang masih ada kursi atau lesehan yang kosong.
“Kakak mau sate lontong nggak?”
“Boleh juga.”
Raisa menunjuk ke arah penjual sate lontong Madura. Rame juga, tapi lumayan lah masih ada lesehan yang kosong.
“Ibu, dua porsi makan sini ya,” ucap Raisa.
“Oke,” jawab penjual sate lontong.
“Ini makanan favorit di sini, Kak. Di Jakarta ada nggak?”
“Ada tapi satenya di bakar dadakan. Malem dong adanya.”
Pandanganku berhenti pada seorang wanita yang sangat familiar. Bersama seorang lelaki yang kukenal. Mereka menuju ke arah penjual lontong yang sama denganku.
Hatiku terasa di tusuk ribuan jarum saat melihat mereka bergandengan tangan.
“Raisa, itu bukannya Kak Tomy?”
Raisa mengalihkan pandangan. Dia melihat ke arah yang aku tunjukkan.
“Lho kok sama Kak Lilis? Bukannya tadi ngantar ibu?”
Raisa hendak berdiri. Aku mencegahnya dan menyuruh dia untuk pura-pura tidak tahu. Sayangnya Kak Tomy melihatku lebih dulu lalu melepas genggaman tangannya.
“Raisa, Mey? Kalian di sini juga?” tanya Kak Tomy basa basi.
Basa basi atau kepalang kaget karena kepergok berduaan?
“Lho, bukannya Kak Tomy anter ibu?” tanya Raisa.
Lilis hanya menunduk. Ngumpet di balik punggung Kak Tomy.
Takut mungkin.
“Ibu ... Tadi ke pasar sendiri.”
“Oh, jadi Kakak mentingin pacaran daripada nganter ibu? Bagus banget!” ucap Raisa sinis.
Raisa menarik tanganku. “Kak, pulang aja. Aku nggak napsu makan jadinya.!”
Aku mengangguk. Tanpa kata juga tidak menatap Kak Tomy. Sakit rasanya.
“Ibu, pesanan aku kasih aja ke mereka!” ucap Raisa.
“Dek, tunggu! Kakak bisa jelasin!” Kak Tomy menghalangi kepergian kami.
Layaknya seorang yang sedang pacaran, Raisa tidak memperdulikan ucapan Kakakanya dan terus berjalan. Entah gadis itu menjaga perasaanku atau memang tidak suka sama Lilis.
__ADS_1
“Kok tadi nggak makan bareng aja sama mereka?” ucapku menahan sesak di dada.
“Aku males liat muka cewek bermuka dua itu!”
“Maksud kamu Lilis?”
“Kakak kok kenal?”
“Semalam ketemu pas kami jalan-jalan.”
Raisa menghela napas. Wajahnya masih cemberut dan memperlihatkan ketidaksukaan pada Lilis.
Pada akhirnya kami menikmati soto bathok yang lokasinya tidak jauh dari tukang lontong tadi. Hanya terhalang oleh empat tenda tukang dagang saja.
Kulihat Kak Tomy yang sedikit panik. Dia diam menikmati sarapannya meski Lilis bergelayut manja di lengannya. Sesekali menyuapi Kak Tomy tapi lelaki itu tidak merespon.
“Cewek muka dua itu masa cemburu sama aku. Padahal aku ini adeknya. Depan Kakak aja dia baik, tapi kalau nggak ada Kak Tomy dia jutek banget!” Raisa melanjutkan kekesalannya setelah menghabiskan segelas es jeruk.
“Jadi mereka udah pacaran, Ra?”
“Udah, itu karena si Lilis ngejar-ngejar Kak Tomy. Padahal Kak Tomy cintanya sama Kak Mey.”
Aku yang sedang menyantap soto, tersedak kuahnya mendengar ucapan Raisa.
“Aduh, pelan-pelan Kakak sayang.” Raisa menyodorkan es jeruk. Aku meminumnya sedikit.
“Cinta sama aku? Kamu salah, Ra. Mana mungkin Kak Tomy cinta sama aku. Dia cinta sama Lilis.”
“Kakak kok ngomong gitu? Ada bukti?”
“Ada, tuh sekarang mereka berduaan.”
“Aku yakin, itu akal-akalan si Muka dua itu aja, Kak. Apa yang aku katakan itu benar, kalau Kak Tomy cintanya sama Kakak.”
Aku tertawa. Ucapan Raisa sedikit mengurangi rasa sesak ini. Meskipun aku tidak yakin apa yang dikatakan Raisa itu benar.
“Kakak mau dengerin cerita ketika kalian belum ketemu nggak?”
“Apa?”
Raisa meletakkan bathok soto itu. Namanya juga soto bathok, jadi mangkoknya terbuat dari bathok kelapa. Seger dan enak juga rasanya.
“Kakak itu rela jomblo karena ada hati yang dia jaga.”
Aku jadi ingat ucapan Kak Tomy waktu aku bertanya tentang statusnya saat ini. 'Ada hati yang dia jaga.’
“Lilis, ya dia adalah hati yang di jaga Kak Tomy.”
“Dengerin dulu, semua itu salah. Kakak jangan asal nilai.”
“Lalu?”
“Hati itu adalah Kakak. Dia selalu berharap kalau suatu hari nanti akan dipertemukan kembali sama teman masa kecilnya. Aku penasaran siapa wanita yang beruntung itu.”
“Kata Kak Tomy namanya Mey Larasati. Kak Tomy susah payah nyari Kakak. Alamat udah ilang, akhirnya dengan berbekal nama Papa Kakak ketemu,” lanjut Raisa.
Aku mendengarkannya dengan seksama. Jadi selama ini Kak Tomy mencari aku? Lalu kenapa dia tidak memperlihatkan kalau benar-benar memiliki rasa padaku. Malah seolah-olah mencintai Lilis. Apa wanita itu memaksa Kak Tomy supaya mau dekat dengannya?
Kalau memang benar, apa yang bisa aku lakukan?
Sedangkan melihat Lilis saja sepertinya dia wanita yang licik. Bisa melakukan segala hal demi mendapatkan apa yang dia mau.
“Aku pikir Kak Tomy bakal ngelamar Kak Mey.” Raisa terlihat lesu, semangatnya menurun saat melihat mereka berduaan di tukang sate.
“Udah, biarin aja. Cinta nggak bisa dipaksa.”
“Kakak cinta kan sama Kak Tomy?”
Aku terdiam. Soal rasa aku sendri tidak paham. Apakah itu cinta atau hanya sekadar kekaguman semata.
“Kalau cinta, Kakak harus perjuangin. Aku yakin seseorang yang mencintai secara alami akan menang dari seseorang yang bermuka dua.”
Rasia melirik ke arah sana! Lagi-lagi pandangan yang membuat hati memanas terlihat. Kak Tomy yang semula gelisah kini menikmati kebersamaannya dengan Lilis. Mereka terlihat begitu mesra.
“Aku akan membuka kedok Lilis! Kak Mey tenang aja.”
__ADS_1
Next ....