
Pada akhirnya aku kembali bersama kesendirian yang selalu menemani. Semua telah berakhir dan predikat jomblo akan melekat dalam diriku. Entah sampai kapan, yang pasti aku lagi nggak pengen jatuh cinta.
Cinta itu menyakitkan. Membuat jantung selalu berdebar kencang di kala bertemu seseorang yang kita cintai. Udah gitu selalu merasa gugup saat mau berbicara.
Cinta itu ... Nggak ada yang indah. Bohong kalau ada yang bilang cinta akan indah pada waktunya.
Buktinya cinta yang aku rasakan berakhir duka. Apa kalian tahu gimana rasanya di tinggal pas lagi sayang-sayangnya?
Sakit sekali.
Ya, apalagi saat aku bertemu secara langsung wanita itu. Pas banget bangun dari pingsan karena mikirin cinta.
Bodoh!
“Mey, kamu udah sadar?” Ibu bertanya saat aku mulai membuka mata.
Kepala terasa pusing. Antara setengah sadar setengah enggak. Mungkin bisa juga setengah gila setengah waras.
“Kok aku di sini?” tanyaku bingung.
“Tadi Kakak nemuin kamu pingsan di bandara,” sahut lelaki yang membuatku malas melihatnya.
“Mey, minum dulu tehnya.” Ibu memberikan secangkir teh hangat padaku.
Perlahan aku duduk dan bersandar di bahu tempat tidur dan meraih cangkir itu. Sesaat suasana di kamar hening. Ibu dan dia memandangiku dengan pandangan yang entah.
Mungkin merasa kasian padaku. Ah, apa aku ini sekacau itu?
“Tom, aku udah beli__” Suara seorang wanita asing terdengar dari luar. Ucapannya terhenti ketika masuk ke kamarku dan melihat aku yang telah sadar.
Dia terkejut. Begitu juga denganku. Lalu lelaki yang telah menyakiti hatiku pergi menarik wanita itu.
“Siapa dia, Bu?” tanyaku penasaran.
Ibu menghela napas. Membelai rambutku lembut dan menyeka sudut matanya.
Ada kesedihan muncul dari wajah ibu.
“Namanya Ana. Dia calon istri Tomy.” Suara ibu terdengar begitu berat.
Hancur sudah semua harapanku. Rasa yang mulai tumbuh telah pergi berganti luka lara. Aku tidak menyangka bahwa Kak Tomy memang benar-benar akan menikahi wanita lain.
“Mey, Ibu ingin kamu mengerti. Semua tidak seperti yang kamu bayangkan.”
Aku mengernyit. Tidak mengerti apa maksud ucapan ibu.
“Dia hamil anak Tomy. Kecelakaan itu terjadi secara tidak sengaja.”
“Hamil?”
Sungguh aku lebih terkejut mendengar berita ini. Kak Tomy yang terlihat sangat berbeda dari lelaki lain, rupanya tetap sama saja. Lelaki yang hanya memandang napsu sebagai rasa cinta.
“Dia adik dari Lilis. Ibu juga tidak mengerti apa yang terjadi. Sampai saat ini Tomy tidak pernah bercerita sama Ibu. Dia memilih untuk menikahi gadis itu tanpa membela diri.”
Rasanya memang ada yang janggal. Namun, jika Kak Tomy tidak bersalah mana mungkin dia mau menikahi gadis itu.
Hal yang membuat ingatanku kembali berputar saat pertama kali datang ke rumah ibu. Dimana dia tiba-tiba terlihat romantis dan telah mengambil ciuman pertamaku.
__ADS_1
Hampir saja dia melakukan hal yang lebih. Beruntung aku bisa menghindar darinya. Kalau tidak sedang memasak, mungkin Kak Tomy telah ....
Ah, sudahlah. Semua yang aku nilai dari lelaki itu salah.
“Bu, jika Kak Tomy tidak bersalah, dia pasti akan menolak gadis itu.”
“Ibu yakin bukan Tomy pelakunya. Awalnya sebelum kejadian ini terjadi, ibu mau Tomy melamarmu.”
Aku tersenyum. Berita yang sudah basi. Harapan itu pun telah hilang bersama datangnya luka.
“Sudahlah, Bu. Biar bagaimanapun dia udah jadi pilihan Kak Tomy. Aku akan tetap sayang kok sama Ibu.”
Aku memeluk Ibu. Pelukan yang mungkin akan aku rindukan. Mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu. Setelah Kak Tomy menikah, akan ada kehidupan baru. Jadi mana mungkin aku akan ke sini. Membuka kenangan lama yang akan merusak rumah tangga mereka.
Pergi sejauh mungkin dan menghapus jejak, mungkin adalah cara agar mereka bisa melupakan aku.
.
Hingga sampai di Jakarta, aku baru menelpon satu kali saja. Itu juga dengan perasaan sedih karena Ibu. Begitu banyak kisah tentang aku dan ibu. Berat rasanya jika harus berpisah kembali. Baru beberapa hari bersama. Takdir telah berkata lain.
Jika semula aku berharap dia adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukku. Kali ini harapanku telah hilang. Dia bukan untukku. Jawaban yang selama ini aku nanti telah terjawab.
Ya, semua telah berakhir. Kisah antara aku dan Kak Tomy. Meski saat kepulanganku kemarin dia tidak mengetahui.
Dia pun tidak memberi penjelasan atas semua yang telah terjadi. Hanya menelpon dan mengirimkan pesan yang berisi keberadaanku dan permohonan maaf.
Entah apa yang ada di pikirannya. Seolah tak memiliki rasa bersalah karena telah menyakiti hatiku.
“Mey, Papa perhatikan semenjak pulang dari rumah Tomy kamu selalu melamun. Ada apa, Nak?”
“Apa ada masalah?”
“Ngga ada, Pa. Aku lagi kangen aja sama Ibu.” Aku terpaksa berbohong agar Papa tidak terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi.
Lambat laun pasti Papa akan mengetahui semuanya. Meski bukan dari aku.
“Iya, Papa tahu kok. Sejak kecil kamu sangat menyayangi Amel. Hubungan kalian udah seperti seorang anak dan ibu.”
“Ya, makanya aku masih rindu.”
“Kenapa cepet-cepet pulang?”
“Karena aku rindu sama Papa.”
Aku memeluk Papa erat. Sedikit menghilangkan rasa kegalauan ini.
“Oh, ya kenapa Tomy tidak mengantarmu ke rumah?”
Aku tersentak. Apa yang harus aku katakan pada Papa?
“Itu ... Katanya dia lagi sibuk, Pa.”
Papa hanya mengangguk. Dia pun bangkit dari duduknya di tepi tempat tidurku.
“Ya sudah, kamu istirahat saja dulu.”
“Aku mau ke butik.”
__ADS_1
“Besok saja, Mey. Kamu capek kan habis perjalanan jauh.”
Bukan lelah yang aku rasakan, Pah. Andai Papa tahu perasaan hati yang saat ini aku rasakan. Mungkin Papa tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Mungkin juga Papa akan memelukku dan membiarkan aku menangis.
“Baiklah kalau gitu.”
****
Di tinggal pas lagi sayang-sayangnya itu sakit.
Meskipun diantara kita belum saling mengatakan isi hati satu sama lain. Namun, rasa itu sangat kuat ketika aku berada di sampingnya.
Nyaman. Membuatku enggan menjauh darinya. Lalu sekarang takdir memaksaku untuk lebih menjauh. Jika pertemuan ini hanya untuk perpisahan, untuk apa saat itu kami di pertemukan kembali.
Memang benar kata Novi waktu itu. Kalau masa lalu jangan pernah di harepin, yang ada malah menyakitkan.
Aku jadi rindu pada Novi. Apa kabarnya dia?
Baru saja aku ingin menelpon Novi, pesan WhatsApp dari El Nomy masuk. Sudah lama sekali semenjak aku pergi ke rumah Kak Tomy, kami tidak pernah berkomunikasi.
Aku pikir dia lupa padaku. Nyatanya tidak.
[Tes]
[Ya?] balasku
[Apa kabar? Kupikir kau sudah ganti nomor.]
Aku tersenyum. Ternyata seminggu adalah waktu yang lama. Di sana aku tidak pernah membuka Facebook juga membuat story WhatsApp.
Mungkin dari sini El Nomy mengira kalau aku telah ganti nomor.
[Nggak kok. Kabarku lagi buruk. Kamu apa kabar?]
[Buruk kenapa? Cerita padaku. Aku baik]
Aku mengetik sebuah balasan. Namun, berkali-kali aku menghapusnya. Ragu untuk menceritakan semua padanya. Lagian belum pernah bertemu secara langsung sosok El Nomy.
[Mungkin karena lama nggak baca cerita dari kamu]
Akhirnya hanya itu balasan yang aku kirimkan.
El Nomy pun membalas dengan emot tertawa ngakak. Lalu tak lagi terlihat tulisan online dibawah namanya. Mungkin dia kembali menulis atau sedang sibuk dengan yang lainnya.
Yah, kedatangan El Nomy membuatku sedikit lupa tentang lara ini. Meskipun setiap teringat wajah Kak Tomy, rasa sakit itu semakin bertambah.
Next ....
*jangan lupa like dan vote karya aku ya.
berikan dukungan juga pada karya aku yang ikutan lomba.
klik aja profil aku dan cari judul "Aku, Kau dan Cinta."
Dunia sedang di landa virus Corona. semoga kalian semua dan keluarga selalu di beri kesehatan. mudah-mudahan virus ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasanya.
salam hangat dari author gaje*.
__ADS_1