
Malam semakin larut, rasa lelah berganti bahagia. Kedua mata masih saja tidak mau terpejam. Meski rasa kantuk menghantui. Tetap saja ingatan siang itu terus terlintas.
Rasanya masih tidak percaya jika dia akan kembali. Dengan cerita yang berbeda dan sifat yang sedikit berbeda. Lebih romantis. Meski nggak tahu ada wanita lain atau masih jomblo.
Aku nggak perduli itu. Apapun statusnya yang terpenting aku sudah bertemu. Mengenang masa lalu dan hubungan ini masih sama. Kakak dan Adik.
Mungkin jika bisa memilih, aku menginginkan untuk bersama selamanya. Berharap Kak Tomy adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukku.
Yah, meskipun takdir berkata lain, namanya manusia boleh kan ya berharap. Meskipun menyakitkan.
[Belum tidur, Mey?]
Pesan Wa masuk dari Kak Tomy.
Darimana dia tahu kalau aku belum tidur?
Aku keluar dari aplikasi Facebook. Lalu membalas pesan itu.
[Kok tahu?]
Apa mungkin Kak Tomy diam-diam udah berteman di Facebookku? Ah, tapi mana mungkin. Selama ini aku mencoba mencarinya pun nggak ada hasil.
[Tau dong, apa sih yang enggak Kakak tahu.]
Aku membalas dengan emot tertawa. Setelah itu kembali ke Facebook. Entah mengapa ada rasa nyaman di aplikasi ini. Apalagi saat membaca cerita dari akun seseorang. Pertama kali berteman dengannya, aku nggak tahu kalau dia penulis.
Seiring berjalannya waktu, dia menuliskan cerita di wallnya. Awalnya hanya sekilas aku membaca. Melihat begitu banyak komentar dan like, aku jadi penasaran.
Kemudian membaca ceritanya yang menyentuh hati. Hampir sama dengan kisahku. Masih teringat jelas saat aku berani mengirim pesan padanya.
[Hay, salam kenal. Aku Mey, aku sangat menyukai ceritamu.]
[Thank, Mey. Selamat membaca.]
Nggak nyangka juga dia akan membalas pesan secepat itu. Dari sekian komentar yang aku baca, kebanyakan orang bilang dia cuek. Jarang bales pesan maupun komentar. Sekalinya balas singkat banget.
[Btw, kok aku nggak nemu kelanjutan ceritanya?]
[Ada di grup. Masuk saja di grup Belajar Menulis. Nanti kamu cari namaku di kaca pembesar. Bakal nongol semua.]
Aku langsung mencari grup itu, meminta untuk bergabung setelah selesai mengisi tiga pertanyaan. Harus nunggu di terima dulu sama admin grup. Yah, lama dong.
Beruntung saat itu admin grup sedang aktif. Jadi penerimaan lebih cepat. Rupanya ini grup isinya akun penulis semua. Banyak cerita bersambung di sana dengan berbagai macam judul.
Kemudian aku mencari namanya. Benar apa yang dia katakan. Rupanya selama ini dia menulis di grup. Pantas saja aku baru tahu kalau berteman dengan seorang penulis. Entah siapa yang meminta pertemanan duluan. Aku lupa. Ah, nggak penting soal itu.
Selesai mencari aku kembali masuk ke pesan.
[Aku ketinggalan banyak. Rupanya kamu udah banyak bikin buku ya.]
[😊😊 Terima kasih.]
Dari situ setiap hari aku berbalas pesan padanya. Rasanya nyaman seperti saat aku dekat dengan Kak Tomy di masa kecil. Pernah juga mengira dia Kak Tomy. Ingin bertanya tapi takut jika salah orang.
Dia nggak pernah pakai foto asli, hanya foto-foto artis yang selalu dia pakai untuk foto profilnya.
[Biar orang mengenalku dari karya, bukan dari siapa aku sebenarnya.]
Begitu katanya saat aku bertanya, kenapa nggak pasang foto sendiri.
Hari-hariku lebih berwarna saat mengenalnya. Sayangnya aku tidak punya keberanian untuk menanyakan nomor WhatsApp. Hampir seminggu dia tidak online lagi, mungkin sibuk mengurus buku-bukunya yang banyak di pesan. Aku salah satunya.
__ADS_1
Lalu malam ini aku melihat dia sedang aktif. Meneruskan cerita tentang persahabatan dan membuat status yang mengagetkan.
'Selamat datang cinta.’
Rupanya dia telah memiliki kekasih atau memang sedang jatuh cinta.
Kamulah takdirku dan alasan untuk tetap hidup di dunia ini. Tanpamu aku gila, denganmu aku lebih gila. Cinta memang segila itu. Biarkan hati yang berbicara. Meski raga selalu bersama.
Kata-kata yang baru saja akun itu buat. Romantis sekali. Sayangnya bukan buat aku. Andai saja aku memiliki kekasih seperti dia.
Ah,beginilah nasib jomblo yang hanya bisa berandai-andai.
El Nomy, akun yang selalu membuat dadaku teremas-remas.
Lalu aku kembali membuat pesan wa dari Kak Tomy.
[Kok cuek sih!]
Aku tersenyum, mengingat tentang si El membuatku lupa jika sedari tadi ada pesan dari Kak Tomy.
[Hehe, maaf, Kak. Lagi baca novel tadi.]
[Oh, pantesan. Kamu suka novel?]
[Suka, Kak. Tapi baru punya lima.]
[Dikit amat? Siapa penulisnya?]
[El Nomy, Kak. Kayaknya belum ada di Gramedia. Tapi tulisannya keren lho.]
[Ya udah, tidur gih. Besok kesiangan lho.]
[Kan aku udah nggak ada kuliah, Kak. Nyantai.]
Ada desiran halus mengalir dalam darah saat membaca pesannya. Di jemput Kak Tomy, berarti aku akan menghabiskan waktu dengannya. Ah, nggak sabar nunggu pagi tiba.
Kok aku jadi begini ya, nyaman sama El di Facebook tapi di dunia nyata juga nyaman sama Kak Tomy. Ya bodo amat kan, ya? Masalah jodoh nanti juga bakal ketemu sendiri, yang terpenting aku harus jaga hati agar tidak terlalu jauh mencintai.
[Good night. 😘]
Dikirim emoticon cium aja udah seneng banget. Rasanya hati berbunga-bunga. Senyam-senyum sendiri malam-malam begini berasa seperti orang gila.
Mungkin seperti ini rasanya jatuh cinta.
Aku membalas pesan dengan emot senyum aja. Nggak tahu juga harus balas apalagi. Masih baru sekali bertemu, karena belum tahu ada siapa di sampingnya atau hatinya.
El dan Kak Tomy membuat duniaku terasa indah.
***
Pagi telah tiba. Aku membuka mata. Lebih tepatnya hari sudah siang. Benda bulat yang terpasang di dinding itu sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Ya, Tuhan! Aku kesiangan sekali. Papa sudah berangkat dan bagaimana dengan Kak Tomy?
Aku mencari ponsel yang terselip di bawah bantal. Beberapa pesan masuk dan telepon tidak terjawab dari Kak Tomy.
Aku janjian jam delapan, mau pergi sarapan lalu jalan-jalan. Ini sudah jam sepuluh dan sangat kesiangan.
Aku mengirim pesan permintaan maaf. Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban. Lalu mencoba menelponnya berkali-kali tidak ada jawaban pula.
Yah, mungkin Kak Tomy marah padaku. Aku melihat kembali pesannya. Dari setiap pesan yang di kirim, tidak ada kalimat yang memperlihatkan dia marah. Lalu kemana Kak Tomy? Kenapa tidak mau mengangkat telponnya?
__ADS_1
“Nggak bakal di angkat kalau orangnya aja udah di sini.”
Terdengar suara dari arah balkon.
Kak Tomy!
Ya ampun, darimana dia masuk? Kenapa bertemu saat aku baru saja bangun tidur. Kan masih acak-acakan.
“Kak Tomy?” pekikku saat Kak Tomy menutup pintu balkon yang lupa aku kunci.
Sejak kecil Kak Tomy selalu datang tiba-tiba dari balkon saat aku bangun kesiangan. Sekarang pun masih sama. Anehnya aku tidak pernah tahu bagaimana caranya dia bisa sampai di balkon.
Kak Tomy datang ke arah tempat tidur sambil membawa bunga mawar merah dan coklat. Aroma tubuhnya menyeruak di indera penciuman. Begitu menenangkan.
Dia masih sama tidak ada yang berubah.
“Aku pikir Kakak marah,” ucapku sambil menghirup aroma bunga mawar.
“Mana mungkin, aku tahu kamu pasti bangun kesiangan. Ya sudah sana mandi dulu.”
Aku mengangguk. Melihat Kak Tomy yang duduk di tepi ranjang, mana mungkin aku bisa mandi dengan tenang. Dulu sih nggak apa-apa dia sambil main PlayStation, tapi sekarang kan udah beda.
“Kak?”
“Ya?”
“Aku ... Mau mandi.”
“Ya sudah sana mandi.”
“Masa Kakak di sini, aku kan malu.”
Kak Tomy menggaruk kepala. Salah tingkah. Lalu melangkah pergi keluar kamar.
“Aku tunggu di depan ya. Dandan yang cantik,” ucapnya sebelum menutup pintu sambil mengedipkan mata.
Aku tersenyum. Menghela napas lega. Sejak tadi debaran jantung berbeda dari biasanya.
***
“Aku udah siap, Kak!”
Kak Tomy yang duduk di teras sambil menyeruput kopi pun menoleh. Menatapku tanpa berkedip.
Ada yang salahkah dengan penampilanku?
Dia tersenyum manis sekali, lesung pipi dan gigi gingsulnya terlihat jelas.
“Kenapa?”
“Cantik.”
Aku memutar kedua bola mata. Tahu jika itu hanya modus lelaki saja.
“Ayo berangkat.”
Aku menarik tangannya, lelaki itu masih saja menatap dan tersenyum. Kesambet mungkin.
“Kita mau kemana, Kak?” tanyaku saat berada di depan mobilnya.
“Ke hatimu.”
__ADS_1
To be continue ....