
"Kanaya, jadi selama kamu ada di Jakarta yang mengurus perusahaan siapa? " tanya papa Adrian penasaran, karena tidak percaya jika Andre benar-benar bekerja di perusahaan Kanaya.
"Andre sama bapa om" jawab langsung ditatapi semua yang ada disana.
"Kok om sih, panggil papa donk. Kan sudah jadi anak papa" kata papa Adrian sambil tertawa. Dia benar-benar tidak percaya kalau Andre sekarang bisa mandiri hidup diperantauan. Kartu kredit yang dipegang Andre pun hampir tidak dipakai sama dia. Sebelumnya Andre selalu kehabisan limit kartu kredit, serta uang jajan yang diberikan papanya dan Adrian selalu habis sebelum waktunya. Dia merasa terharu dan ada kebanggaan dihatinya untuk putra bungsunya. Memang cinta bisa merubah segalanya.
"Apa Andre tidak merepotkan kamu nak? " tanya papanya lagi. Dia benar-benar sangat merindukan putranya itu. Meski sering berkomunikasi via chat atau panggilan video, tapi Andre selalu menutupi kehidupannya disana.
"Tidak pa. Dia sangat bisa diandalkan" jawab Kanaya.
"Papa nggak usah khawatir bulan depan kita ke kalimantan, menemui orang tua Kanaya dan juga si tengil kesayangan papa" ujar Adrian yang ingin menggoda papanya. Sebenarnya dia juga kangen sama adiknya yang selalu menyebalkan itu. Sudah lama juga dia nggak ngajakin gelut papanya semenjak Andre merantau sudah nggak ada peperangan lagi di rumah ini. Semenjak itu juga Adrian tidak pernah tinggal di rumah besar lagi.
"Kelamaan" jawab papanya singkat. Niki pergi ke dapur saat teringat sesuatu.
"Mama mau kemana? " tanya sang suami
"Ke dapur sebentar, ada yang mau diambil. Baru ingat mama" kemudian Niki berlalu hilang menuju ke dapur.
"Ngambil apaan sih mama kamu ini ke dapur. Selalu sok misterius, padahal lebay orangnya" celetuk papanya Adrian mendapati tatapan tajam dari sang mertua oma Rachel.
__ADS_1
"Kenapa mam? Matanya kok melek kek gitu. Nggak takut loncat keluar nanti matanya mam" kata papa Adrian mendapatkan gelak tawa dari sang mertua laki-laki yakni opa Adam.
Oma Rachel langsung manyun dan menekuk wajahnya bak roti sobek yang bisa dipotong jadi empat. Kesal karena menantu dan suaminya sedang membully dirinya. Memang sepertinya menantu waras nya kini sudah tertular dengan kegilaan suaminya yang memang terkenal dengan sifat humorisnya dan juga kata-kata yang sadis ketika menyindir. Terlalu kelamaan bergaul dan berkomunikasi dengan si pak tua yang tengil itu sekarang menantunya seperti tak ada hormat-hormatnya dengan dirinya.
"Lha, ngapain mama bawa rujakan malam begini? " tanya Angga papa Adrian.
"Jangan bilang kalau kamu mau ngasih ini buat Kanaya?" tanya papa Adrian sekali lagi, padahal pertanyaan pertama saja dijawab sendiri olehnya. Memang seperti itulah sifatnya, dia yang bertanya dia juga kadang yang menjawab.
"Kamu ini gimana sih Niki, Kanaya tu masih sakit. Mau kamu bikin tambah sakit lagi nanti perutnya. Malam-malam begini kamu mau nyuruh dia makan rujakan sama asinan begini" kata oma Rachel yang melampiaskan amarahnya terhadap Angga diluapkannya kepada anaknya Niki istri dari Angga.
"Kaya kamu nggak pernah ngidam aja sayang. Dulu aja lagi ngidam Niki, jam dua malam kamu pengen makan rujak mangga muda. Demi kamu aku rela manjat pohon mangga tetangga, pulangnya dikejar sama anjing pula. Huh, masalah ngidam kamu adalah masalah yang paling sempurna dan paling epic sepanjang perjalanan hidupku" curhat opa Adam tentang waktu ngidamnya oma Rachel.
"Hahaha..... Tengsin ni yeee!" gelak tawa dari opa Adam.
"Kanaya kan sebenernya tadi siang tu pengen makan rujak sama asinan. Tapi nggak jadi, gara-gara si Giselle sih. Kalau nggak diturutin nanti takutnya anak Adrian ileran lagi" ledek mamanya Adrian.
Pantas saja sifat Andre tengil rupanya turunan dari opanya, serta sifat Adrian yang keras namun pandai bercanda ternyata gabungan sifat dari oma dan opanya. Bagi mereka yang baru masuk dalam keluarga ini pasti akan berpikir kalau mereka tidak memiliki sopan santun. Padahal keakraban dan kehangatan sebuah keluarga berasal dari bercandaan yang bisa dibilang kurang masuk akal.
"Apaan sih mama kaya ngedoain banget anak Adrian ileran, itukan nanti juga jadi cucunya mama" kata Adrian sedikit sewot. Niki langsung menaruh satu buah piring dan satu buah mangkok yang berisi rujak dan asinan diatas meja.
__ADS_1
"Pletak" Niki menjitak dahinya Adrian. Kanaya yang melihat adegan tersebut terkejut. Adrian hanya bisa meringis kesakitan atas jitakan mamanya. Tambah tua tenaga jitakan dari mamanya malah terasa lebih sakit dari sebelumnya.
"Apaan sih ma? Adrian kaya anak kecil aja pakai acara dijitak kaya begini segala" kata Adrian yang malu diperlakukan oleh mamanya sendiri.
"Jatuh dah harga diriku sebagai cowok ganteng kalau diginiin mama, punya mama kok nggak peka amat ya" ringis Adrian dalam hati yang merasa tersiksa batin oleh mamanya.
"Kamu itu kalau ngomong tu jangan asal. Pamali tau kalau wanita hamil itu pengen ini itu ditunda-tunda. Lain halnya ada halangan seperti tak ada uang buat membelikan, bisa itu untuk ditunda. Paling penting itu asal sudah nyicipi.Dasar suami nggak peka dan perhatian. Contoh tuh opamu suami sejati itu" ucap mamanya Adrian sedikit kesal.
"Memang papa bukan suami sejati ya ma" goda sang suami kepada mamanya Adrian.
"Papa itu bukannya suami yang nggak sejati, tapi suami yang rada kurang setengah isi otaknya hehehe" ejek sang istri ke suami koplaknya. Niki yang memiliki sifat kasar dan bar-bar sedangkan si suami memiliki sifat yang lembut serta sabar, sedikit konyol itulah yang membuat Niki klepek-klepek sama Angga. Apalagi setelah akrab dengan mertuanya, tingkah konyol Angga malah lebih parah.
"Kurang setengah saja mama cinta mati sama papa" rayu sang suami lagi.
"Pede amat jadi laki. Nemu dimana ya kemaren model laki kek beginian" balas Niki.
"Nemunya ya diujung hatimu sayang" goda sang suami kemudian mencolek pipi istrinya tersayang.
"Ehm... Ehm... Ehm... Kalau mau rayu merayu pindah ke kamar saja sana. Emang yang ada disini dianggap obat nyamuk apa penghuni kontrakan" ucap Adrian yang merasa malu dengan acara baper-baperan orang tuanya. Sedangkan opanya hanya tertawa melihat wajah Adrian yang sedikit memerah. Oma Rachel diam tak bersuara hanya memberikan rujak buah dan asinan untuk Kanaya. Memang sejak diletakkan Niki rujak dan asinan diatas meja, mata Kanaya tak berhenti menatap ke arah makanan yang ingin dimakannya tadi. Oma Rachel yang penuh pengertian menawarkan Kanaya untuk memakan. Dia melarang Kanaya memakan banyak, secukupnya saja. Kalau sudah benar-benar sembuh oma Rachel sendiri yang akan membuat rujakan spesial untuk Kanaya.
__ADS_1