Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Terhempas


__ADS_3

Kondisi Kanaya dalam keadaan baik-baik saja, untung perkelahian tadi tidak mempengaruhi kandungannya. Hal ini menggemparkan semua orang yang ada dirumah, terutama oma Rachel yang marah karena tidak diberitahu kalau Kanaya tadi diculik.


"Oma sudah, Kanaya tidak apa-apa kok? " kata Kanaya yang mencoba menenangkan oma Rachel.


"Tapi kan.... ".


"Oma, video mama Niki katanya sudah di upload ya".


"Gimana? Banyak yang nonton? " Kanaya mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya sayang, oma lupa ngasih tau. Soalnya keasyikan nge vlog ditaman belakang sana. Memperkenalkan Seline ke fans oma" oma Rachel tertawa kecil senang dengan kesibukan barunya.


"Video kemarin sudah ditonton lebih dari satu juta penonton sayang" kata oma Rachel begitu bahagia. Mereka berdua pun mengobrol dengan serunya. Sesekali mereka tertawa ketika oma Rachel memperlihatkan handphonenya kepada Kanaya.


Adrian meminta kepada opanya untuk berbicara perihal tentang nama yang disebutkan oleh pak Rahman. Adrian sangat yakin kalau ini berkaitan dengan masa lalu Kanaya dan keluarganya yang menghilang.


"Opa kenalkan dengan orang yang bernama Ronald".


"Siapa sebenarnya dia opa? " tanya Adrian. Tapi opa Adam tak bisa berkata-kata, karena dia bingung untuk menceritakannya.


"Dia adalah musuh bebuyutan papa" kata Hendry yang tiba-tiba derdiri disamping Adrian.


"Maksud papa" Adrian bingung tentang hal ini.


"Dia adalah orang yang papa hancurkan hidupnya, karena dia mencoba melakukan tindak asusila kepada Kanaya saat dia masih lima atau enam tahun".


"Dia itu pedofilia yang mengerikan, sudah banyak yang jadi korbannya".


"Dia balas dendam karena papa membakar gudang penyimpanan ganjanya serta menggagalkan semua kerjasamanya dengan beberapa perusahaan lain" Hendry menceritakan semuanya yang telah menimpa dirinya, Kanaya dan juga keluarganya. Adrian terkejut setelah mengetahui semuanyaa. Tidak menutup kemungkinan dia ingin membalas dendam. Tapi dengan teganya dia membunuh Radit, hanya ingin membalas dendam kepada mertuanya dan istrinya. Tidak bisa dimaafkan, Adrian bertekad akan mencari keberadaan pria tersebut.


"Lebih baik lupakan sejenak masalah ini, kita urus resepsi perkawinan Adrian dan Kanaya" usul opa Adam agar semuanya kembali ke urusan mereka untuk datang kesini.


"Lebih baik seperti itu pa" kata Hendry.


"Maafin papa nak, sudah melibatkan dirimu dalam masalah ini" kali ini Hendry benar-benar merasa sungkan kepada Adrian.

__ADS_1


"Kanaya sekarang adalah istriku dan dia juga tengah mengandung anakku. Sudah sepatutnya aku melindungi mereka" ucap Adrian membuat Hendry merasa bangga dan bahagia anaknya memiliki seorang suami yang berjiwa ksatria.


***


"Giselle, ada yang ingin bicarakan sama kamu? " untuk pertama kalinya Andre mengobrol dengan Giselle semenjak mereka bertemu.


"Iya, aku juga ada yang ingin dibicarakan denganmu Dre" kata Giselle.


"Kamu mau nggak menemani aku membeli sesuatu? Sebuah hadiah untuk seseorang"


Andre mencoba untuk menjalin hubungan baik lagi dengan Giselle. Cerita yang lalu biarlah berlalu, sebaiknya memperbaiki hubungan yang sekarang.


"Iya, tentu saja" Giselle mengatakan dengan antusias.


"Ayo kita pergi sekarang" ajak Andre. Mereka pun akhirnya pergi ke sebuah toko perhiasan. Andre meminta Giselle untuk memilih sebuah cincin yang dia suka dan menyuruh Giselle untuk mencobanya. Giselle nampak begitu sangat senang dan bahagia dengan perlakuan Andre yang sudah tidak sedingin dulu. Andre kemudian mengajak Giselle ke sebuah cafe.


"Giselle ada yang ingin ku katakan" ucap Andre lembut sambil memegang tangan Giselle.


"Iya" Giselle tampak begitu gugup, akankah sesuatu yang baik menghampiri hubungan mereka berdua pikir Giselle menerka-nerka.


"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" Andre memberikan sebuah pertanyaan yang membuat hati Giselle berbunga-bunga begitu bahagia. Ini adalah impiannya sejak dulu, dia selalu menanti Andre untuk menanyakan hal ini kepadanya.


"Terimakasih Giselle kamu sudah menjawabnya".


"Menurut kamu dia bakalan menjawab hal yang sama nggak jika diberikan pertanyaan seperti tadi?" perkataan Andre membuat Giselle menjadi bingung.


"Maksud kamu apa Andre?" tanya Giselle yang tak mengerti dengan perkataan Andre.


"Aku tadi lagi latihan untuk percobaan melamar seseorang".


"Untung ada kamu Giselle jadi bisa membantu aku, untuk cincin yang kamu pilih tadi terimakasih ya. Ku harap dia akan menyukainya" kata Andre.


Bak tersambar petir disiang bolong, Giselle mematung karena keterkejutan yang diberikan oleh Andre. Sudah terbang tinggi ke atas awan kemudian dia dihempaskan jatuh ke dasar bumi yang paling dasar. Sakit, tentu sangat sakit hati Giselle. Inilah yang namanya dengan luka tak berdarah.


"Dia pasti suka kok".

__ADS_1


"Aku permisi ke toilet dulu ya" Giselle pamit untuk pergi ke toilet karena merasa air matanya sudah berada diujung. Dia tidak ingin Andre melihat dia menangis karena sedih Andre telah memiliki hati yang baru.


Giselle berjalan dengan gontai dan menyeka air mata yang sudah mengalir di pipinya. Didalam toilet Giselle menumpahkan rasa kesedihan hatinya. Berharap Andre masih memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Dia tak mampu membendung perasaan sedih, sakit dan kecewa yang tercampur aduk dalam hatinya. Hingga membuat kepalanya menjadi berat,pandangannya menjadi gelap dan menghilangkan semua kesadarannya.


Setelah beberapa saat, Giselle bangun dan merasa kepalanya masih terasa berat. Dia melihat disekeliling nya, entah ada dimana dia sekarang ini.


"Kamu sudah bangun? " Andre datang menghampiri Giselle membawakan segelas air putih.


"Dimana ini? " tanya Giselle.


"Dikamar istirahat khusus karyawan cafe disini".


"Kenapa kamu tadi pingsan? Kamu lagi sakit ya? Seharusnya kamu bilang, aku nggak akan ngajak kamu jalan keluar" Andre begitu panik melihat kondisi Giselle yang jatuh pingsan tadi.


"Aku tidak apa-apa, mungkin sedikit kelelahan saja".


"Andre, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" ucap Giselle sambil memegang tangan Andre.


"Kita obrolin nanti aja ya, sebaiknya kamu makan dulu. Kita keluar ya, kamu bisa jalan sendiri atau aku gendong" Andre menggoda Giselle dan membuatnya tersipu malu. Disaat mereka sedang menikmati makanan yang tersaji di meja. Giselle mencoba untuk memulai pembicaraan, dia mulai menarik nafas.


"Aku akan pindah ke Singapore" ucapan Giselle langsung menghentikan gerakan tangan Andre yang masih menari di atas piring poselen putih.


"Maksudnya? " Andre masih mencoba bersikap santai walaupun sebenarnya perkataan Giselle tadi seperti sebuah petir yang baru saja menyambarnya.


"Aku ingin melupakan semua kesedihan dan penderitaan yang aku alami" ujar Giselle.


"Sedih karena tidak bisa memiliki kakaku Adrian" kata Andre bernada mengejek, karena dia merasa marah dan sedikit kesal Giselle masih memikirkan kakanya.


"Bukan karena itu. Tapi hatiku telah dimiliki orang lain, sayangnya dihatinya bukan untukku" ucap Giselle.


"Hah, kamu bilang bukan karena kak Adrian. Nyatanya kamu mengatakan seperti itu, kalau bukan kakakku siapa lagi? "kata Andre sinis karena merasa terlalu kesal.


"Kita pulang saja, aku datang kesini hanya untuk berpamitan dengan kamu Ndre".


"Aku harap kamu akan bahagia dengan wanita pilihan kamu" Giselle menyudahi pembicaraan mereka dan berdiri meninggalkan Andre yang masih duduk. Andre bingung dengan perkataan Giselle tadi, wanita pilihannya. Maksudnya apa coba? Butuh beberapa menit Andre mencerna perkataan Giselle tadi, kemudian dia tersenyum bahagia setelah mengerti semuanya.

__ADS_1


Malam harinya Andre sudah berpakaian begitu rapi, dia mengajak Giselle untuk menyaksikan proses lamaran yang akan dilakukan di cafe tadi siang yang mereka kunjungi. Awalnya Giselle menolak untuk ikut namun setelah dibujuk oleh Andre dengan memohon, akhirnya Giselle pun mengiyakan. Tidak ada satu orang pun yang mengomentari Giselle dengan Andre, karena semuanya sudah tahu perihal kedatangan Giselle kesini. Terutama Adrian yang merasa sangat kasihan keoada Giselle, gadis lucu dan lugu yang selalu dia buat menangis ternyata selama ini hidup dalam kesedihan.


Andre dan Giselle pamit pada semua keluarga, dan pergi menuju cafe tadi siang. Selama dalam perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Keduanya tampak canggung satu sama lain, terutama Andre yang merasa menyesal telah membuat kesalahan karena menyakiti hati Giselle. Sesampainya di cafe, Andre membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan Giselle selama berjalan masuk ke dalam cafe. Begitu manis sekali perlakuan Andre terhadap Giselle membuat dirinya merasa sedikit bahagia. Dia berharap perasaan bahagia ini akan dia miliki selamanya.


__ADS_2