
Kanaya yang telah selesai melakukan treatment yang dia pilih sebelumnya, kini merasa tubuhnya sangat segar dan lebih bersemangat. Niki mengusulkan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum pulang, karena dia merasa sangat lapar setelah proses rileksasi tadi. Kanaya dan oma Rachel menyetujui usulan Niki, sedangkan Rohana mengikuti saja kemana mereka akan pergi setelah ini.
Saat mereka akan pulang, tidak sengaja seorang anak laki-laki yang berlari menabrak Kanaya yang sedang berjalan arah keluar dari restoran tempat dia makan. Anak kecil itupun menangis karena terjatuh ke lantai. Dengan sigap Kanaya membangunkan dan mencoba menenangkan anak kecil tersebut. Sifat keibuannya sangat begitu terlihat, membuat Niki merasa sangat bahagia memiliki menantu seperti Kanaya.
"Maafkan anak saya" ucap seorang wanita berambut pirang bergelombang dengan pakaian yang begitu modis dan terlihat seksi. Mata Niki seketika menatap tajam ke arah wanita tersebut. Kanaya bisa memastikan jika Niki mengenalnya. Hal itu terlihat dari sorot matanya yang memperlihatkan ketidaksukaan Niki.
"Iya tidak apa-apa, saya yang merasa tidak nyaman karena membuat dia terjatuh" kata Kanaya sambil membelai lembut pucuk kepala anak laki-laki tadi. Tapi dia merasa anak tersebut wajahnya tidak begitu asing. Sangat mirip dengan seseorang. Tapi siapa?
"Halo tante Niki, apa kabar?" sapanya ramah pada Niki. Benarkan, kalau Niki mengenal wanita tersebut. Tapi wajah Niki tidak bersahabat sama sekali. Dia hanya mengangguk membalas sapaannya. Lain halnya dengan oma Rachel dia tampak bingung, karena dia tidak mengenal sosok yang ada di depannya saat ini.
"Sebaiknya kita segera pulang, kamu tidak mau kan Adrian menunggu istri tercintanya ini terlalu lama di rumah" Niki berkata sinis kepada wanita yang sedang merangkul anaknya itu dengan tatapan penuh kebencian. Sedangkan tangannya merangkul Kanaya, seakan menunjukkan kepada si wanita bahwa Kanaya adalah istri Adrian.
"Permisi" Niki berlalu pergi melewati si wanita cantik nan seksi itu. Disusul oleh oma Rachel dan juga Rohana berjalan mengikuti Niki.
"Siapa dia tadi ma?" Kanaya menanyakan tentang perempuan tersebut karena begitu sangat penasaran. Apalagi dengan wajah anak laki-laki tersebut, sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal. Tapi dia tidak bisa mengingat itu wajah siapa?
"Bukan siapa-siapa, hanya wanita licik dan berbisa" jelas Niki yang begitu kesal dan sangat benci kepadanya. Tak pernah dia melihat ibu mertuanya semarah ini dan sebenci ini kepada seseorang. Meskipun dia sedang marah, namun tatapannya kali ini sangat berbeda. Penuh amarah dan benci.
***
Adrian mengajak Fery ke markasnya untuk menemui Mely. Sedangkan Tony akan diobati dulu oleh Daniel. Meski dia menolak, tetap tidak bisa membantah perintah Adrian. Daniel sendiri adalah sahabat Adrian waktu sekolah dulu. Dia memang berprofesi sebagai dokter dan dijadikan dokter pribadi untuk para anggota "Blackhunter".
"Om Fery" panggil Miko ketika melihat sosok Fery yang datang bersama Adrian.
__ADS_1
Mely pun terkejut melihat kedatangan suaminya bersama Adrian. Jadi pria yang diceritakan oleh Miko bernama Fery itu adalah suaminya. Entah rasa bahagia atau sedih atau apapun itu. Mely tidak kuasa menahan tangisnya dan memeluk erat sang suami.
"Are you ok?" tanya Fery dengan mengusap lembut punggung istrinya. Mely hanya mengangguk, dia tak mampu berkata apapun. Dia tidak perlu berpura-pura atau menyembunyikan tentang dirinya yang sebenarnya lagi. Beban itu kini telah terlepas sendirinya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji akan selalu melindungimu" ucap Fery kemudian mengecup kening Mely.
Adrian yang mendapatkan sebuah pesan dari handphonenya langsung berubah raut wajahnya. Ada raut yang tidak suka. Entah apa isi dari pesan tersebut seolah telah mengganggu dirinya.
"Aku ada urusan diluar. Mel, kamu bisa mengajak tour suamimu untuk melihat-lihat disini".
"Aku pergi dulu" lambai Adrian kepada Mely dan Fery.
"Bang" panggil Mely dan Adrian pun menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Mely.
"Kamu ingin jalan-jalan?" Mely menawari suaminya untuk pergi keliling wilayah di markas ini. Tempat ini cukup luas. Dengan bangunan bergaya eropa kuno. Terlihat klasik namun begitu menawan. Belum lagi ruang bawah tanah yang keren. Siapapun yang kesana pasti akan bergidik ngeri. Meskipun seperti itu, tetap lorong bawah tanah begitu memukau. Tempat yang paling disuka oleh Mely untuk menghabiskan waktu. Apalagi saat dia mengeksekusi tawanan. Dia begitu sangat menikmatinya. Mereka semua hanya pembasmi hama yang tak bisa disentuh oleh hukum negara yang berlandaskan uang. Siapa yang mempunyai uang yang banyak, dia yang mampu mengatur hukum di negara ini?
***
Adrian menemui si pengirim pesan di sebuah taman kota. Tampak begitu ramai pengunjung, sehingga dia kesulitan untuk mencari sosoknya.
"Hai Adrian. Lama tidak berjumpa" sapa seorang wanita dibelakang Adrian.
Adrian pun berpaling ke arah panggilan suara yang menyebut namanya. Adrian menautkan kedua keningnya, memperhatikan si pemilik wajah.
__ADS_1
"Kamu memang sangat tampan Adrian. Aku merindukanmu" ucap wanita itu kemudian memeluk tubuh Adrian. Dia mencium aroma tubuh Adrian yang sangat dirindukan olehnya.
"Aroma tubuhmu telah menjadi candu bagiku sayang. Aku sangat merindukanmu. Rindu dengan sentuhanmu, rindu dengan perlakuan liarmu ketika bercinta denganku. Aku masih ingat waktu yang kita habiskan bersama" dielusnya wajah Adrian dengan lembut dengan gerakan memutar-mutar. Gerakan yang terlihat sedikit erotis, tatapan matanya begitu terlihat jelas perasaan mendamba.
Adrian langsung mendorongnya dengan kasar. Menjauhkan tubuh wanita itu dari dirinya. Dia tidak ingin kena masalah untuk kesekian kalinya karena wanita gila yang licik ini. Adrian benar-benar sangat membencinya.
"To the point saja. Ada urusan apa kamu ingin menemuiku?".
"Apa masih kurang jelas peringatan yang aku berikan dahulu?" Adrian mencengkram dagu wanita tersebut dengan kasar. Terlihat dia sangat ketakutan atas ucapan Adrian tersebut.
"Bukan seperti itu".
"Tolong lepaskan aku Adrian. Sakit...".
Adrian malah menguatkan cengkeraman di dagu wanita itu dengan menatap wajahnya begitu tajam.
"Seharusnya kamu aku bunuh saat itu juga" ucapnya kemudian melepaskan cengkeraman ketika hati kecilnya berbicara "Ingat istrimu sedang hamil".
Tampak wanita tersebut mengatur nafasnya begitu berat. Mungkin cengkeraman Adrian yang begitu kuat membuatnya sulit untuk bernafas. Sebenarnya dia sungguh tidak ingin berurusan dengan Adrian lagi. Tapi karena sesuatu hal yang mengharuskannya.
"Aku ingin kamu menemui anak kita Adrian" kata wanita itu membuat Adrian langsung menatapnya tajam. Bisa dilihat, tatapan mengerikan dari mata Adrian menyatakan kalau dia tidak suka dengan yang dikatakannya.
"Kamu bilang apa?" tanyanya dengan nada yang rendah, tapi sorot matanya seakan ingin mengulitinya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan anakmu, anak kita" ucapnya dengan wajah tertunduk. Melihatnya seperti itu membuat Adrian sedikit merasa iba. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kepedulian, takutnya dia akan merasa memiliki harapan bersama Adrian. Tak pernah ada niat di hati Adrian untuk menduakan Kanaya.