Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Baby Shower


__ADS_3

"Tok... Tok... Tok" suara ketukan berbunyi pada pintu rumah bu Tun.


"Siapa ya itu neng?" bu Tun terlihat cemas, takut dan juga khawatir. Sedangkan Sam dan Randy sudah bersiaga.


"Assalamu'alaikum" ucap seseorang seperti suara laki-laki.


"Seperti suara bos Adrian nyonya" Sam menatap ke arah Kanaya.


"Iya seperti suara papa" Randy juga ikut membenarkan.


"Sam coba cek dulu" pinta Kanaya. Ketika Sam hendak bangkit dan berjalan ke arah pintu.


"Sam tunggu".


"Biar aku saja" Kanaya berdiri. Jika benar itu adalah Adrian, suaminya yang datang. Maka Kanaya ingin dialah orang yang pertama kali dilihat oleh Adrian. Serta dia juga ingin, dialah orang yang pertama kali bertemu dengan Adrian.


Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir" Kanaya memegang tangan Sam yang mencoba untuk menghalangi Kanaya.


"It's ok" Kanaya mengangguk untuk memastikan pada Sam untuk tidak terlalu khawatir.


"Aku akan baik-baik saja" ucap Kanaya utuk untuk menenangkan Sam.


"Baiklah, hati-hati nyonya" hanya itu yang bisa diucapkan oleh Sam


Kanaya berjalan penuh deg degan. Debaran jantungnya seakan telah berlari marathon sejauh seratus kilometer. Namun hati kecilnya yakin jika yang datang adalah Adrian suaminya. Ketika pintu terbuka, Kanaya tak kuasa menahan rasa gembiranya ketika sisis Adrian yang ada di depannya. Dia pun langsung berhambur ke dalam pelukannya. Adrian pun memeluk Kanaya dengan penuh rasa sayang dan kerinduan.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" Adrian mencium pucuk kepala Kanaya.


"Aku merindukanmu" hanya itu jawaban yang Kanaya berikan. Adrian pun mengulas senyum bahagia atas ucapan Kanaya.


"Papa" teriak Randy dari dalam kemudian ikut berhambur dalam pelukan Adrian dan Kanaya. Orang yang melihat kejadian seperti ini tidak akan menyangka jika Randy adalah anak sambungnya. Sebab Randy begitu mirip dengan Adrian.


"Kalian sekarang sudah aman. Kita bisa berkumpul lagi" peluk Adrian kepada mereka berdua. Ketiganya tampak begitu bahagia.


Sam pun merasa haru, hingga tanpa sadar menitikkan air mata. Betapa inginnya dia memiliki sebuah keluarga kecil seperti Adrian. Devina? Akankah dia mau menerima diriku untuk jadi pendamping hidupnya?


"Aku tidak peduli dengan usia kami terpaut berbeda. Yang utama apa yang aku rasakan dalam hatiku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Senyum manisnya, uraian rambut panjang hitamnya saat berkelahi begitu mempesona" gumam Sam dalam hati. Dia teringat akan momen pertama kali bertemu Davina di mall.


"Sayang, kita tolongin bu Tun ya. Suaminya sedang sakit. Kita bawa dia ke rumah sakit ya sayang".

__ADS_1


"Mari kita ajak mereka ke kota".


"Sam tolong kamu bantu mereka mempersiapkan semuanya. Aku akan panggilkan yang lain untuk membantumu" Adrian menepuk pundak Sam.


"Bu terimakasih untuk bantuannya. Sebagai tanda terima kasih saya. Tolong terima bantuan kami untuk membantu pengobatan suami ibu" Adrian pun menyalimi tangan bu Tun.


"Terimakasih banyak nak. Semoga Allah memberikan kebahagiaan selalu pada keluarga kalian" ucap bu Tun yang juga ikut merasakan haru pertemuan Kanaya dengan Adrian tadi.


*****


"Gimana Ton, sudah baikkan?" tanya Mely yang mengunjungi Tony yang tengah terbaring namun asyik dengan ponselnya.


"Lihat sendiri. Aku baik-baik saja".


"Oh ya bagaimana dengan Fredy?" Tony menghentikan aktivitas bermain handphonenya.


"Itu urusanmu nanti. He is your mine" Mely mengedipkan matanya sebelah.


"Ah, aku sudah tidak sabar untuk bermain-main dengannya" balas Tony mengedipkan matanya.


Jika orang yang baru melihat, pasti akan menyangka jika Mely dan Tony memiliki hubungan spesial. Memang mereka memiliki hubungan spesial, tapi hubungan kekeluargaan yang erat. Fery pun adalah pria yang begitu pengertian. Dia tidak cemburu, sebab dirinya yang membantu Tony untuk mempersiapkan lamaran buat Amanda. Meski Tony seorang pria yang humoris, namun dia bukan pria yang romantis. Tony dan Fery sendiri sudah seperti saudara. Meski mereka baru saja dekat, apalagi Mely yang notabene sudah kenal lama denagn dengan Tony. Tentu saja sangat begitu akrab.


*****


"Halo Ronald" sapa oma Rachel.


"Ada yang ingin bertemu denganmu" oma Rachel duduk santai di sebuah kursi. Melihat Ronald yang tengah dirantai tangan dan kakinya. Tubuhnya telanjang polos tak memakai sehelai benang pun.


"Apa yang kamu mau lagi Rachel? Tak cukup puas kah kamu menyiksaku. Lebih baik kamu bunuh saja diriku Rachel" teriak Ronald


"Pasti aku akan membunuhmu. Tapi tidak sekarang. Kamu harus menikmati setiap siksaan yang aku berikan Ronald" oma Rachel tersenyum kecut.


"Kemari Darren" pinta oma Rachel kepada Darren untuk masuk. Ronald terkejut jika dia akan bertemu denagn dengan Darren. Kini ketakutannya bertambah, sebab di depannya adalah ayah Radit. Orang tua yang anaknya telah dia bunuh.


"Ronald yang telah bertransformasi menjadi Rohana putrinya hanya untuk memenuhi ambisi Devin" Darren melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke arah Ronald.


"Apa kamu tau? Kamu hanyalah boneka mainan yang bisa dipermainkan oleh Devin" Darren kemudian melemparkan beberapa lembar foto sebagai bukti.


"Apa ini?" Ronald meraih bukti foto yang dilempar oleh Darren.

__ADS_1


"Itu bukti hubungan anakmu dengan Devin. Bukan Radit yang membunuh anakmu Rohana, tapi Devin lah yang membuatnya mati. Radit hanya mengantarkan Rohana ke sebuah klinik yang dia inginkan".


"Jujur saja. Radit memang mencintai anakmu Rohana. Tapi sayang, Rohana mengkhianati putraku dan memilih untuk bersama Devin. Hal yang memilukan Devin malah membuang anakmu ketika anakmu minta pertanggungjawaban darinya. Dia menuduh jika anakmu mengandung anak dari putraku" Darren bercerita dengan menahan pilu dan sakit hatinya. Namun dia tidak bisa menyalahkan semuanya kepada Ronald. Sebab, biang masalah utamanya adalah Devin.


"Itulah balasan kepada putrimu yang mengkhianati putraku. Apakah kamu tau, kenapa Devin memintamu untuk berubah menjadi Rohana?" Ronald menatap Darren seolah ingin meminta jawabannya.


"Dia melihatmu begitu mirip dengan Rohana, karena itulah dia selalu memperlakukanmu lembut. Dia menganggap kamu adalah Rohana, wanita yang telah membuat dirinya memiliki penyesalan yang mendalam atas kematiannya".


"Tenang saja, dia sudah ku kirim untuk menemui putrimu di alam sana. Semoga saja dia meminta maaf kepada putrimu dan juga anaknya" ungkap Darren yang langsung membuat tangis Ronald pecah. Dia merasa begitu bodoh karena dendam dan bencinya yang ternyata salah sasaran.


Ronald mengingat dimana dia pertama kalinya menjadi seorang perempuan. Devin lah yang menyentuhnya untuk pertama kali. Dalam setiap sentuhannya Devin memanggil nama Rohana berulang kali. Namun saat itu Ronald tak curiga, dia berpikir jika dirinya telah berhasil menjadi seorang wanita seutuhnya. Tak pernah terlintas kecurigaan dalam hatinya kepada Devin.


"Kamu hanya dijadikan alat untuk balas dendamnya. Serta dijadikan alat pemuas hasratnya menggantikan putrimu yang telah mati" perkataan Darren seperti hujaman seribu sembilu. Begitu sakit menusuk ke dalam hatinya.


"Itulah kenyataannya. Kamu telah salah jalan, aku telah memaafkan perbuatanmu kepada Radit. Sebab aku tidak ingin menyimpan dendam" Darren melangkahkan kakinya keluar.


"Kamu telah salah jalan Ronald. Tapi aku bukanlah Darren yang memaafkan perbuatanmu kepada Radit. Aku tidak akan memaafkanmu sebelum nyawa terbalas dengan nyawa" oma Rachel mengucapkannya dengan begitu sinis.


"Silahkan kalian nikmati kembali tubuh indahnya" ucap oma Rachel kepada anak buahnya. Selain disiksa secara pisik, Ronald yang telah bertransformasi menjadi seorang wanita juga melayani kebutuhan *** para anak buah Rachel. Mereka begitu penasaran bagaimana rasanya perempuan yang palsu. Ronald menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebulan terkurung. Dia mati karena kedinginan. Tubuhnya telah membujur kaku ketika salah satu anak buah oma Rachel datang pagi hari. Ronald memelui erat sebuah foto Rohana yang tengah tersenyum bahagia.


*****


"Sudah siap semua untuk acara baby showernya?" oma Rachel begitu antusias untuk mengadakan acara baby shower untuk Kanaya. Sebab ini adalah cicit pertamanya. Jadi harus terlihat wah.


Dekorasi yang indah serta mewah menghiasi rumah megah keluarga Aston. Katering makanan yang dipesan pun juga yang kualitas terbaik. Pokoknya oma Rachel memberikan yang terbaik untuk baby showernya Kanaya.


"Nanti kita bakal adakan baby shower untuk Giselle juga sebentar lagi" oma Rachel menimpali Giselle yang tengah sibuk ikut membantu.


"Kalau untuk Giselle oma akan bikin acara baby showernya yang lebih gentle. Sebab anak Giselle pasti laki-laki" oma Rachel begitu antusias atas kehamilan kedua istri cucunya itu.


"Tapi hasil USG bayinya perempuan oma" jawab Giselle yang mematahkan harapan oma Rachel memiliki cicit laki-laki. Giselle takut oma Rachel akan kecewa dengan bayi perempuan yang dikandungnya.


"Hah perempuan juga" oam Rachel terkejut.


"Hahaha, pasti mereka bakalan bersifat sama sepertiku" oam Rachel pun tertawa lepas karena merasa ini lucu. Dia memiliki cucu dua. Dua-duanya laki-laki. Sekarang memiliki cicit, dua-duanya perempuan.


Darren ikut berkumpul dengan semuanya. Dia begitu asyik bermain bersama dengan Revan dan Raniya. Hendry melihat kebahagiaan mereka bertiga. Randy, Raniya dan Revan sangat senang bertemu dengan Darren.


Kebahagiaan mereka akan dimulai hari ini. Jika ada yang akan mencoba untuk mengusik ketenangan mereka. Dengan sekuat tenaga mereka akan memusnahkannya hingga ke akarnya. Hingga tak bersisa tunas untuk merusak kebahagiaan keluarga Aston dan marven.

__ADS_1


__ADS_2