
"Hahaha neng Kanaya" Tora tertawa karena lucu melihat ekspresi Kanaya yang terlihat takut. Baru tau kalau istri bosnya itu bisa memiliki rasa takut. Hehehe.
"Neng Kanaya mau tau nggak. Apa yang lebih menyeramkan daripada ketemu setan?" tanya Tora langsung membuat Kanaya menegakkan telinganya untuk mendengar jelas karena penasaran.
"Apa itu bang?" Kanaya menampilkan raut wajah yang serius kepada Tora.
"Yang lebih menyeramkan daripada setan yaitu neng Kanaya. Hahaha".
"Apalagi kalau lagi marah, waduh mengerikan seramnya" Kanaya langsung menendang bangku sopir yang tengah diduduki oleh Tora.
"Rese" ucap Kanaya kesal. Dia merengutkan wajahnya kesal dan marah. Dia lagi serius malah diajak bercanda sama Tora. Kan nggak lucu. Tapi Tora malah tertawa karena merasa senang melihat wajah Kanaya yang ditekuk.
"Tapi beneran neng. Neng Kanaya itu kalau lagi marah itu menakutkan. Tidak bisa diprediksi serangannya".
"Untung peluru pistol saya tidak pecah karena mendapatkan tendangan dari neng Kanaya dulu" ucap Tora.
Dia mengingat kejadian pertama kali bertemu dengan Kanaya sebelum menjadi istri Adrian. Dia mendapat tendangan maut di bagian intim bawahnya. Sehingga harus meringis kesakitan dan menahan ngilu. Karena kejadian itulah, Tora sedikit mengalami trauma terhadap Kanaya.
Kanaya yang mendengar perkataan Tora sedikit bingung dengan ucapan Tora. Kantong pistol? Dia melupakan kejadian pilu yang sangat memalukan bagi Tora waktu itu. Harga dirinya sebagai seorang preman lenyap karena ditendang oleh Kanaya. Parahnya dia tidak berkutik setelah mendapatkan serangan dari Kanaya.
"Neng Kanaya ingat nggak pertama kali kita ketemu di hotel dulu? Sewaktu neng Kanaya mau menyelamatkan si Ades" Kanaya pun mengangguk untuk mengiyakan ucapan Tora.
Tiba-tiba siluet tentang kejadian dia menendang telur burung perkutut milik Tora hadir. Baru Kanaya ingat dan mengerti dengan perkataan Tora tadi tentang peluru pistolnya.
"Hahahahaha" Kanaya pun tertawa terbahak-bahak setelah tau maksud dari ucapan Tora.
"Pistol, hahaha pistol apa burung perkutut bang".
"Kanaya kan bingung, peluru pistol apaan yang Kanaya tendang dulu. Perasaan nggak pernah Kanaya menendang peluru milik bang Tora. Ternyata telur burung puyuh. Hahahaha" Kanaya tertawa lebar, seakan puas telah melakukan hal tersebut.
"Itukan salah abang sendiri" Kanaya menyeka buliran air mata yang keluar dari sudut matanya. Akibat tertawanya tadi.
__ADS_1
"Eh, tapi bang. Kanaya masih penasaran deh dengan kelanjutan cerita bang Tora tentang penampakan mengerikan tadi".
"Lanjut dong bang" pinta Kanaya yang masih penasaran.
"Serius nih pengen tau" goda Tora.
"Kejadian waktu itu sungguh menegangkan neng. Kaki saya rasanya seperti tidak berpijak dibumi lagi. Tulang belulang saya rasanya lembek neng. Iih ngeri pokoknya" lanjut Tora bercerita sesuai request dari Kanaya.
"Tatapan matanya yang tajam itu seakan ingin menguliti saya hidup-hidup neng" cerita Tora penuh semangat.
"Kenapa bang Tora nggak coba lari atau baca-baca ayat suci Al-Quran sih?" Kanaya protes dengan terdiam dan mematungnya Tora saat bertemu dengan penampakan makhluk yang menyeramkan tersebut.
"Mana bisa mau lari neng, wong kaki saya itu gemeteran. Kalau bisa milih ya neng".
"Mending saya milih bisa pingsan daripada kabur".
Tora kembali mengingat makhluk tersebut memandanginya dan menatap dirinya dari atas sampai kaki. Kemudian menepuk pundaknya dan tersenyum mengerikan. Rambut hitam yang panjang dengan wajah yang putih serta lingkar hitam dibawah mata. Persis seperti penampakan artis Suzzana ketika berperan sebagai sundel bolong. Tora bergidik ngeri mengingat kejadian apes tersebut.
"Ya pernah dong bang? Memangnya kenapa bang?" tanya balik Kanaya.
"Penampakan yang saya lihat itu penampilannya seperti sundel bolong di film-film Suzzana neng".
"Saya saja hampir mau kencing di celana, saking takutnya. Apalagi ketika kuku panjangnya tersebut mentoel-toel dagu saya" Kanaya seperti bergidik ngeri mendengar cerita dari Tora.
"Saya itu membayangkan, seandainya kuku panjang tersebut masuk ke dalam perut saya. Bisa habis keluar semua isi dalam tubuh saya neng" Kanaya pun membayangkan betapa ngerinya jika hal tersebut terjadi.
"Apa jangan-jangan itu kuyang bang?" cetus Kanaya untuk menerka makhluk yang menampakkan diri di hadapan Tora.
"Kuyang? Masa iya sih ya neng".
"Bukan kuntilanak ya" ujar Tora.
__ADS_1
"Entah bang. Kan saya tidak tahu, yang lihat kan bang Tora".
"Lagian, kenapa bang Tora tidak teriak kaya yang di film-film sih? Biasanya kalau di film horor itu kan, setiap kali lihat setan pasti mereka pada teriak "setan" kemudian lari deh mereka" ujar Kanaya memperagakan kebiasaan para artis yang berperan dalam film-film horor.
"Hahaha... Neng Kanaya lucu. Itu kan settingan neng, itu akting neng akting".
"Kalau ketemu beneran, pasti dijamin nggak bakal bisa teriak ataupun lari neng. Apalagi sudah ketemu berhadapan. Pastinya degup jantung akan memompa dengan cepat karena saking takutnya".
"Lagian mulut saya itu rasanya terkunci neng, nggak bisa bicara. Seakan saya mengalami penyakit bisu dadakan" Tora menjelaskan perihal dia tidak bisa teriak-teriak seperti di film.
"Beneran deh bang, seumur-umur saya belum pernah lihat penampakan kayak begitu".
"Itu artinya, rumah oma ada setannya dong bang. Kok, jadi tiba-tiba merinding begini sih bang".
"Jangan-jangan ada yang ngikutin kita ni bang. Terus protes karena kita ngegibahin mereka yang tak kasat mata" Kanaya beragumen tentang bulu kuduknya yang berdiri. Padahal itu terjadi, karena suhu AC pada mobil memang begitu dingin mendadak. Sebab, diluar kini tengah diguyur oleh hujan.
Melihat Kanaya merasa sedikit takut, ide usil bin jahil muncul dalam otak beku milik Tora. Kesempatan dia buat ngerjai istri bosnya tersebut. Jarang-jarang dia bisa membuat Kanaya merasa ketakutan. Terlanjur sudah cerita tentang penampakan tersebut, sekalian saja deh ceritanya dibumbui super berlebihan.
"Bisa jadi neng, mereka ikut dalam mobil bersama kita" balas Tora tentang ucapan Kanaya tadi. Namun, sekuat mungkin Tora menahan diri untuk tidak tertawa karena sangat menikmati wajah polos takut Kanaya.
"Dih, bang Tora kok nakutin sih. Jangan ngomong begitu dong bang".
"Sumpah deh bang, kalau disuruh melawan sepuluh preman. Kanaya berani melawan mereka semua sekaligus. Tapi kalau disuruh melawan satu hantu saja nih bang, maaf Kanaya undur diri saja bang".
"Kanaya takut sama hal yang begituan bang" Kanaya pun langsung mengusap tangan dan tengkuknya yang sedari tadi merasa merinding.
"Soalnya Kanaya dulu pernah lihat kuntilanak lagi nongki santai di pohon mangga tetangga depan rumah bang. Nah, dari situ Kanaya jadi sangat takut dengan hal-hal seperti begituan".
"Gara-gara pernah lihat hantu kunti, Kanaya jadi menghapal surah ayat kursi bang. Soalnya kata teman Kanaya waktu sekolah dulu ngomong. Entah itu hantu atau setan, mereka sangat takut jika kita membaca surah ayat kursi tersebut" Kanaya menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Miss K.
"Itu beneran hantu neng" Kanaya mengangguk untuk mengiyakan.
__ADS_1
Kini wajah Tora terlihat memucat setelah mendengar penuturan dari Kanaya tersebut. Seakan dia kini melihat hantu beneran. Berulang kali Tora menelan air ludah yang terasa begitu menyesakkan tenggorokannya.