Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Musuh Bebuyutan


__ADS_3

"Sayang, sudah bolehkan. Kangen" bisik Adrian ditelinga Kanaya yang kini tengah berbaring disampingnya. Sebuah ciuman mendarat di pipi Adrian pertanda iya dari Kanaya. Tanpa aba-aba Adrian langsung mencium bibi Kanaya dengan rakusnya. Wajar saja karena hampir seminggu Adrian tidak menyentuh Kanaya, takut akan mempengaruhi kandungan nya yang masih muda. Dia tidak ingin anaknya dalam rahim Kanaya kenapa-kenapa.


Puas Adrian mencium bibir Kanaya kini dia beralih menciumi lehernya, terdengar lenguhan dan ******* dari Kanaya membuat Adrian semakin membangkitkan hasrat dan gelora dari tubuh Kanaya. Perlahan dia mencumbui tubuh mulus putih Kanaya dengan lembut. Membuat si pemilik tubuh mengerang dan melengkungkan tubuhnya ke atas. Adrian benar-benar ingin meluapkan rasa kerinduan pada tubuh istrinya tercinta tersebut. Diciuminya setiap inci dari tubuh Kanaya,Adrian merasa puas setiap kali mendengar ******* yang keluar dari mulut Kanaya.


Tak ingin membuang waktu lagi dia memasuki inti tubuh Kanaya dengan perlahan. Adrian menggoyang dengan perlahan dan lembut. Secara perlahan goyangannya berubah ritme lebih cepat hingga membuat Kanaya mendesah lebih nyaring, karena tak kuasa menahan gejolak rasa nikmat yang menjalar pada tubuhnya akhirnya Adrian menyudahi permainan panas mereka setelah sama-sama mencapau puncak kenikmatan. Tubuh mereka saling berpelukan dalam selimut yang menutupi tubuh mereka.


***


Pagi ini semuanya begitu sangat sibuk membawa koper mereka yang akak dibawa pergi ke Kalimantan Selatan. Tampak Niki yang begitu sangat senang karena akan bertemu dengan putra bungsunya yang sangat manja itu. Oma Rachel masih sibuk menelpon seseorang untuk menyuruhnya menunggu di bandara jika tidak ingin berangkat bersama.


"Oma, Adrian mohon ya kalau nanti ketemu sama keluarga Kanaya oma yang bikin ulah ya. Malu nanti sama keluarga nya kalau sikap oma labil kaya anak muda" pesan Adrian kepada omanya yang suka bikin drama.


"Dengerin tuh ma, jangan bikin onar ditempat orang. Jaga sikap, dan kebanyakan drama alay" ucap Niki yang berlalu membawa kopernya melewati sang ibu masih sibuk dengan handphonenya.


"Iya... Iya... Salahin terus, sampai mampus" kata oma Rachel sedikit jengkel karena pagi-pagi begini sudah diberi wejangan sama cucu dan anaknya.


"Tuh tau kalau nanti juga bakal mati, makanya tobat. Sebelum di prank sama malaikat maut" ejek Niki yang tambah membuat wajah sang mama tambah cemberut.


"Sudah oma, mukanya jangan ditekuk begitu. Nggak apa-apa kok, bapa orangnya juga humoris" ucap Kanaya membujuki oma Rachel agar tidak tambah marah ke mertua dan suaminya. Sebenarnya Kanaya juga takut kalau mama atau bapanya nanti tersinggung dengan oma Rachel yang kadang suka berlebihan. Sebisa mungkin dia akan membuat mereka tetap akur satu sama lain. Kanaya juga tidak sabar ingin bertemu dengan ke empat anaknya.

__ADS_1


"Semuanya sudah siap, ayo kita berangkat" ajak opa Adam yang sudah selesai memanaskan mobil.


"Bi Imah tolong jaga rumah ya selagi kami tidak ada di rumah. Nanti Tora beserta istri dan anaknya akan disuruh menginap disini menemani bi Imah. Pak ujang katanya kan mau pulang kampung ketemu sama anaknya setelah mengantar ke bandara. Jadi biar bi Imah nggak sendirian jadi ditemani Tora" kata Adrian berpesan kepada asisten rumah tangganya yang sudah lama bekerja pada keluarganya. Meskipun masih ada beberapa ART lagi tapi semuanya perempuan, jadi ada sedikit ke khawatiran kalau ada kenapa-kenapa pada mereka.


Selama kepergian mereka, untuk urusan perusahaan ditangani oleh Tony dan Mely. Mereka berdua lah orang yang paling dipercaya oleh Adrian untuk mengurus segala urusan perusahaan, karena mereka berdua yang sering dibawa oleh Adrian untuk menemui para klien sehingga para klien dan rekan kerja dari perusahaan lain sudah sangat mengenal mereka.


Sesampainya dibandara raut wajah Kanaya yang sedari tadi penuh senyum dan tawa ketika berbicara dengan mertuanya berubah menjadi dingin. Sosok yang tidak ingin dilihatnya lagi, melihat raut muka menantunya itu Niki pun ikut melihat ke arah mata Kanaya menatap. Giselle, sosok itu yang membuat mood Kanaya berubah seketika.


"Kenapa Giselle ada disini?" tanya Niki yang terdengar oleh telinga oma Rachel.


"Mama yang ngajak. Memangnya kenapa? Kamu keberatan?" tanya oma rachel kepada Niki yang mendapat protes. Tangan oma Rachel ditarik oleh Niki dan diajak bicara berdua.


"Iya mama tau, tapi ada alasan lain jadi mengajak Giselle. Mama mau mempertemukan dia dengan Andre" kata oma Rachel santai.


"Hah, mama gila ya. Batal dijodohkan dengan Adrian kini mama mau menjodohkan dengan Andre pula. Kenapa sih mama begitu sayangnya sama Giselle?" tanya Niki kesal yang memang tidak tau dengan kisah hidup Giselle.


"Orang yang dicintai oleh Giselle itu Andre bukan Adrian, perjodohan itu dirancang oleh


Donna. Kasian mama sama dia Nik" kata oma dengan nada sedih.

__ADS_1


"Alah, paling drama juga kaya mama. Sebelas dua belas mama sama dia. Sama-sama menjengkelkan" kata Niki kemudian pergi meninggalkan mamanya sendiri. Kanaya yang duduk sendiri didatangi oleh Giselle yang sedari tadi sudah menatapnya.


"Boleh duduk disini?" tanya Giselle kepada Kanaya yang berniat duduk disebelahnya.


"Boleh" jawab Kanaya singkat. Giselle pun duduk disampingnya.


"Mba, maafin aku ya soal yang kemaren. Aku salah, aku benar-benar nggak tau. Aku janji nggak bakal gangguin mba sama kak Adrian lagi" ucap Giselle sungguh-sungguh membuat hati Kanaya sedikit hangat.


"Iya,kamu diajakin oma Rachel ya?" tanyanya Kanaya.


"Iya, aku mau ketemu sama Andre. Udah lama nggak ketemu, rencananya aku mau pindah ke Singapore. Jadi mau pamitan langsung sama dia" kata Giselle dengan sedikit nada sedih.


"Ayo semuanya kumpul, pesawat kita mau berangkat" ujar opa Adam yang mengurus semua keberangkatan. Kanaya berjalan bersama Giselle, kemudian Adrian datang menggandeng tangan Kanaya dan tidak menghiraukan Giselle. Hanya bisa menarik nafas saja dirinya kini diacuhkan oleh Adrian dan juga mamanya.


Perjalanan menuju ke tempat Kanaya memakan waktu kurang lebih dua jam lewat udara. Dari bandara Syamsudin Noor harus ke Bandar Udara Bersujud di Batulicin. Disana mereka sudah ditunggu oleh Andre dan juga bapanya Kanaya. Semuanya tampak tidak sabar ingin bertemu dengan Andre terutama Giselle yang merasa degdegan akan bertemu cintanya sedari kecil. Semuanya mencari-cari orang yang sedang menunggu mereka. Tapi Niki melihat seseorang yang sepertinya sangat dia kenal. Setelah beberapa saat mengamati dan meyakinkan pasti itu adalah dia. Niki berlari kencang menuju pria yang dikenalnya tadi. Tangannya melayang bebas diudara kemudian mendarat tepat diwajah si pria tadi. Tak tau akan diserang oleh Niki si pria itu pun terjatuh ke lantai.


"Dasar brengsek, pergi tanpa kabar. Nggak pernah ngabarin juga tinggal dimana? Aku pikir kamu itu sudah mati makan sama harimau" kata Niki dengan nafas yang masih ngos ngosan. Pria yang dimarahin oleh Niki tadi terkejut ketika melihat orang yang telah menyerangnya tadi adalah Niki. Tak pikir panjang pria itu lantas memeluk Niki dengan erat, membuat keluarga yang lain heran menatap mereka.


Kira-kira siapa ya yang meluk Niki? Apakah Angga akan marah? Bagaimana reaksi Adrian melihat hal ini?

__ADS_1


__ADS_2