
Niki, Kanaya dan oma Rachel kini memasuki salon langganan mereka untuk memanjakan diri dan menghilangkan semua rasa penat dan lelah selama perjalanan pulang mereka ke Jakarta. Oma Rachel masih tetap berkutat dengan handphone canggihnya merekam aktivitas mereka, menyapa semua fansnya. Oma Rachel memanggil para fansnya dengan sebutan kawan, karena bagi oma biar dia merasa lebih akrab dengan mereka yang menyukai oma. Saat oma sedang asyik berceloteh ria di livenya, tak terduga matanya tertuju kepada sosok perempuan yang memakai gaun berwarna merah maroon yang kini tengah melakukan pedicure.
"Jeng Rohana" sapa oma kepada perempuan yang terlihat begitu modis itu.
"Oh Rachel" ucapnya dengan suara lembut namun terdengar seperti mendesah.
"Lama tak berjumpa, katanya jeng Maria kamu habis mengadakan resepsi pernikahan cucumu ya".
"Kok nggak mengundang kami" Rohana memajukan bibirnya seolah seperti merajuk, namun masih tersenyum kecil. Tingkahnya begitu genit, Kanaya sedikit merasa risih melihatnya.
"Nanti kalian semua akan aku undang, resepsinya kemaren dilaksanakan di kalimantan".
"Jadi acara khusus dari mempelai wanita saja, nanti kami akan melaksanakan resepsi di Jakarta juga. Tunggu saja ya undangannya" oma Rachel mengedipkan matanya dan tersenyum manis. Kemudian oma Rachel menyudahi livenya dulu.
"Gimana Niki, sudah selesai daftarnya" tanya oma Rachel yang melihat Niki menghampiri oma Rachel. Rohana pun sudah selesai melakukan pedicurenya.
"Sudah ma, halo tante" sapa Niki lembut dan menyalimi tangan Rohana.
__ADS_1
"Mendaftarin buat treatment apa?" tanya Rohana kepada Niki.
"Oh, kita mau luluran tan. Sekalian pijat, karena capek baru datang dari kalimantan" ucap Niki tersenyum. Kanaya datang menghampiri oma dan mertuanya setelah dia selesai melihat-lihat treatment yang di sediakan oleh salon disini.
"Sayang kenalin ini teman oma namanya Rohana" oma Rachel mengenalkan Rohana dan Kanaya pun menyalami wanita yang bernama Rohana tersebut.
Namun ada sesuatu yang menjalar dalam kulit Kanaya ketika tangannya menyentuh tangan Rohana. Ada sesuatu desiran yang membuat bulu kuduk Kanaya merinding seakan merasakan kengerian. Wanita ini berpenampilan sangat modis dan terlihat begitu sangat muda sekali. Mungkin kalau diraba mengenai umur, sepertinya dia seumuran dengan Niki mertuanya. Senyumnya ramah, gurat wajahnya juga begitu lembut. Tapi sorot matanya, memancarkan sebuah rasa kebencian. Tatapan itu, seperti pernah dilihat Kanaya sebelumnya. Tapi dimana, sedangkan ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Duh kalau begini, saya jadinya ingin ikut juga pengen luluran. Sudah lama juga tidak mendapatkan pijatan-pijatan halus dan lembut untuk merileksasikan tubuh tua yang lelah ini" Rohana berucap diiringi tawa kecil di ruangan salon yang ramai pengunjung ini.
"Kalau tante mau, aku daftarin juga. Tadi aku mesan kamar yang biasa digunakan empat orang, sedang kami cuma bertiga jadi masih tersisa satu tempat. Bisa diisi oleh tante tempat yang kosong" ujar Niki, kemudian kakinya melangkah kembali ke meja pendaftaran.
Seorang pegawai salon memanggil nama Niki dan mengatakan kalau ruangan untuk mereka sudah siap. Mereka pun di tunjukkan oleh pegawai tersebut untuk berganti di ruang ganti yang telah tersedia. Memakai handuk yang disediakan, mereka pun memasuki ruangan tempat untuk merileksasikan tubuh mereka.
"Kenapa punggungmu itu Rohana?" oma Rachel terkejut saat melihat punggung Rohana yang mengalami sedikit kecacatan. Terdapat empat bekas luka yang membuatnya terlihat seperti berlubang.
"Oh, ini. Ini bekas serangan seorang wanita gila yang brutal" ucap Rohana namun matanya menatap sinis ke arah Kanaya.
__ADS_1
Sebaliknya dengan Kanaya, dia menatap heran tapi juga curiga. Bekas luka itu seperti sebuah dejavu baginya. Dia seakan mengenali namun tidak tau siapa yang memilikinya. Kini dirinya seakan dipermainkan oleh memory yang dulu sempat hilang. Disuruh mengingat lembaran-lembaran puzzle yang membuat dirinya berpikir keras untuk menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang ada dibenaknya.
"Tante, kalau boleh tau umur tante berapa ya? Tante terlihat begitu muda sekali, untuk dibilang sebagai teman mama. Sepertinya seumuran dengan saya" Niki seakan bisa membaca pikiran Kanaya yang merasa curiga dengan penampilan Rohana.
"Ah, kamu bisa saja memuji Niki. Umurku sudah tidak muda lagi, sudah enam puluh lima tahun" Kanaya terkejut dengan penuturan Rohana yang sama sekali tidak menyiratkan tentang usianya tersebut pada wajahnya. Kulitnya benar-benar masih kencang, mulus seperti wanita berusia tiga puluhan malah.
"Seriusan umurnya segitu, tapi terlihat lebih muda dari aku lho tan" goda Niki dengan diiringi tawa kecil. Niki, oma Rachel dan Rohana bercengkrama ria. Terkadang terdengar tawa dari mereka. Sedangkan Kanaya begitu menikmati setiap sentuhan dan pijatan yang diberikan kepadanya. Dia merasa begitu nyaman, menutup matanya mengingat hal-hal yang baik selama ini menghampirinya.
"Perawatan dari negeri Korea Selatan memang topcer lho Niki. Coba deh sekali-kali kamu pergi kesana, dijamin hasil perawatan yang didapat dari sana begitu sangat memuaskan" perkataan Rohana tadi seakan menghipnotis oma Rachel untuk melakukan hal yang sama. Agar dia terlihat jauh lebih muda dari sekarang. Biar suaminya selalu mencintainya dan tidak berpaling darinya. Padahal sudah bisa dipastikan jika opa Adam benar-benar sudah cinta mati sama oma Rachel.
"Kapan-kapan kita pergi ke sana ya Niki" kata oma Rachel dengan senyum bahagia yang mengembang. Tapi ada secuil rasa yang menaruh curiga pada kenalan yang dijumpainya dalam arisan bulanan kalangan sosialitanya. Kanaya hanya mendengarkan setiap pembicaraan yang mereka lakukan, dia memilih untuk memejamkan mata dan berpura-pura tertidur ketika Niki memanggil namanya.
Setelah selesai dipijat dan dilulur, kini Kanaya merendam tubuhnya setelah sadar dari tidurnya. Wangi yang menguar diudara dari lilin aromaterapi yang menyala disamping bathtubnya. Menambah rasa menyegarkan pada tubuhnya yang kini terlihat mulai berisi. Setelah ini Kanaya bertekad, akan mencari tahu keberadaan Ronald. Orang yang membuat dirinya takut dan trauma hingga mengharuskan mereka sekeluarga pergi dari Jakarta.
"Aku yakin Adrian pasti akan membantuku mencari keberadaannya" ucap Kanaya dalam hati kecilnya.
Terlebih dahulu dia harus menyelidiki tentang latar belakang Rohana yang dia rasa pernah mengenalnya. Sorot mata itu, tatapan mata itu yang begitu menghujam seperti membuat hatinya teriris sakit. Dia tidak ingin terjebak dari kisah kelam masa lalunya. Dirinya bukan orang yang dahulu lagi, dirinya yang sekarang adalah jelmaan orang yang pernah terluka namun mampu bertahan dalam sulitnya hidup hingga membuatnya jauh lebih kuat.
__ADS_1
Sedangkan Adrian kini tengah asyik sibuk melakukan rapat darurat dengan anak buahnya. Mereka tidak pernah berani membahas terlebih dahulu jika sang bos belum berucap sepatah kata untuk memulai pembicaraan mereka.