Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Malam Bahagia


__ADS_3

Giselle dan Andre duduk disebuah meja yang dipesan khusus oleh Andre sebelumnya. Telah hadir beberapa orang disana, mereka adalah teman-teman sekantor Andre di perusahaan Kanaya.


"Giselle kamu tunggu disini dulu ya, aku mau berbicara dengan Roby dulu" kata Andre berbisik ditelinga Giselle, dia pun mengangguk tanda mengiyakan. Andre pun berjalan bersama dengan seorang pria yang mungkin dialah yang bernama Roby.


"Hai kenalin Melinda, nama kamu siapa? " tanyanya sambil mengulurkan tangan.


"Namaku Giselle" jawab Giselle dan menyambut uluran tangan Melinda.


"Kamu pacarnya Andre ya? " tanya Melinda senyam senyum ke arah Giselle.


"Bukan, aku cuma temannya" jawab Giselle salah tingkah.


"Owh, aku sedikit terkejut lo. Saat dia mau mengajak seseorang diacara ulang tahunku Aku yakin dia pasti orang spesial buat Andre" kata-kata Melinda membuat Giselle heran. Dia menjadi bingung dengan acara malam ini.


"Bukannya malam ini akan ada acara lamaran ya? " tanya Giselle begitu polos. Ucapan Giselle tadi sontak menjadi sorotan semua mata yang ada duduk disana. Mereka semua taunya malam ini adalah acara makan-makan yang diselenggarakan oleh Melinda untuk mentraktir kawan-kawan sekantornya. Untuk semua persiapan memang Andre yang melakukan.


"Siapa yang mau melamar?" tanya seorang perempuan berhijab warna abu-abu kepada Giselle.


"Andre" jawab Giselle polos membuat semua perempuan yang hadir disana saling pandang. Mereka semua bingung, siapa wanita yang dilamar oleh Andre. Sedangkan selama ini Andre tidak pernah sama sekali memiliki hubungan spesial kepada wanita diantara salah satu dari mereka. Semuanya saling bertanya dalam hati dan pikiran masing-masing, ada yang tersenyum dengan pikirannya sendiri.


"Kamu yakin Andre mau melamar seseorang?" tanya Melinda untuk meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, aku sendiri kok tadi yang bantu milihin cincinnya" Giselle benar-benar sangat polos dan lugu. Menceriakan yang seharusnya tidak dia ceritakan.


"Andre itu jomblo akut, siapa coba yang bakal dia lamar. Malah kami mengira kalau dia itu "gay" " kata Melinda dengan suara pelan. Hal ini tentu saja berita baru buat Giselle. Dia yang jauh lebih terkejut atas ucapan Melinda tadi.


Giselle merasa kesal karena Andre dibilang seorang gay yang nggak normal seksualitasnya. Ingin rasanya dia memaki mereka yang mencurigainya seperti itu. Dia pernah berciuman dengan Andre sebelum dia dijodohkan dengan Adrian. Ciuman pertama mereka yang tidak akan mungkin pernah dilupakan oleh Giselle. Jadi tidak mungkin kalau Andre itu sudah beralih haluan.


Roby dan Andre datang menghampiri mereka serta beberapa orang lagi yang ada dibelakang mereka. Rupanya mereka berdua menunggui temannya yang baru saja datang. Giselle menjadi risih ketika melihat pria yang bernama Roby tadi begitu akrab dengan Andre. Giselle menjadi terpengaruh karena ucapan Melinda sebelumnya, Andre seorang gay. Apakah dia pria yang dimaksud oelh mereka? Terkadang Roby mengedipkan mata ke arah Andre dan diangguki oleh Andre. Benar-benar pemandangan yang sungguh menjijikkan. Giselle meremas kain baju yang dia pakai, karena sangat kesal. Tiba-tiba Roby berdiri dan memukul gelas yang dia pegang dengan sendok.


"Perhatian teman-temanku sekalian. Aku berterimakasih banyak buat kalian yang sudah hadir dalam acara malam ini".


"Untuk kekasihku tercinta "Happy birthday to you darling" "perkataan Roby tadi membuat Melinda tersipu malu. Giselle terkejut dengan ucapan Roby tadi, dia adalah pacarnya Melinda. Jadi dia sudah salah kaprah menganggap Roby adalah pacar laki-lakinya Andre.


"Satu hal lagi, malam ini merupakan malam yang sangat spesial. Oleh sebab itu aku ingin kalian menyaksikan dan berpartisipasi dalam hal ini".


"Sayang, maukah kamu menikah denganku. Menjadi istri dan ibu anak-anakku nanti. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang begitu berarti, yaitu kamu Melinda" ucap Roby menimbulkan keriuhan saat dia membuka sebuah kotak perhiasan yang berisikan sebuah cincin.


Giselle yang jauh lebih terkejut setelah melihat cincin tersebut, cincin itu adalah cincin yang dia pilih bersama Andre. Jadi cincin itu bukan untuk Andre tapi temannya. Giselle menatap ke arah Andre meminta penjelasan, Andre hanya tersenyum dan menunjuk ke arah kawannya tersebut. Melinda menatap ke arah Giselle dan tersenyum bahagia. Kemudian dia menatap ke Roby dan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Roby tadi. Suara tepuk tangan menggema dalam cafe seraya mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


"Untuk semua ini, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Andre yang sudah mempersiapkan semuanya"


"Serta untuk calon istrinya Andre, terimakasih sudah memilihkan cincin yang sangat cantik ini untuk Melinda" ucap Roby tersenyum ke arah Giselle. Hal ini membuat Giselle bingunh, kenapa dia menyebut dirinya sebagai calon istri Andre? Ngajak pacaran aja nggak pernah, apalagi ucapan mau melamar dari Andre. Salah persepsi ini Roby, pikir Giselle.

__ADS_1


Giselle menatap ke arah Andre untuk minta penjelasan atas ucapan Roby tadi. Andre hanya mengangkat kedua bahunya. Semuanya terlihat sangat bahagia dan menikmati malam itu. Giselle berdiri meninggalkan keramaian dan mencoba menuntun hatinya agar tidak terlalu berharap. Dia duduk ditaman disamping cafe, tenang dan damain yang dia rasakan saat ini. Suasana seperti inilah yang selalu dia harapkan.


"Kenapa kamu duduk disini?" sebuah suara bertanya dibelakang Giselle.


"Apa kamu ingin pulang sekarang?" tanya Andre menghampiri Giselle dan duduk disebelahnya.


"Aku hanya ingin sendiri saja sekarang".


"Aku lelah, aku tidak ingin berharap lagi jika nantinya akan menyakitkan" ucap Giselle menatap ke depan. Andre merangkuk tubuh Giselle dari samping dan menyandarkan bahu Giselle di pundaknya. Nyaman, itulah yang dirasakan oleh Giselle.


"Aku tidak akan membiarkan kamu tersakiti lagi" kata Andre.


"Bukankah menyakitkan saat Roby mengatakan aku adalah calon istrimu, padahal kenyataannya kita tidak memiliki hubungan apapun" kata Giselle menutup matanya dengan kepala yang masih tersender di bahu Andre.


"Aku yang berharap seperti itu" ucapan Andre membangunkan Giselle dan mengangkat kepalanya dan menatap mata Andre untuk mencari kebohongan. Tatapan itu, tatapan kehangatan yang selalu dia terima dari Andre. Ketulusan itu yang selalu dia berikan untuknya.


"Maksud kamu?" tanya Giselle.


"Maukah kamu menetapkan hatimu untukku? Seperti janjiku dulu, aku yang akan menikahimu. Bukan pria lain" kata Andre membuta Giselle menitikkan air mata bahagia. Andre menyapu air mata yang mengalir di pipi Giselle dan menciumi pipinya mesra. Kemudian beralih menciumi bibir tipis milik Giselle. Mereka saling membalas ciuman hangat mereka dengan lembut. Kini semua kegusaran hati mereka telah kembali kepada posisinya.


Bukti nyata ketika cinta dan hati diuji, jika memang benar dia yang kita inginkan, maka pastinya akan tetap kembali. Sebaliknya, ketika berusaha untuk memiliki tapi nyatanya bukan untuk kita pasti akan terlepas begitu saja. Itulah yang dinamakan dengan takdir, kita yang berencana tuhan lah yang menentukan. Setiap kejadian yang kita lewati selalu ada sebuah kebahagiaan yang akan terbungkus rapi dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2