Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
First Shoot


__ADS_3

Sebuah pisau kecil berwarna hijau menancap di paha pria yang mengancam Randy. Pisau dapur yang kecil-kecil itu yang digunakan Randy untuk menyerang. Pisau dapur kecil itu memang sudha dipersiapkan olehnya. Sebanyak empat buah dia persiapkan, dia meminta Revan untuk menyimpannya. Revan yang cerdik dan banyak akal itulah yang mempersiapkan pisau Randy dalam snack. Dua bersaudara yang kompak. Revan pun langsung menyerang pria yang ada disamping opa Angga dengan menendangnya di bagian belakang lutut. Sehingga membuat dirinya jatuh kedepan.


Para kawanan yang lainnya pun langsung mendatangi ke arah mereka. Randy langsung meraih ransel kecil milik Revan setelah mengeluarkan tiga pisau dapur kecil itu dan memasukkannya ke dalam kantong celana yang dia pakai. Dia berlari ke Revan dan juga Angga. Dia mengomando mereka untuk segera berlari.


"Doooor" sebuah tembakan di lepaskan ke udara. Membuat Randy, Revan dan Angga menghentikan langkah mereka.


"Jangan coba untuk melarikan diri, jika kalian tidak ingin aku menembak kalian" ancam pria yang dari tadi berada disamping Angga. Sedangkan pria yang ditusuk oleh Randy tadi masih dibantu temannya untuk menghentikan pendarahannya.


Tampak wajah Angga kini gusar, dia bingung harus melakukan apa. Sedangkan Revan memasang ring dijari kecilnya agar jika dia memukuli musuhnya terasa lebih sakit. Dia sadar jika tenaga seorang anak kecilnya sepertinya tidak mudah melumpuhkan kekuatan orang dewasa. Ring empat jari itu memang sengaja dipesan oleh Randy, bukankah sesuatu yang hebat sekali dilakukan oleh seorang anak kecil sepertinya. Pengalaman hidup yang membuatnya dewasa lebih cepat, serta rasa bersalah yang menghantuinya karena tidak bisa melindungi papanya. Randy meraba tas yang dirangkulnya sedari tadi. Mencari barang yang dia butuhkan saat ini. Gotcha! Pistol itu sudah ditemukan olehnya. Randy pun menodongkan pistol tersebut ke arah pria yang mengancam mereka tadi.


"Saya juga bisa menembak ke arah anda pak" ucap Randy, namun disambut senyuman mengejek olehnya. Randy pun melepaskan tembakan namun peluru tidak melesat keluar.


"Gimana dek, bisa nembak kamu. Nggak usah ngancam mau nembak dengan pistol mainan milik kamu itu. Sini biar om liat pistolnya asli atau tidak" pria itu mencoba untuk mengecoh dan menjebak Randy. Jika dia sudah dekat dengan dirinya, tentunya jadi sandera yang bagus. Randy pun meneliti ke pistolnya itu. Apa yang salah ya? Padahal waktu latihan sama om Jimmy pakai pistol disana aku bisa menembak dengan baik. Sekali lagi dia mengamati, serta mengingat hal-hal yang dia pelajari saat dia latihan dengan Jimmy. Oh, ini masih terkunci.


"Sorry om, tadi terkunci makanya tidak bisa ditembakan. Maaf mengecewakan" seringai Randy memberikan senyum jahat diwajah mungil khas anak-anak.


"Doooooor" sebuah tembakan menerjang di udara. Sedangkan yang menembakkan pistol tersebut kini terjatuh ke tanah lapangan. Suara tembakannya melesat keluar setelah dia mendapatkan satu tembakan yang tepat didahinya hingga tak sengaja terlepaslah satu tembakan.


Kanaya yang baru saja sampai terkejut mendengar sebuah tembakan. Dia begitu panik, serta tidak menyangka jika musuh menggunakan pistol untuk menghadapi anak-anaknya serta ayah mertuanya. Kanaya, mengambil pistolnya dan mempersiapkannya. Dengan berjalan tergesa-gesa, tidak ingin anak-anaknya terluka. Sebab dia tidak akan memaafkan dirinya karean terlambat menyelamatkan mereka.

__ADS_1


Randy menyeringai puas, karena tembakan pertamanya tepat sasaran. Inilah hasil latihan yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Kenyataan pahit dalam hidupnya lah tang menjadikan dirinya harus lebih dewasa sebelum usianya. Sebab harus mandiri dan bisa menjaga dirinya serta keluarganya maka dia harus kuat, kuat, kuat. Tak ada gemetar sedikit pun pada tangan atau badannya karena telah membunuh.


Opa Angga terpaku dan terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat. Randy menembak seseorang! Tepat sasaran, langsung mati seketika. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangan. Fabulous! Ingin sekali dia bertepuk tangan namun situasi ini sepertinya tidak memungkinkan.


"Jika kalian berani melangkah maju kemari. Akan aku pastikan kalian memiliki nasib yang sama dengan teman kalian. Peluru ini bersarang dikepala kalian" ancaman Randy tadi benar-benar membuat mereka takut. Dia pun menatap ke arah Revan.


"Opa, sebaiknya ajak Revan keluar dari lapangan ini. Biar mereka semua Randy yang atasi" ucap Randy tegas. Rasanya terdengar sangat aneh hal itu diucapkan oleh anak kecil sepertinya. Padahal perkataan itu seharusnya terlontar dari mulut Angga, sebab dialah satu-satunya orang dewasa bersama mereka berdua. Tapi kini malah mereka yang ingin menyelamatkan dirinya.


"Revan, kamu harus jaga opa. Pastikan kalau opa dalam keadaan selamat dan aman. Mungkin mama sebentar lagi datang" perintah Randy kepada adik kecilnya yang biasanya terlihat menggemaskan dengan tingkah lucunya dan bicaranya yang banyak. Namun siapa sangka, bagian dirinya yang lain cukup sigap memahami kondisi terancam seperti sekarang.


"Ok L".


Angga dan Revan pun berlari menuju keluar. Sebelumnya Revan memberikan sebuah tali seperti pecutan kuda lumping kepada Angga sebagai senjatanya untuk membela diri. Sedangkan Randy berjalan perlahan mengikuti Revan dan Angga. Para penjahat yang ingin menyakiti mereka pun juga perlahan maju ke arah Randy. Tepat saat Revan dan Angga berhasil keluar dari gerbang lapangan. Tangan Randy yang memegang pistol dipukul oleh seseorang dari samping. Sebab Randy sempat lengah karena memastikan adiknya itu benar-benar telah selamat membawa keluar opa Angga.


****


"Saya sengaja mengumpulkan kalian semua disini karena ada hal penting yang ingin disampaikan".


"Ini masalah Randy dan juga pelaku pembunuhan papa kalian dan opa kalian" ucap oma Rachel kepada Hendry dan Niki. Juga kepada Adrian dan Andre. Ya, didalam rapat ini hanya ada mereka untuk orang lain hanya ada Jimmy, orang kepercayaan oma Rachel.

__ADS_1


"Alfian, mama mau tanya apakah kamu tahu tentang latar belakang Radit?" tanya oma Rachel untuk memulai rapat ini,


"Iya, keluarganya adalah keluarga pengusaha. Saya juga sempat bertemu dengan ayahnya. Ayahnya bernama Handoko" jelas Hendry, Adrian pun mengangguk membenarkan hal itu. Sebab, setahu dia Handoko adalah ayahnya Radit. Mereka sering bermain bersama, tentunya Adrian sering bertamh ke rumahnya.


"Radit bukan putra dari Handoko. Dia adalah supir ayahnya. Radit memang sengaja dititipkan kepadanya. Demi keamanan Radit tentunya" jawaban oma Rachel tentu saja menjadi tanda tanya bagi mereka semua. Teka teki apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh oma Rachel.


"Radit sebenarnya adalah putra dari pemimpin Redglass. Kelompok nomer satu yang ada di singapore" apa yang dikatakan oleh oma Rachel merupakan sebuah kejutan yang benar-benar membuat mereka hampir tidak percaya. Sebab semua yang diucapkan oleh oma Rachel, pasti sudah valid. Oma Rachel adalah tipikal orang yang perfeksionis dalam segala hal. Termasuk sebuah informasi. Dia tidak akan mudah menerima sebuah informasi hanya dengan satu kali penyelidikan. Tentunya akan diselidiki ulang oleh orang yang berbeda untuk memastikan.


Adrian yang sedikit mengetahui tentang organisasi tersebut benar-benar tidak percaya. Kemudian dia teringat dengan Radit, dimana dia tidak takut untuk menghadapi beberapa preman bersama Adrian. Dia hanya memberikan alasan jika ayahnya mengajari dia bela diri untuk melindungi diri sendiri dan membantu orang lain. Ternyata!


"Ayah Radit bernama Darren. Dialah pemimpin Redglass yang sebenarnya. Pemimpin sekarang hanyalah orang yang haus akan keserakahan".


"Apa kalian tahu maksudku?" semuanya pun serentak menggelengkan kepala.


"Itu artinya, anak-anak Kanaya tidak aman. Terutama Randy. Sebab, kini dia menjadi target utama Redglass" sontak Niki terkejut dengan ucapan sang mama. Bagaimana dia tidak kaget? Sebelum keberangkatan sang suami pergi dengan kedua anak Kanaya, dia berfirasat tidak nyaman. Tentu saja dia menjadi cemas.


"Randy dan Revan tadi pergi bersama Angga ke lapangan untuk bermain bola tanpa dikawal" ucap Niki bernada cemas. Semuanya pun kini saling pandang.


"Oh ****" teriak Adrian langsung berlari keluar dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2