Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Serangan Dua Tempat Berbeda


__ADS_3

Adrian, Tony, Mely, Fery dan bang Mamat sudah bersiap dengan senjata ditangan mereka.


"Doooor" suara tembakan melintasi arah bayangan Adrian. Ya target utama mereka adalah melenyapkan Adrian.


Kini pertempuran sengit, adu tembak sudah tak bisa dielakkan. Seluruh vila kini sudah dikepung oleh para musuh. Maka mau tidak mau Adrian cs harus berpencar untuk bisa mengalahkan mereka semua. Bang Mamat meski berjalannya sedikit kesulitan, tidak jadi alasan baginya untuk berdiam diri. Mantan anggota Angkatan Darat tersebut, memang ahli dalam berperang serta menembak jarak jauh. Kali ini, sudah enam orang yang terhitung oleh Adrian ditembak bang Mamat tepat sasaran. Adrian menyunggingkan senyum kepada pria yang berusia hampir paruh baya tersebut. Dia tetap jago dalam keahliannya menembak.


"Bang Mamat, lebih baik bang Mamat pergi ke atas lantai dua. Biar lebih fokus memperhatikan musuh. Jadi bisa menembak mereka yang mana keberadaannya mengancam kami disini" Adrian menyuruh penjaga vilanya itu. Dia pun mengangguk setuju dengan usulan Adrian tadi.


"Fery, kamu sama Mely bagian sebelah kiri. Tony sebelah kanan. Aku akan pergi ke bagian depan" Adrian mengarahkan mereka semua untuk strategi mengalahkan musuh yang datang.


Mereka pun mengangguk setuju dengan arahan Adrian. Tanpa aba-aba semua berada diposisinya. Fery yang tak kan pernah ingin melihat istrinya terluka. Sekuat tenaga menjaganya agar istrinya tidak terkena tembakan. Isi dalam vila, kini sudah berantakan dan hancur lebur. Semua yang ada didalam pecah dan hancur karena tembakan beruntun dari musuh yang membabibuta. Sedangkan Adrian cs mengambil celah hingga mereka bisa menembak musuh tepat sasaran. Tidak ingin membuang peluru dengan percuma. Disaat musuh mulai menghentikan tembakan Adrian pun langsung mulai menyerang mereka yang ada di bagian pintu depan. Dengan gaya yang cool Adrian membuka pintu kemudian mengarahkan kedua tangannya untuk menembaki mereka semua.


"Dor..."


"Dor..."


"Dor..."


Bunyi suara tembakan tiada henti dari Adrian. Setelahnya musuh tidak terlalu banyak lagi. Mereka yang berhadapan langsung dengan Adrian kini tidak menggunakan pistol lagi untuk bertarung. Melainkan dengan tangan kosong. Ya, tiga lawan satu sekarang. Sebab dalam keadaan yang sama pistol mereka kehabisan peluru. Mau tidak mau harus berkelahi. Dengan mudah Adrian mengalahkan mereka. Namun salah satu dari mereka yang datang dari sebelah kanan bersiap akan menembak ke arah Adrian.


"Dor..." peluru tersebut melesat kedalam tubuh seseorang. Darah pun memercik keluar mengenai wajah Adrian. Tepatnya tubuh yang tertembak adalah kawannya sendiri. Adrian menjadikan tubuh musuhnya tersebut untuk menjadi perisai dari serangan tembakan. Kini mereka datang ke arah Adrian dan menghujani Adrian tembakan. Adrian menghadapi mereka semua seorang diri. Namun dia bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Adrian tetap berusaha menembaki mereka. Dia pun kemudian berlari dan bersembunyi dibalik sebuah patung pancuran air di taman depan vila.


"Sial. Peluruku habis" ucap Adrian kesal. Di arah sebelah kanan Adrian tergeletak sebuah pistol milik salah satu musuhnya yang sudah tewas. Adrian mencoba untuk mengambilnya, namun keadaan sulit dan mendesaknya untuk tetap meringkuk dibawah patung pancuran. Padahal tadi dia sudah bergaya dengan keren dan juga terlihat gagah. Namun nyatanya sekarang dia seperti seekor anak kucing yang takut disiram air. Sungguh malang nasibmu Adrian. Hiks...


Suara adu tembakan kini terjadi di dekat Adrian. Kini tidak ada lagi tembakan yang mengarah kepadanya. Namun tembakan tersebut mengarah ke lain arah. Ini adalah kesempatan baginya untuk mengambil pistol tersebut dan juga kembali beraksi untuk menembak. Dengan gaya berguling mengambil pistol tersebut dan akan mengacungkannya. Tony sudah berdiri dengan santai dan meniup ujung pistolnya seolah-olah pesta telah usai.

__ADS_1


"Hai bro. Gimana, keren tidak" Tony mengangkat alisnya, menyunggingkan sebuah senyuman. Tak lupa berpose sok keren.


"Habis nih, lihat. Habis semuanya dibabat samaku".


"Tony is master of gun" Tony mengulas senyum kesombongan. Memuji kehebatan dirinya sendiri.


"Puk" sebuah botol melayang di kepala Tony.


"Palamu pitak. Kalau tidak aku bantuin sama Fery juga kamu masih saja tuh ngumpet di belakang pot besar itu" tunjuk Mely menggunakan pistolnya ke arah pot dekat dengan tangga.


"Jangan sesumbar, mampu mengalahkan mereka semua. Kena tembak tuh kepala baru tau rasa, yang tersisa hanya tinggal kenangan. Semoga saja nama kamu akan selalu diingat. Kalau tidak ya, tinggal namanya doang. No memorian" ucap Mely menjatuhkan Tony, memang tetap tidak pernah berubah mereka dalam kondisi apapun. Ibarat film kartun Mely dan Tony ini seperti Tom and Jerry. Selalu akan terjadi tindas menindas, selalu saling hina menghina Namun rasa sayang serta caring tidak perlu diragukan lagi. Begitulah cara mereka saling peduli. Tidak menggunakan kata-kata manis dan merayu.


"Sudah, sebaiknya kita pergi dari sini dulu. Takutnya akan ada bala bantuan dari musuh lagi".


Fery pun terkadang heran dengan sikap istrinya tersebut. Jika sedang bersamanya, dia begitu lembut, manja, sikapnya begitu hangat. Namun, ketika sudah beda situasi. Istrinya itu sungguh akan berubah tiga ratus enam puluh derajat. Bisa jadi seperti seorang diktator, bisa jadi seperti pencabut nyawa, bisa jadi mimpi buruk bagi orang lain. Namun itulah "Blackrosenya". Entah sebagai Mely ataupun Blackrose dia tetap mencintainya.


"Iya, sebaiknya kita pergi ke markas selatan saja sekarang".


"Bang Mamat ikut dengan saya. Biarkan saja vila ini kosong. Nanti saya akan suruh orang untuk membersihkan ini semua" kata Adrian sambil menunjuk ke arah mayat yang tengah berpose dengan berbagai gaya di halaman depan vilanya.


"Baik tuan" jawab bang Mamat.


"Eh, Ton. Masih kalah jauh! Keren aku daripada kamu" ucap Adrian lalu menjulurkan lidahnya meledek Tony yang masih manyun gara-gara Mely yang membongkar aksi palsunya seolah-olah dia menembaki mereka semua. Dalam keadaan genting seperti ini masih sempat saja untuk berparodi.


****

__ADS_1


"Serang mereka jangan sampai mereka bisa masuk ke dalam markas" teriak Davina sambil mengarahkan pistolnya menembaki musuh yang terus saja membalas tembakan.


"Sial, kita kalah jumlah" ucapnya dengan nada sedikit frustasi. Davina memiliki keahlian menyerang musuh jarak dekat. Jadi dia merasa sedikit kewalahan bertempur dengan cara tembak menembak seperti ini.


"Darren, help me up" Davina ingat akan nasehat saudara laki-lakinya itu.


Flashback on


"Kamu itu harus menguasai semua senjata. Jangan hanya mengandalkan otot ataupun tekhnik berkelahimu saja. Sebab kita tidak akan pernah tau. Musuh akan menyerang jarak dekat atau jarak jauh. Jadi kamu jangan hanya menguasai tekhnim berkelahi saja. Gunakan pistol ini dengan baik" Darren memberikan sebuah pistol dan mengajari Davina caranya menembak.


"Ingat, jika kamu dalam situasi terjepit. Kamu merasa terkepung oleh musuh. Kamu harus tenang, jangan panik. Jika kamu panik, kamu bisa celaka" Darren mencoba untuk memberikan arahan kepada Davina yang masih muda. Masih umur kepala dua.


"Pertama-tama tekan rasa takutmu. Lihat sekitarmu, apakah ada sesuatu yang bisa kamu gunakan sebagai senjata tambahan. Contohnya batang ranting ini" Dareen mengambil beberapa batang ranting.


"Lihat, itu ada sebuah tongkat kecil. Ikat rambutmu sini" Darren menggabungkan beberapa barang yang ada di sekitar dirinya. Kemudian semua itu jadi sebuah panahan. Terlihat simple dan mudah dibuat. Namun lumayan efektif juga digunakan".


"Look at this" Darren pun mengarahkan panahnya ke arah salah satu pohon yang berbuah di halaman belakang rumah tempat tinggal Davina. Ranting yang ditajamkan menggunakan pisau tadi. menancap sempurna pada buah mangga tersebut. Davina terbelalak melihat kehebatan saudaranya itu dalam membuat sebuah senjata buatan tangan.


Flashback off


"Tutup pintu dengan rapat. Kita harus membuat strategi dari dalam untuk melawan mereka" perintah Davina kepada anak buah Adrian. Kini Davina sadar, ternyata memang sulit untuk menjadi seorang pemimpin. Begitu berat beban yang dipikul. Dikiranya dulu, hanya main suruh menyuruh. Davina yang cemas dan sibuk dengan mencari jalan keluar agar bisa menyelamatkan tiga rangkaian R (Randy, Raniya, Revan). Justru hal terbalik dari Randy. Dia begitu mencemaskan sang mama.


"Mama.Tunggu aku, aku akan segera datang menjemputmu ma" bisik Randy dalam hati. Randy bangun dari duduknya, setelahnya mengambil pistol miliknya dan kini tengah bersiap.


"Let's get rock" ucap Randy membuka kunci pengaman pistol miliknya.

__ADS_1


__ADS_2