Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Rohana dan Fredy


__ADS_3

"Halo sayang. Aku ingin memberikan kabar yang menggembirakan padamu. Adrian sudah aku lenyapkan.Siapkan pesta untuk kita sayang" Fredy menelpon seseorang yang dia panggil sayang.


"Aku tunggu kedatanganmu sayang. Aku merindukanmu" jawab seorang wanita diseberang sana.


"Tunggu aku, aku juga merindukan belahan jiwaku ini. Rasanya tak sabar lagi aku ingin mereguk kembali kehangatan dalam sentuhanmu sayang" Fredy menyeringai dengan senyuman mesum yang tidak dilihat oleh si wanita itu.


"Aku tunggu kedatangan kamu selama tiga puluh menit disini, jika lewat maka aku sudah tidak bergairah lagi untuk bersamamu" ancamnya seakan menginginkan kedatangan Fredy secepat mungkin.


"Aki sudah hampir sayang, jadi kamu tidak usah khawatir. Kurang dari sepuluh menit aku sudah ada disana" seolah merasa diharapkan kedatangannya saat ini. Namun dia mengingat kembali jika dia terlambat datang dia sudah tidak bergairah membuat dirinya sedikit geram.


"Jangan bilang kalau kamu sudah memiliki cinta yang lain. Sebab jika benar, aku pastikan kalau kau akan membayar semuanya" ancamnya dengan wajah yang marah. Terdengar gelakan tawa perempuan dari suara panggilan Fredy.


"Hahaha, apakah kau cemburu sayang? Aku jadi ingin sekali melihat wajahmu itu ketika cemburu. Sebab, kau terlihat begitu seksi jika seperti itu" balasnya yang kemudian memberikan sebuah ciuman dari panggilan tersebut.


"I love you babe. Kamu tau aku sangat menggilaimu" ucap Fredy dengan senyuman yang mengembang pada bibirnya. Sungguh dia tergila-gila kepada wanita yang menjadi lawan bicaranya tadi. Bagaimana tidak, dia sangat menyukai suara yang begitu manja dan mendesah itu. Membuat naluri laki-laki nya terbangun sebelum bertemu dengan si pemilik suara tadi.


****


"Kau cepat sekali datang sayang" sambut seorang wanita dengan pakaian dress seksi diatas lutut.


Kulitnya yang putih mulus sangat kontras sekali dengan warna pakaian yang dia kenakan. Warna merah menyala yang sedang dia kenakan. Pada bagian dadanya yang menyembulkan roti nikmat yang siap untuk dilahap. Sedangkan bagian belakangnya terbuka. Benar-benar sungguh seksi. Siapa lagi kalau bukan Rohana yang begitu berani tampil mengumbar keindahan tubuhnya. Keindahan yang tercipta karena para ahli kecantikan dalam bidangnya yang menciptakan. Tentu saja dia ingin memamerkan betapa mahalnya tubuh ciptaan miliknya itu.


"Aku inginkan hadiahku itu sekarang sayang. Aku sudah tidak sabar dan sangat merindukanmu" Fredy meraih tubuh langsing Rohana begitu kasar. Kemudian menciumi tengkuknya dengan begitu buasnya. Hingga kegiatan panas itu berlangsung dan berakhir dengan penuh kepuasan.


"Aku sangat begitu senang mendengarkan berita ini. Untuk kedua kalinya aku menghancurkan masa depan Kanaya. Kali ini aku benar-benar menghancurkan dua keluarga sekaligus. Hahahaha".


"Pada akhirnya aku akan berada diatas dari Rachel yang arogan itu" ucap Rohana yang merasa dirinya sedang diatas awan.

__ADS_1


"Akan aku pastikan apa yang dimiliki olehnya akan menjadi milikmu sayang" kata Fredy kemudian ******* bibir Rohana dengan beringas. Ya, Rohana sangat menggilai gaya bercinta Fredy yang kasar dan penuh nafsu itu. Dia merasa terpuaskan dan merasa bangga karena membuatnya menggilai tubuhnya itu.


****


"Adrian bangun Adrian" teriak Andre yang seakan dirinya sudah hancur berkeping-keping. Andre terduduk menangia histeris, kehilangan saudara satu-satunya yang dia miliki. Begitu juga Niki yang tak berhenti meronta-ronta. Tanpa ada peringatan terlebih dahulu Andre bangun dan langsung menerjang tubuh Adrian dengan sebuah hantaman.


"Bugh. Bangun brengsek. Apa kamu akan membiarkan anak yang dalam kandungan hidup tanpa ayah hah. Aku tidak sudi menjadi ayahnya, asal kamu tahu" teriak Andre nyaring. Beberapa kali Andre memukuli tubuh Adrian, hingga satu pukulan tepat dibagian bekas tembakan tadi.


"Aaaawwwww" jerit Adrian tiba-tiba. Sontak hal ini membuat semuanya terkejut. Bagaimana tidak? Tadi sempat dinyatakan kalau dia sudah meninggal. Tapi kini bangun dan telah membuka matanya.


"Sakit sialan" gerutu Adrian sambil memegangi dadanya. Ya dadanya ada sedikit luka dan mengeluarkan darah. Dia kemudian membuka jasnya.


"Untung pelurunya mengenai ini" Adrian mengubah posisinya menjadi duduk, ya agak sulit dia bergerak karena berada dipangkuan. sang asisten koplaknya itu. Masa iya dia disuruh nyium sosis yang sudah hampir kadaluarsa itu. Masih sempat dia mikir absurb. Adrian.....


"Itukan... " tunjuk Hendry yang mengenal bros pada baju yang Adrian pakai.


"Ya, ini Randy yang memakaikannya tadi pagi. Katanya ini adalah bros keberuntungan milik Radit yang sengaja diberikan oleh ayahnya Radit" ujar Adrian yang memberikan penjelasan pada mertuanya dan juga mertua Radit sewaktu dia hidup dulu.


"Sepertinya ini memang benda yang membawa keberuntungan. Aku akan menyimpannya untuk sementara waktu" ucao Randy sambil tertawa kecil


"Sialan, kamu menipu kami ya" kata Andre yang menghentikan tawa Adrian.


"Siapa yang nipu? Memang tadi aku merasa tidak sadarkan diri. Kalau tidak kamu pukul mungkin aku masih belum sadar" jawab Adrian enteng.


"Malah aku kira tadi lagi berada disurga karena mendengar suara tangis kehilangan diriku" seketika tangan Niki langsung menjewer telinga anaknya tersebut.


"Awwww ma, sakit ma" ringis Adrian setelah jeweran di telinganya lepas.

__ADS_1


"Dasar wanita super melebihi wonder woman aja tenaganya" gerutu Adrian yang langsung mendapatkan kikikan dari Hendry, Andre, Tony serta anak buahnya. Suasana yang semula mengharukan karena kesedihan atas kehilangan salah satu bos di keluarga Aston berubah menjadi acara lawakan seketika.


"Memangnya pernah dijewer sama wonder woman, hah" Andre menimpali dengan memukul bahu Adrian.


"Tuh, anaknya papa Hendry" ujar Adrian sambil melirik ke arah Hendry. Sontak saja pengakuan dari Adrian ini membuat dirinya tertawa terbahak. Sebab itu artinya Adrian mengakui jika Kanaya memang sehebat wonder woman.


"Sebaiknya kematian Adrian disebarkan secara diam-diam" ujar Hendry setelah selesai tertawa.


"Maksudnya?" tanya Niki bingung dengan alis terangkat sebelah.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam gedung hotel saja dulu. Akan aku ceritakan rencananya".


"Tolong kalian tutupi Adrian, kerumuni dia. Takutnya ada yang melihat kalau dia masih hidup" ujar Hendry sekaligus memberikan perintah. Mereka pun dengan sigap langsung melaksanakan arahan yang diberikan oelh Hendry tadi.


Setelahnya masuk ke dalam gedung, Hendry meminta Adrian untuk bertukar pakaian dengan salah satu anak buahnya. Agar keberadaan Adrian dalam rapat ini tidak mudah untuk dikenali.


"Jadi aku ingin kita semau bekerja sama. Kalian, sebarkan gosip kalau Adrian sudah meninggal. Tapi kami sebagai anggota keluarga akan menampik berita tentang kematian Adrian. Seolah-olah kami menutupi kematiannya. Mungkin dengan cara ini kita dapat mengetahui siapa musuh kita sebenarnya" Hendry menjeda kalimatnya sambil menarik nafas dan membuangnya dengan berat.


"Sebab selama ini kita tidak pernah mendapatkan petunjuk apapun yang menuju kepada pelaku".


"Siapa dalang terkuat dibalik semua ini, serta siapa saja orang-orang yang terlibat dalam masalah ini. Kita harus lebih waspada lagi untuk ke depannya agar tidak kecolongan seperti ini. Untung saja hari ini kami datang tepat waktu, jika kami tidak datang kemungkinan kalian semua akan hanya tinggal nama. Apalagi terlihat, mereka begitu kuat dan juga terlatih. Mungkin beberapa dari mereka ada yang diatas kalian kemampuan bertarungnya".


"Bukannya aku meremehkan kemampuan kalian, tapi kita sebaiknya harus lebih waspada dan jangan lupa tingkatkan kemampuan kalian. Sebab mungkin kalian akan mendapatkan pertarungan yang jauh lebih sengit dari ini. Oleh sebab itu persiapkan diri kalian".


"Untuk kalian yang bertugas dan ada disini hari ini. Aku bebas tugaskan kalian untuk sementara waktu" semua anak buah yang ada disana wajahnya seketika memucat. Mereka tidak ingin dipecat dan diberhentikan.


"Pergilah kalian ke markas bagian selatan, pulihkan tenaga kalian disana. Tingkatkan kemampuan kalian selama berlatih disana. Sebab tugas berat akan aku berikan kepada kalian yang hadir hari ini" perkataan Hendry tadi membuat kelegaan dalam hati mereka.

__ADS_1


"Berterimakasih lah kepada Tony. Kalau bukan dia yang menghubungi kami. Mungkin kamu kini sudah berada dalam keranda jenazah" ejek Hendry kepada menantunya itu sambil menepuk pundaknya.


"Lainkali, jangan bertindak gegabah lagi" Hendry memperingatkan Adrian agar lebih hati-hati lagi untuk ke depannya.


__ADS_2