
Tatapan itu selalu membuat aku rindu. Setiap usapan lembut saat aku menangis, ucapan penuh nasehat dan pelukan yang selalu menenangkan, membuat aku merasa nyaman. Hingga sadar bahwa kenyamanan itu membawaku ke dalam rasa yang mungkin akan sulit untuk di lupakan.
Rasa ini terlalu indah jika harus mengalah demi kebahagiaannya.
“Aku akan membuka kedok Lilis! Kak Mey tenang aja.” Ucapan Raisa pagi tadi selalu terngiang di telinga.
Ya, dari setiap kata dan tatapan Raisa, bisa tersimpulkan dia sangat membenci Lilis. Entah apa yang terjadi di antara mereka. Namun, di sini aku tidak merasa bahagia.
Bahagia karena Raisa tidak menyukai Lilis dan masih ada kesempatan untukku dekat dengan Kak Tomy. Bukan seperti itu! Melainkan rasa ini terlalu sakit. Terlanjur sakit lebih tepatnya.
Meski lelaki itu tidak tahu apa yang aku rasakan.
“Mey, kamu marah sama Kakak?” Pertanyaan yang konyol menurutku.
Seharusnya dia lebih paham perasaan seseorang yang sejak kecil selalu bersama.
Untuk apa bertanya jika sebenarnya dia mengetahui.
‘Ya, aku marah! Aku benci dan aku enggan melihatmu.’
Tentu hanya mampu aku ucapkan dalam hati. Tak sanggup berkata karena hati menahan sakit dan kedua mata menahan kaca itu agar tidak pecah, menjadi buliran bening.
“Mey, kenapa diem aja?” Dia bertanya kembali. Kali ini menarik kedua pundakku agar aku menatapnya.
Tatapan kami bertemu, tapi hati semakin memanas ketika melihat wajah itu.
Wajah yang selalu tersenyum menikmati kebersamaan dengan Lilis. Wajah yang terlihat nyaman ketika Lilis ikut tersenyum.
“Kak, aku lelah. Aku ingin istirahat dulu. Besok aku mau pulang,” ucapku yang langsung pergi tanpa menunggu jawabannya.
Kaca-kaca itu akhirnya pecah menjadi tetesan air mata. Tanpa sadar aku menabrak Ibu yang rupanya berdiri di dekat pintu. Sepertinya beliau melihatku.
“Mey,” panggilnya lirih.
Untuk kali ini aku mengabaikannya. Menyendiri adalah tujuanku saat ini. Andai dia bukan anak ibu, mungkin saat ini aku memeluknya dan menangis dalam pangkuan.
“Kamu apakan Mey, Tom?” Terdengar ibu bertanya saat aku membuka pintu kamar.
Kamarku dekat dengan teras. Sehingga obrolan mereka bisa aku dengarkan. Meskipun dengan suara lirih.
“Ini salah Tomy, Bu. Kalau saja tadi dengerin omongan ibu.”
Terdengar helaan napas dari ibu. Mungkin beliau kecewa dengan anak lelakinya.
“Ya sudah kalau gitu, ibu nggak mau ikut campur. Ibu hanya bisa berpesan, mantapkan hatimu kepada siapa yang akan menjadi masa depanmu!”
Sepertinya ibu sudah mengetahui semuanya. Entah bagaimana kejadian tadi pagi, hingga membuat Kak Tomy bisa bersama Lilis.
Mungkinkah mereka saling mencintai dan Kak Tomy tidak enak karena ada aku. Mungkinkah mereka menyembunyikan sebuah hubungan? Karena Kak Tomy masih mengingat janji itu?
Seharusnya bukan seperti ini caranya. Ini terlalu menyakitkan untukku karena terlanjur jatuh ke dalam jurang yang dalam.
__ADS_1
“Aku harus bagaimana, Bu?”
“Pikirkan matang-matang. Ibu harap kamu tidak salah memilih.”
Tak lagi terdengar pembicaraan mereka. Namun, terdengar ketukan pelan dari luar.
Tapi
“Mey, Ibu pengen bicara sebentar,” ucap ibu.
Aku menghapus air mata lalu membuka pintu.
“Ibu boleh masuk?”
FXX itu FXX FXX FXX FXX FXX ZR, xc tidak xx xx xx xxub yu XL dlvbbkboo8
Aku mengangguk. Lalu duduk di sofa9z d FXX.
“Mey, kamu baik-baik aja? Apa kamu sakit?” tanya ibu.
“Nggak, Bu. Mey baik-baik aja kok.”
Ibu membelai wajahku lembut.
“Soal tadi ... Maafkan Tomy ya, Mey. Sebenarnya nggak bermaksud bohongi kamu sama Raisa.”
Aku mengernyit, tak mengerti maksud ucapan ibu.
“Maksud Ibu ... Kak Tomy nggak nganter ibu ke pasar?”
Ibu menggeleng. Sorot matanya menandakan penyesalan.
“Ibu memang ke pasar. Tapi sendiri, lalu Tomy menemui Lilis yang mengajaknya joging. Ibu nggak tahu lagi harus bagaimana kasih nasehat. Tomy selalu memperlakukan wanita dengan lembut. Menjadikan perlakuan itu seperti memberi harapan.”
“Seperti perlakuannya padaku?”
Ibu mengangguk. Kali ini wajahnya memperlihatkan keseriusan.
“Sebenarnya dia sudah memiliki seseorang yang menjadi masa depannya nanti, Mey,” ujar ibu. Pandangannya beralih ke luar jendela.
Ada ribuan jarum yang tertancap di hati. Rupanya ada seseorang yang terpilih. Jelas bukan aku. Lilis kah atau wanita lain yang belum aku kenal.
“Bu, besok aku akan pulang.” Aku mengalihkan topik pembicaraan.
“Pulang?” Ibu nampak terkejut dengan ucapanku.
“Aku kangen sama Papa. Lagipula kasian sama temen yang ngurus butik sendirian.” Aku beralasan.
Nyatanya aku tak kuasa menahan rasa sakit ini. Terlalu lama melihat bahkan dekat dengannya semakin rasa sakit itu bertambah.
“Bukan karena masalah ini?” Ibu memastikan.
__ADS_1
“Bukan, lagipula aku menganggap Kak Tomy seperti Kakak sendiri. Siapapun wanita yang akan menjadi istrinya nanti pasti aku selalu mendukung, yang terpenting dia juga sayang sama Ibu.”
Ibu memelukku. “Padahal ibu masih pengen kamu di sini.”
“Minggu depan saja ya pulangnya.”
“Nggak, Bu. Aku harus pulang besok.”
“Yah, padahal Selasa malam ada acara di rumah ini.”
“Acara apa, Bu?”
“Pertunangan Tomy.”
Duuuaarrrr
Hati ini serasa remuk. Jantung mungkin sebentar lagi lepas dari tempatnya. Secepat inikah dia mengikat wanita yang entah siapa itu? Tanpa tahu terlebih dahulu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.
“Sama Lilis?” tanyaku memastikan.
“Bukan, sayang. Nanti kamu bakal tahu kalau masih di sini. Sayangnya kamu pulang, mungkin acara pertunangan di undur dulu.”
“Aku bisa naik kereta atau pesawat, Bu. Nggak apa-apa kok, yang penting acaranya nggak di undur.”
“Jangan, Nduk. Masa pulang___”
“Ibu! Ibu dimana?” teriak Raisa.
“Ah, sebentar ya, Mey.”
Aku mengangguk. Ibu berlalu seraya menutup pintu. Aku segera menguncinya. Ingin sendiri hingga hati ini telah mantap bertemu dengan Kak Tomy.
Rasanya masih nggak percaya dengan semua yang terjadi. Pertemuan itu, melihatnya bersama wanita lain, kebersamaan malam itu begitu indah. Lalu sekarang mendapatkan kabar bahwa dia akan tunangan.
Lalu untuk apa cincin yang dia berikan malam itu? Hanya ingin memporak-porandakan hati ini saja kah?
Sejahat itukah kamu, Kak? Tidak kah kamu tahu selama ini aku menantimu.
Berharap kebersamaan kita akan indah seperti dulu. Bukan menyakitkan seperti ini.
Inilah rasa yang sangat aku benci. Cinta membuatku tak bisa bangkit untuk mencoba melupakannya. Bahkan tersenyum dan pura-pura baik-baik saja pun tidak mengurangi rasa itu. Malah semakin bertambah.
Aku tidak menyangka jika semua akan berakhir begitu saja.
'Aku membencimu, Kak.’
Next ..
Hay, semuanya. Terima Kasih buat yang udah baca cerita ini. Jangan lupa beri Like buat aku ya. satu like sangat berarti buat aku.
Jangan lupa klik tanda hati supaya tersimpan di dalam daftar baca kalian. Jangan lupa beri vote juga untuk dukungan aku ya.
__ADS_1
terima kasih 😘😘😘