
Adrian berlari secepat dia mampu saat mendengar suara jeritan serta gaduh dari dalam. Tanpa pikir panjang dia langsung memasuki rumah tersebut. Adrian sangat cemas dengan keadaan Kanaya saat ini. Dia takut terjadi sesuatu hal yang buruk kepada istrinya tersebut. Apa lagi suara jeritan tersebut begitu sedih dan menyakitkan. Namun, ada juga terdengar seperti suara *******. Adrian berpikiran jika Kanaya tengah mengalami pelecehan seksual.
"Tunggu aku sayang, aku akan segera menolongmu" gumam Adrian saat berlarian.
Adrian melihat sebuah kamar dengan pintu kamar yang terbuka, dia yakin jika Kanaya sedang disekap disana. Dia juga dapat mendengar jelas suara gaduh dengan jeritan itu berasal dari sana. Adrian pun langsung berlari kesana dan berteriak.
"Sayang" teriak Adrian ketika sampai di sebuah kamar yang telah terjadi kegaduhan dari tadi. Adrian terkejut melihat pemandangan yang ada didepannya.
"Apa-apaan ini?" pikir Adrian kebingunan.
"Hai sayang" lambai Kanaya dengan tangannya yang penuh dengan sambal dari makanan yang dia makan. Adrian hanya melongo sambil membalas lambaian tangan Kanaya. Tatapannya penuh keheranan kepada Kanaya.
"Ada apa ini?".
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Adrian merasa frustasi melihat kejadian yang ada di depan matanya saat ini.
Dari tadi dia sangat begitu mengkhawatirkan keadaan Kanaya. Serta sudah mempersiapkan dirinya untuk tampil keren saat menolong Kanaya dari para penculik yang telah menculik istri tercintanya. Adrian ingin membuat Kanaya sang istri terpesona dan kagum karena terpana melihat betapa kerennya Adrian dalam menyelamatkan Kanaya. Tapi malah kini dirinya yang dibuat melongo oleh Kanaya. Dengan kata lainnya realita tak sesuai dengan ekpektasi.
Bagaimana tidak? Kanaya duduk dengan santainya sambil memakan nasi bungkus dan melihat enam orang pria tengah bermain kaki lawan mainnya. Mereka berduduk saling berhadapan dan berpasang-pasangan. Mereka semua menjerit kesakitan karena tengah melakukan aksi saling cabut mencabut bulu kaki.
"Hah, mencabut bulu kaki" Adrian seketika langsung bergidik ngeri membayangkan betapa sakitnya ketika bulu kaki tersebut dicabut. Dia kemudian teringat dengan aksi Mely dulu mencabut bulu kakinya saat dia sedang tidur. Tanpa dia sadar, saat itu Adrian langsung menendang Mely begitu kerasnya. Hal itu terjadi begitu spontan.
"Bagaimana mungkin bisa jadi seperti ini?".
Ini adalah pengalaman pertama Adrian menyaksikan korban penculik mengerjai orang yang menculik dirinya. Dia benar-benar kagum dengan kemampuan istrinya yang bisa melumpuhkan para penculiknya tanpa kekerasan. Tapi menyiksa dengan cara yang menyakitkan. Sihir apa yang dimiliki oleh Kanaya hingga dia bisa melakukan semua ini tanpa bantuan Adrian.
Keenam orang tersebut terlihat hanya bisa pasrah dengan aktivitas yang mereka lakukan saat ini. Adrian menatap tajam ke arah Chandra. Yang ditatap pun langsung menundukkan kepalanya.
"Kamu tidak apa-apakan sayang?" tanya Adrian seolah-olah ingin berbasa-basi dahulu kepada Kanaya. Padahal sudah terlihat sangat jelas, jika Kanaya dalam keadaan sangat begitu baik sekali.
"Tenang saja, aku baik-baik saja" jawab Kanaya. Adrian pun langsung mengangguk tanda mengerti dan paham dengan situasi saat ini.
__ADS_1
"Minggir, suaminya mau lewat dulu" pinta Adrian saat melewati enam orang yang sudah begitu berani mengganggu keluarga kecilnya itu.
"Karma is real".
"Kapok nggak dihukum sama istriku?" tanya Adrian dengan nada meledek. Dia melihat ada beberapa dari hasil cabutan bulu kaki mereka yang mengeluarkan darah.
Mereka semua langsung mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari Adrian tersebut. Tapi mereka tidak ada yang berani menegakkan kepala mereka untuk melihat ke arah Adrian. Semuanya menundukkan kepala, sebab mereka tau siapa Adrian. Mereka tidak berani menyentuh Adrian karena takut bakal tinggal nama dibuat olehnya. Tapi mereka berani menculik istrinya Adrian. Bukankah sama juga artinya mereka ingin berurusan dengan Adrian karena sudah menculik Kanaya. Tapi lebih tepatnya mereka salah culik istri pria yang paling dihindari.
"Eh, kunyuk. Berani juga ya kamu menculik istriku" tanya Adrian dengan nada yang mengintimidasi. Dia menampilkan wajah iblisnya yang penuh kegarangan. Tatapan mata yang tajam. Sorot mata yang memancarkan ancaman.
"Ma'af kak, saya tidak berniat untuk menculik istri kak Adrian" jawab Chandra gugup karena ketakutan. Jantungnya terasa ingin copot karena melihat tatapan tajam Adrian. Dia merasa dirinya kini tengah berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Jiwa Chandra merasa ketar ketir takut hilang hanya dengan satu kedipan mata Adrian.
"Maksudnya apa? Buktinya sekarang ini apa?" tanya Adrian dengan nada geram. Dia merasa kesal dengan sikap Chandra yang tidak mau mengakui kesalahannya.
"Sebenarnya dia itu mau nyulik Giselle. Tapi salah orang, mereka pikir aku adalah target yang harus mereka culik. Sepertinya yang jadi target disini si Andre deh" Kanaya yang menjelaskan perihal penculikan dirinya yang ternyata salah orang.
"Apa?".
"Kamu berani ya berurusan dengan keluarga Aston. Aku apresiasi keberanianmu menantang kami" ujar Adrian langsung membuat Chandra yang mendengar langsung melemas.
"Bos" panggil Tora ketika sampai didepan pintu kamar.
"Ternyata bos disini. Dari tadi juga dicariin, takutnya tadi kenapa-kenapa. Rupanya sudah menemukan adindanya" celetuk Tora seperti biasanya.
"Eh, Fer, Tor sini. Kalian mau melihat tontonan yang seru tidak. Lagi ada acara lomba cabut bulu kaki nih" ajak Adrian kepada Fery dan Tora.
"Wah, asyik tuh" jawab Fery yang terlihat antusias.
"Pada mau minta bantuin cabutin nggak nih" teriak Fery ke enam pria yang masih duduk santai di atas lantai.
"Nggak mau" teriak mereka berenam kompak bersamaan seperti lagi paduan suara.
__ADS_1
"Aduh... ".
"Awwww..... "
"Adudududuh.... "
"Saaakiiiit" itulah berbagai macam jeritan yang keluar dari mulut para penculik Kanaya.
"Hah, rasain kalian semua dihukum sama neng Kanaya. Inj baru hukuman dari neng Kanaya lho. Belum lagi hukuman dari bos Adrian" ucap Tora untuk menakuti mereka semua.
"Kak, Adrian. Saay mohon jangan hukum saya kak. Saya ngaku salah kak".
"Sebenarnya memang istri Andre yang saya culik. Tapi ternyata anak buah saya salah menculiknya kak" Chandra langsung mengatakan dengan jujur tentang rencana dia yang ingin menculik Giselle. Dia berharap dengan kejujuran yang dia katakan akan membuat dirinya diampuni oleh Adrian.
"Kamu tau kan kalau Andre itu salah satu anggota keluarga Aston. Kenapa kamu begitu berani untuk berurusan dengan keluarga kami?" tanya Adrian serius.
"Saya, cuma berani sama Andre saja kak. Soalnya dia orangnya penakut, tidak suka kekerasan dan selalu taat dengan peraturan".
"Itulah sebabnya saya berani ingin berurusan dengan Andre" dengan perasaan yang gugup Chandra dengan spontan langsung menjawab pertanyaan yang Adrian berikan. Setelahnya Chandra baru sadar kalau kata-katanya tadi bisa menyinggung Adrian. Sebab, Andre adalah adik Adrian.
"Hah, kamu berani berurusan dengan tuan Andre. Nggak salah?" tanya Tora keheranan.
"Kamu itu tidak mengenal baik tuan Andre. Seandainya kamu tahu gimana temperamen buruk tuan Andre. Aku yakin kamu tidak akan mungkin berani mengeluarkan kata-kata seperti tadi".
"Memangnya salah ya, kalau tuan Andre mentaati peraturan. Tidak bukan" keenam pria itu langsung menggeleng serempak. Seakan telah di briefing dan diberi komando untuk langsung menggeleng.
"Malah kalian akan berisiko jika kalian tadi beneran menculik Giselle" Tora langsung mengisyaratkan tangannya di leher. Memperagakan, jika keenam pria itu akan mati dibunuh oleh Andre.
Chandra langsung merinding mendengar ucapan Tora. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Tora tadi. Dia tidak yakin jika Andre memiliki sifat psikopat seperti itu.
"Kamu tidak percaya ya?" tanya Adrian yang bisa melihat keraguan dimata Chandra.
__ADS_1
"Andre sekarang itu jinak, karena sudah ketemu dengan pawangnya. Jika kamu culik pawangnya, bakal kalap dia. Jadi, lebih baiknya jangan coba-coba lagi berurusan dengan kami" Adrian memberikan ancaman dengan penuh ketegasan.