Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Stamp Kekuasaan


__ADS_3

"Sam, kamu bisa nyetir tidak" teriak Adrian ketika merasakan mobil yang membawanya direm secara mendadak.


"Maaf bos" jawab Sam terkejut mendengar teriakan dari Adrian.


"Jangan karena baru saja dilamar, kamu jadi lupa tugas kamu buat melindungi aku" Adrian terlihat kesal. Namun Sam justru terlihat malu dengan ucapan Adrian barusan. Bagaimana tidak, biasanya kan laki-laki yang melamar kekasihnya? Lha dia, dilamar sama seorang wanita yang baru dia kenal.


"Tante juga nih, mau ngelamar nggak liat-liat tempat dan kondisi juga" ejek Adrian menyunggingkan senyum.


Sam terkejut dengan panggilan kata "Tante" kepada Davina pengawal khusus Raniya. Padahal umur Adrian sepertinya tidak jauh beda dengan Davina. Mungkin lebih muda Davina kayaknya. Secara muka Davina imut banget. Itu bukan berarti muka Adrian boros lho.


"Maaf bos, mau nanya. Kenapa jadi manggil wanita kurang seons ini tante? Emang tantenya bos?" meski Sam bersikap dingin. Namun kalau bicara memang tidak pernah pakai filter. Apalagi kalau soal mengumpat dia jagonya, makanya dia dikenal dengan julukan iblis mengumpat.


"Hahaha. Bukan tanteku, tapi tantenya Radit".


"Oh, yang keturunan Marven itu ya" jawab Sam mengangguk. Lalu dia kemudian beralih melihat ke arah Devina, sebab baru sadar akan sesuatu.


"Kalau begitu, dia keturunan dari Marven juga bos" Sam terdengar begitu terkejut.


"Mungkin dia bohong bos, soalnya setahu saya tidak ada yang namanya Devina dalam keluarga Marven" ucap Sam. Adrian yang mendengar perkataan Sam langsung mengerutkan dahinya menatap tajam ke spion tengah mobil. Dimana matanya beradu tatap dengan Sam.


"Setahu saya, memang ada keturunan lain dari Marven yang tengah diincar sama Devin. Namanya Devani" jawab Sam dengan santai.


"Kenapa kamu jadi begitu tahu tentang keluarga Marven?" selidik Adrian.


"Ya jelas tahu lah bos. Saya dulu yang ditugaskan mencari informasi tentang keluarga Marven sama pak Robert. Sebab tuan dulu ingin mencari tahu keterkaitan Ronald dengan keluarga Marven" Randy yang pura-pura tidur sambil memakai earphone untuk mendengarkan musik. Mematikan musiknya karena ingin mendengarkan cerita dari Sam tentang keluarga papanya.


"Karena perjalanan kita masih jauh, kamu bisa ceritakan tentang keluarga Marven kepadaku" ujar Adrian.

__ADS_1


"Tapi bos, sebenarnya saya dilarang sama pak Robert untuk menceritakan hal ini kepada bos. Katanya takut bos akan melakukan hal yang bodoh tanpa perhitungan. Soalnya pak Robert bilang kalau bos Adrian itu ceroboh. Tingkat percaya diri bos itu terlalu tinggi, padahal sering diluar ekspektasi" Adrian terlihat kesal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sam. Sam benar-benar tidak memfilter ketika bicara.


"Sial, mulut Sam ini. Bisa-bisanya dia menghinaku seperti ini. Memang anak buah opa rada-rada miring kayaknya. Coba kalau bukan pengawal kesayangan opa, tuh kepala sudah ku jitak" gerutu Adrian dalam hati. Adrian merasa malu sama Kanaya karena dibilang tingkat percaya diri yang selalu tinggi namun tidak sesuai ekspektasi. Mulut om Robert memang benar-benar sungguh beracun.


"Eh, sayang. Devani itu emang nama aku. Cuma memang sengaja di ubah. Dari Devina jadi Devani. Orang yang bernama Devani pun juga dirubah. Nama aslinya bu Dara, beliau adalah pengasuhku dulu. Beliau sengaja melakukan hal itu untuk melindungi aku" jelas Vina mengenai nama Devani.


"Seriusan. Jadi Devin salah sasaran dong ngebunuh orang".


"What? Kamu bilang apa? Bu Dara dibunuh"


teriak Davina kaget.


"Benar-benar jahat dan kejam" Davina mengepalkan tangannya. Dia pun langsung melakukan panggilan di handphonenya.


"Halo, John. Bagaimana kabar nyonya?" tanyanya untuk memancing kejujuran dari John. Sebab terakhir kali dia menanyakan hal tersebut, John mengatakan kalau bu Dara baik-baik saja.


"Katakan lah sejujurnya" pinta Davina.


"Maaf bos, kami tidak bisa menjaga nyonya. Sekarang Devin sudah mempunyai foto bos. Serta sudah tahu keberadaan bos. Kemungkinan mereka akan menyerang keluarga Aston bos" John menjelaskan.


"Baiklah, terimakasih infonya. Tolong jaga kakakku dengan baik" Davina pun langsung mematikan panggilannya setelah itu.


"Apakah kepergian kita kemari diketahui banyak orang? Sebab, jika iya. Maka kita harus waspada" ucapan Davina sepertinya memberikan sebuah isyarat peringatan.


"Sam, kita tidak jadi ke vila. Pergi ke kamp selatan saja" perintah Adrian kepada Sam. Entah kenapa dia merasa berat untuk pergi ke vila sekarang ini. Sebab, dia rasa ada sesuatu yang besar tengah menanti mereka disana.


"Tak usah bertanya kenapa? Lakukan saja. Kita istirahat saja dulu disana beberapa hari. Sebelum kita pergi ke vila" Adrian tampak sibuk dengan handphone miliknya. Dia kini tengah sibuk berbalas pesan dengan Tony. Ada hal besar yang tengah dipersiapkan oleh oma Rachel katanya Tony.

__ADS_1


Adrian tidak bisa menduga-duga apa yang tengah dipersiapkan oleh omanya. Namun menurut Tony, kebenaran tentang Adrian masih hidup telah diketahui oleh Fredy. Sebenarnya Tony ingin menyarankan Adrian untuk menyembunyikan diri dulu. Tapi ternyata dia malah memang ingin pergi liburan.


Sebenarnya masih ada banyak yang ingin dibahas oleh Adrian dengan Tony. Namun dia urungkan dulu. Tapi dia meminta Tony, Mely dan juga Fery untuk datang ke vila. Dengan dalih liburan, padahal tujuan utamanya untuk mencek keamanan vila tersebut. Selain itu juga Fery katanya ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja dia dapat tentang sebuah fakta pembunuhan opa Adam. Hal ini sungguh membuat Adrian benar-benar ingin mengetahuinya.


"Tante Vina, bisakah menceritakan tentang Devin? Sungguh aku benar-benar ingin tahu lebih jelas tentang dirinya yang sungguh misterius. Jika dia benar-benar jahat, kenapa dia tidak membunuh kakakmu saja Darren untuk mengambil alih kekuasaan Marven?" tanya Adrian untuk menyelidiki tentang keluarga Marven.


"Jika Darren meninggal, otomatis Devin tidak bisa mengambil seluruh kekuasaan serta kekayaannya. Sebab, hanya Darren yang memiliki stamp pemindahan kekuasaan. Aku pun tidak memilikinya juga. Tapi aku memiliki surat pengalihan kuasa dari Darren. Jadi jika Darren meninggal, maka akulah yang akan memiliki semuanya. Oleh sebab itu, Devin harus membunuhku dan juga keturunan Darren".


"Dia harus membunuh semua keturunan Marven. Jika tidak, maka dia gagal dan dia tidak bisa memiliki semuanya" jelas Davina tentang misi Devin.


"Sekarang Darren berada dimana?" tanya Adrian.


"Dia sedang koma" jawab Davina setelah menghembuskan nafas.


"Maafkan aku" ujar Adrian.


"Bukankah kamu harus mencari dan secepatnya menemukan stamp tersebut?" tanya Adrian. Kanaya hanya mendengarkan semua perbincangan sedari tadi. Namun dia mengingat apakah Radit pernah memiliki sebuah stamp?


"Aku tidak pernah menemukan stamp itu. Lagipula aku tidak tahu seperti apa bentuknya" jawab Davina.


"Radit pun juga tidak memiliki stamp tersebut" Kanaya ikut serta menjawab. Sebab seingat dia dulu, tidak pernah sekalipun dia melihat sebuah stamp yang beda dengan stamp kantornya.


"Bagaimana kamu yakin kalau Radit juga tidak memilikinya?" tanya Adrian untuk memastikan.


"Memang aku tidak pernah melihat Radit memiliki stamp yang lain selain stamp perusahaannya" jawa Kanaya penuh keyakinan.


Sedangkan Randy yang mendengarkan hal itu hanya menyunggingkan sebuah senyuman di bangku belakang. Kedua adiknya masih tertidur dengan pulas tak mengetahui apapun yang dibicarakan oleh orang dewasa di depannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2