Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Ponsel Penyelamat


__ADS_3

Tony dan Fery bercerita tentang masa lalu sambil menikmati batang rokok yang mereka isap. Menenangkan segala kelelahan setelah pertempuran tadi. Melihat mayat yang berserakan sebagai pemandangan yang ada di depan mata mereka. Canda tawa yang mereka lontarkan satu sama lain mengalir hingga keakraban terjalin. Seandainya Tony lebih awal mengenal suami Fery mungkin lain cerita yang terjadi, mungkin tidak mengenaskan seperti ini. Dua mobil hitam terlihat sedang menuju ke arah mereka, melaju begitu cepat.


"Sepertinya kita akan memeras tenaga lagi untuk menghadapi yang akan datang" Fery berdiri dari duduknya lalu membuang putung roko ke tanah dan menginjaknya dengan kakinya. Tony tampak mengamati mobil yang akan datang ke arah mereka dengan mata yang menyipit.


"Aku mengenali mobil itu" Tony berucap lalu ikut berdiri, kini mereka berdiri dengan sejajar sambil menunggu mobil itu berhenti di depan mereka. Bunyi decitan mobil yang di rem sungguh terdengar begitu merdu dan membuat bulu kuduk berdiri karena suara gesekan ban mobil. Dapat dipastikan si pengemudi mengendarainya begitu sangat laju.


Adrian keluar dari pintu kemudi dengan wajah yang khawatir menatap ke arah Tony dan Fery. Dia menghembuskan nafas lega karena melihat sahabat yang sudah seperti saudaranya itu dalam keadaan selamat. Tatapan matanya mengamati ke arah mayat-mayat yang berserakan, dapat dilihat jelas betapa sengitnya perkelahian yang baru saja terjadi. Sungguh musuh yang tidak terlihat dan terlacak ini tidak dapat di remehkan. Hampir dua kali dia kehilangan orang yang penting dalam hidupnya akhir-akhir ini. Ibarat sebuah pertempuran, Tony adalah jenderal dalam peperangan. Mely adalah menteri keamanannya. Mereka berdualah orang yang terpenting dan terkuat yang ada selalu disamping Adrian.


"Fery, apa yang dilakukannya disini?" pertanyaan ini baru saja terlintas dalam pikiran Adrian setelah kembali menatap ke arah Tony dan Fery.


"Bereskan kekacauan ini" perintah Adrian kepada Mario. Dia pun berjalan menghampiri Tony dan Fery.


"Kamu terlihat begitu kacau sekali Ton, sepertinya kamu baik-baik saja" ucapnya sambil tertawa kecil.


"Hei Fer, sedang apa kamu disini? Mely masih ada di kantor" Adrian melihat dari sorot mata Fery tidak ada rasa keterkejutan ataupun ketakutan melihat keadaan yang begitu kacau di depan matanya. Mungkinkah dia yang membantu Tony? Siapa sebenarnya Fery? Kesan pria baik-baik yang melekat pada dirinya kini berubah dengan seribu tanda tanya pada diri Adrian.


"Sebenarnya aku hanya ingin mengikuti kemana istriku pergi, tapi ternyata berakhir bertemu dengan Tony yang dikeroyok para berandalan itu" Adrian menatap curiga "berandalan" kata itu sungguh tidak dia sangka bisa keluar dari mulut Fery yang selalu bertutur kata lembut. Mungkin dia tidak mengenal Fery begitu dekat. Tapi ada perasaan yang aneh menelusup dadanya.


"Kenapa kamu harus mengikuti Mely?" tanyanya dengan nada sedikit sinis namun begitu tegas.

__ADS_1


"Owh itu, setelah kejadian waktu itu. Aku jadi lebih mengkhawatirkan dirinya. Aku tidak ingin dia terluka dan dalam bahaya lagi" Fery menghembuskan nafas begitu berat.


"Aku pasang aplikasi pelacak pada handphonenya agar aku bisa selalu tahu keberadaannya" kini Adrian tercengang dengan perkataan Fery yang tidak sesuai dengan dugaanya. Sebegitu sayangnya dia kepada Mely. Kini Adrian mengkhawatirkan Fery, seperti apa responnya jika dia tahu kalau Mely memiliki sisi gelap lainnya. Apakah dia tetap akan khawatir seperti ini atau akan membencinya?


"Kamu memang suami yang baik".


"Kalian berdua yang... " tunjuknya ke arah kekacauan yang terjadi tadi, kini semua kekacauan itu sudah selesai dibereskan anak buahnya.


"Fredy mata-matanya" ucap Tony langsung mengalihkan pandangan Adrian.


"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Adrian. Dia masih mengingat dimana Tony begitu sangat mencemaskan Fredy sebelum dia berangkat pergi tadi. Apa sebenarnya orang yang menyerang Tony adalah Fredy? Tapi tidak ada Fredy diantara semua mayat yang tergeletak.


"Sejak Fery datang menolong. Ternyata dia yang menolongku waktu di pelabuhan dulu. Dialah orang yang direkomendasikan oleh Axel saat dia keluar dari penjara waktu itu bukan Fredy" Tony menunjuk ke sebelah kirinya, yang mana Fery tengah berdiri. Kali ini Adrian tercengang seakan tak percaya dengan sosok Fery yang pernah berbuat kriminal. Padahal kalau dilihat, orang pun tidak akan percaya jika Adrian adalah pemimpin organisasi dunia hitam.


"Kalau begitu, sebaiknya kamu harus tau tentang istrimu Mely" kini Adrian berniat untuk mengungkapkan identitas Mely yang sebenarnya.


"Istrimu. Maksudnya Mely, dia adalah.... " belum sempat Adrian mengucapkannya Fery terlebih dahulu mengatakannya.


"Blackrose" Adrian mendapatkan kejutan lain lagi, kini jantungnya seperti bermain roller coaster. Berputar-putar tak berarah.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" tanyanya penasaran, karena dia tahu kalau Mely begitu rapat menyembunyikan identitas nya. Handphone pun dia memiliki dua, satu khusus panggilan urgent satunya yang dia gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Handphone yang urgent dia simpan di dalam mobilnya, tidak selalu dia bawa setiap saat. Siapa yang memberitahunya? Itulah yang dipikiran Adrian sekarang.


"Itu saat aku mendengarkan pembicaraan kalian di malam kejadian penyerangan kepada istriku" Fery tidak menyebut nama istrinya sama sekali, terlihat jelas jika dia begitu menyayangi Mely.


"Malam itu, aku mendengarkan pembicaraan dua orang yang mencurigakan. Mereka menyebutkan bahwa Blackrose memerintahkan mereka untuk menghabisi seorang wanita. Awalnya aku tidak peduli, tapi setelah melihat foto target mereka adalah istriku aku langsung mengikuti mereka. Namun aku mencoba menghubunginya tapi tak terhubung dan langsung mencari ke kantor".


"Aku hampir mati saat tau target Balckrose adalah istriku. Sedangkan aku tau sepak terjangnya dari cerita Axel, dialah yang membuatku ingin bergabung dalam organisasi yang diceritakan oleh Axel".


"Saat itu aku bersumpah, jika terjadi sesuatu kepadanya. Maka aku sendiri yang akan menghabisinya. Tapi setelah aku tau kebenarannya, ternyata istriku adalah wanita yang selama ini aku kagumi. Aku sungguh sangat bahagia. Aku harus melindunginya setiap saat. Selain itu, aku juga penasaran tentang cara bertarungnya" terlihat sekali kebahagiaan pada raut wajah dan sorot matanya. Matanya begitu berbinar membicarakan tentang Mely. Adrian merasa terharu, Mely memiliki suami yang begitu sangat pantas mendampingi dirinya.


"Sebaiknya kita kembali ke markas" ajak Adrian kepada Tony dan Fery.


"Mely pasti akan senang melihatmu" ucap Adrian mengedipkan sebelah matanya. Mereka pun berjalan menuju mobil. Adrian dan Tony berjalan menuju mobil yang dibawa oleh Adrian.


"Kamu baik-baik saja kan" pukul Adrian pada lengan kirinya. Sontak Tony pun langsung menjerit karena lengan kirinya mengalami sedikit cidera.


"Ooopss. Sorry bro".


"Kita periksakan lukamu pada Daniel" kata Adrian.

__ADS_1


"Tunggu dulu" ucap Fery sambil mengeluarkan handphonenya memanggil, dan terdengar deringan dari mobil ringsek yang dibawa oleh Tony tadi. Fery berlari mencari benda tersebut kemudian tersenyum senang.


"Aku menemukannya" teriak nya sambil melambaikan tangannya yang memegang handphone Mely. Adrian dan Tony hanya tertawa kecil melihat aksinya yang seperti seorang bocah menemukan barang berharganya.


__ADS_2