
Kanaya tersadar, dia bingung jika dirinya kini tengah terbaring pada sebuah ranjang kecil disebuah kamar sempit. Dia melihat ie sekelilingnya dengan kesadaran yang masih belum penuh normal.
"Kok mirip kayak kamar penjara sih" batin Kanaya. Kanaya berusaha mengembalikan kesadarannya. Meski masih ada sedikit rasa pusing dikepalanya.
"Wah psycho nih yang nangkap".
"Masa iya cewe secantik kayak aku begini, ditempatin di ruang pengap kek begini sih" ucap Kanaya ketika melihat ada kamera CCTV di dalam kamar tersebut. Dengan berani, dia pun langsung memberikan acungan jari tengahnya karena kesal.
"Penculik nggak modal, masa iya air putih saja nggak disediain sih. Boror-boro dikasih nasi padang. Air putih sama roti saja nggak disediakan. Dasar penculik amatir. Pelit" gerutu Kanaya.
"Kalau mau nyulik itu yang elegan dikit napa. Minimal itu disediakan air mineral sama roti".
"Penculik tolol" umpat Kanaya kesal.
Sebab, dia bosan jika berurusan dengan hal beginian. Dia marah karena diperlakukan tidak layak oleh si penculik. Seharusnya si penculik tersebut menyediakan fasilitas seperti hotel berbintang kepada dirinya. Ini malah seperti orang pesakitan saja keadaannya. Miris memang, tidak sesuai ekspektasi darinya.
Dimana-mana orang yang diculik, pasti akan berteriak histeris, ketakutan, dan menangis. Beda dong dengan Kanaya. Dia malah duduk santai sambil berdzikir. Malah terkadang juga nyanyi-nyanyi. Tapi kebanyakan lagunya Beyonce yang dinyanyikan oleh Kanaya. Pria yang tengah mengamati aktivitas Kanaya melalui monitor CCTV malah begitu menikmati setiap lirik yang dilantunkan oleh Kanaya.
"Hebat ya ternyata, wanita yang diculik sama bos".
"Selain cantik wajahnya, suaranya juga begitu sangat merdu sekali. Berasa nonton konser saja" ucap salah satu yang mengamati Kanaya.
"Benar banget bro. Modelan kaya begini mau banget tuh aku jadiin istri. Istri muda,hahaha" kedua pria tersebut pun tertawa dengan asyiknya. Tanpa mereka sadari, kanaya tengah mengeluarkan sebuah pisau lipat yang selalu dia simpan di pinggiran branya ketika dia mau pergi keluar dari rumah.
__ADS_1
"Woy, lapar woi. Mana jatah makan buat aku. Dikasih makan nggak nih" teriak Kanaya kesal. Tidak ada satu pun dari mereka merespon teriakan Kanaya. Lebih tepatnya tidak ada yang berani, sebab belum ada intruksi dari bos mereka. Langkah apa yang harus dilakukan setelah Kanaya siuman dari pingsannya.
"Kasian dia ya nggak dikasih makan. Apa kita belikan saja dulu makan buat dia? Takutnya nanti kenapa-kenapa sama cewek cantik yang luar biasa itu" ucapnya penuh kekaguman dengan Kanaya. Mereka tidak tahu saja siapa sebenarnya orang yang tengah mereka sekap. Jika tahu, tentu saja nyali mereka tak akan berani untuk menyentuh Kanaya.
"Beliin saja dulu, biar nanti aku yang ngomong ke bos tentang masalah ini" ujar teman yang satunya. Mereka memang ditugaskan menjaga Kanaya melalui kamera CCTV. Didepan kamar penyekapan Kanaya tidak ada penjagaan sama sekali. Seolah-olah yang nyulik nggak niat mau nyulik Kanaya.
"Woy, tukang culik kamu kere ya. Aku lapar nih. Mau nyulik kok nggak modal sih. Kalau nggak ada uang sini, aku kasih uang sama kamu. Biar aku telepon suamiku buat ngasih kalian uang" ucap Kanaya bernada khas cerewet emak-emak. Dua orang yang mengawasinya jadi bingung. Mereka geleng-geleng kepala melihat tingkah Kanaya yang cerewet dan bawel.
"Eh, bos katanya mau kesini. Lagi dijalan ini, aku bilangin saja sekalian belikan makanan buat mbak cantik itu ya" kata pria yang berbaju hodie kepada temannya. Setelah dia menerima sebuah pesan dari sang bos.
"Iya bilangin saja sama bos, daripada telinga kita nggak aman karena di komplain sama tuh cewek" ucapnya bernada cuek. Lawan bicaranya pun hanya mengangguk saja. Namun, dia malah terpesona dengan kecerewetan Kanaya. Baginya, Kanaya adalah wanita yang unik.
"Ah, kenapa dia begitu mempesona?" gumamnya sambil mengamati Kanaya pada layar tipis di ruangan sebelah.
"Dasar mulai kurang waras kamu ini" tegur temannya. Dia pun hanya mengendikkan bahunya.
"Bagaimana keadaan Miss G? Aman?" tanyanya kepada anak buahnya.
"Aman bos, tapi sedikit bawel dan cerewet. Dia merengek minta makan terus dari tadi. Pusing saya mendengar ocehannya" jawab salah satu anak buahnya yang merasa terganggu dengan ocehan Kanaya tadi. Anak buah yang satunya langsung menyikut lengan kawannya. Seolah dia protes dengan ucapan kawannya.
"Oh, kalau begitu biar aku sendiri yang akan mengasih makanan ini kepadanya".
"Aku akan memberikan sedikit ancaman kepadanya, agar dia bisa membujuk suaminya untuk menuruti semua keinginanku".
__ADS_1
"Sebab, aku tahu sekali. Kalau suaminya sangat begitu mencintainya. Pasti dia akan berkorban apapun demi keselamatan istri tercintanya" ucapnya dengan penuh percaya diri. Padahal dia belum tau siapa yang tengah dia hadapi sekarang ini?
"Terserah bos saja, tapi apa bos yakin mau bertemu langsung sendiri?" tanya anak buahnya.
"Yakin dong, hari ini adalah hari yang selalu aku tunggu selama ini. Momen dia pria yang selama ini selalu berada diatasku akan menangis dibawah kakiku nantinya. Hahahahahaha" tawanya dengan penuh bangga dan keyakinan.
"Baiklah, antarkan aku bertemu dengannya" mereka pun berjalan menuju ke kamar pesakitan Kanaya yang telah disediakan oleh mereka untuk Kanaya. Belum masuk ke dalam kamar penyekapan Kanaya. Dia sudah bisa mendengar teriakan dan ocehan Kanaya yang bersuara nyaring dan lantang. Dia pun sempat terhenti melangkah karena terkejut mendengar.
"Kok begini sih, bukannya dia wanita yang lembut dan sopan".
"Kenapa terdengar seperti wanita preman sih?" tanyanya heran.
"Nah, inilah yang saya maksud tadi. Apa bos yakin ingin masuk sendirian kesana?" tanya sang anak buah sekali lagi.
Nyalinya sempat sedikit menciut karena mendengar sumpah serapah dan hinaan yang dilontarkan oleh Kanaya. Tapi demi menjaga wibawanya didepan para anak buahnya. Dia memberanikan diri untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kamar Kanaya. Meski ada sedikit keraguan, tapi dia tetap meyakinkan dirinya untuk kuat bertemu dengan wanita yang telah dia culik.
"Klek" suara pintu terdengar dibuka dari luar.
Kanaya tengah bersiap diri untuk bertemu dengan para penculik dirinya. Dia siap untuk menyerang jika mereka berniat untuk melukai dirinya. Akan Kanaya pastikan, mereka menyesal telah berani menculik dirinya. Setelah pintu kamar terbuka lebar. Chandra dan Kanaya saling berhadapan satu sama lain. Keduanya saling tatap dan menatap. Ada getaran sendiri dan terasa spesial dihati Chandra saat melihat sorotan tajam mata Kanaya. Tergambar jelas, dia adalah wanita kuat. Sosok wanita yang selama ini dicari oleh Chandra.
"Oh, my soulmate" batin Chandra berujar.
"Betapa beruntungnya kamu Ndre punya istri seperti Giselle" gumam Chandra dalam hati.
__ADS_1
Wait, Kanaya dikira Giselle.
Salah culik dong!