
"Bang, Tora bawa dulu saja semua pesanan oma ya. Nanti, saya hubungi kalau saya mau minta jemput" ucap Kanaya membuat Tora gelisah.
"Memangnya neng Kanaya mau kemana?" tanya Tora.
"Owh, Kanaya mau pergi ke mall dulu bang. Kalau begitu Kanaya telpon oma dulu. Biar bang Tora nggak dimarahi sama Adrian" Kanaya pun mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi oma Rachel.
"Oma, Kanaya mau izin pergi ke mall dulu beli sesuatu. Tadi baru keingetan, ada yang mau Kanaya beli. Jadi, Kanaya menyuruh bang Tora untuk pulang duluan mengantarkan semua pesanan oma tadi. Nggak apa-apa kan oma?" tanya Kanaya dan langsung mendapat izin dari oma Rachel.
"Sudah beres bang, jadi bang Tora jangan khawatir lagi. Ok" Tora pun melengkungkan senyumnya.
"Turunin Kanaya di depan mall saja bang. Nanti Kanaya hubungi bang Tora untuk menjemput" Kanaya pun kemudian turun dan keluar dari mobil.
Selepas mobil yang dikemudikan oleh Tora melesat dan hilang dari pandangan matanya. Kanaya kemudian tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall. Sebenarnya Kanaya mencurigai sesuatu semenjak dia keluar dari toko baju setelah mengambil baju pesanan oma Rachel. Dia merasa ada yang sengaja mengikuti dirinya. Dia sengaja memancing orang tersebut ke mall. Untuk memastikan dugaannya tadi.
Kanaya memasuki sebuah toko perlengkapan bayi, dia berniat membeli sesuatu hadiah yang spesial buat anak Giselle dan juga anaknya. Kemudian matanya terfokus kepada dua pasang baju bayi couple yang lucu. Tak pikir panjang, Kanaya langsung mengambil dua pasang baju tersebut. Sejenak, fokusnya terlupa dengan misi awalnya ke mall.
"Terimakasih sudah berbelanja ditoko kami. Silahkan untuk berbelanja kembali" ucap salah satu penjaga tokonya. Kanaya hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Kanaya berjalan menuju sebuah restoran seafood. Dia melihat dari sebuah kaca toko, ada dua orang pria yang sedang mengikutinya. Kanaya ingin bermain-main dengan mereka. Sudah lama juga dia tidak memacu adrenalinnya.
Kedua orang tersebut juga ikut masuk ke dalam restoran. Mereka mengambil tempat duduk di belakang Kanaya. Kanaya meambil compact powder dari dalam tasnya. Dia berpura-pura mentouch up riasannya. Padahal dengan cermin yang ada pada compact powdernya, dia tengah mengamati kedua orang pria tersebut. Kanaya sengaja memperlambat makannya. Dia ingin mengetes kesabaran kedua orang tersebut dalam mengawasi dirinya. Kanaya asyik mengambil foto dan berpose macam-macam. Namun, fokus pengambilan fotonya adalah mengambil wajah kedua pria tersebut. Kanaya juga asyik berbalas pesan dengan suaminya. Dia mengatakan kalau dirinya tengah asyik menghabiskan waktu sendiri di mall. Dia pun juga mengirimi fotonya yang tengah makan di restoran seafood. Setelah fotonya terkirim, Adrian pun langsung menelpon dirinya.
__ADS_1
"Halo sayang".
"Kenapa? Sudah kangen ya?" goda Kanaya langsung dengan percaya dirinya.
"Sekarang keluar dari restoran tersebut secepatnya. Aku akan segera datang kesana untuk menjemputmu" ucapan Adrian langsung membuat Kanaya terdiam. Dia jadi bingung.
"Kamu sedang diikuti sayang. Kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh sebelum aku sampai ke sana. Tunggu aku datang ya" Adrian pun langsung menutup panggilannya. Kanaya belum sempat mengucapkan apapun tadi hingga panggilan terputus.
"Waw, hebat. Dia sangat begitu cepat tanggap melihat situasi. Cermat dan teliti sekali suamiku ini" gumam Kanaya dengan rasa bangga.
Padahal dia hanya mengirimkan fotonya yang tengah tersenyum. Memang kedua orang itu ikut terlihat dalam foto yang diambilnya. Namun, foto mereka tidak nampak jelas. Kanaya pun berpikir, sedikit aneh Adrian bisa langsung tau kalau dia sedang diikuti. Kecuali, Adrian mengenal mereka. Hanya itu alasan yang bisa disimpulkan oleh Kanaya. Kanaya pun keluar dari restoran setelah selesai melakukan pembayaran makanannya.
"Hati-hati sayang" ucap Kanaya membantu anak kecil tersebut berdiri. Kanaya pun melihat kesana kemari untuk mencari orang tua si anak.
"Kamu sama siapa?" tanya Kanaya kepada anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu. Anak kecil tersebut langsung memutarkan lehernya, kepalanya pun meliuk-liuk tengah mencari sesuatu.
"Apa mereka pergi ke parkiran ya?" ucap anak tersebut.
"Tadi mama sama papa ada dibelakang Kevin" celotehnya bernada imut.
"Ya sudah kalau begitu. Tante temani ke parkiran ya" Kanaya mengulurkan tangannya untuk mengajak anak kecil itu pergi ke parkiran. Anak kecil yang menyebut namanya Kevin tadi langsung menerima uluran tangan Kanaya dengan tangan lembutnya.
__ADS_1
"Mama" teriak Kevin setelah mereka sampai di parkiran.
Seorang wanita berumur jauh lebih muda darinya terlihat langsung berlari menghampiri mereka setelah mendengar teriakan dari Kevin. Wanita muda tersebut meneriakkan nama Kevin, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan linangan air mata. Tampaknya mereka terpisah saat berada di mall tadi. Hanya itulah yang bisa dipikirkan oleh Kanaya.
"Terimakasih banyak ya kak, sudah menemukan Kevin" ucapnya dengan tulus.
"Iya sama-sama. Jaga anakmu lebih hati-hati ya" Kanaya memberikan pesan sebelum mereka pergi.
"Hai cantik, sendirian" tanya seorang pria yang tengah berjalan menghampiri Kanaya.
Kanaya diam dan tampak bersiaga jika mereka akan melakukan hal yang buruk. Kanaya berusaha tampak biasa saja, dia berjalan menjauh meninggalkan pria tersebut. Namun, kemudian ada dua orang pria yang menghalangi jalan di depannya. Mereka berdua mencoba untuk mengganggu Kanaya. Kali ini Kanaya tidak tinggal diam. Diapun langsung memberikan pelajaran kepada mereka berdua. Namun tiba-tiba saja sebuah tusukan mengenai lehernya. Pria pertama yang mengganggu dirinya tadi telah memberikan suntikan di bagian lehernya. Seketika, pandangan mata Kanaya mengabur. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
"Cepat angkat dia dan masukkan ke dalam mobil. Bos pasti akan senang karena kita telah berhasil menculik wanita yang dia inginkan" ucap pria pertama tadi.
"Siap bos" kedua pria itu pun langsung menggendong tubuh Kanaya untuk dibawa ke dalam sebuah van hitam yang sudah disiapkan.
"Bos, target sudah dilumpuhkan. Akan segera kami bawa ke markas" ucap pada panggilan suara kepada seseorang yang dia panggil dengan sebutan bos. Dialah dalang penculikan Kanaya saat ini.
Mobil pun melaju pergi keluar dari parkiran mall. Pada saat yang bersamaan mobil Adrian memasuki parkiran mall. Kedua mobil tersebut berselisihan. Adrian tidak menyadari, jika van hitam itu telah membawa pergi istrinya. Sesampainya di parkiran, Adrian menghubungi nomer Kanaya. Tapi tidak diangakat oleh Kanaya. Hal ini langsung membuat Adrian merasa khawatir. Sebab, dia takut jika orang yang ada pada foto Kanaya kirimkan tadi berhasil melukai Kanaya. Adrian berjalan mengelilingi parkiran, dia mendengar nada dering dari handphone milik Kanaya. Tas Kanaya beserta paper bag belanjaan Kanaya ada dilantai parkiran mall. Sontak membuat wajah Adrian memucat seketika.
"Sayang.... ".
__ADS_1