
"Sayang hari ini aku mau pergi ke villa sama Sam, tante Davina aku suruh tinggal disini
buat jagain kalian dulu. Ya meski banyak yang lainnya, paling tidak ada salah satu orang yang benar-benar bisa kupercaya untuk menemani kalian" Adrian mengecup dahi Kanaya. Sebuah simpul senyuman bahagia diberikan oleh Kanaya. Diperhatikan dan diberikan kehangatan seperti ini sungguh diidamkan semua wanita didunia ini.
"Terimakasih untuk semuanya. Kamu jangan terlalu fokus untuk memikirkan keselamatan diriku dan juga anak-anak. Keselamatan dirimu juga begitu penting untuk kami. Apalagi dia yang ingin berada dalam gendonganmu" tunjuk Kanaya pada perutnya. Terlihat bayi didalam perut Kanaya bergerak, seolah-olah mengerti dan paham apa yang dikatakan oleh Kanaya. Seakan dia ingin menunjukkan jika yang mamanya katakan itu benar.
"Hai, anak papa. Kamu sehatkan disana, kamu harus kuat dan tangguh ya di dalam sana. Jangan menyusahkan mama, kamu harus memberikan semangat terus buat mama ya. Papa titip mama, jagain mama kamu ya sayang. Ada yang harus papa urus" Adrian mengelus perut Kanaya. Gerakan bayi dalam perutnya begitu sangat aktif. Adrian begitu merasa sangat senang, seakan memiliki mainan baru. Disetiap tangan Adrian letakkan pada perut Kanaya. Seakan disambut hangat oleh sang bayi. Ibarat kata, mereka tengah asyik kompak. Adrian begitu gemes, mengusap serta mengelus perut Kanaya berulang kali. Bahkan dia menciuminya berkali-kali.
"Sudah, nanti Tony marah-marah lagi kalau kamu lambat datang kesana. Belahan hati kamu itu, kalau ngomel lebih parah dari emak-emak" ujar Kanaya mengusir Adrian secara halus.
Sebenarnya dia ingin segera pergi ke swalayan terdekat, kemudian ingin melihat pemandangan air terjun di bagian ujung markas selatan ini. Kanaya mendengar percakapan Rendy dengan yang lainnya. Dimana dia menceritakan tentang melamar pujaan hatinya itu di bawa air terjun tersebut. Rendi pun juga memperlihatkan video yang dia ambil disana dan juga beberapa foto keren yang memperlihatkan view air terjun. Itulah yang membuat Kanaya begitu penasaran ingin menjelajahi wilayah bagian selatan.
"Kenapa jadi kamu ingin mengusirku? Apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Adrian penuh selidik.
"Tidak ada sayang. Hanya saja aku ingin berbelanja ke swalayan pagi ini. Aku berencana untuk membuat camilan untuk anak-anak dan juga anak buah kamu disini. Mungkin nanti malam kita harus adakan barbeque. Bagaimana menurutmu?" Kanaya mencoba untuk negosiasi. Setelah ini dia ingin meminta hadiah untuk mengajaknya ke air terjun tersebut.
"Ide yang bagus, nanti aku akan beritahukan yang lainnya juga. Rasanya lumayan lama juga tidak kumpul-kumpul seperti itu" Adrian tampaknya menerima ide cerdas dari Kanaya. Padahal ide tersebut terlintas begitu saja, tidak ada dalam daftar untuk kegiatan hari ini yang dia rencanakan sejak tadi malam. Padahal niatnya, ingin menipu Adrian dengan kegiatan palsunya. Tapi sebenarnya dia akan pergi ke air terjun tersebut.
__ADS_1
"Serius kamu setuju. Yes" ucap Kanaya spontan, Adrian yang mendengar pun langsung mengerutkan dahinya.
"Kenapa jadi kamu girang seperti ini? Apa ada udang dibalik bihun?" Adrian menaik turunkan alisnya seperti sedang melakukan senam. Kanaya yang tersadar akan kesalahan kecilnya tadi langsung merangkul tubuh Adrian. Dia menggantungkan tangannya yang melingkar pada leher Adrian.
"Sa....yang".
"Aku boleh meminta sesuatu tidak?" ucap Kanaya bergelayut manja. Wajahnya kini berubah menjadi imut. Adrian tau, kalau sudah dalam mode begini pasti Kanaya meminta sesuatu yang aneh-aneh.
"Apa sayang?" balas Adrian dalam mode gemes kepada Kanaya. Kan jarang-jarang Kanaya bersikap begini. Aji mumpung lah istilahnya. Jadi Adrian pergunakan juga kesempatan bermanja Kanaya sekarang untuk meminta sesuatu yang harus dikabulkan oleh Kanaya.
"Aku pengen liat air terjun yang ada disini. Katanya anak buah kamu, view disana sangat keren sayang" pinta Kanaya mengutarakan keinginannya.
"Apa sayang?" tanya Kanaya penasaran dengan syarat yang ingin dipinta oleh Adrian. Adrian mendaratkan sebuah ciuman pada bibir seksi nan menggoda milik Kanaya.
"Aku minta jatah double ya nanti malam" Adrian mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Menggigit bagian bawah bibirnya, kemudian memajukan bibirnya seakan mengisyaratkan sebuah ciuman. Melihat tingkat menggelikan sang suami, Kanaya memukul lengah kokoh milik Adrian.
"Iiihhh genit" ucap Kanaya yang merasa malu dengan tingkah konyol suaminya tadi.
__ADS_1
"Genit sama istri boleh dong. Bahkan bisa dapat pahala kalau istrinya suka digenitin" Adrian menciumi bagian leher indah milik Kanaya.
"Aku suka menikmati aroma tubuhmu. Bagaikan candu yang membuatku tak bisa berpaling lagi darimu. Aku ingin selalu seperti ini. Bersamamu hingga tua nanti" ujar Adrian setelahnya memandangi wajah cantik Kanaya tanpa polesan make up apapun.
"Aamiin. Aku juga ingin menghabiskan masa tuaku bersama denganmu sayang" ucap Kanaya menyandarkan kepalanya dada bidang milik Adrian. Handphone milik Adrian berbunyi setelahnya. Ah, dasar memang tidak mengerti dengan kondisi orang yang tengah romantis-romantisan. Dengan malas Adrian mengangkat panggilan dari soulmatenya.
"Woy, dimana? Lama amat nyusul kesini. Udah kering mau jamuran nih nungguin" teriak Tony ketika panggilannya terangkat tanpa peduli siapa yang mengangkatnya. Kanaya pun memiliki ide untuk mengerjai Tony.
"Maaf ya Ton, Adriannya ketiduran. Soalnya dia minta nambah lagi pas mau berangkat. Sebagai istri yang baik aku harus melayaninya. Maaf ya udah bikin kamu jamuran, tapi masih untung sih belum karatan" jawab Kanaya kemudian. Terdengar suara cekikikan dari Mely dan Fery disana. Rupanya Tony mengaktifkan loud speaker handphonenya. Kemudian panggilan langsung dimatikan sepihak dari sana. Mungkin Tony merasa malu karena yang menjawab panggilannya bukan Adrian melainkan Kanaya. Sedangkan Kanaya dan Adrian tertawa terbahak-bahak setelah panggilan dimatikan Tony. Dua kejadian berbeda dalam waktu yang bersamaan. Tony mengalami kejadian yang memalukan, sedangkan Adrian mengalami kejadian yang mengocok isi perutnya.
"Sebaiknya kamu pergi sekarang. Daripada teman jonesmu itu nungguin kamu sampai kadaluarsa" Kanaya terkikik ketika mengingat kembali momen dia mengerjai Tony.
"I love your style. Joke kamu ngena banget buat dia" Adrian merasa jika istrinya benar-benar berhasil melumpuhkan keangkuhan Tony yang biasanya memarahinya jika dia datang tidak tepat waktu.
"Maafin ya mblo, istriku terlalu jujur mengatakan tentang statusmu" gumam Adrian dalam hati.
"Aku berangkat dulu ya, kalau mau pergi ke swalayan kamu bisa minta ditemani sama anak buahku".
__ADS_1
"Ingat jangan pernah pergi sendirian" Adrian memberikan jari kelingkingnya agar Kanaya berjanji untuk menepati janji. Kanaya menggelengkan kepalanya. Adrian juga melakukan hal seperti ini kepada dirinya, childish. Ya, itu memang cara Adrian ketika dia memberikan janji kepada anak sambungnya. Mungkin Adrian jadi terbawa suasana karena kebiasaan sama anak-anak.