Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Akhir Bahagia


__ADS_3

"Alfian" kini Alfian teriak Alfian.


Wajah bapanya Kanaya terlihat begitu marah. Dia paling benci dengan para pengedar narkoba, karena merekalah yang merusak para generasi bangsa ini. Saat Alfian ingin melangkah maju ke depan. Sebuah tembakan mengenai kaki kirinya.


"Dor" suara dari tembakan terdengar nyaring dan menggema di dalam gudang.


"Bapak" teriak Kanaya histeris dan segera berlari ke arah Alfian yang terjatuh akibat tembakan dari Fian.


"Bajing*n kalian" teriak Kanaya marah.


Adrian dan Fery saling mengode satu sama lain. Mereka berdua berencana untuk menyerang orang-orang yang sedang melakukan transaksi tersebut. Mereka semua berjumlah delapan orang. Tidak terlalu banyak, tapi mereka semua memegang senjata ditangan mereka. Jadi mereka berdua harus mempertimbangkan penyerangan yang memiliki sedikit resiko.


"Dor" sebuah tembakan mengudara dilepaskan oleh Fian.


"Jangan mencoba maju mendekat. Jika tidak, saya tidak segan-segan untuk menembak kalian semua yang ada disini" teriaknya sambil mengacungkan pistol ke arah Adrian, Fery, Tora, dan Kanaya secara bergantian.


"Kalian semua itu bodoh. Bisnis menjanjikan seperti ini kalian tidak mau menjalankan. Munafik".


"Padahal kalian itu lebih jahat daripada mereka yang mengedarkan barang nikmat yang kalian katakan haram ini" ucapnya sambil tertawa.


"Kalian semua itu sok bijaksana dan sok jadi pahlawan. Padahal kalian sendiri tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa seseorang. Manusia macam apa itu hah" teriaknya penuh emosi.


"Keluarga Aston yang paling berkuasa. Aston, Aston, selalu keluarga Aston yang paling disorot media".


"Mereka semua tidak tahu saja seberapa buruk dan bejatnya keluarga Aston beserta pengikutnya".


"Cuih" Fian meludah, seakan bentuk penghinaan ke8 keluarga Aston.


Adrian tak terima nama keluarganya dihina dan direndahkan seperti itu. Dia hendak maju menyerang, namun ditahan oleh Fery. Fery menggelengkan kepala, menandakan jangan sekarang. Fery terus mengamati, mencari celah dititik mana dia harus memulai penyerangan. Dia tidak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan.


"Slow bro, slow" kata Chandra santai. Dengan tenang dia melangkah maju ke depan.


"Punya nyali juga kamu, bosan hidup ya" teriak Fian.


"Yaelah, aku cuma mau ikutan gabung doang kok".


"Asal kamu tau, aku tadi sengaja menculik istrinya Adrian biar aku bisa menguasai pelabuhan ini. Tapi gara-gara kamu ini aku jadi gagal. Akhirnya, aku dihajar sampai babak belur begini" ujar Chandra membeberkan cerita kegagalannya menculik Kanaya.

__ADS_1


"Maksudnya? Kenapa jadi aku yang disalahkan karena kegagalanmu?" tanya Fian bingung. Perbincangan dirinya dengan Chandra membuat fokus Fian sedikit terganggu dan teralihkan.


"Ya jelas ikut andil lah. Sebab, kamu yang mau transaksi narkoba disini jadinya gagal. Padahal aku ingin memuluskan aksimu. Tapi ternyata".


"Ckckck.... Ada musuh dalam selimut diantara orang-orangmu" ujar Chandra memprovokasi. Fery paham maksud dari tindakan Chandra saat ini. Dia memberikan aba-aba kepada Adrian. Chandra tengah mencoba untuk mengecoh Fian.


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Fian terhasut oleh bualan cerita yang dikarang oleh Chandra.


"Maksud aku, ada orang yang membocorkan masalah ini kepada Adrian" Fian langsung menegang setelah mendengar ucapan dari Chandra tadi.


"Apa yang kamu katakan? Tidak ada yang berkhianat disini?" ujar lawan bisnisnya Fian.


"Ma'af kenapa kamu merasa tersinggung ya. Padahal aku tidak mengatakan nama siapapun. Kenapa kamu seperti merasa ya" Chandra bergaya tengil dengan santainya. Adrian menyukai sikap tak tahu malu Chandra ini.


"Ooops.... Jangan-jangan" Chandra pura-pura terkejut dan menutup kedua mulutnya.


"Apa yang ingin kamu katakan hah?" pistol pun ditodongkannya ke arah Chandra.


"Apa kamu mau menuduh aku yang berkhianat ya?" teriak pria tersebut.


"Selow bro, aku tidak menuduh kamu. Aku hanya mengatakan apa yang aku tahu saja. Aku hanya ingin memberikan info tersebut kepada Alfian".


"Pikir pakai otak, gara-gara transaksi ini gagal aku jadi harus merugi tau. Belum lagi akan berurusan dengan mereka" tunjuk Chandra kepada Adrian.


Dibalik tunjukkan yang diarahkan oleh Chandra kepada Adrian, Chandra memberikan kode untuk menyerang rekan bisnis Fian. Fian mengira jika Chandra memang benar-benar adalah pembeli terbesar barang haram yang dibagikan olehnya. Sebab, setau dia memang ada yang suka membeli barangnya dengan jumlah besar tanpa mau diketahui identitasnya. Fian yakin jika orang tersebut adalah Chandra.


"Jadi kamu orang itu ya, the big boss".


"Wow, sebuah kehormatan bagiku bisa bertemu langsung dengan pria sehebat kamu tuan" puji Fian dengan hormat kepada Chandra. Chandra yang tidak menyangka akan mendapat respon positif seperti itu langsung menyunggingkan senyumnya. Padahal dalam hatinya ketar ketir jika aktingnya tadi akan ketahuan. Ternyata informasi yang dia dapat dari informannya sangat begitu bermanfaat sekali saat ini. Tentang pembeli terbesar pada bisnis Fian yang tidak diketahui namanya itu.


"Dor" sebuah tembakan langsung mengenai bahu Fian. Kemudian mengenai tangan pria yang tadi marah atas tuduhan Chandra. Mendengar adanya suara tembakan Chandra langsung menunduk ke bawah. Sedangkan Adrian dan Fery langsung menyerang mereka semua.


"Hello guys. Sorry, telat ikutan berpestanya" ucap Tony melangkah masuk ke dalam. Diikuti lima orang anak buahnya yang sama-sama memegang pistol.


"Kamu bernyali juga ya memporak-porandakan visi misi kami" ujar Tony langsung mencengkram kerah baju Fian. Satu tembakan kembali disarangkan oleh Tony ke paha kanannya.


"Kamu tau kan, kami memang penjahat. Tapi bukan perusak hidup seseorang" Tony melayangkan pukulan ke wajah Fian. Para pengikut Fian dan rekan transaksinya tadi sudah diringkus dan babak belur dihajar Fery dan Adrian.

__ADS_1


"Kesal aku" ujar Tony sambil mengurut tangannya yang kesakitan karena memukul Fian terlalu keras.


"Fer, hubungi polisi Bram untuk segera meringkus mereka. Jika dia telat datang, maka akan aku cincang mereka semua" Tony memperlihatkan wajah garangnya.


"Kenapa bisa tau kami disini?" tanya Adrian menghampiri Tony. Tony hanya memperlihatkan handphone miliknya, ternyata Tony melacak keberadaan Adrian melalui handphonenya.


"Kamu.... " tunjuk Adrian antara kesal,malu dan lainnya yang bercampur.


"Demi keselamatan kamu. Makanya, jadi orang jangan gaptek bro".


"Handphone kamu juga bisa melacak keberadaan aku, tapi sayangnya anda terlalu kurang smart" ledek Tony langsung membuat Kanaya, Alfian dan Fery tertawa.


"Sebaiknya kau bawa om Alfian saja ke rumah sakit sekarang. Sana pergi, hush... hush" usir Tony ke Adrian.


"Biar semua urusan yang ada disini aku sama Fery yang mengurusnya".


"Untuk Chandra, nanti dia akan aku serahkan ke oma" Adrian terkejut mendengar jika omanya ikut andil dalam hal ini.


"Jangan kaget begitu, biasalah oma. Kayak nggak tau oma saja. Apa sih yang oma nggak tau?" Tony mengedipkan sebelah matanya. Adrian hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum bahagia. Sahabatnya ini memang selalu bisa diandalkan dan paling disuka oleh Adrian adalah tingkah konyolnya yang bikin suasana tegang bisa jadi hangat.


"Thank you" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan saat ini. Adrian pun langsung membantu mertuanya berjalan keluar untuk dibawa ke rumah sakit bersama Kanaya.


*****


"Alhamdulillah, acara aqiqahan cicit oma semua berjalan dengan lancar" ucap oma Rachel penuh syukur.


"Semoga tidak ada hal buruk lagi yang kita alami setelah ini. Jika pun nanti akan ada masalah yang datang. Oma harap kalian semua saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain. Saling mendukung satu sama lain. Tidak ada hal yang mewah yang oma harapkan. Oma hanya ingin melihat kebahagiaan dalam keluarga kita".


"Kanaya, oma sangat berterima kasih dan bangga kepadamu. Kamu memang wanita yang kuat, hebat dan juga tangguh. Oma minta, kamu selalu jadi perisai buat Adrian. Jika kalian berdua bersama, tidak ada satupun yang akan bisa menghancurkan kalian" oma Rachel meluk Kanaya dengan penuh rasa bangga.


"Giselle, oma tidak ingin meminta apapun sama kamu. Hanya satu pesan oma, selalulah jadi rumah tempat berpulangnya Andre. Selalu jadi pelita buat hidup Andre, karena hanya kamulah wanita yang bisa menenangkan hatinya. Jadilah tempat ternyamannya, karena oma tau kamu adalah sebagian dari hidupnya" oma memberikan wejangan kepada Giselle.


"Semuanya silahkan nikmati hidangan yang kami sajikan" oma mempersilahkan para tamu untuk menikmati makanan yang tersaji dimeja. Suasana kehangatan dan kebahagiaan terlihat begitu jelas dari raut para tamu undangan dan tuan rumah. Giselle tengah berbahagia dikelilingi oleh Andre, mama sambungnya dan juga papanya. Tampak jelas wajah kebahagiaan diantara mereka. Sebelumnya terjadi perselisihan diantara mereka, kini semua telah sirna.


Fery dengan sigap menjadi suami siaga buat Mely yang tengah hamil tua. Tubuh mungil itu kini telah membengkak lebih besar dari sebelumnya. Sebab, ada dua malaikat yang tengah hidup didalam tubuh Mely. Ya, Fery dan Mely akan memiliki anak kembar. Sedangkan Tony tengah berbahagia karena lamarannya tempo hari diterima oleh Amanda.


Ades tengah asyik berbincang dengan Kanaya sambil menggendong anak mereka masing-masing. Sedangkan Adrian ngobrol masalah perusahaan yang lumayan cukup berkembang dibawah pengawasan Dio. Suasana bahagia terlihat sungguh jelas terlihat diantara mereka semua.

__ADS_1


Kanaya tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini cerita hidupnya. Setelah dirinya menggantikan Ades, hidupnya dimasa lalu ternyata saling terhubung dengan orang-orang yang saat itu baru dia temui. Tidak hanya sekali dia menggantikan posisi sebagai seorang sandera. Melainkan dua kali, hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Pertama menggantikan posisi Ades, kedua menggantikan posisi Giselle meski tidak disengaja. Tapi Kanaya merasa senang bisa melindungi orang-orang yang disayang.


__ADS_2