Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Aura The Queen


__ADS_3

Semua yang ada dirumah besar Aston tengah sibuk mempersiapkan untuk pemakaman opa Adam. Niki tak berhenti menangis melihat kondisi mengerikan dari jasad papanya. Dia tak berhenti meracau memberikan sumpah serapah untuk balas dendam kepada pembunuhnya. Semau anak buah Adrian menjaga ketat rumahnya, sengaja dia lakukan hal tersebut karena ingin tau pasti siapa pelakunya. Meski sudah jelas sekali, dalam surat peringatan yang ditinggalkan pada tubuh opanya itu kalau pelakunya adalah Ronald.


"Ini baru permulaan dari pembalasan dendam dariku, tunggulah hal yang mengejutkan lainnya. Akan aku buat hancur seluruh keluarga Aston. From Ronald".


Seperti itulah pesan yang diberikan dan ditujukan kepada keluarganya. Adrian begitu sangat marah. Namun dia memutuskan untuk tidak memburu pelaku pembunuh opanya tersebut. Dia akan fokus untuk pemakaman terlebih dahulu. Mobil pribadi oma Rachel memasuki halaman rumah megahnya. Semua orang yang ada disana berdiri menyambut kedatangannya. Para kolega, rekan bisnis serta para anak buah milik Niki dan juga Adrian. Mereka semua membungkuk kepada Rachel yang berjalan penuh kharisma. Memegang tangan mungil milik Randy. Sorot matanya begitu tajam, sehingga tidak akan ada satu pun yang berani menatapnya.


"Oma" sapa Adrian dengan mata sembabnya yang begitu merah. Sedangkan mata oma merah seperti darah menahan amarah melihat sebuah jasad yang tertutup kain.


"Jangan pernah menangisi sebuah kematian, pada hakikatnya kita tetap akan seperti itu juga. Kita segerakan pemakamannya".


"Kita menunggu kedatangan Andre dan juga papa Hendry".


"Baiklah, mereka pantas untuk ditunggu. Kedatangan mereka sangat dinantikan olehnya".


"Berhentilah menangis Niki, papamu tidak kembali dengan tangisanmu itu. Berikan senyuman terbaik yang kamu miliki untuk mengantarkan kepulangannya" oma Rachel tampak dingin. Raut wajahnya datar tidak bisa dipastikan bagaimana suasana hatinya sekarang.


Dialah orang yang paling sedih dan paling terpukul akan kematian opa Adam. Namun tetap terlihat tegar, dan biasa saja. Dia duduk dikursi singgasana yang biasanya diduduki oleh suaminya sebagai kepala keluarga. Meski dirinya lebih berkuasa, tapi rasa hormatnya kepada suaminya menjadikan dirinya terlihat seperti wanita biasa dan istri pada umumnya.


"Jangan ada kesedihan dalam momen seperti ini. Berikan senyuman untuk kepergian suamiku tercinta" tatapan matanya sungguh begitu tajam. Menakutkan, tentunya. Aura kuat yang begitu kental dan menonjol pada wanita yang sudah tidak lagi muda itu sungguh terasa. The Queen memang julukan yang pantas kepadanya. Randy yang tengah berdiri disampinh Adrian memandangi oma Rachel begitu lekat. Rasa kagum kepada sosok oma barunya sungguh terpatri dalam hatinya.

__ADS_1


Suasana diluar kembali riuh ketika menyanbut kedatangan Andre dan juga Hendry. Bagaimana tidak, Hendry yang dulunya merupakan orang kepercayaan oma Rachel kembali. Para rekan yang sangat mengenal Hendry dengan panggilan Alfian. Mereka menjulukinya "The Leader" karena dialah pemimpin semua pasukan sebelum diberikan kepada Adrian. Padahal dia tidak ingin diberikan julukan seperti oma Rachel dan Niki. Namun hal ini tanda sebagai respect para anak buahnya kepada Hendry dahulu. Pemberi julukan tersebut adalah Jimmy. Padahal julukan tersebut hanya sebagai candaannya kepada Hendry. Namun mendapat respon postif dari semuanya. Terlihat sampai sekarang dia tetap dihormati dan dianggap oleh mereka yang sudah lama dia tinggalkan. Pelukan hangat dari anak buahnya dahulu, serta hormat dari mereka yang baru saja mengenak sosok Hendery.


"Owh, kesayangan opa. Kalian akhirnya juga datang" sambut oma Rachel dengan senyuman memeluk Andre dan juga Hendry.


"Jangan ada air mata untuk hari ini. Berikan kebahagiaan kepadanya Tunjukkan kalau kita merelakan kepergiannya" Hendry mengangguk memahami ucapan mama angkatnya itu. Sedangkan Andre menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa untuk tidak menitikkan air matanya.


"No air mata. Jangan cengeng, jadilah pria yang kuat dan tangguh".


"Ini belum seberapa. Jika hari ini kamu lemah, maka kamu tidak akan mampu berdiri untuk melawan musuh-musuhmu" Andre memeluk tubuh oma.


"Aku mendengarnya... Aku mendengarnya" hanya itu yang terucap dari bibirnya. Adrian menatap ke arah Andre. Apa maksud dari ucapan adiknya tersebut.


Adrian menyesalkan kedatangannya yang terlambat untuk menyelamatkan opanya. Padahal dia berencana hendak membantu opanya membuat kejutan omanya. Namun karena ada urusan yang mendadak membuatnya menunda keberangkatan menemui sang opa. Hanya tiga puluh menit, setelah itu dia mendapat kabar dari Iwan kalau opanya telah dibunuh. Salah satu anak buahnya ada melihat kedatangan Fredy pada pesta perayaan perkawinannya. Terlihat sosok Fredy pada salah satu CCTV yang merekam kehadirannya. Hal itulah yang membuatnya menunda untuk menemui sang opa. Setelah sekian lama mencari kabar tentang keberadaan Fredy, akhirnya mereka menemukan dia tampil di depan.


"Jangan terburu-buru, biarkan dia bernafas lega. Pasti akan terkuak siapa pelaku sebenarnya" oma Rachel berkata dengan singkat.


"Sebaiknya kalian istirahat saja dahulu. Berikan mereka waktu untuk menikmati kesuksesannya. Jangan bertindak hal yang gegabah ataupun lainnya. Tenanglah selama seratus hari ke depan. Jika musuh bergerak, barulah kita bergerak" tatapan oma Rachel begitu menusuk. Tidak ada yang mampu menyaingi aura kuat penuh kewibawaan milik oma Rachel.


Niki menceritakan perihal tentang kejadian papanya dengan Rohana. Niki yakin kalau pelakunya adalah Rohana. Tapi pada surat peringatan pelakunya adalah Ronald. Argumen Niki diperkuat oleh Andre yang berbicara langsung dengan orang yang berada didekat opanya pada saat itu. Sebab dia juga lah yang menyuruh orang untuk menghabisi dirinya. Suara perempuan yang ada dihandphone Hendry sama dengan suara perempuan yang menghubungi handphone pembunuh Andre. Oma Rachel hanya mendengarkan pendapat Niki, Andre, Hendry, dan juga Adrian. Dalam perbincangan ini dihadiri oleh Hendry, Niki, Adrian, Andre, Tony, Mely, Fery, Tora Tigor, Jimmy, Juan, dan Iwan. Dari semua yang mereka ungkapkan, oma Rachel merasa begitu kecewa dengan mereka semua karena tidak memberitahukan masalah yang begitu serius seperti ini. Dengan alasan tidak ingin membebani dirinya, serta ingin dirinya menikmati hari tuanya dengan tenang. Meski terdengar seperti bualan tapi dia tetap merasa terharu karena dipedulikan.

__ADS_1


"Lihat, apakah kalian mampu untuk menyelesaikan semua hal ini?".


"Aku tidak mungkin akan turun tangan sendiri, setidaknya aku bisa membantu untuk memberikan solusinya lebih awal".


"Tidakkah kalian pikir, yang kalian sembunyikan ini bisa menghilangkan banyak nyawa. Seandainya saja, pada saat Andre diserang dia tidak bisa mengalahkan semua pembunuh bayaran profesional apakah tidak dua nyawa sekaligus yang terenggut".


"Tony hampir dua kali hampir kehilangan nyawanya, entah tersisa berapa nyawa yang dia miliki sekarang ini untuk selalu selamat dari kematian".


"Identitas Mely bocor, tentu saja pasti identitas yang lainnya juga bocor".


"Kalian tau sendiri apa akibatnya kan? Apa kalian sanggup melindungi semua anggota beserta keluarganya?" terdengar santai semau ucapan oma Rachel namun penuh kekuatan yang membuat mendengarkan hal ini merinding.


"Niki sudah menyiapkan hal itu ma".


"Niki membangun perumahan khusus untuk para anggota dan juga keluarga anggota kita. Niki sudah menyiapkan hal ini selama tiga tahun. Semua rumahnya sudah siap untuk dihuni. Hanya beberapa rumah yang belum selesai. Jadi kita bisa melakukan evakuasi para keluarga mereka lebih dulu. Memastikan keamanan mereka semua".


"Anak buah Niki, semuanya sudah tinggal disana. Kini Adrian bisa menyuruh para anak buahnya untuk tinggal diperumahan khusus para anggota "Blackhunter" dan juga anak buah oma".


"Tok... Tok... Tok" pintu tempat rapat mereka diketuk oleh seseorang. Ruangan rahasia di rumah besar milik Rachel tidak ada yang tahu selain para anggota Blackhunter dan keluarganya.

__ADS_1


"Buka" Tony membungkukkan badannya dan membuka pintu. Robert sang kaki tangan Adam yang datang.


"Ada yang ingin saya beritahukan kepada "The Queen". Ini tentang penyelidikan saya yang diperintahkan oleh bos" Robert memberikan tiga buah amplop besar berwarna cokelat kepada oma Rachel. Oma Rachel terkejut melihat sebuah foto dari dalam amplop tersebut.


__ADS_2