Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Firasat Oma Rachel


__ADS_3

Adrian menyusuri seluruh parkiran mencari keberadaan Kanaya. Namun hasilnya nihil tidak ada. Di berteriak geram karena terlambat menyelamatkan istrinya. Tidak pikir panjang lagi, dia langsung menghubungi oma Rachel.


"Oma, Kanaya sudah pulang ke rumah?" Adrian mencoba untuk berpikiran positif dulu. Mungkin istrinya sudah pulang duluan. Dia tidak ingin membuat panik seluruh anggota keluarga. Mana sekarang tengah sibuk untuk acara aqiqahan besok untuk anaknya dan anak Andre.


"Belum, kenapa? Kamu mau menjemput dia ya? Dia belum ada menghubungi Tora kayaknya. Soalnya Tora tengah membantu menyusuni meja dan kursi buat acara besok" jawab oma Rachel langsung membuat Adrian mengurungkan niatnya untuk memberitahukan tentang Kanaya.


"Iya, oma. Adrian memang mau menjemput Kanaya. Makanya Adrian menghubungi oma terlebih dahulu. Siapa tau Kanaya sudah pulang?" Adrian memberikan alasan.


"Ya sudah oma, Adrian mau berangkat dulu pergi menjemput Kanaya" ucap Adrian kemudian menutup panggilan telponnya.


Adrian menghela nafas berat. Bingung kemana dia harus mencari istrinya. Ingin dia bertanya kepada Andre, tapi rasanya tidak mungkin. Pasti sekarang Andre tengah ikut membantu persiapan acara dirumah. Itulah kenapa dia sendirian yang mengurus semua perusahaan hari ini. Sejak awal perencanaan aqiqahan ini, Adrian dan Andre telah sepakat untuk berbagi tugas.


"Sial... Sial... Sial" teriak Adrian histeris menendang ban mobilnya.


"Sayang kamu dimana sekarang?" Adrian mengusap wajahnya frustasi.


"Tony. Ya aku harus menghubungi Tony" Adria akhirnya memiliki akal untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang tengah dia hadapi saat ini.


"Ton, aku perlu bantuan kamu sekarang. Kanaya diculik seseorang tadi di mall. Sekarang aku bingung kemana harus mencari dia. Bisakan kamu mencari info dimana keberadaan Kanaya?" Adrian mencerocos seperti suara mercon yang tak berhenti berbunyi. Tony yang berada diseberang menutup sebelah telinganya karena suara cempereng Adrian yang diluar batas kalau dia lagi dalam fase galau


"Ye elah bro. Gitu saja panik sih. Itu mulut bisa nggak sih dikasih rem. Omonganmu itu melebihi emak-emak yang lagi war di sosmed. Nyerocos saja, lebih bawel dari cewek tau" Tony berucap dengan kesalnya.


Sebab, Adrian sekarang menghubungi dirinya diwaktu yang tidak tepat. Dimana dia sekarang tengah makan siang dengan Amanda. Padahal dia sudah merencanakan makan siang hari ini jauh-jauh hari sebelumnya. Tony berniat ingin melamar Amanda untuk menjadi istrinya. Tony tidak ingin menggantung hubungan yang kini tengah berjalan dengan Amanda. Dia ingin memberi kepastian kepada wanita yang disayangnya itu.

__ADS_1


"Bukannya kamu pernah bilang, kalau cincin yang kamu kasih ke Kanaya itu ada GPS nya. Kenapa nggak dicek saja dulu? Ma'af ya bro, untuk sekarang jangan ganggu dulu. Hubungi Fery saja atau Tora kalau perlu bantuan. Ok" ujar Tony bernada permohonan untuk memberikan waktu kepadanya.


"Astaga, kok bisa lupa ya" jawab Adrian menepuk dahinya. Kalau lagi panik, apa saja bisa terlupakan. Itulah the power of panic.


"Thank you my bro sudah ngingetin. Oh ya, semoga nggak ditolak sama Amanda ya acara lamarannya" ucap Adrian sebelum mematikan panggilan telponnya.


"Darimana kamu tau" panggilan pun langsung diputus sepihak oleh Adrian.


"Dasar Adrian" Tony hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Adrian yang baru saja dapat wejangan dari Tony langsung mencek keberadaan GPS yang dipasang di cincin nikah yang Adrian berikan dulu. Dengan semangat empat lima sudah Adrian membuka ke handphone miliknya. Seketika senyuman diwajahnya hilang saat melihat keberadaan cincin Kanaya tersebut. GPS pada cincin pernikahan Kanaya menunjukkan, jika cincin itu kini tengah berada di rumahnya. Itu artinya, Kanaya kini sedang tidak memakai cincin pernikahan mereka. Pupus sudah harapan dia untuk mengetahui keberadaan Kanaya secepatnya.


"Oh ****. Kenapa bisa jadi begini sih?" Adrian benar-benar ingin sekali meluapkan rasa kekesalannya.


"Ah, tidak bisa. Harus menjelaskan seperti apa sama oma?" kini Adrian dilema tentang keputusan apa yang harus dia ambil. Padahal biasanya dia bisa melakukan apapun sendiri apalagi masalah kejahatan begini. Biasanya otaknya selalu encer dalam mencari jalan keluarnya. Kini semua nge blank tak ada cara apapun atau rencana yang harus dia susun dalam pencarian Kanaya.


"Ya sudah, minta tolong sama Fery saja seperti intruksi Tony tadi" Adrian memuji kecerdasan Tony. Karena jika dia sedang dalam keadaan bingung Tony selalu memberikan jalan keluar untuknya. Rela teman sejati pokoknya.


"Fer, sibuk" tanya Adrian ketika panggilannya dijawab oleh Fery fast respon


"Tidak bang, kenapa?" jawab Fery dengan nada penuh antusias


"Bantuin aku bisa. Temui aku di mall X. Nanti aku ceritakan setelah kamu datang kesini. Kamu bisa kesini kan?" tanya Adrian ragu. Namun penuh harap Fery bisa membantunya. Sebab, menurutnya hanya Fery satu-satunya orang yang bisa membantunya sekarang. Padahal Adrian salah besar. Sebab, masih banyak orang di rumah yang masih bisa diandalkan.

__ADS_1


"Sayang, tunggu aku. Aku pasti akan menyelamatkanmu" ucap Adrian sambil memeluk tas jinjing milik Kanaya yang terjatuh di lantai parkiran mall saat dia datang tadi.


****


"Aneh, kenapa juga Adrian menghubungi aku jika dia ingin menjemput Kanaya? Padahal dia bisa langsung menghubungi Kanaya langsung" oma Rachel kemudian berpikir setelah panggilan telpon dari Adrian diputus.


Insting seorang The Queen sekarang benar-benar diuji. Firasatnya mengatakan jika telah terjadi sesuatu terhadap Kanaya. Oma Rachel mengingat kembali pembicaraan dirinya dengan Adrian tadi. Dia menelisik, ada beberapa kalimat yang diucapkan oleh Adrian bernada khawatir. Ya, oma Rachel yakin jika cucunya kini tengah tidak baik. Dia pun segera berjalan menghampiri Tora yang tengah asyik mengobrol dengan para penjaga di rumah besar.


"Tora, kemari. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu" kata oma Rachel. Tora yang mendengar nada bicara oma Rachel yang terdengar tegas. Dia yakin, tengah terjadi sesuatu yang kurang baik


"Baik queen" sahut Tora penuh hormat. Dia pun berjalan mengekori oma Rachel hingga memasuki ruangan rapat biasanya mereka pakai.


"Saya ingin kamu menyelidiki sesuatu, sepertinya tengah terjadi sesuatu kepada Adrian. Saya memiliki firasat, kalau Kanaya sekarang berada dalam masalah" ucapan oma Rachel langsung membuat Tora ternganga. Sebab, dia merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin Kanaya mendapat musibah? Sedangkan dia mengantarkan Kanaya dalam keadaan baik-baik saja pergi ke mall.


"Maksud oma apa? Apa maksud oma neng Kanaya diculik?" ucapan Tora langsung membuat oma yakin jika Kanaya kini tengah diculik oelh seseorang.


"Sepertinya" hanya itu yang bisa dikatakan oleh oma Rachel.


"Aku ingin kamu mengikuti orang ini, kamu bisa liat sendiri plat mobilnya. Saya menduga, dia ada hubungannya dengan kepanikan Adrian tadi" ucap oma Rachel sambil memberikan selembar foto seseorang kepada Tora


"Pastikan keberadaan orang ini. Jika memang dia orang yang telah berani mengusik keluargaku. Maka segera laporkan kepadaku, maka aku sendiri yang akan menghadapinya" oma Rachel memberikan raut wajah yang tidak biasa. Raut wajah kemarahan dan geram tampak jelas pada wajahnya.


Padahal selama ini, dia sudah berbaik hati tidak ingin mengusik Chandra. Meksi tau Chandra tengah mengirim orang untuk mengawasi gerak-gerak orang yang ada dirumah ini. Oma tidak ingin bertindak karena yakin jika Chandra tidak mungkin mengambil langkah ekstrim. Oma Rachel pun tau, jika Chandra sering membuntuti kepergian Andre. Ternyata bersikap acuh tidak bagus juga karena keselamatan semua anggota keluarga yang jadi taruhannya.

__ADS_1


"Chandra awas kamu" oma Rachel menggeram dan mengepal kuat tangannya kesal.


__ADS_2