Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Sama Frekuensi


__ADS_3

"Jika penting sebaiknya kita bicarakan di ruangan oma" ujar oma Rachel mengisyaratkan kepada Kanaya.


"Bagaimana denganku? Apa boleh bergabung?" tanyanya pada Kanaya. Kanaya bingung dengan sikap perempuan yang ada didepannya sekarang ini. Seolah dia begitu mengenal Kanaya. Padahal Kanaya merasa tidak pernah mengenal dia sama sekali.


"Dia tantenya Radit" oma Rachel memecahkan pertanyaan yang ada dalam pikiran Kanaya.


Kanaya terkejut mendengar fakta yang baru saja dia ketahui. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu anggota suami pertamanya kembali.


"Kalau begitu sepertinya tante boleh ikut. Sebab ini juga menyangkut tentang pembunuh Radit" ucapan Kanaya membuat mata Vina membulat terkejut. Sebab, selama ini dia dan juga Darren sedikit kesulitan mencari tahu siapa pembunuh keponakannya itu? Mereka menduga ini tetap ada kaitannya dengan Devin. Mungkin saja ada orang lain dibalik pembunuhan Radit. Sengaja ditutupi jejaknya agar tidak diketahui.


"Apa kamu tau siapa pembunuhnya?" tanya Davina dengan nada serius. Kanaya pun mengangguk tanda mengiyakan.


"Sebaiknya kita bicarakan ini secara pribadi".


"Bisakah kita langsung ke ruangan anda Queen?" tanya Vina dengan mata yang mengedip sebelah.


"Aku rasa itu panggilan yang jauh lebih baik daripada Miss kan?" Davina tersenyum kepada oma Rachel. Oma Rachel hanya menggelengkan kepalanya sembari melempar senyum kepada Vina. Tingkah Vina memang nyentrik seperti dirinya waktu muda.


Mereka bertiga pun memasuki ruangan khusus yang biasa dipakai rapat. Davina begitu nampak terpesona dengan tampilan interior dalam ruangan yang terlihat begitu mewah. Memang tidak bisa diragukan lagi kekayaan keluarga Aston ini. Davina sendiri belum pernah memasuki mansion milik keluarga Marven. Jadi dia tidak bisa membandingkan seperti apa perbedaan kediaman kedua keluarga yang sama-sama menjadi raja dunia perbisnisan.


"I love your style" ucap Vina sambil melipat tangan seperti rocker.


"I love your style too. Persis diriku saat muda dulu" oma Rachel menunjuk salah satu foto miliknya yang bergaya rock dan melipat jarinya seperti Vina tadi. Rupanya Vina menirukan gaya oma Rachel waktu muda dulu.


"Silahkan duduk, nona Marven" kini oma Rachel yang berlagak formal terhadap Vina.


"Oh, call me Vina saja. Jangan panggil aku dengan sebutan nona Marven. Takutnya nanti ditembak pas lagi jalan-jalan" kekeh Vina merasa terbebani dengan menyandang nama keluarganya. Itulah dia lebih suka bergaya sedikit tomboy, tapi tetap terlihat menawan. Visual keluarga Marven memang tidak diragukan lagi. Sama halnya dengan keluarga Aston. Boleh dikatakan bibit unggul lah.

__ADS_1


"Langsung saja lah, kita bahas masalah pembunuh Radit. Sungguh aku tidak akan membiarkan pembunuh itu berkeliaran di luar sana".


"Aku sudah mencari info dan langsung terjun ke lapangan untuk menyelidiki. Tapi, semuanya terlalu begitu sempurna hingga memang benar terlihat seperti sebuah kecelakaan. Sebelumnya memang aku meyakini adanya konpirasi pada kecelakaan Radit" jelas Vina yang memang sudah lama mencari tahu kebenarannya.


"Kenapa buru-buru sih, santai saja dong. Biar nanti Kanaya akan menjelaskan semuanya secara perlahan".


"Ngebet amat, kayak pengen mau kawin aja" oma Rachel yang memang suka nyeletuk gurauan yang kadang aneh-aneh tapi memang kadang bisa membuat orang tertawa.


"Ah tau aja kalau aku memang lagi ngebet pengen kawin" benar-benar satu frekuensi Davina dan Rachel. Beda usia, beda generasi tapi klop pemikiran dan gaya bicaranya.


"Seriusan? Sama siapa?" tanya oma Rachel penasaran. Tidak menyangka jika gurauannya tadi terjadi benar adanya. Kini mereka tidak jadi rapat. Melainkan ajang untuk saling bergosip. Hadeh, yang namanya perempuan biar tua atau pun muda memang suka ngobrol yang tak tau apa yang akan diobrolin. Random topiknya.


"Sama salah satu bodyguard kamu lah. Dia keren banget, aku suka gayanya yang cool itu" ucap Vina jujur. Mereka memang seperti seorang sahabat yang sudah lama saling mengenal, terlihat dari perbincangan keduanya yang nyambung. Daebak!


Kanaya seakan hanya menjadi seorang penonton saja diantara mereka berdua. Bingung dia mau berkomentar apa tentang mereka berdua? Ingin memulai apa yang ingin dia bicarakan, namun dia tidak ingin dibilang tidak sopan dan tidak menghargai yang lebih tua. Serba salah, pastinya.


Vina mengangguk tanda mengiyakan. Oma Rachel justru terkejut jika tebakannya benar. Dia rasa cukup cocok, Sam tipikal tidak suka repot dan heboh. Tapi beda dengan Vina yang sedikit urakan mungkin cukup agresif pula.


"Bolehkan?" Vina mengerlingkan matanya, seakan dia meminta restu kepada oma Rachel.


"Tentu boleh dong, masalah hati siapa yang boleh melarang" ucap oma Rachel bijak. Kini Kanaya benar-benar terjebak disini mendengar obrolan ringan mereka berdua. Antara ingin keluar atau masih tetap berada disini.


"Astagfirullah, urusan Kanaya belum kita selesaikan" oma Rachel teringat dikala dia melihat ke arah perut buncit milik Kanaya.


"Oh ya kamu tadi ingin membicarakan apa?" tanya oma Rachel kemudian setelah sempat bercanda dengan Vina tadi.


"Saya hanya mencurigai seseorang yang seperti Ronald" meski dia tidak yakin tapi dia hanya mencoba untuk mencari tahu. Mungkin dengan dia jujur tentang orang yang kemungkinan dia curigai. Mereka bisa menemukan pembunuh Radit yang sebenarnya.

__ADS_1


"Siapa dia?".


"Ronald!" Vina sedikit bingung. Siapa sebenarnya si pemilik nama tersebut? Seperti tidak asing. Tapi dimana dia mendengarkan nama itu.


"Tapi sulit sekali menemukannya Nay. Oma sudah mencari tahu keberadaannya sejak beberapa bulan lalu. Tapi nihil tetap zonk tidak menemukan apapun" ujar oma Rachel.


"Saya curiga jika Rohana adalah Ronald yang sudah operasi ganti kelamin" oma Rachel terkejut hampir mengeluarkan bola matanaya. Kemudian tertegun mendengarkan kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Maria.


Memang dia sempat menaruh kecurigaan kepada Rohana. Namun dia tidak bisa mencari bukti untuk membenarkan firasatnya itu. Itulah kenapa oma Rachel jadi mengakrabkan diri dengannya.


"Apa yang membuat kamu yakin jika Rohana adalah Ronald?" tanya oma Rachel untuk meyakinkan dugaannya dan juga dugaan Kanaya.


"Apa oma ingat dengan luka pada pundaknya Rohana waktu kita di salon dulu?" Kanaya mencoba untuk meminta oma Rachel mengingat kejadian yang telah berlalu.


"Iya oma ingat".


"Apa maksudmu dengan lukanya?" oma Rachel kini jauh lebih serius lagi. Sebab dia tidak ingat terlalu jelas tentang lukanya Rohana waktu itu.


"Aku merasa seseorang yang dimaksud oleh Rohana waktu itu adalah aku" jawab Kanaya sejujurnya. Tapi pasrah aja, jika nanti firasatnya salah. Terpenting saat ini, semua kegundahan yang menyelimuti hatinya mampu dia utarakan.


"Betulkah?" tanya Vina, setelahnya Kanaya mengangguk sebagai jabatan.


"Iya, sebab luka yang ada dipundaknya sama persis dengan luka yang saya berikan kepada Ronald dulu" Kanaya mencoba menjelaskan tentang kecurigaan dirinya.


"Kacau jika begini, pantas saja kita selalu gagal ketika mencari tahu tentang keberadaan Ronald" geram oma Rachel ketika mendengarkan perkataan Kanaya.


"Kalau begitu aku akan menyelidiki hal ini terlebih dahulu" Vina mengangguk dan dia juga setuju dengan usulan dari oma Rachel.

__ADS_1


"Aku pun juga akan mencari tahu, apakah Devin mengenal orang yang bernama Ronald?" Vina pun ikut berpartisipasi untuk mencari kejelasan. Kanaya merasa lega sekarang, setidaknya beban dia mencurigai Rohana sebagai Ronald sudah dia ungkapkan. Meski awalnya ingin dia utrakan kepada Adrian. Namun dia tidak ingin membebani dirinya. Terlebih sekarang oma terjun langsung mengurus semua ini, jadi Kanaya berpikir lebih baik diutarakan pada oma Rachel saja.


__ADS_2