
"Adrian, opa mau pinjam kamar pribadi kamu di hotel ya".
"Opa ingin membuat kejutan ulang tahun oma" ucapan sang opa membuat Adrian terkejut. Bagaimana dia melupakan hari ulang tahun omanya? Mungkin karena dia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya dan juga menyelidiki tentang keberadaan Fredy.
Setelah kejadian yang menimpa Tony, dia hilang bak ditelan bumi. Tidak ada celah sedikit pun mereka dapati untuk mengetahui aktivitas terakhirnya.
"Kamu kok ngelamun seperti itu. Kamu tidak mau meminjamkan kamar spesialmu itu?" tanya opa Adam sekali lagi.
"Pakai saja opa, nanti aku akan suruh staff hotel membantu opa nanti" ujar Adrian sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan card pintu kamarnya. Kemudian memberikannya kepada opa Adam.
"Opa masih tidak menyangka, jika anak Kanaya bisa sedekat itu dengan omamu".
"Opa tidak heran juga sih, karena memang omamu memang sangat pandai dalam mengambil hati anak-anak".
"Opa membayangkan, seandainya saja Alfian tinggal bersama kita disini. Begitu juga dengan Andre dan Giselle. Berkumpul semua bersama anak-anak Kanaya. Pasti rumah ini akan sangat ramai kembali".
"Huh" opa Adam menghembuskan nafasnya begitu berat.
"Bukankah rumah ini terasa sangat begitu meriah dan ramai ketika semuanya berkumpul saat acara pesta kamu semalam".
"Sejujurnya opa sangat bahagia dan menginginkan rumah ini seperti itu. Tidak ada keheningan dan kesunyian. Riuh suara tawa anak-anak Kanaya"
"Apalagi si Revan, dia begitu suka berceloteh. Mirip Andre waktu kecil dulu".
Opa Adam seakan tengah mencurahkan isi hatinya yang tidak diketahui orang lain. Kini dia mengobrol santai dengan Adrian, cucunya yang selalu sibuk dan gila kerja. Entahlah, kapan lagi mereka memiliki waktu bersama seperti ini lagi.
"Mungkinkah rumah ini akan seramai waktu itu ketika opa meninggal nanti?" ucap opa Adam mengambang. Pikirannya melayang, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
"Opa.... " Adrian terlihat protes.
"Opa juga tidak mengerti, entah kenapa hati opa terasa sesak dan sakit. Disini" tunjuknya didada.
"Opa merasa sangat sedih, tiba-tiba saja opa membayangkan kematian datang menghampiri. Apakah opa akan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah?" perkataan opa Adam membuat Adam sedikit merasa ngeri. Dia merasa belum siap jika akan kehilangan salah satu anggota keluarga yang disayanginya.
"Opa tidak usah memikirkan yang aneh-aneh. Fokus untuk acara kejutan oma saja".
__ADS_1
"Nanti Iwan akan menemani opa" kata Adrian.
Adam sebenarnya hendak menolak namun Adrian memaksa, tidak ada kata penolakan untuk menjaga keselamatan opanya. Meski awalnya opa Adam tidak setuju kalau Adrian yang akan menjadi penerus Aston, tapi melihat kegigihan dirinya melindungi keluarga serta membantu banyak orang yang tidak mendapat keadilan. Ada rasa sedikit kebanggan di hatinya.
***
"Tigor, kamu hari ini bisa pulang ke rumah dulu. Istriku katanya membuat kue, aku tidak ingin dia kelelahan jika mengantarnya kesini. Kamu bisa pulang sebentar, nanti susul saja saya dilokasi pertambangan G4" perintah Andre kepada Tigor yang merupakan salah satu orang kepercayaan Adrian untuk menjaga Andre.
"Baik pa Andre" sahutnya. Kemudian berlalu menjalankan perintah adik bosnya itu. Sebelumnya Tigor selalu memanggil Andre dengan kata bos seperti Adrian. Namun Andre meminta untuk dipanggil pak saja, karena tidak enak kalau didengar koleganya.
"Mari, kita menuju ke lokasi" ajak Andre kepada rekan bisnisnya yang tertarik untuk menanam modal di salah satu perusahaan tambanh milik Hendry. Andre sengaja disuruh menemani karena Hendry sedang sibuk mengurus pertambangan yang ada di lain tempat.
"Andre, sepertinya orang itu mengikuti kita" kata Mario asisten Andre. Diantara mereka tidak ada batasan bos dan anak buah. Apalagi Mario memang sudah berteman sejak lama dengan Andre.
"Kamu jangan berprasangka buruk dulu, mungkin hanya kebetulan saja" Andre mencoba untuk menenangkan Mario. Padahal dia sendiri juga merasakan hal yang sama. Oleh sebab itu dia sengaja menyuruh Tigor untuk pulang dulu, karena ingin memastikan pergerakan orang yang mencurigakan tersebut.
Benar saja dengan prediksi Andre, pria itu memang mengikuti dirinya. Andre akan melihat dulu pergerakan pria tersebut. Pasti yang diincar adalah dirinya.
***
"Baik bos" jawab Iwan. Setelahnya dia pergi dari kamar hotel milik Adrian yang opa Adam pergunakan untuk acara kejutan ulang tahun istri tercintanya nanti.
Bunyi suara ketukan di lantai keramik hotel menggema di dalam ruangan. Bunyi ujung heel yang bergesekan dengan lantai keramik yang menghasilkan suara merdu. Opa Adam tertegun mendengarnya, apalagi setelah tahu siapa yang memasuki kamar hotel. Opa Adam sangat terkejut, sebab bukan seseorang yang diinginkan.
"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya opa Adam sinis.
"Aku hanya merindukan kamu sayang".
"Selain itu juga aku ingin menawarkan tentang penawaran dariku sebelumnya masih berlaku. Aku bersedia menjadi kedua untukmu sayang" ucap Rohana yang masih mengejar Adam.
"Jangan pernah berharap aku akan mengkhianati Rachel hanya demi wanita gila sepertimu" ucap kasar Adam.
"Hahahaha... . Aku gila karena dirimu sayang".
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah membagi hatiku untuk wanita lain, ingat itu Rohana" Adam berbicara dengan sangat lantang hingga urat lehernya terlihat begitu jelas.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu itu. Mencintai Rachel hingga ajal menjemputmu" Rohana mengeluarkan handphone nya dan memanggil seseorang diseberang sana.
"Eksekusi target. Jangan gagal" Rohana pun menyeringai tajam dan menatap sinis kepada Adam.
"Tenang saja, untukmu belum waktunya. Aku masih mencoba memberikan kesempatan untumu berubah pikiran. Jadi milikku atau kematian yang menjemputmu" ucapnya dengan sorot mata tajam yang seakan menunjukkan kalau nyawamu ada ditanganku.
"Aku akan sedikit memberikan kejutan buatmu agar tergerak untuk merubah keputusanmu itu Adam".
"Cucumu yang ada di Kalimantan sedang tidak dalam penjagaan. Mereka akan segera mengeksekusinya" seringai iblis ditampilkan diwajah mulus dan cantik Rohana.
"Aku hanya ingin kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Seperti yang pernah kamu lakukan kepadaku Adam dahulu" Rohana mencoba mengingatkan kembali atas sikap buruk Adam kepada dirinya.
"Siapa kamu?".
"Aku tidak pernah merasa melakukan hal buruk terhadap dirimu Rohana".
"Aku baru saja mengenalmu, bagaimana aku pernah menyakitimu dan membuatmu merasa kehilangan" opa Adam merasa bingung. Sebab dia mengenal Rohana baru beberapa bulan, sebab sang istri mengenalkannya ketika dia berkunjung. Sesudahnya tidak pernah ada obrolan atau pertemuan yang intens. Selain kejadian Rohana yang nekat mencium dan memeluk dirinya.
"Mungkin kamu tidak mengingat dengan sosok ini. Tapi mungkin kamu akan ingat dengan sosok diriku yang dahulu".
"Aku mengalami kerugian puluhan miliar karena kamu membakar gudang penyimpanan narkobaku".
"Selain itu juga kamu menggagalkan rencana pembelian tanah di daerah pemukiman Lawang. Dengan alasan aku menipu mereka dengan memberikan harga yang sangat murah untuk pembelian tanah tersebut".
"Bukankah dalam bisnis itu siapa yang kuat dia yang berkuasa. Wajar saja mereka yang lemah akan tertindas. Tapi kamu" tatapnya dengan penuh kebencian dan dendam.
"Kamu merusak semua rencanaku. Apakah kejadian yang menimpa Ayu tidak kau jadikan pembelajaran untuk sekarang ini?".
"Apakah kamu ingin melihat cucumu Andre akan menjadi seonggok daging yang tak bernyawa?".
"Aku akan memperlihatkannya sebelum aku merenggut nyawamu Adam" seringai iblis menghiasi wajah Rohana.
"Kamu.... ".
"Apakah kamu Ronald?" tanya Adam bingung. Sebab semua kejadian yang Rohana ucapkan adalah kejadian dimana dia menggagalkan segala rencana busuk dan licik dari Ronald.
__ADS_1