
"Sedang apa neng disini?" tanya seseorang memukul pundak Kanaya.
Dengan gerakan cepat, Kanaya memutar badannya dan meletakkan pisau kecil milik Davina ke leher seorang wanita paruh baya yang menepuk pundak Kanaya tadi. Meski perutnya sudah membesar, namun kelincahan dan kegesitan Kanaya tidak berkurang sedikitpun meski bentuk tubuhnya sedikit berubah.
"Aduh neng, kenapa saya mau digorok neng? Saya cuma mau nanya saja neng".
"Aduh neng ampun teh" ucapnya memelas kepada Kanaya.
"Apakah saya bisa percaya dengan anda?" tanya Kanaya kepada perempuan tersebut.
"Memangnya neng perlu percaya apa sama saya? Saya cuma tukang bersih-bersih rumah ini saja. Datang pagi pulang sore neng" jawabnya jujur.
"Tolong bantu saya keluar dari rumah ini. Sebab, saya harus memberitahukan hal penting kepada suami saya" ujar Kanaya. Salah dirinya, kenapa dia melupakan handphone milik Rohana tadi malam untuk dia bawa pergi. Jika tidka dia bisa memberitahukan rencana teman pria Rohana kepada Adrian dan oma Rachel. Baginya kediaman keluarga Aston lebih berharga daripada dirinya.
"Iya neng, ibu bakal bantu neng keluar dari sini. Tapi neng janji, jangan lukai ibu ya. Kasian ibu, sekarang suami ibu sedang sakit. Jadi ibu harus kerja cari duit buat biaya pengobatan suami ibu" dia menjelaskan keadaan dirinya dengan mata yang mengembun.
"Baiklah, kenalkan nama saya Kanaya" ucap Kanaya memperkenalkan diri.
"Nama saya Atun, panggil saja bu Tun. Orang sekitar sini manggil saya begitu" jawabnya ramah.
"Mari lewat sini neng, kalau neng mau keluar dari rumah neraka ini" ucapnya dengan suara pelan kemudian menaruh jarinya pada bibirnya. Mengisyaratkan pada Kanaya untuk pelan-pelan. Mereka berjalan pelan-pelan sebab ada beberapa anak buah Rohana yang berjaga dihalaman depan dan belakang rumah.
"Neng, jalan menunduk dari sini sampai kesana. Setelah itu neng menuruni jalan setapak. Diujung belok kanan rumah saya, kalau belok kiri danau. Disana ada perkampungan kecil. Kalau neng mau ke kota bisa lewat sana. Kalau lebih cepatnya, neng lewat depan yang banyak penjaganya tadi. Kalau lewat danau itu jalan alternatif saja neng" bu Tun menjelaskan tentang arah jalan ke kota. Meski Kanaya tidak memberitahukan kemana tujuannya. Tapi bu Tun bisa menebak kemana tujuan perginya Kanaya.
"Aduh" Kanaya merasakan kontraksi pada perutnya. Mungkin kini dia tengah mengalami kram pada perutnya.
__ADS_1
"Neng kenapa? Udah mau lahiran?" tanya bu Tun. Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Paling cuma kram bu. Soalnya dari tadi Kanaya gerak terus" Kanaya menjelaskan perihal sakit pada perutnya.
"Owalah, istirahat dulu neng".
"Apa sebaiknya neng pergi ke rumah ibu dulu? Kalau neng mau ibu antar neng. Sebab ibu teh tidak tega sama kondisi neng sekarang" bu Tun mengusap belakang Kanaya. Beliau begitu perhatian terhadap Kanaya.
Kemudian terdengar suara tembakan dari depan. Membuat bu Tun langsung terkejut karena kaget.
"Eh, copot,copot sempaknya copot" ucap kaget bu Tun. Kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ayo neng, kita pergi neng. Sepertinya bakalan ada perang neng disini" bu Tun membantu Kanaya berdiri dan memapahnya untuk berjalan. Beliau takut jika ada yang menghadang mereka dengan pistol. Bu Tun takut, jika ketahuan menolong Kanaya keluar.
"Baru saja terlintas dalam pikiran" gumam bu Tun dalam hati. Wajah beliau sedikit berubah pasi.
"Ibu pergi dari sini, saya tidak mau ibu terluka" ujar Kanaya.
"Tidak neng ibu tidak tega meninggalkan neng sendirian" jawab bu Tun yang merasa kasian dengan kondisi Kanaya saat ini.
Bu Tun baru tau kalau Kanaya disekap oleh Rohana. Sebab, sebelumnya Rohana mengatakan kalau Kanaya adalah keponakannya yang akan melahirkan disini. Semua terbongkar ketika bu Tun mendengar percakapan Rohana dengan Fredy tadi malam. Niat jahat mereka diketahui oleh bu Tun. Rencananya bu Tun ingin membebaskan Kanaya, tapi tidak disangka Kanaya sudah keluar lebih dulu. Beliau tidak ingin menanyakan bagaimana Kanaya keluar? Cukup melihat Kanaya bisa bebas sendiri bu Tun sudah senang.
Dua orang anak buah Rohana datang untuk menangkap Kanaya. Namun Kanaya sudah bersiap akan memberikan perlawanan. Dia yakin, jika yang beradu tembak di depan adalah Adrian yang akan menyelamatkan dirinya. Kanaya tidak tau kalau yang akan menyelamatkan dirinya adalah oma Rachel.
"Sebaiknya anda jangan melawan, ini demi kebaikan anda sendiri" ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Benarkah? Bagaimana kalau aku memilih untuk melawan? Apakah kalian tidak malu melawan seorang wanita yang tengah hamil?" cibir Kanaya. Mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian saling mengangguk.
Ternyata mereka mencoba menangkap Kanaya dari kedua sisi. Kanaya melawan dengan sengit. Dia mengacungkan pisau lipat milik Davina dan mengarahkan kepada mereka. Mereka mencoba untuk memukul Kanaya, tapi Kanaya menghindar. Tak lupa, Kanaya menghadiahi beberapa tusukan. Hal ini membuat bu Tun menjerit-jerit takut. Saat Kanaya hampir saja kena tendang pada perutnya. Bu Tun berteriak histeris. Mengkhawatirkan tendangan tersebut mengenai perut besar Kanaya. Kanaya pun langsung menusukkan pisau ke kakinya kemudian menghujamkan pisau lipat tersebut ke leher pria yang mencoba untuk menendang Kanaya tadi. Darah segar langsung keluar dari lehernya. Bu Tun terdiam kaget sedangkan tangannya menunjuk ke arah pria yang telah ditusuk oleh Kanaya.
"Mati, dia mati" bu Tun pun langsung pingsan setelah mengatakan hal tersebut. Beliau terguncang melihat adegan pembunuhan didepan matanya.
"Bu, bu Tun" Kanaya mencoba membangunkan bu Tun. Dia tidak bisa membiarkan bu Tun tergeletak begitu saja disini. Disadarkan pun juga susah. Tak pikir panjang, Kanaya membiarkan bu Tun tetap pingsan. Namun posisinya kini berada dibawah pohon dekat tong. Kanaya membiarkan bu Tun disana, sebab itu jauh lebih aman tempatnya dari pada dilain.
Tak pikir panjang, Kanaya menjarahi pistol mereka berdua yang menyerang Kanaya tadi. Dia mengamati situasi sekitar. Kanaya mengacungkan pistol, hingga pas berada di tempat pertempuran. Kanaya melancarkan tembakan kepada musuh. Mereka langsung tepar, Kanaya perlahan maju untuk melihat siapa yang datang menolongnya. Kanaya mendapatkan tembakan bertubi-tubi. Namun dia sudah bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu disamping rumah.
"Sial".
"Awww. Nak, diam dulu ya jangan gerak kencang-kencang. Kita lagi olahraga nak".
"Kamu merasa terjepit ya, sama. Mama juga terjepit" usap Kanaya pada perutnya. Bayinya bergerak sangat aktif, seolah ikut merasakan debaran adrenalin Kanaya.
Kanaya kembali menembak lagi, namun sialnya peluru pada pistolnya habis. Ingin rasanya dia mengumpat kasar setelah melemparkan kedua pistol tadi. Namun, dia masih sadar dengan kandungannya. Tidak baik mencontohkan hal yang kurang baik pada bayinya. Kemudian dia tersadar kalau sudah melakukan hal berbahaya dari tadi. Apakah dia tidak salah membela diri? Meski harus membunuh. Kini terjadi pergolakan pada hati Kanaya. Haruskah dia tetap diam menunggu musuh menyerang dirinya? Ataukah melawan mereka meski harus membunuh musuhnya?
"Ah, bodo amat. Keselamatanmu yang utama sayang" Kanaya mengelus lembut perutnya. Bayinya pun bergerak seolah memberikan semangat berjuang untuk Kanaya. Diambilnya sebuah tongkat kayu yang berukuran kurang lebih delapan puluh senti sebagai senjatanya sekarang.
Secara perlahan Kanaya melangkah maju, mengitari tumpukan kotak kayu yang tersusun berjejer hingga ke arah bagian belakang. Kanaya bertemu dengan beberapa penjaga dirumah tersebut. Dengan gesit Kanaya memukul mereka dengan tongkat kayu yang dibawanya. Kanaya sampai lupa diri berkelahi dengan mereka. lima lawan satu, bagaimana Kanaya tidak fokus dan berusaha mengalahkan mereka semua. Pastinya Kanaya mengeluarkan energi ekstra untuk bisa bertahan. Ditopangnya tongkat kayu tersebut ke tanah. Setelah berkelahi dengan lima penjaga tadi. Kanaya berusaha mengambil nafas, karena nafasnya kini sudah tidak beraturan. Kelima pria tersebut terkapar tak berdaya setelah menerima serangan dari Kanaya yang menggila.
"Dor" suara tembakan melesat ke arah Kanaya.
"Mama" teriak Randy saat melihat sosok Kanaya.
__ADS_1