Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Aku Malu


__ADS_3

Sebuah jitakan diberikan oleh Darren dikepala Davina. Seketika yang mempunyai kepala langsung meringis sakit.


"Aduh" Davina memegangi kepalanya


"Apaan sih kak, sakit tahu".


"Sudah sakit hati, ditambah sakit dikepala juga" Davina merengut sebal kepada kakaknya yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Dasar bodoh".


"Kamu pikir aku ini gay hah".


"Kalau bicara itu di pikir dulu benar atau tidaknya, jangan asal nuduh" terang Darren dengan mata yang melotot.


"Aku tidak asal nuduh kok. Memang kenyataannya aku lihat kak Darren lagi ciuman dengan Sam" Davina tetap kekeh dengan apa yang dia lihat. Seolah tidak peduli dengan protes Darren.


"Tadi malam aku juga lihat Sam cium tangan kakak mesra banget, kalau nggak punya hubungan spesial mana mungkin dia bisa seperti itu. Selama dia selalu dingin ke aku, ternyata dia nggak normal".


"Pantas saja Sam dikejar sama aku, digombalin sama aku nggak ngerespon sedikitpun. Orang dia sukanya sama kakak" Davina berkata dengan kesal. Kini oma Rachel mengerti dengan perkataan dari Davina. Bahwasanya Davina tengah cemburu dengan cara pendekatan Sam terhadap Darren.


"Darren jelaskan semua kesalah pahaman ini" perintah oma Rachel kepada orang nomer satu di keluarga Marven yang terkenal dingin dan kejam bagaikan iblis. Tapi ketika bertemu dengan


Setelah mengenal satu sama lain, ternyata Darren tidak se wah perbincangan diluar sana. Dia ternyata memiliki hobi yang sama dengan oma Rachel. Yakni, suka membuat orang disekitarnya memompa jantung. Demi mempertahankan bisnis keluarganya, Darren bersedia meninggalkan cita-citanya untuk menjadi seorang aktor. Karena bakat akting yang dia miliki, Darren sangat begitu mudah membuat imej dirinya adalah seorang pemimpin yang berhati dingin. Bersikap tegas dan sinis agar membanggakan papinya.


"Kamu benar-benar mencintai Sam ya?" Darren langsung memberikan pertanyaan yang tentu saja sudah dia ketahui jawabannya. Davina hanya mengangguk untuk menjawab. Darren hanya ingin memastikan lebih jelas.


"Kamu itu sebenarnya salah paham. Tadi malam itu, Sam meminta izin kepadaku untuk menikahimu" ucapan dari Darren seperti letusan kembang api yang menghiasi langit malam yang gelap. Kini sebuah sinar bahagia terpancar dari wajah Davina setelah mendengar penuturan sang kakak..


"Sam mencium kedua tanganku ini karena saking senangnya mendapatkan restu dari aku" Darren memperlihatkan kedua tangannya yang dicium oleh Sam tadi malam. Menjelaskan perihal adegan Sam mencium tangannya.


"Paham" Davina mengangguk senang. Itu artinya Sam bisa dia miliki. Namun dia kembali terpikir tentang adegan ciuman tadi.


"Kalau masalah ciuman tadi" Davina memperlihatkan tampang polos tak berdosanya. Dia ingin lebih tahu detail tentang praduganya.


"Oh.... Itu" Darren tampak malu untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Sini" Darren meminta Davina mendekatinya. Kemudian Darren mendekatkan bibirnya ke telinga Davina. Dia membisikkan sesuatu yang membuat Davina seakan ingin mengeluarkan bola matanya.


"Siap-siap menerima serangannya" Darren menepuk bahu Davina. Sedangkan Davina, kini wajahnya bagaikan kepiting rebus. Memerah menahan malu karena ucapan Darren tadi.


"Sekarang cari Sam sana" Darren menyuruh Davina pergi.


"Tapi....".


"Aku malu" wajah marah Davina sebelumnya telah berubah dengan wajah tersipu malu.


Oma Rachel jadi penasaran dengan sinar wajah dari Davina yang langsung berubah malu. Sebenarnya apa yang dibisikkan oleh Darren tadi?


"Sana cari Sam. Biasanya juga agresif nyosor kayak bibirnya bebek" celetuk Darren mematahkan rasa malu Davina.


"Biasanya juga kamu malu-maluin, kayak punya malu saja" ucapan Darren tidak bisa dibantah oleh Davina lagi. Sebab, benar adanya.


"Kakak... Takut".


"Lha kenapa takut? Biasa aja kali, kayak belum pernah aja" ledek Darren. Namun Davina menganggukkan kepalanya.


"Aku mengandalkanmu kak Rachel" Darren mengedipkan sebelah matanya. Memang seharusnya Darren memanggil oma Rachel dengan sebutan kakak. Sebab, usia mereka lumayan selisih beberapa tahun. Darren dulunya juga memanggil Adam dengan sebutan kakak. Darren sudah mengenal lama dengan Adam. Meski statusnya masih koma, tapi mereka sering berkomunikasi tanpa sepengetahuan Devin.


"Tenang saja, pasti beres" Davina kini malah kembali dibuat bingung oleh kakaknya dan juga oma Rachel.


"Sekarang temui Sam sana. Tidak usah mikir, lagian juga kamu nggak punya otak buat mikir" ledek Darren kepada adik semata wayangnya. Hobinya memang membully adiknya tersebut.


Dengan wajah yang malu, Davina pergi keluar untuk menemui Sam. Tepat saat Davina keluar, Sam tengah menaiki mobil mewah milik keluarga Aston.


"Mau ikut?" ajak Sam ketika melihat kedatangan Davina. Tak lupa, Sam memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rata. Seperti saran Darren, selalu tebar senyuman kepada wanita yang disuka. Tips kedua sudah Sam jalankan. Tips pertama adalah selalu menyapa lebih dulu jika melihat sosoknya di depan mata.


"Kemana?" tanya Davina sok biasa, padahal. hatinya sungguh berbunga-bunga bertemu sang pangeran berkuda besinya. Apalagi mengingat apa yang baru saja dibisikkan oleh Darren tadi. Wajahnya bersemu merah.


"Apakah sekarang waktunya?".


"Aku belum siap" Davina bergumam dalam hatinya. Untuk pertama kalinya dia merasakan kegugupan bertemu dengan Sam. Sebelumnya dirinya bagaikan seekor belut yang selalu lincah bergerak kesana kemari.

__ADS_1


"Yuk, bos Adrian sudah nungguin nih" ajak Sam lagi, Davina pun mengangguk dengan binaran mata yang penuh dengan rasa bahagia dan malu.


"Memangnya kemana?" tanya Davina setelah masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman.


"Cuma disuruh mengawasi lokasi saja, kebetulan bos Adrian mau segera pergi dari lokasi. Katanya non Kanaya istri si bos minta ditemani jalan ke kebun binatang sama anak-anak. Mumpung belum lahiran jadi pengen jalan-jalan dulu" dengan ramah Sam menjawab pertanyaan dari Davina. Meski jauh dalam lubuk hatinya, Sam begitu gugup.


Sesampainya dilokasi, terlihat Adrian sudah bersiap untuk pergi menemui istrinya yang sudah lebih dulu pergi bersama anak-anak. Ditemani oleh Tora sebagai bodyguardnya Kanaya. Davina kini sudah tidak perlu lagi menjaga Raniya seintens dulu. Sebab, anak buah Darren selalu mengikuti mereka secara diam-diam kemanapun cucu-cucunya itu pergi. Sehingga rasa aman dirasakan semua pihak.


"Kita duduk disini yuk" pinta Sam ketika menemukan tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol berdua.


"Iya" kali ini Davina tampak begitu kalem di depan Sam.


Berkali-kali Sam merasa memikirkan tentang semua yang dikatakan oleh Darren itu benar adanya. Dia yang memulai segalanya dengan Davina hari ini, tampak begitu berbeda tidak seperti biasanya. Biasanya dia yang dikejar oleh Davina bak seorang buronan yang selalu diburu. Kini malah terbalik, Davina tampak begitu anggun ketika bersikap seperti sekarang. Ternyata, mengejar wanita itu tidak terlalu buruk. Ini bisa menunjukkan jika kita memang seorang pemimpin yang pantas untuk memiliki hatinya, seorang pejuang sejati dihidupnya kelak. Ada rasa gemas dihati Sam melihat senyum yang begitu malu-malu dari Davina.


"Aku ingin bicara sesuatu kepadamu" Sam ingin memulai pembicaraan dengan Davina.


"Iya, kamu mau bicara apa?" Davina malu-malu menjawab perkataan Sam. Dia teringat dengan bisikan Darren tadi. Tempat yang dipilih Sam bukan tempat yang romantis.


"Masa iya sih mau disini".


"Apa nggak ditempat yang lebih privasi gitu?" gumamnya dalam hati dan pikiran Davina sudah melanglang jauh entah kemana saja.


"Uuuuh" Sam menarik nafas kemudian menghembuskannya kasar. Sam kini diliputi rasa cemas dan gugup dalam hatinya.


"Davina, maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kamu".


"Deg" ucapan Sam seperti mengisyaratkan sesuatu yang buruk tentang akan dia ucapkan berikutnya.


"Ini masalah kita".


"Ma'af sebenarnya aku agak sedikit risih, kamu selalu kejar-kejar aku Vina".


"Aku ingin memintamu untuk tidak lagi bersikap agresif seperti itu, justru aku merasa malu" ucapan yang keluar dari mulut seperti sayatan sembilu yang mengiris setiap urat dalam hatinya.


"Jadi aku mohon sama kamu, berhenti mengejar dan bersikap kalau kamu menggilaiku" Sam menatap harap kepada Davina.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kita seperti ini".


__ADS_2