Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Mencekam


__ADS_3

Disaat malam hari sepulang bertemu dengan temannya di kafe, Niki terkejut melihat lampu rumah dalam keadaan gelap. Dia terkejut mendapati hal seperti ini, karena tidak pernah begini sebelumnya. Niki merasa panik ketika pintu rumah dalam keadaan sedikit terbuka, dia mencoba menghubungi nomer handphone mamanya, papanya, suaminya dan juga Adrian tidak ada yang aktif satupun.


Niki mencoba berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat gelap, hanya bermodalkan senter dari handphonenya Niki mencoba masuk. Namun betapa terkejutnya saat dia mendapati tubuh bi Imah berada di lantai ruang tengah. Niki yang melihat hal ini merasa syok. Lantai penuh dengan cairan berwarna merah, dengan melihat kondisi mayat bi Imah yang mengenaskan seperti itu Niki tidak bisa membayangkan bagaimana si pembunuh ini membantai bi Imah.


Niki benar-benar panik saat ini, dia memikirkan kondisi keluarganya. Memang sebelum kepergiannya semuanya berkumpul dirumah. Semenjak kejadian dari rumah Ades, sepertinya oma Rachel semakin dekat dengan Kanaya. Tidak hanya itu mereka sering banyak tertawa, karena Niki sedang membantu kerjaan suaminya dan juga Adrian jadi dia lebih sering berada di luar. Sehingga mereka bisa cepat berangkat ke kalimantan selatan untuk menemui keluarga Kanaya. Salah satu teman Niki ada yang berulang tahun, jadi mereka janjian bertemu di kafe. Namun naas, saat dia pulang sudah mendapati rumahnya seperti habis terjadi pembantaian.


Niki mencoba masuk ke dalam rumah secara perlahan, namun dia terkejut melihat mayat papanya tergeletak di atas meja. Badannya bersimbah darah dan sebuah pisau tertancap di atas dadanya. Niki tak mampu bersuara, hanya menangis dalam kegelapan. Dia tidak mungkin berteriak, takut kalau si pembunuh masih ada di dalam rumahnya dan sedang menunggu dirinya. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya untuk beberapa saat. Masih teringat jelas senyum manis diwajah papanya dan canda tawanya bersama sang mama. Namun kini nasibnya berubah seketika hanya dalam hitungan jam. Dia sudah kehilangan dua anggota dirumah ini, seketika Niki tidak ingin merenungi kesedihan saat ini. Dia harus mencari anggota yang lainnya, berharap mereka masih hidup. Ternyata tak jauh dari mayat papanya, di melihat sepotong tangan uang yang tergeletak di lantai. Seketika lututnya lemas terkulai. Dia kenal potongan tangan ini dan berjalan lagi ke arah depan Adrian terkapar dengan kondisi tengkurap.


Niki benar-benar syok dengan apa yang terjadi, rasanya dia seperti mati rasa dan tak bisa membendung perasaannya. Kehidupannya seakan telah hilang, tak tahu harus seperti apalagi dia kedepannya. Orang tuanya telah meninggal, putra sulungnya juga sudah tiada. Dia harus segera mencari pertolongan dan bantuan. Niki seketika menekan nomer panggilan ke Andre.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan suara decitan seperti benda tajam menggesek ke lantai. Sontak membuatnya terkejut, panggilan ke Andre masih belum terangkat. Niki mulai merasa kecemasan, tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Dia harus berpikir, dia harus bisa menyelamatkan diri untuk membalas semua musibah ini. Diambilnya sebuah pisau yang berlumuran darah tak jauh dari tubuh Adrian. Niki bergegas bersembunyi dibelakang lemari yang ada disamping menuju ke dapur. Dia harus bisa masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil senjata yang dia simpan dibalik lemarinya. Selain itu juga, didalam kamarnya ada pintu rahasia yang bisa membawanya keluar dari rumah ini. Sebisa mungkin Niki menghindari dari arah suara decitan yang membuat bulu kuduk merinding. Secara perlahan dia hampir sampai menuju kamarnya. Namun tiba-tiba sebuah pedang hampir mengenai lehernya.


Dia terkejut dan berjalan mundur ke belakang, dia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk dari Andre, Niki pun langsung mengangkatnya.


"Ma, maafin Andre. Tadi Andre lagi sedang rapat. Tumben mama nelpon, ada apa ma? " tanya suara dari seberang sana.

__ADS_1


"Andre, tolong mama" suara Niki bergetar.


"Ada apa ma? Kenapa minta tolong sama Andre yang jauh sih. Kan ada kak Adrian? " tanya Andre yang masih belum tau tentang Adrian.


"Adrian... Adrian... Sudah meninggal" kata Niki yang masih melangkah mundur menghindari seseorang yang memakai topeng dan berpakaian serba hitam yang masih mengulurkan pedang ke arah depan. Seakan-akan ingin bermain dengan Niki, dia sengaja menggesekkan pedangnya kelantai.


"Ma... mama... Suara apa itu ma" teriak Andre yang terdengar cemas.


Pedang itu mencoba menghujam ke arah Niki, dia pun langsung menghindar. Terdengar bunyi dari pedang tersebut yang menimbulkan bunyi mencengkam. Niki langsung menendang ketika ada kesempatan dan berlari. Andre masih berteriak dengan cemas karena mendengar suara ketakutan dari mamanya. Niki langsung masuk kedalam kamar mamanya dan segera menutup pintu. Dia tidak sengaja melepaskan handphonenya ketika membuka pintu tadi. Tidak mungkin dia kembali hanya ingin mengambil handphonenya yang tertinggal,sama saja dengan menyerahkan hidupnya ke psikopat itu. Dia ingat dikamar mamanya ada pistol papanya, dia mencoba mencari di dalam lemari namun Niki terkejut Kanaya sedang bersembunyi di dalam sana.


"Mama, aku takut. Adrian... " kata Kanaya kemudian menangis dalan pelukan Niki.


Keduanya kini saling menguatkan satu sama lain sekarang. Niki harus berjuang menyelematkan menantu dan cucunya. Itulah prioritas utamanya sekarang.


"Siapa yang melakukan hal ini Kanaya? " tanya Niki yang sedang mencari dimana papanya menyimpan pistol miliknya.

__ADS_1


"Tidak tau ma, di datang langsung menyerang bi Imah, opa kemudian Adrian. Kanaya juga tidak tau dimana oma? " kata Kanaya menjelaskan.


"Papa dimana Kanaya?" tanya Niki penuh harap.


"Kanaya tidak tahu ma" jawabnya singkat.


"Mama sedang apa? " tanya Kanaya yang bingung dengan Niki yang sibuk menggeledah kamar oma Rachel.


"Bantu aku cari pistol, papa suka mengoleksi pistol-pistol. Tapi aku tidak tau dimana dia menyembunyikannya" kata Niki.


"Cepat bantu mama mencari pistolnya" Niki menyuruh Kanaya untuk membantunya, dengan sigap Kanaya membantu untuk menemukan pistolnya.


Pintu digedor begitu kencang hingga membuat mereka berdua terkejut. Keduanya terdiam tak bergerak, gedoran pintu semakin kuat seakan pintu akan segera terbuka. Niki menyuruh Kanaya untuk mendekat ke arahnya.


"Tenang, mama akan melindungimu" kata Niki dengan mantap.

__ADS_1


Pintu digedor semakin kuat dan kencang. Sehingga dalam sekejap pintupun terbuka dengan lebar. Disana berdirilah sosok berpakaian serba hitam yang masih memegang sebuah pedang yang masih berlumuran darah.


__ADS_2