Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Proses Pendekatan


__ADS_3

"Sekarang benar-benar sudah sukses Alfian" kata opa Adam memuji.


"Itu juga karena papa, semua ilmu yang aku dapat dari papa membuat aku bisa berhasil" jawabnya membuat haru semuanya.


"Kenapa kamu nggak pernah kasih kabar ke kami nak?" kata oma Rachel.


"Saya tidak ingin membuat masalah bagi keluarga mama yang sudah banyak berjasa dalam hidup aku. Lagian itu juga demi kebaikan Kanaya ma" perkataan Alfian membuat bingung oma Rachel, opa Adam, Angga, Niki, dan juga Adrian. Hal ini membuat Adrian semakin penasaran dengan masa lalu Ayu yang pergi dan mengganti panggilannya menjadi Kanaya.


"Kanaya mengalami trauma pasca kejadian itu ma. Dia jadi tidak mau didekati sama siapapun. Dokter menyarankan untuk mengganti identitasnya dan suasana lingkungan yang baru. Oleh sebab itu kami memutuskan merantau ke kalimantan, karena ibuku memang tinggal disini" Alfian menjelaskan perihal kepergiannya tanpa kabar.


"Kami memulai semuanya dari awal disini setelah Kanaya mendaptkan hipnoterapi, namanya Kanaya bukan Ayu. Agar dia melupakan sosok yang mengalami kejadian mengerikan waktu itu" kata Alfian bergetar antara sedih, marah dan benci menjadi satu. Adrian penasaran dan bermaksud ingin bertanya namun Niki memberikan kode untuk jangan.


"Memang sialan iblis itu, sampai sekarang pun belum menunjukkan batang hidungnya. Bahkan putrinya meninggal tiga belas tahun lalu juga dia tidak ada" opa Adam berkata dengan kesal.


"Siapa?" hanya itu yang ada dalam pikiran Adrian sekarang. Siapakah yang mereka maksud yang telah membuat istrinya menderita waktu kecil. Dia pasti akan memberi perhitungan juga kepada dia yang telah menyakiti wanitanya.


"Benarkah? Si brengsek itu punya anak perempuan. Tapi kenapa dia seperti itu. Memang bajingan" umpat Alfian kasar. Mira mengelus lembut punggung suaminya dan berkata "sabar".


"Iya, papa juga tau dari kolega


papa. Dari isu yang papa dengar anaknya meninggal karena diputusin sama pacarnya dan mencoba gugurin kandungannya dan akhirnya meninggal karena mengalami pendarahan" opa Adam yang terlihat cuek namun sebenarnya suka meneliti dan menilisik sesuatu yang bisa digunakan sebagai kartu AS nya. Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang masalah ini namun opa Adam bisa mendapatkan informasi penting ini, namun untuk pria yang menghamilinya tidak ada yang tahu identitasnya.


"Kok mama nggak tau ya pa, biasanya orang suruhan mama pasti akan mengabarkan tentang ini. Tapi... " kata oma Rachel terhenti.


"Orang suruhan mama sudah dihabisi mereka, jadi yang melaporkan ke mama adalah orang suruhan mereka" kata opa Adam serius. Mendengar hal ini oma Rachel terkejut, pantes saja orang suruhannya dulu sempat hilang selama sebulan kemudian memberi kabar tidak mendapatkan informasi apapun dan berhenti bekerja untuknya. Adrian semakin tertarik dengan permasalahan kedua keluarga ini. Siapa sebenarnya musuh mereka selama ini? Dia benar-benar harus melindungi istrinya yang tengah hamil anaknya tersebut agar tidak bisa disakiti siapun lagi.


"Licik.... " kata Niki.


"Selama ini keadaan Kanaua baik-baik saja kan? " tanya Niki.


"Alhamdulillah baik mba, sejak saat itu. Kanaya dimasukkan ke grup pencak silat agar bisa untuk membela dirinya. Selain itu juga mas Alfian sengaja mendatangkan pelatih taekwondo untuk mengajarinya".


"Nggak cuma itu dia juga berlatih kick boxing" kata Mira.


"Nenek...... " teriak anak kecil masuk ke dalam rumah. Revan si bungsu, kemudian diikuti oleh Raniya dan juga Randy. Mereka berdua bingung melihat ada banyak tamu di rumah, mungkin teman-teman kakeknya.


"Ulun (saya dalam bahasa Indonesia)masuk ke dalam dulu" kata Randy kemudian menyalami semua tamu yang duduk. Semuanya terpesona karena selain wajahnya tampan dia juga anaknya sopan, membuat Adrian langsung ingin mengakrabkan diri dengan putra sambungnya itu.

__ADS_1


"Nama kamu siapa? " tanya Adrian.


"Randy om" jawabnya tegas. Terlihat sekali kalau dia begitu dewasa, persis dengan dirinya waktu kecil dulu. Sebagai anak pertama harus selalu bisa mandiri dan tangguh.


"Jangan panggil om dong, panggil papa" kata Adrian tersenyum yang membuat si anak tersebut bingung. Kenapa harus memanggil si om ini papa? Kemudian dia ingat kalau mamanya nikah lagi.


"Suami baru mama ya, ganteng juga. Nggak kalah sama papa" katanya dengan polos tanpa dosa membuat Adrian merasa malu.


"Abang.... Nggak boleh gitu" kaya Mira sang nenek.


"Mama datang nek? " tanya Raniya.


"Iya" jawab Mira tersenyum.


"Mamanya dimana? " tanya Randy.


"Lagi jengukin Seline".


"Dasar pawang buaya" gerutu Randy sang anak membuat Adrian bingung dengan kata-kata nya. Seline? Siapa Seline?.


"Oh ya om, kalau om mau Randy panggil papa. Om harus lawan aku dulu, setuju? " tanya Randy menantang Adrian. Anak laki-laki yang meranjak remaja berani berkata seperti itu membuat Adrian tertantang untuk mengenalnya lebih dekat lagi.


"Om bisa tinju, kita adu tinju. Gimana?" katanya dengan senyuman tengil persis yang biasa Radit lakukan ketika menjahilinya.


"Nggak anak, nggak ayah sama tengilnya. Ok, masa iya kalah sama kamu. Ayahmu saja dulu mana pernah bisa ngalahin aku" aku Adrian penuh bangga membuat Randy tertegun.


"Om kenal papa? " tanyanya lagi.


"Dia teman kecil papamu" Niki yang menjawab pertanyaan buat Adrian tersebut.


"Kalau teman papa kenapa nikahin istrinya? " tanyanya lagi.


"Mana aku tahu kalau dia istrinya Radit. Sesudah nikah baru mamamu cerita kalau dia istrinya Radit dan Radit sudah meninggal" kata Adrian.


"Kalau sebelumnya tau istri temannya om, apa om tetap akan nikah sama mama? " tanyanya lagi penuh selidik. Semua yang ada disana terpana dengan kecerdasan anak Kanaya ini dalam berkata.


"Tentu tidak dong, pastinya menjaga perasaan teman dong. Lagian nanti dikira ngambil kesempatan. Aku bukan laki-laki seperti itu" kata Adrian kemudian mendapatkan jempol dari Randy.

__ADS_1


"Gentleman" satu kata itu membuat Adrian merasa dia begitu dihargai oleh anak sambungnya ini.


"Nggak jadi deh duel tinjunya, beliin hp baru aja gimana?" Randy mencoba untuk membujuk Adrian.


"Randy" panggil Alfian kakeknya.


"Namanya juga usaha kek,siapa tahu dikasih hengpong new hehehe" kata Randy cekikikan. Dibalik sikapnya yang terlihat dingin ternyata dia suka bercanda juga. Tapi tetap saja licik seperti Radit.


"Nanti papa belikan, asal panggilnya papa bukan om" kata Adrian mengambil kesempatan.


"Ok papa ganteng" jawabnya.


"Aku juga mau dong, dibeliin sama papa baru" kata Raniya yang tidak mau kalah sama abangnya.


"Raniya jangan gitu dong, nggak boleh. Memang mau apa Raniya, nanti nenek beliin?" Mira membujuk sang cucu agar tidak mulai terbiasa meminta ke Adrian.


"Tidak apa-apa kok ma" jawab Adrian.


"Abang aja boleh, masa aku nggak boleh. Nggak minta yang aneh kok. Cuma minta adek perempuan" kata Raniya membuat Adrian mukanya merah menahan malu. Raniya terlihat begitu polos ketika mengatakan keinginannya tersebut membuat yang mendengar pun tertawa.


"Tenang saja, mama kamu lagi hamil. Semoga aja nanti adeknya nanti perempuan" kata Niki.


"Beneran tante, serius kan" kata Raniya kegirangan.


"Serius dong, jangan panggil tante dong. Kemudaan, oma aja ya. Biar nggak sama panggilannya sama nenek kalian" kata niki membuat Raniya bingung dang menatap ke arah neneknya.


"Itu mamanya papa Adrian, jadi manggilnya nenek atau oma sama aja" Mira mencoba menjelaskan ke cucu perempuan nya.


"Owh, ok deh oma gaul" kedipnya sebelah mata. Tingkahnya persis Niki waktu kecil dulu seumuran dia. Sedangkan si bungsu masih asik duduk diasuhan Alfian.


"Itu mama" teriak Revan.


"Mama, kangen" Revan berlari ke arah Kanaya dan memeluknya.


"Mama juga kangen sama kalian semua" kata Kanaya.


"Ma, kita beneran bakal punya adik kan? ".

__ADS_1


"Aku mau nya adik perempuan, biar nggak nyebelin kaya Revan" kata Raniya sedikit cemberut.


"Kakak tuh yang suka marahin aku ma. Padahal aku kan nggak salah, awas kamu kalau marah-marah lagi. Aku dorong ke kolam Seline nanti" ucapnya yang merasa menang menakuti kakaknya. Raniya hanya mencibir menjulurkan lidahnya. Randy terlihat begitu akrab ngobrol bersama Adrian.


__ADS_2