Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Salah Sangka


__ADS_3

"Pagi Davina" Sam langsung menyapa Davina dengan senyum yang mengembang ketika mereka berdua saling berhadapan.


"Pagi" jawab Davina datar. Dia terkejut dengan perubahan Sam yang terlihat lebih bahagia dan raut wajahnya juga lebih cerah. Tak ada muka yang sedang ditekuk lagi seperti biasanya.


Pikiran buruk kini traveling dalam otak Davina ketika melihat kejadian tadi malam. Dia masih tidak menyangka jika pria yang sungguh menjerat hatinya ini adalah kaum para pelangi. Sakit rasanya hati Davina jika mengingat orang yang disuka oleh Sam bukan dirinya melainkan kakaknya Darren.


"Mau kemana?" Sam mencoba berbasa-basi, meski tadi Davina menjawabnya dengan nada datar, tidak seperti biasanya yang begitu histeris dan penuh rayuan serta gombalan.


"Aku mau jalan" jawabnya singkat. Kini Sam dibuat bingung oleh Davina. Dalam sekejap sikapnya berubah menjadi dingin. Sam jadi berpikir jangan-jangan ini rencana Darren, agar Sam lebih serius untuk mengejar Davina. Sam menyunggingkan sebuah senyum, langsung mendapat respon illfeel dari Davina.


"Aneh. Senyum sendiri nggak jelas" Davina meninggalkan Sam yang tengah berdiri dan senyum-senyum seperti orang stress.


"Tumben banget tuh bocah nyapa, ada misi apa ya?" Davina mencoba berpikir untuk menerka tentang diri Sam serta kehidupannya.


"Tapi kenapa dia tersenyum pas aku bilang mau pergi jalan-jalan" Davina tampak berpikir begitu sangat keras.


"Oh my god. Jangan-jangan" Davina langsung membayangkan sesuatu yang sangat-sangat cabul. Dia membayangkan jika Sam tengah bercumbu dengan kakaknya itu.


Kini yang menjadi pertanyaan Davina untuk dirinya sendiri. Apakah dia bisa menerima kakaknya berubah menjadi tidak normal? Kenapa harus Sam pasangan barunya?


"Aaarrrggghhhhh" Davina mengacak rambutnya karena frustasi.


Dia masih belum mempercayai jika kakaknya memiliki hubungan dengan Sam. Hati kecilnya yakin jika Sam menyukai dirinya. Sapaan serta perhatian Sam tadi sebenarnya membuat getaran dalam hatinya. Namun sekilas kejadian yang dia lihat tadi malam sungguh mengiris hatinya.


Davina bergegas pulang kembali ke kediaman Aston. Dia ingin menyatakan secara langsung, dia yang akan melamar Sam lebih dulu. Dia harus memastikan tentang keyakinan hatinya dan juga pemikiran logikanya yang saling berbeda pendapat. Dia harus tahu siapa sebenarnya yang disuka oleh Sam. Dirinya atau Darren?


Setibanya, dia tidak melihat Sam ditempat biasa dia sedang duduk. Dia pun ke belakang tempat dia melihat kakaknya bersama dengan Sam. Namun kini matanya begitu sangat berdosa melihat pemandangan yang benar-benar telah membuat kakinya melemah. Dia melihat Sam sedang mencium kakaknya Darren. Davina tak sanggup lagi menahan air matanya. Kini hatinya benar-benar hancur untuk menerima kenyataan Sam ternyata penyuka sesama jenis.


*Sebenarnya*


"Bang Darren" sapa Sam mendatangi Darren. Darren sempat terkejut mendengar Sam memanggilnya dengan sebutan yang terdengar akrab.

__ADS_1


"Ada apa? Tumben banget nyapa" Darren berpura-pura sok cool.


"Kok Davina berubah ya?" Sam kini dalam mode curhat kepada calon abang iparnya. Semenjak dapat sinyal positif dari Darren kini sudah tidak ada rasa takut ataupun canggung lagi bagi Sam.


"Maksudnya berubah apa?".


"Berubah jadi kunti!".


"Hush, abang ini seperti mau nyumpahin dia mati saja" Sam terdengar frustasi.


"Lha kamu bilang dia berubah, ya aku bingung dong. Berubah seperti apa maksudnya?" Darren tetap bingung dengan maksud Sam.


"Davina kok berubah jadi dingin begitu disapa sama saya bang".


"Kalau gitu ya siram air panas saja biar nggak dingin lagi" Sam kini benar-benar frustasi mendengar jawaban Darren. Sifat Darren persis dengan almarhum Adam. Bosnya dahulu, yakni suami oma Rachel.


"Yang ada bukan dingin bang, melepuh iya kulitnya Davina. Pasti nanti kena amuk darinya saya bang" Sam merasa jika bicara dengan Darren bukannya menyelesaikan masalah. Tapi malah bikin pusing kepala dan bisa buat emosi.


Darren memegang kedua bahunya Sam dan menatapnya begitu fokus. Seolah dia tengah mentransfer kekuatannya.


"Look at me now" Sam manggut dan menurut dengan ucapan Darren.


"Kamu harus lihat matanya dalam-dalam. Rasakan cintamu itu. Fokuskan untuk menunjukkan kepadanya".


"Berikan tatapan penuh gairah dan hasrat. Ungkapkan lewat sorot matamu, jika kamu menginginkan dirinya".


"Setelah kamu rasa sudah cukup, langsung serang dia dengan ciuman dadakan" Darren berposisi mendekatkan wajahnya dengan Sam. Mencontohkan caranya agar Sam mudah mengerti. Meraih tangan Sam untuk memegangi kepalanya.


"Hal ini, biar dia menganggap kamu tidak ingin melepaskan dirinya. Setelah itu baru nikmatilah" Darren berucap dengan nada yang sungguh terdengar begitu absurb.


Naasnya, tanpa mereka berdua sadari. Davina memergoki perbuatan mereka berdua seperti sedang melakukan perbuatan mesum. Memang kalau dilihat dari belakang posisi Sam terlihat punggungnya tengah mencumbu Darren. Apalagi tangan Sam memegangi kepala Darren. Sebaliknya dengan Darren, dia memegangi kedua lengan Sam. Sungguh momen yang begitu romantis.

__ADS_1


"Davina kenapa kamu menangis?" oma Rachel terkejut melihat Davina berlari kecil tengah menyapu air matanya.


"Oma...... " untuk pertama kalinya Davina memanggil oma Rachel dengan sebutan oma. Biasanya hanya menggunakan nama atau kadang pakai kata tante untuk memanggil oma Rachel.


Davina berlari menuju oma Rachel dan berhambur ke dalam pelukannya. Oma Rachel yang baru saja datang dari dapur sedikit terkejut melihat Davina bersedih.


"Ada apa?"


"Sam... Huaaaaaaaa" Davina menjerit dan menangis. Oma Rachel membiarkan dia menumpahkan perasaannya terlebih dahulu. Darren kemudian masuk dan bingung melihat adiknya tengah menangis dalam pelukan oma Rachel.


"Kenapa?" tunjuk Darren ke arah Davina dengan mulut berkomat tanpa suara. Oma Rachel hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


Saat Davina melepaskan pelukannya dari oma Rachel, oma Rachel menyuruh Darren untuk pergi. Alih-alih pergi, Darren malah bersembunyi karena ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh adiknya tersebut tentang tangisnya tadi.


"Katakan ada apa?" bujuk oma Rachel.


"Sam, Sam ternyata menyukai kak Darren".


Deg, jantung Darren terkejut mendengar ucapan Davina. Apa dia salah dengar? Darren mengusap telinganya yang tidak gatal. Sedangkan oma Rachel jauh lebih bingung lagi mendengarkan perkataan dari Davina. Setahu dirinya, dari cerita Darren tadi malam. Darren meminta oma Rachel untuk mengizinkan Sam menikah denganDavina. Sebab, Sam sudah meminta izin kepadanya untuk menikahi Davina. Darren sudah membuat rencana lamaran untuk Davina yang akan dibantu oleh oma Rachel juga. Jadi sekarang oma Rachel tentu saja bingung.


"Maksudnya apa Davina?" oma Rachel mengerutkan dahinya.


"Sam ternyata penyuka sesama jenis oma. Aku melihat mereka berdua tadi sedang berciuman" Davina kembali histeris menangis.


Oma Rachel kembali bingung dengan penuturan Davina. Sedangkan Darren yang sedang menguping pun bingung, kapan dia berciuman dengan Sam. Namun sesaat dia ingat dengan adegan dia mengajari Sam tentang serangan ciuman. Jangan-jangan Davina melihat hal tersebut dan mengira dia sedang berciuman dengan Sam. Darren pun kemudian tertawa terbahak-bahak hingga terdengar oleh Davina dan oma Rachel.


"Kak Darren" wajah Davina memucat, dia takut jika Darren mendengar apa yang baru saja dia katakan tadi.


"Kamu itu lucu Davina" Darren tetap saja terus tertawa. Wajah Davina kemudian memerah, fix Darren mendengar curhatan dia tadi.


"Kak, aku rela kok kakak sama Sam. Jika itu bisa membuat kakak bahagia" untuk menghilangkan rasa malu terpaksa Davina berucap seperti itu. Davina mengusap air matanya. Tapi Darren malah terus saja tertawa, hingga tawa dari Darren menular kepada oma Rachel. Kini Davina yang malah bingung ditertawakan oleh mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Davina heran.


__ADS_2