
"Siapa kamu?".
Pria tersebut hanya tersenyum kecut kepadanya. Kemudian berjalan ke arah Kanaya. Dua orang lainnya mengacungkan pistol kepada mereka.
"Aku Viktor" ucapnya santai. Rambut mohawk dan tindikan telinga yang banyak. Kanaya yakin, jika dia adalah pria yang dimaksud oleh suaminya tadi siang. Dialah yang mengejar mobil yang membawa Kanaya tadi.
"Untuk apa kamu melakukan hal seperti ini hingga membunuh mamaku?" dengan berani Kanaya berdiri dan melangkah mendekati pria yang bernama Viktor tadi.
"Aku memang tidak ada urusan denganmu, melainkan berurusan dengan suamimu. Kalian akan aku jadikan sandera, sebab kalian lah kelemahan Adrian" dengan santainya Viktor menjawab pertanyaan dari Kanaya.
Mendengar penuturan Viktor yang menurutnya sangat begitu memalukan membuat dirinya begitu sangat marah. Dengan berani dia menatap mata Viktor. Tatapan mata Kanaya, seakan menyiratkan bahwa dia akan membunuhnya.
"Aku sangat menyukai perempuan pemberani seperti dirimu. Bagaimana jika kamu bersama diriku saja? Aku akan menerima anakmu itu dengan senang hati" kemudian dia menyeringai genit. Seolah mengejek Kanaya.
"Jangan berharap, meski hanya dalam mimpi" Kanaya langsung menodongkan pistol ke kepala Viktor. Namun kedua anak buah Viktor langsung menodong pistol mereka ke arah Kanaya.
"Kamu tidak akan mungkin bisa lolos dari semua ini sayang".
"Tembaklah jika kamu suka. Sebab aku sudah tertembak jatuh hati padamu" rayunya dengan senyuman nakal dan menjijikkan.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Kanaya langsung menyergap pria yang bernama Viktor tersebut di lengannya. Kanaya pun mengedipkan sebelah matanya, kemudian menembaki dua orang yang berada dibelakang Viktor tadi. Setelahnya dia menodongkan pistol tersebut ke pelipis Viktor.
"Wow, mengagumkan. Aku sangat menyukai wanita seperti dirimu" Viktor melakukan perlawanan hingga terlepas dari kungkungan lengan Kanaya.
Vanya tak bisa berbuat apa-apa selain menggendong anak Kanaya. Dia sungguh heran dengan Kanaya yang bisa bergerak segesit itu. Jika orang lain diberitahukan oleh Vanya kalau Kanaya baru saja melahirkan seorang putri yang cantik. Orang tersebut pasti tidak akan percaya. Kejadian yang ada didepan matanya ini seperti hal yang sangat mustahil.
Viktor menendang pistol yang dipegang oleh Kanaya hingga terlepas daei tangannya. Itu artinya Kanaya harus menghadapinya dengan tangan kosong. Vanya ingin menggantikan posisi Kanaya untuk bertarung dengan Viktor. Tapi sepertinya sulit karena dia tengah menggendong seorang bayi. Kini pertarungan sengit tengah terjadi diantara mereka berdua.
Vanya sangat kagum dengan keahlian Kanaya dalam berkelahi. Dia sungguh tidak percaya jika Kanaya benar-benar sehebat ini. Sungguh tidak tampak sekali jika Kanaya adalah wanita yang hebat dan jago berkelahi. Musuhnya berkali-kali memuji kehebatan bertarung Kanaya dan merasa tertantang untuk mengalahkan Kanaya.
"Kamu memang wanita yang luar biasa. Tidak selemah yang aku pikirkan".
Beberapa kali Kanaya mendapat pukulan dan tendangan pada perutnya yang membuat Vanya meringis pilu. Tapi Kanaya malah tidak bergeming. Tendangan demi tendangan Kanaya berikan pada tubuh Viktor. Vanya tidak bisa membayangkan rasa sakitnya pada organ intim karena melakukan tendangan. Pukulan demi pukulan yang telak pada wajah Viktor membuat tubuh Viktor terhunyung. Sebuah pukulan telak pada pelipis Viktor langsung membuat Viktor jatuh tersungkur.
"Kamu berurusan dengan orang yang salah. Kalian telah mengambil nyawa mamaku. Sebaliknya pun juga begitu" Kanaya berdiri diatas tubuh Viktor. Tepatnya dibagian dadanya. Sebelah kakinya menempel pada leher Viktor. Untuk kaki lainnya berada di dada Viktor.
"Bagaimana menurutmu?".
"Bukankah menemui kematian itu sangat menyenangkan?" leher Viktor tercekat. Terdengar suara rintihan. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa? Aku tidak dengar" Kanaya meletakkan sebelah tangannya pada telinga seolah dia tengah mengalami gangguan pendengaran secara tiba-tiba. Justru kakinya semakin dalam menekan lehernya.
"Apa? Kurang kerasa aku menekan lehermu" mata Viktor terbelalak karena mengalami kehabisan nafas. Tubuhnya pun mengalami kejang-kejang, hal itu semakin membuat Kanaya menekan tulang leher Viktor hingga terdengar sesuatu yang berbunyi remuk. Itulah jadi akhir hidup Viktor.
Kanaya kemudian meluruh duduk ke lantai. Sebab, dia sudah melakukan hal ini diluar kendalinya. Perasaan sedih kehilangan dan marah bercampur menjadi satu. Sehingga membuat dia melakukan kebrutalan ini. Kanaya pun menangis karena tak kuasa untuk menerima kejadian memilukan ini.
Disaat dia tengah berbahagia menerima kehadiran anggota baru dalam keluarganya. Tapi dia harus kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat begitu berarti dalam hidupnya. Dia kini telah kehilangan sosok lembut yang selalu memanjakannya sejak kecil. Wanita yang hebat dan wanita yang sangat luar biasa berada di dalam hidupnya selama ini. Kanaya merasa bangga telah menjadi putrinya.
Kanaya teringat momen sebelum dia melahirkan dan sesudah melahirkan tadi. Mamanya begitu tenang mendampinginya. Menciuminya, menguatkan dirinya. Selain itu, Kanaya teringat ketika mamanya menyuruh dia untuk cairan yang ada di dalam botol yanh diberikan oleh Adrian tadi.
"Mungkinkah sakit di dadamu tadi adalah firasat tentang kematianmu ma?" Kanaya memukul dadanya berkali-kali. Sebab tidak menyadari bahwa itu adalah pertanda dia akan kehilangan mamanya.
Vanya berusaha sekuat tenaga mendorong kursi roda yang ditempati oleh mayat Mira untuk menghampiri Kanaya. Vanya sungguh sangat mengerti ketika kehilangan seseorang yang begitu sangat berarti dalam hidup. Tubuh yang sudah tergolek lemas itu kini ada dihadapan Kanaya.
"Mama" Kanaya menangis bersimpuh di kaki mamanya. Sungguh dia tidak sanggup untuk menghadapi rasa kehilangan ini.
Kemudian terdengar langkah beberapa orang tengah berlari ke arah mereka. Namun, Kanaya tampak tidak bergeming. Kanaya tetap bersimpuh pada kaki mamanya dan tidak pernah berniat untuk meninggalkannya. Meksi Vanya sudah mengajak Kanaya untuk segera pergi dan lari. Kanaya tetap fokus memeluk kaki Mira mamanya. Ketika pintu terbuka oma Rachel dan Hendry lah yang datang.
"Tante" ucap Vanya bernada sedih.
__ADS_1
Hendry yang melihat putrinya yang tengah menangis bersimpuh pada kaki istrinya begitu terkejut. Namun ketika dia melihat wajah pucat istrinya, serta darah yang ada pada dada kiri Mira. Hendry baru sadar jika dia telah kehilangan belahan jiwanya. Lelaki bertubuh kekar itu pun langsung luruh ke lantai. Kakinya terasa lemah seperti tidak bertulang. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tapi air mata yang menyiratkan kesedihan pria paruh baya tersebut. Oma rachel pun juga larut dalam kesedihan atas kepergian Mira. Jiwa oma Rachel begitu terpukul karena kehilangan dua orang anggota keluarganya. Kesedihan karena kehilangan suaminya, belum benar-benar sembuh. Kini dia harus kehilangan Mira yang selama ini sudah dianggap oma Rachel anaknya. Dia kini kehilangan sosok yang begitu ramah dan lembut tersebut.