Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
part 5


__ADS_3

Tomy Kurniawan, lelaki berusia dua puluh empat tahun yang sedang merintis sebuah bisnis. Dia tidak mau menerima tawaran Papa untuk mengelola cabang kafe ke lima. Sebab ingin mencari usaha dari nol. Meski Ayahnya pun pernah ikut andil dalam kesuksesan kafe milik Papa. Tetap saja Kak Tomy enggan. Dia memilih untuk tetap pada usahanya.


Meski begitu, Papa tidak memaksa Kak Tomy yang sudah dia anggap seperti anak sendiri. Apapun keputusannya tetap Papa dukung, pintu selalu terbuka jika Kak Tomy membutuhkan bantuan.


"Kak, kalau boleh tahu sekarang sibuk apa?" tanyaku saat mobil berhenti di tengah-tengah kemacetan.


Pemandangan yang tidak akan pernah hilang dari ibukota.


"Eum ... Apa ya?" Wajahnya seolah sedang berpikir.


"Kakak juga bingung mau usaha apa," jawabnya santai sambil tersenyum.


Dahiku mengernyit, kalau memang belum memiliki usaha, lalu kenapa menolak tawaran Papa waktu itu. Ingin aku bertanya, tapi hati tak sampai. Aku yakin ada alasan lain selain yang sebenarnya Kak Tomy sembunyikan.


"Yakin belum tahu? Jadi selama ini kemana?"


Kak Tomy tersenyum dan menatapku lekat. Tatapan yang aku sendiri tidak paham apa artinya.


"Kakak kerjanya Freelance, sayang. Kelihatannya aja nyantai. Kakak nggak mau terikat soalnya."


"Iya apa yang Kakak kerjakan?" Aku terus bertanya. Penasaran sebenarnya Kak Tomy ini sibuk apa.


Baru akan menjawab, bunyi klakson mobil mulai saling menyahut. Perlahan mobil melaju, menerobos kemacetan yang menyesakkan dada.


Dibalik senyumnya ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku yakin Kak Tomy tidak akan mau berbagi cerita denganku. Sangat berbeda. Jika dulu selalu terbuka kali ini tertutup. Bukan hanya soal kerjaan saja, soal hubungan pun tidak pernah dia jawab dengan serius.


Teringat percakapan saat pertama kali bertemu waktu itu.


"Kakak kemana aja sih, aku kangen tau."


"Ada aja, banyak hal yang harus Kakak selesaikan."


"Oh gitu, terus sekarang udah punya pacar atau sudah menikah?"


Kak Tomy terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan dan kembali mengemudi.


"Jomblo, Mey. Masih bingung nyari yang pas."


Ada rasa nyeri bercampur lega di dalam sini. Nyeri karena di bilang belum ada yang pas. Padahal dia pernah mengucapkan janji padaku. Lega karena tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun. Itu berarti aku bebas dekat dengannya.


Lalu hari ini kembali kutemukan keanehan darinya. Lebih banyak diam daripada saat tadi sebelum berangkat. Entah apa yang sedang dia pikirkan, seolah begitu banyak beban yang menumpuk di pundaknya.


"Kita mau kemana?" tanyaku memecah keheningan.


"Ah, ya kamu maunya kemana?"

__ADS_1


Aku mengangkat kedua bahu, sebagai tanda tidak tahu. Kak Tomy kembali terdiam. Menatap lurus ke depan tanpa lagu berkata.


Sebenarnya ada apa dengannya. Apakah pertanyaanku telah menyinggung hatinya?


Ah, kurasa tidak. Itu pertanyaan masih wajar bukan?


Mobil berhenti di sebuah rumah makan cukup terkenal di ibu kota.


"Makan dulu ya."


Aku mengangguk, kebetulan perut memang terasa lapar. Bangun kesiangan dan lupa sarapan karena telah ditunggu Kak Tomy.


"Pesan apa?" tanyanya saat sudah sampai di dalam.


Aku membaca buku menu. Makanan di sini benar-benar membuat perut semakin lapar. Terlebih aku pernah mendengar jika makanan di sini sangat enak.


"Nasi goreng, sop iga, kepiting asam manis," ucapku santai.


Kak Tomy menatapku heran. "Nggak salah?"


"Enggak, kenapa emang?"


"Banyak juga makannya."


Aku tertawa, diikuti Kak Tomy yang juga tertawa. Derai tawanya terhenti saat dering ponsel terdengar. Kak Tomy hanya memandang sekilas layar benda pipih itu, tanpa berniat untuk mengangkatnya.


"Nggak penting." Wajahnya terlihat sedikit kesal.


"Kenapa, Kak? Siapa tahu penting, tuh dia nelpon lagi."


Kak Tomy malah mematikan ponselnya. Lalu tersenyum ke arahku dan mengacak puncak kepala.


"Karena yang terpenting itu kamu."


Ada debaran aneh di dalam sini. Mendengar ucapannya membuatku merasa menjadi berarti. Meski nantinya bukan aku yang akan menjadi pendiam hidupnya. Mungkin.


"Kenapa ngeliatin gitu?" tanyanya saat sadar sedang aku perhatikan.


"Kakak ganteng."


"Emang pernah kakak jelek?"


Aku tertawa. Sejak kecil memang Kak Tomy sudah terlihat tampan.


"Iya jelek kalau lagi ingusan."

__ADS_1


Kami tertawa, Kak Tomy mengacak rambutku lagi. Kebiasaan yang selalu dia lalu sejak kecil. Lalu menatapku lekat, seolah lewat tatapan mata itu mengatakan aku cantik, atau aku manis, atau bisa juga kamu menggemaskan. Mungkin saja.


Obrolan kami sesaat terdiam, ketika pelayan datang menyiapkan makanan pesanan kami. Meja menjadi penuh karena menu yang kami pesan begitu banyak. Akibat tidak sarapan, menu yang tersedia menjadi menggiurkan.


***


Usai mengisi perut, Kak Tomy mengajakku pergi ke taman. Tempat dimana kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tempat dimana kami berpisah selama bertahun-tahun dan tempat kami di pertemukan kembali.


"Kamu suka?" tanya Kak Tomy saat mengulurkan boneka sapi dengan bentuk hati yang di pegang tangan sapi itu.


Aku tersenyum, baru saja kemarin dia membelikanku boneka karena tidak berhenti menangis. Kini dia membelikan lagi untukku.


"Ini hadiah permintaan maaf Kakak karena meninggalkanmu tanpa kabar."


Rupanya Kak Tomy masih ingat tentang hal itu.


"Lalu kenapa nggak kasih kabar?"


Dia menghela napas, lalu duduk di sebelahku. menatap lurus ke depan, seakan sedang menerawang tentang semua yang telah terjadi.


"Banyak hal yang nggak bisa Kakak ceritakan sekarang."


Kak Tomy meneguk kaleng soda. "Suatu hari nanti kamu akan tahu semua jawabannya. Sekarang yang perlu kamu tahu, Kakak kembali untukmu."


Ya, memang harusnya seperti itu. Tidak perlu bertanya alasan masa lalu, yang terpenting adalah saat ini aku bisa di pertemukan kembali.


"Ibu ... apa kabar?" Aku mengalihkan pertanyaan. Tahu jika wajah itu berubah sendu karena pertanyaan yang seharusnya tidak aku lontarkan.


Pertanyaan tentang alasan tidak memberi kabar, mengingatkannya pada kecelakaan yang pernah menimpanya.


"Ibu, dia baik. Oh, iya Kakak lupa ngenalin kamu sama Dinda."


Aku mengernyit. Siapa Dinda? Tunangannya kah?


"Dinda itu adikku."


"Oh, kirain tunangan Kakak."


Dia menoleh, menyunggingkan senyum lalu mencubit hidungku.


"Takut banget sih, kalau Kakak udah punya pacar."


"Bukannya takut, tapi aku nggak enak aja."


Suasana kembali hening. Dengan pemikiran masing-masing. Aku dengan pemikiran takut kalau menjadi perusak hubungan dia dengan wanita lain, sedangkan Kak Tomy ... entahlah apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


"Besok ikut Kakak pulang kampung mau?"


To be continue ...


__ADS_2