
"Sepertinya kita akan mengulang cerita dimasa lalu" jawabnya diulas sebuah senyuman.
Fery berjalan menghampiri Tony yang berdiri sudah siap untuk diserang atau pun menyerang.
"Maksud kamu apa?" Tony mencoba selidiki dari perkataan Fery. Mungkinkah dia mata-mata yang dikirim oleh musuh.
"Kamu terlihat begitu berantakan sekali. Ckckck".
"Selalu saja ceroboh dan merasa tak terkalahkan, ingat musuhmu akan selalu berusaha menumbangkan dirimu".
"Apa kamu masih punya tenaga untuk melawan mereka?" tanya Fery namun mendapat tatapan tajam oleh Tony.
"Apa memang aku ditakdirkan untuk selalu menolong mu? Hah, padahal aku ke sini untuk melihat istri cantikku bertarung" ucap Fery kemudian menendang seorang pria bertubuh besar yang akan memukulnya. Mereka menyerang Fery dan Tony, dengan senjata yang mereka miliki. Sedangkan Fery hanya menggunakan tangan kosongnya untuk menghajar mereka.
"Gerakanmu lamban sekali kakek tua" seringai Fery mengejek Tony yang tergopoh-gopoh melawan musuh yang menyerangnya. Namun apa yang diucapkan oleh Fery mengingatkan dia dengan perkataan seseorang yang selalu mengejeknya dalam berkelahi, Axel.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tony setelah memukul pria bertato jangkar di tangannya.
"Kamu sudah melupakan penyelamat mu ini. Come on bro, kamu lupa denganku yang bersusah payah menggendongmu untuk keluar dari pelabuhan waktu itu" Tony mengerutkan keningnya tampak bingung, darimana Fery tahu tentang kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu. Apakah Mely menceritakannya? Sepertinya tidak, karena itu sama saja membongkar Identitasnya. Sedangkan dia selalu menutupi tentang kehidupan dirinya didunia hitam.
"Maksudnya?" Tony masih bingung. Memang konyol, mereka masih bisa mengobrol walau masih berkelahi.
"Awas" teriak Fery lalu melemparkan pisau ke arah pria yang akan memukul Tony dengan tongkat kasti. Lemparan Fery tepat mengenai matanya. Tony hanya terperangah dan mengangkat kedua bahunya meminta penjelasan kepada Fery.
"Sorry bro" ucap Fery sambil melambaikan tangannya. Hanya dalam sekejap saja mereka berdua menghabisi para berandal itu. Lebih tepatnya Fery telah membantu Tony mengalahkan mereka semua. Sekali lagi Fery berhasil menyelamatkan hidup Tony, ini untuk kedua kalinya setelah peristiwa di pelabuhan. Mereka pun duduk bersandar pada sebuah pohon besar untuk beristirahat karena lelah dalam pertarungan tadi. Fery menawari sekotak rokok didepan Tony. Tony pun segera mengambil satu batang rokok itu kemudian dia menyesapnya.
"Darimana kamu tahu tentang peristiwa di pelabuhan itu?" tanya Tony penasaran dan memburu sebuah jawaban.
"Oh iya, aku lupa. Kamu waktu setengah sadar jadi tidak ingat wajah rupawan penyelamatmu ini" Fery memberikan candaan kepada Tony yang terlihat masih begitu dingin. Masih tetap sama seperti dulu, ketika pertama kali bertemu saat dia ingin bergabung dalam organisasi "Blackhunter".
__ADS_1
"Katakan sejujurnya" Tony terlihat begitu lelah dan terkadang meringis kesakitan pada lengan kirinya.
"Sini aku lihat tanganmu, terkilir atau patah" Fery mencoba mencek lengan kiri Tony, memang sedikit tergeser. Namun sepertinya ada cidera tulang juga. Fery mencoba untuk membenarkan posisi lengan kiri Tony tergeser.
"Kraaakk" lengan Tony berbunyi begitu sangat merdu, membuat Tony berteriak kesakitan dan juga terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Fery. Tapi setelah nya, dia merasa sedikit nyaman. Rasa sakit tadi, seperti tulangnya baru saja dipatahkan.
"Aku adalah teman satu sel Axel waktu di penjara" Fery menjelaskan tentang dirinya yang bisa mengenal Tony. Tony terkejut saat mendengar penuturan Fery yang begitu mengejutkan.
"Aku membantu Axel malam itu saat dia tahu kalau kamu diserang musuh di pelabuhan. Wawan yang menghubungi Axel saat itu, dia juga terluka parah. Namun tetap bertahan untuk melindungi dirimu yang sudah tidak sadarkan diri karena mengeluarkan banyak darah" Fery menceritakan peristiwa di pelabuhan waktu itu, peristiwa yang tidak mungkin pernah akan dia lupakan.
"Aku tidak menyangka, jika Axel yang akan pergi malam itu. Ku pikir dia selamat, karena seingatku kami membawamu dengan keadaan aman dan selamat. Setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi sesudah mendapat sebuah hantaman keras di kepala bagian belakang. Saat sadar, diriku sudah berada di rumah sakit" cerita Fery dengan nada sedih dan mata yang berkaca-kaca. Seakan dia sangat menyesal tentang peristiwa yang telah merenggut Axel. Tapi, bukankah Fredy yang menolongnya?
"Apa kamu mengenal Fredy?" tanya Tony ke arah Fery. Dia hanya mengelengkan kepalanya sebagai tanda jawaban atas pertanyaan Tony.
"Dia orang yang mengaku menolongku malam itu" Tony membuang nafasnya dengan kasar dan berat. Fery terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Tony.
"Kemarin mereka mengambil identitas istriku" Tony terkejut dengan ucapan Fery, artinya Fery tau kalau Mely adalah "Blackrose". Terlihat beribu pertanyaan di mata Tony saat mereka berdua saling tatap.
"Ya aku sudah tau rahasia istriku, aku baru saja tau. Dan aku sangat bahagia ketika mengetahuinya".
"Aku mengkhawatirkan dirinya setelah peristiwa di Kalimantan. Jadi aku sengaja, menyimpan aplikasi tracker untuk mengetahui keberadaan istriku" Tony tersenyum dan tertawa karena dia tidak menyangka jika Fery sangat begitu terbuka dengan rahasia Mely. Mungkin karena dirinya juga bukan orang biasa seperti yang terlihat.
"Aku tidak ingin kehilangan dirinya. Dia adalah hidupku dia yang mengubah jalan hidupku untuk berjalan lurus. Seandainya saja handphone Mely tidak tertinggal di mobil yang kamu kendarai ini. Mungkin dirimu kini hanya tinggal sebuah nama" kata Fery menatap serius kepada Tony.
"Apa kamu benar-benar begitu menyayangi Mely?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Tony seperti sebuah pembahasan yang konyol baginya. Sudah terlihat jelas kalau Mely sangat dicintai olehnya.
"Dia satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hatiku setelah Blackrose" katanya diiringi senyum seperti malu. Dia mengingat momen dimana dia selalu begitu antusias mendengarkan Axel menceritakan sosok Blackrose. Dia sangat penasaran dengan sosok wanita cantik yang tangguh itu, hanya mendengar tentang dirinya Fery merasa terpesona dan ingin sekali mendekatinya. Walaupun dia tidak tau seperti apa rupa wanita yang dipanggil dengan nama Blackrose tersebut.
"Bukankah mereka orang yang sama?" tanya Tony yang masih tidak mengerti dengan maksudnya. Fery hanya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tidak, mereka tidak sama. Mereka berbeda".
"Aku menyukai Blackrose karena sosoknya yang tangguh, tapi aku mencintai Mely karena sikapnya yang anggun dan lembut. Meski terkadang sedikit tegas, tapi aku menyukainya" ujar Fery. Masih terpaku dalam ingatannya, momen dimana pertama kali dia bertemu dengan Mely. Peristiwa itu merupakan berkah terbesar dalam hidupnya.
***
"Aku ikut" ucap Mely meraih tangan Adrian yang mengepal karena emosi.
"Sebaiknya kamu tunggu disini biar ini menjadi urusanku".
"Mario, ikut aku. Siapkan mobil dan beberapa anak buah lainnya" perintah Adrian kepada Mario. Mely hanya menatap kepergian mereka dengan penuh pengharapan.
"Tolong kamu jelaskan tentang profil Fredy ini" tatap Mely kepada Miko begitu tajam untuk meminta penjelasan. Dia tidak ingin gegabah, kalau ini semua hanya tak tik musuh untuk mengadu domba mereka semua.
"Orang ini yang menusuk om ku. Om Axel".
"Dia yang memukul kepala teman om Axel kemudian membuangnya ke laut. Aku tidak bisa menyelamatkan om Axel jadi aku mencoba untuk selamatkan temannya untuk menebus kesalahanku" Miko meneteskan air mata mengingat peristiwa tersebut. Peristiwa dimana keluarga satu-satunya yang dia miliki telah pergi meninggalkan dirinya. Mely bernafas berat seakan tidak percaya dengan cerita ini. Tapi kalau dilihat, sepintas dia memang mirip dengan Axel.
Mereka sudah kebobolan selama bertahun-tahun, tidak disangka orang yang dianggap sebagai penyelamat ternyata merupakan manusia berhati iblis. Fredy rupanya orang yang selalu mengamati pergerakan mereka dan dalam setiap keputusan yang mereka ambil.
"Apa kamu kenal dengan pria yang menyelamatkan Tony?" tanya Mely yang penasaran dengan sosok yang sebenarnya menolong Tony malam itu. Seandainya waktu itu dia tidak lembur untuk mengerjakan tugas dari Adrian. Mungkin dia yang akan datang untuk membantu Tony.
"Saya tidak tahu namanya, yang saya tau dia adalah teman om Axel".
"Tapi saya masih ingat dengan wajahnya, dia seorang pria yang tampan. Saya yang merawat dia sampai sembuh. Selama ini dia yang membantu biaya kuliah saya" jelas Miko yang membuat Mely curiga. Bagaimana mungkin dia tidak tahu namanya? Tapi secara jelas dia yang merawatnya dan pria itu yang membiayai kuliahnya.
"Aku tau kamu berbohong, siapa namanya?" bentak Mely dengan sorot mata yang tajam ke arah Miko. Untuk pertama kalinya dia bertatap mata langsung dengan seorang "Balckrose" yang sangat dikagumi oleh Fery.
"Om Fery" ucapnya gugup. Dia tahu sekarang dia akan terlibat masalah karena Fery sudah mewanti-wanti dia untuk tidak memberitahukan siapapun tentangnya yang mengetahui peristiwa di pelabuhan malam itu. Dia ingin menyelidiki sendiri siapa pembunuh Axel? Namun Miko tak kuasa menahan diri ketika melihat wajah pembunuh omnya yang terpampang jelas di depan matanya. Mely terkejut dengan pengakuan Miko, sebuah nama yang sangat dia kenal. Namun berharap itu bukan nama suaminya, hanya namanya saja yang sama.
__ADS_1