Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Bercerita


__ADS_3

Setelah selesai dengan kegiatannya di rumah, Kanaya bersiap untuk pergi menemui Ades. Mereka sudah janjian untuk bertemu, menghabiskan waktu hari ini mengobrol panjang mungkin. Kanaya melihat oma Rachel sedang mengobrol dengan temannya yang ditemui di tempat spa tempo hari. Rohana, ada perasaan yang tidak suka di hati Kanaya. Dia sepertinya bukanlah orang yang baik. Entahlah, Kanaya rasanya tidak punya waktu untuk menyelidikinya. Kini ada yang harus dia urus, semoga tebakan dan keyakinannya benar.


Sesuai janji, Adrian akan mengantar Kanaya pergi. Sesampainya disana, Ades sudah menunggu kedatangan kakak tersayangnya di depan pintu. Dengan senyum yang mengembang, terlihat dia begitu sangat bahagia. Kini badan Ades jauh lebih berisi dari sebelumnya. Pipinya sekarang jauh lebih chubby. Tapi ketika dia melihat penampakan Adrian, senyumnya sedikit hilang. Sekarang senyumnya malah terlihat seperti dipaksakan. Mungkin masih ada rasa trauma atau takut menyelimuti dirinya.


"Hai Adesku, apa kabar sayang?".


"Duh, bumil tambah sehat saja nih" goda Kanaya sambil menarik pipi Ades yang chubby kini telah berubah jadi tembem.


"Dio sudah berangkat kerja Des?" tanya Adrian membuka pembicaraan dengannya, agar Ades tidak merasa canggung dengan kehadiran Adrian. Terlihat Ades masih sedikit ada rasa segan.


"Sudah tadi, tapi katanya mau pulang lagi. Flashdisknya ketinggalan" Ades berbicara kepada Adrian tapi matanya tidak berani menatapnya.


"Oh kalau begitu biar aku yang bawakan, kasian juga kan dia harus bolak balik" Adrian berkata dengan santai dan duduk di bangku teras.


"Saya ambil dulu ke dalam" Ades pun langsung masuk ke dalam rumah dan mengambil flashdisk milik suaminya itu yang tergeletak di atas meja tempat dia biasanya menyelesaikan pekerjaannya. Terdengar suara deru mesin mobil milik Dio. Ades tersenyum bahagia suaminya pulang. Memang semenjak hamil, dia lebih cerewet dan juga manja. Tapi Dio menyukainya, meski lelah seharian bekerja. Dia selalu memberikan waktu untuk Ades menceritakan segala kegiatan yang dilakukannya seharian.


Ades pun keluar untuk menemui suaminya, namun dia melihat suaminya sedang berbicara dengan Adrian. Dia terlihat santai dan tampak begitu sangat menghormati Adrian. Memang, Adrian adalah bosnya. Tapi hal yang berbeda dari Adrian, dia tampak menikmati perbincangannya dengan Dio. Membicarakan apakah Dio suka bekerja di perusahaannya? Apakah ada kesulitan? Bagaimana kondisi perusahaan saat dia dan Mely tidak ada?


"Sayang ini flashdisk nya" Ades mengulurkan tangannya dan memberikan kepada suaminya Dio.


"Terimakasih sayang" Dio tersenyum dan mengecup tangan Ades yang memberikan flashdisk tadi.


"Pagi-pagi sudah bermesraan" celetuk Adrian membuat Ades tersipu malu.


"Kamu langsung ke kantor kan setelah ini?".


"Iya bang".


"Soalnya nanti mau rapat sama bu Mely" jawab Dio.


"Baguslah, kupikir mau melanjutkan bermesraannya di kamar dulu" dengan santai Adrian berbicara kemudian melangkah menghampiri Kanaya. Tanpa aba-aba Adrian langsung mengecup mesra bibir Kanaya yang sudah dipoles dengan lipstik berwarna nude.


"Aku pun bisa bermesraan di depan kalian" ucap Adrian seolah menunjukkan dia merasa panas dengan perhatian Dio kepada Ades. Aneh bukan sikap Adrian, orang yang bahagia dia yang kepanasan.

__ADS_1


"Kamu itu apaan sih, kayak orang jealous saja. Jangan bilang kamu..... "


"Apaan? Cuma kesal saja, dikira Dio aku tidak pernah bersikap manis sama kamu".


"Hei, Dio. Jangan tunjukkan kemesraan kalian di depanku" tunjuknya kepada Dio membuat Dio langsung melepas pegangan tangannya dengan Ades.


"Kalau begitu saya mau ke kantor dulu".


"Kak Kanaya permisi" angguknya.


"Dio tunggu sebentar" ucap Kanaya menghentikan langkah Dio.


"Ada apa kak?" Dio heran dengan perkataan Kanaya.


"Ini ada rambut di bajumu" Kanaya mengambil sehelai rambut Dio yang menempel di bahu kanannya.


Dio nampak bingung dengan Kanaya, begitu perhatian seakan dia adalah suaminya. Dio melihat ke arah Adrian, matanya seperti ingin melompat keluar dan menerkamnya. Sedangkan Ades wajahnya terlihat cemberut menatap ke arahnya.


"Ya sudah hati-hati di jalan ya".


"Apa-apain sih kamu perhatian sama Dio?".


"Suamimu itu aku bukan dia. Apa kamu jatuh cinta sama dia ya?".


"Kasian Ades dia lagi hamil, masa iya kamu milih dia daripada aku. Pakai acara ngucapin terimakasih pula" kini Adrian dalam mode on merajuk dengan sikap Kanaya tadi.


Kanaya malah tertawa dengan keras dengan sikap Adrian sekarang. Dia terlihat begitu menggemaskan dimata Kanaya. Ades malah kebingungan dengan mereka berdua.


"Aku ngucapin terimakasih ke Dio karena udah bikin kamu kepanasan. Makanya, mesra dikit sama istri kaya Dio".


"Kamu pengen diperlakukan sepertiitu? Apa nggak malu? Kan lebay" ucap Adrian dengan wajah masih sedikit cemberut.


"Sudah sana pergi, ganggu acara bumil saja".

__ADS_1


"Cari duit yang banyak, cetak laba yang gede. Biar nggak kalah nanti gede sama ini" tunjuk Kanaya ke perutnya yang masih tidak terlihat besar seperti Ades.


"Kamu kan banyak duitnya, Miss CEO" Adrian mengecup kening Kanaya dan berjalan pergi menuju mobilnya. Kanaya menatap kepergian Adrian hingga tak terlihat lagi.


"Kak, memangnya dia nggak galak sama kakak. Kakak nggak ditindas sana dia kan?" tanya Ades yang penasaran. Dia sedikit terkejut dengan sikap Adrian yang begitu manis. Padahal Dio lebih romantis lagi. Ades tidak tahu, kalau sebenarnya Adrian yang sering bermanja kepada Kanaya. Bukan Kanaya yang bermanja dengan dia. Tidak seperti dirinya yang selalu bermanja ria kepada Dio.


"Ades, aku ingin cerita sesuatu sama kamu"


"Mertuamu kemana, kok tidak kelihatan?" tanya Kanaya sedari tadi mencari keberadaan ibu Dio.


"Tadi, diajakin sama bu Tuti ke rumah sakit jengukin pa RT yang baru selesai operasi usus buntu kak".


"Kakak mau cerita apa? Cerita sama aku" mata Ades begitu berbinar seperti tidak sabar dengan apa yang akan diceritakan oleh Kanaya.


"Aku mau minta pendapatmu".


"Seandainya suamimu memiliki anak dengan wanita lain di luar nikah. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kanaya begitu serius.


"Aku akan tanyain ke dia. Kenapa dia nggak bilang dari awal tentang anaknya?".


"Bagaimana kalau suamimu tidak tau tentang anak itu?" Kanaya kini memasang wajah lebih serius.


"Maksudnya".


"Kakak jangan bilang.... " mata Ades bergerak seolah mengisyaratkan ini tentang Adrian. Kanaya pun mengangguk.


"Aku bimbang Des?".


"Awalnya aku mencoba untuk bersikap tegar. tapi sepertinya tidak bisa" Kanaya menghela nafas. Ades mengusap pundak Kanaya untuk menguatkan.


"Jika Adrian memilih kakak, artinya dia benar-benar sayang sama kakak. Seumpama Adrian memang memiliki anak dari perempuan lain, maka jangan biarkan dia untuk lepas tanggungjawab kepada anaknya" Ades mencoba memberikan saran yang dia harap bisa menguatkan kakaknya tercinta itu.


Ades tidak ingin Kanaya rapuh, meski dia terlihat sangat kuat. Namun, wanita hamil rentan untuk mengalami stress. Sesama wanita Ades sangat paham dan mengerti dengan hal ini. Dia tidak menyangka jika Kanaya akan mendapatkan masalah seperti ini setelah menikah.

__ADS_1


"Dasar memang bajingan, bisanya menghamili saja. Tidak mau bertanggung jawab" umpat Ades dalam hati merasa geram.


"Apakah kamu akan melakukan hal yang sama jika kamu mengalami hal seperti ini?" tanya Kanaya yang membuat Ades sedikit bingung untuk menjawabnya. Jujur saja, akan sulit untuk menerima. Namun Ades mengangguk, bahwa iya akan melakukan hal yang seperti diucapkan tadi. Semata hanya untuk menghibur Kanaya. Sebenarnya, Ades merasa dunianya akan runtuh jika dia mengalaminya.


__ADS_2