
Hendry mengunjungi Gerald, dia ingin melihat kondisinya. Setelah Adrian bercerita tentang pertemuan Kanaya dengan Gerald. Sebenarnya Hendry begitu malas untuk menemuinya, dia takut akan khilaf menyiksa Gerald. Namun setelah melihat kondisi Gerald yang sungguh berantakan dan mengkhawatirkan. Ada rasa iba di hati Hendry.
"Panggilkan Vanya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang dikakinya" pinta Hendry kepada Adrian.
"Aku bukanlah malaikat yang tidak memiliki rasa marah, tapi aku juga bukan tuhan yang pantas untuk menghakimimu. Aku hanya manusia biasa yang bisa memiliki rasa marah dan juga sedih".
"Namun satu hal yang pasti, kematian istriku memang sudahlah takdirnya. Memang sudah waktunya untuk bertemu yang maha kuasa. Hanya saja, jalannya melalui cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya" Hendry menarik nafas dan menghelanya kasar.
"Aku mengampunimu bukan berarti aku memaafkanmu. Kamu tetap harus membayar semua perbuatan yang telah kamu lakukan" ucap Hendry dengan tatapan lelahnya tapi menyorot tajam ke arah Gerald.
"Saya akan melakukan apa saja untuk anda pak. Saya mohon lepaskan saya" rengek Gerald
"Tidak semudah itu saya akan melepaskan dirimu. Kamu perlu menyehatkan tubuhmu dulu. Akan ku pastikan kau dirawat dengan baik hingga sembuh" Gerald memberikan senyum yang merekah karena merasa senang dengan perkataan Hendry tersebut. Dia yakin kalau Hendry akan melepaskannya.
"Pa, apa papa yakin ingin melepasnya?" Adrian merasa heran dengan keputusan bapa mertuanya tersebut.
"Tentu, bapa yakin. Berdamai itu lebih baik daripada mendendam. Bapa tidak ingin menghitamkan hati" Adrian begitu salut dengan penuturan sang mertua yang sangat bijaksana. Bisa melepaskan semua rasa amarah dengan mudah.
"Semoga saja saya bisa mengikuti jejak pema'afmu pa" gumam Adrian dalam hati dengan rasa kagum.
*****
"Pa, kondisi Gerald sekarang sudah pulih. Apa papa akan melepaskan dia hari ini?" Hendry yang tengah meminum kopinya langsung tersedak mendengar perkataan menantunya yang rada somplak.
"Kamu bicara apa Adrian? Kapan bapa berbicara akan melepaskan si cecunguk berandal itu?" Adrian menyipitkan matanya menatap ke arah Hendry.
"Bukannya waktu bapa bilang kalau bapa tidak ingin menghitamkan hati bapa. Bapa kan sudah mema'afkan Gerald" Adrian begitu polosnya berbicara kepada Hendry. Kanaya yang mendengar hal tersebut langsung memicingkan matanya ke arah Hendry.
"Benar begitu pa?" selidik Kanaya yang terlihat begitu mengerikan. Bulu kuduk Hendry merinding melihat tatapan sinis Kanaya persis mamanya ketika sedang dalam mode betina siap menerkam.
"Tidak seperti itu sayang. Bapa hanya mema'afkan tapi tidak melepaskan dia kok".
__ADS_1
"Cari aman dulu daripada diamuknya" seru Hendry dalam hati.
"Lha waktu itu kan bapa bilang.... " sebuah roti terlempar tepat mengenai wajah Adrian. Mata Hendry mengedip-ngedip mengarah kepada Kanaya.
"Papa kenapa? Matanya kelilipan ya".
"Sayang, ambilin obat tetes mata buat bapa dong" Adrian menyuruh Kanaya untuk pergi mengambil obat tetes mata tersebut.
Hendry hanya bisa melotot ke menantunya yang nggak ada akhlak pengertian sama mertuanya. Adrian melihat Hendry yang terus saja menatapnya tajam. Adrian pun bingung dengan sikap mertuanya itu. Apakah dia telah berbuat salah? Butuh waktu sekitar lima menit baru Adrian menyadarinya. Dia pun langsung menutup mulutnya, kemudian menunjuk ke arah Kanaya yang telah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih menikmati pagi di ruang meja makan.
"Jangan bikin singa betina ngamuk pagi-pagi" ungkap Hendry.
"Kamu ini bodoh apa kelewat pintar sih" celetuk Hendry pada menantunya yang sudah membuat mood paginya ambyar.
"Waktu itu kan bapa sendiri yang bilang, kalau bapa sudah mengampuni Gerald" Adrian masih ngotot dengan pendapatnya.
"Mengampuni bukan berarti melepaskan. Bapa sudah punya rencana sendiri untuk memberikannya pelajaran" Adrian melongo mendengar perkataan sang mertua.
"Maksudnya?" tanyanya heran.
"Saya itu sudah merasa salut dan bangga dengan kebijaksanaan bapa yang mengampuni Gerald. Serta menerima kematian mama Mira sebagai sebuah takdir" ucap Adrian bernada penuh rasa takjub.
"Kematian itu bukannya takdir. Siapapun pasti akan mati kan. Jadi buat apa harus menyalahkan takdir. Memangnya kalau Gerald mati Mira bakal hidup lagi" Adrian langsung menggeleng seperti anak kecil.
"Terus maksud bapa apa waktu itu?" Adrian heran dengan kata-kata mertuanya itu. Dia bukan ahli tafsir yang bisa menerka-nerka.
"Bapa itu punya rencana khusus untuk menghukumnya".
"Itu artinya bapa berniat untuk balas dendam" Adrian meluruskan arti dari niatan sang mertua.
"Bukan balas dendam, lebih tepatnya mengerjai" Hendry tidak mau kalah argumen dengan Adrian.
__ADS_1
"Sama saja pa" Adrian pun tetap ngotot dengan pemikirannya.
"Terserah kamu saja, asal kamu bahagia" Adrian terkejut mendengar perkataan gokil dari mertuanya.
Setelah perdebatan selesai diantara mereka berdua yang berakhir mengalahnya Hendry. Mereka berdua pun pergi bersama untuk menemui Gerald yang masih berada di tempat penyanderaan.
"Bagaimana kabarmu hari ini Gerald?" sapa Hendry ketika melihat Gerald tengah beristirahat di sebuah dipan kecil.
"Seperti inilah, lebih baik dari pertemuan terakhir kita sebelumnya"
"Saya sudah tidak sabar untuk keluar dari tempat ini" Gerald tersenyum senang.
"Bagus, semakin cepat kamu sembuh. Semakin cepat kamu akan bekerja" Adrian dan Gerald pun langsung tercengang mendengar perkataan dari Hendry tersebut.
"Maksudnya apa pa?" Gerald mencoba untuk memberanikan diri menanyakan hal tersebut.
"Kamu akan kerja pada saya sebagai hukuman atas kesalahan yang kamu lakukan" Hendry bersuara dengan jelas dan mantap. Gerald dibuat syok dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bukankah bapak sudah mema'afkan saya?" rasa bahagia yang sempat menyelimuti hatinya, kini harus menelan pahit kekecewaan.
"Mema'afkan bukan berarti kamu akan terlepas dari hukuman atas kesalahan yang kamu lakukan". Gerald kini terlihat murung.
"Bersiaplah, besok kamu akan aku titipkan kepada seseorang yang aku suruh untuk mengawasimu. Jika kamu berulah, siap-siap tinggal nama saja dirimu" ancam Hendry membuat Gerald merinding.
Tak ada tanggapan ataupun respon dari Gerald tentang ancaman dari Hendry tersebut. Gerald merasa hidup ataupun mati tidak ada gunanya juga sekarang. Pastinya dia tetap harus mati sebagai menebus kematian istrinya Hendry. Sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk hidup dengan damai. Pastinya, dia tetap akan menjalani hidup yang tersiksa.
Selepas kepergian Hendry, Gerald merenung tentang kehidupannya. Seandainya dia tidak gegabah dan memercikkan api perang kepada Adrian. Mungkin sekarang dia masih hidup dengan nyaman. Sebisa mungkin dia akan berusaha membangkitkan kembali perusahaannya yang hampir bangkrut. Namun, kini semua angan hanya tinggal angan belaka. Semua yang terjadi adalah kesalahan dirinya yang tidak mampu mengendalikan egonya.
"Ma'afkan Gerald pi. Putramu ini gagal untuk membanggakan dirimu" Gerald menyapu air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Gerald memecahkan cermin kecil yang ada di ruang perawatannya. Dia mengambil serpihan pecahan cermin tersebut. Dengan tangan bergetar, hati yang ragu dan juga takut. Gerald mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, lagi-lagi egonya yang tak ingin disiksa secara perlahan oleh Hendry. Memantapkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya. Serpihan dari pecahan cermin yang runcing serta tajam ditusukkannya langsung ke lehernya. Hingga darah segar pun mengalir dengan deras. Rasa perih dan juga sakit dirasakan oleh Gerald. Hingga dia benar-benar tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Akhirnya, dia pun menyerahkan nyawanya sendiri tanpa andil Hendry atau Adrian untuk mengakhiri hidupnya. Rasa ketakutan yang berlebihan, membuatnya tidak mampu melihat kehidupannya dimasa depan. Gerald memilih untuk mati, daripada harus menjadi jongos Hendry ataupun Adrian.
__ADS_1