Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Cinta Pertama


__ADS_3

Setelah momen suasana haru, semuanya saling ngobrol dengan penuh kehangatan dan penuh candaan. Hanya Andre dan Giselle yang masih merasa canggung satu sama lain. Giselle berusaha ingin mencari waktu berbicara dengan Andre, tapi Andre selalu mencoba menghindari dirinya. Kanaya melihat momen mereka berdua yang tampak canggung sangat jelas, Kanaya bisa melihat dari tatapan Giselle bahwa dia menyukai Andre. Tapi lebih dari perasaan suka, tepatnya tatapan penuh cinta yang dia miliki kepada Andre. Sangat berbeda sekali saat dia menatap Adrian waktu di hotel itu, tatapan Giselle ke Adrian malah penuh dengan ketakutan. Hal ini membuat Kanaya tertarik untuk menyelidikinya.


"Giselle, kamu bisa bantuan aku nyiapin makanan di ruang makan sana?" kata Kanaya lembut kepada Giselle. Giselle pun mengangguk tanda mengiyakan.


Mereka berdua menyiapkan diatas meja beberapa makanan yang kini sudah tersaji dan tertata rapi. Tak ada percakapan diantara keduanya, hanya saling diam. Namun Kanaya memperhatikan kalau Giselle sedang melamun,terlihat dia tidak fokus saat beraktifitas.


"Giselle boleh kita mengobrol berdua? " ajak Kanaya saat dia sudah berdiri disampinh Giselle. Dari tdai Giselle tidak tau kalau Kanaya berdiri disebelahnya dan memperhatikan dirinya.


"Eh, iya mba Kanaya. Mau ngomong apa? Tentang kak Adrian, aku nggak suka sama kak Adrian kok kak. Janji aku nggak bakal rebut kak Adria kok" kata Giselle asal tanpa tau apa maksud dari pertanyaan Kanaya tadi.


"Aku tidak membicarakan hal tersebut, kita ngobrol diatas aja belakang aja yuk. Cuma sebentar".


"Mba, bilangin ke mama makanannya sudah siap. Biar mereka makan duluan aja, kalau nanyain aku bilang aja lagi liatin Seline dibelakang ya" Kanaya berbicara kepada asisten rumah tangganya.


"Iya non" jawabnya mengangguk.


"Oh ya mba, anak-anak jam berapa diantar sama Jojon?".


"Kurang tau juga non, Mungkin sebentar lagi" kata asistennya sekali lagi


"Oh ya sudah, suruh semuanya makan dulu".


"Ayo Giselle kita belakang " ajak Kanaya kepada Giselle yang masih terperangah takjub dengan kediaman keluarga Kanaya yang sungguh luar biasa.


"Kamu suka sama Andre ya" Kanaya langsung berbicara langsung ke inti yang ingin diselidikinya. Giselle tidak menjawabnya, tapi gestur badannya dan raut wajahnya mengatakan keterkejutan. Apakah Kanaya sudah tau tentang semua ini? Apa oma Rachel sudah mengatakannya? Hanya itu yang terpikir dalam kepalanya.


"Jawabannya berarti iya, kalau mulutmu tidak mampu berbicara. Tapi kenapa kamu mau dijodohkan dengan Adrian kalau kamu menyukai Andre? " tanya Kanaya yang sangat penasaran.

__ADS_1


"Mama yang menjodohkan mba, aku cuma nurutin apa yang dia mau. Aku tidak ingin mengecewakan mama saja" jawab Giselle sedih mengingat tentang kejadian dia bertengkar dengan ibu sambungnya itu.


"Kok ada ya orang tua kaya gitu, maksain keinginan mereka tanpa memperdulikan kebahagiaan anaknya" kata Kanaya sedikit kesal dan geram.


"Dia mama tiriku mba, bukannya kak Kanaya sudah tau ya cerita tentang hidupku?" tanya Giselle yang sadar sepertinya Kanaya belum tau tentang pertengkaran dirinya dengan ibu sambungnya yang didengar oleh oma Rachel.


"Nggak tau, nggak ada yang pernah menceritakan tentang kamu".


"Aku tadi cuma nebak saja. Melihat kalian saling salah tingkah dan seperti sedang tarik ulur" kekeh Kanaya yang merasa lucu melihay mereka seperti anak remaja.


"Aku pikir tadi oma Rachel sudah cerita ke Kak Kanaya" katanya dengan bernafas lega. Setidaknya dia tidak merasa malu karena telah menjadi boneka mama tirinya.


"Apapun yang terjadi dengan hidupmu, kamu berhak untuk bahagia sesuai keinginanmu atau semua kehendak allah yang penting terbaik untuk dirimu" Kanaya tersenyum setelah mengucapkan hal itu, berharap Giselle bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk dia menjalani hidupnya nanti.


"Aku akan pergi ke singapore" kata Giselle membuat Kanaya terkejut. Langkah yang diambil Giselle ini merupakan keputusan yang sangat serius.


"Sebenarnya aku ikut kemari hanya untuk berpamitan sama Andre mba".


"Kalau kamu cinta dia, kamu harus perjuangkan dirinya" Kanaya mencoba memberikan semangat untuknya.


"Sudah terlambat kak, karena aku sudah mematahkan hatinya sejak menyetujui perjodohan dengan kak Adrian".


"Andre adalah cinta pertamaku dan itu tak akan pernah mudah aku lupakan".


"Dia yang selalu menjagaku, menghiburku, menemaniku, dia dan hanya dia yang ada untukku" Giselle terisak dan kemudian menangis kisah bahagianya bersama Andre dulu.


"Semuanya tidak akan pernah kembali lagi seperti semula kak" tangis Giselle pecah saat berads dalam pelukan Kanaya. Dia bisa merasakan betapa sedihnya perasaan Giselle untuk saat ini. Begitu sangat rapuh dan hancurnya hati Giselle, seakan dia tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Memang sulit untuk melepaskan orang yang kita cintai, apalagi setelah kita mengecewakan dirinya.

__ADS_1


"Tenang, semua pasti akan baik-baik saja semuanya. Aku akan menceritakan hal ini nanti kepada Andre" ujar Kanaya.


"Jangan kak, aku mohon jangan ka. Aku hanya ingin berpamitan dengannya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya lagi. Dia berhak bahagia dengan orang yang benar-benar mencintainya kak".


"Jangan ceritakan semuanya tadi kepada Andre kak, aku mohon" ucap Giselle dengan memohon.


"Iya aku tidak akan menceritakan hal ini kepada Andre".


"Janji ya kakkak"


"Iya aku janji atas nama anakku" janji Kanaya kepada Giselle.


"Sudah, sekarang jangan sedih lagi. Kita masuk ke dalam yuk" ajak Kanaya.


"Aku nanti saja dulu kak, aku ingin menenangkan diri dulu" ucap Giselle yang merasa kalau matanya sekarang tengah bengkak habis nangis tadi.


"Ya sudah kalau beguti aku temani kamu disini".


"Yuk kita jengukin Seline dulu" kata Kanaya.


"Seline.Siapa ka? Anak kakak? " tanya Giselle penasaran. Siapa coba yang berada pekarangan belakang, apakah pengurus taman belakang rumahnya?


"Nanti kamu tau. Liat saja nanti ya" kata Kanaya yang membuat Giselle tambah penasaran.


"Seline" panggil Kanaya pada sebuah kolam yang lumayan luas.


Tiba-tiba saja air kolam bergerak, ada sosok yang muncul dipermukaan. Melihat hal ini Giselle bergidik, dirinya yang sebelum ini merasa sedih kini sudah berganti suasana dengan perasaan takut. Seekor buaya tampak ke permukaan air. Kanaya yang melihat dia menampakkan diri tertawa senang, seolah-olah dia baru saja mendapat mainan baru.

__ADS_1


"Seline tambah besar ya, kangen mama nggak? " kata Kanaya pada buaya tersebut, seolah mengerti dia menyipratkan air kolam dengan menggunakan ekornya ke arah Kanaya. Kanaya terlihat begitu gembira menerima perlakuan dari buaya itu. Untung saja kolam ini diberikan pagar pada sampingnya, jika tidak mungkin Giselle sekarang tidak mampu untuk berdiri lagi.


"Hey, kenalin ini Giselle. Temannya mama" lagi-lagi dia menyipratkan air dengan ekornya ke arah Kanaya dan Giselle. Apakah seperti ini peliharaan orang-orang kaya? Seperti itulah mungkin pikiran Giselle saat ini setelah mengetahui sedikit sisi kehidupan Kanaya. Hanya ada satu kalimat pertanyaan di kepalanya "Apakah dia psikopat? ".


__ADS_2