
"Apakah kamu ingin menikahi adikku?" Sam terkejut mendengar pertanyaan dari Darren.
Wajah Sam seketika berubah jadi pucat. Dia tidak menyangka akan langsung diberikan pertanyaan sensitif ini. Belum mengobrol dengan Darren, Sam sudah dibuat ciut hanya dengan satu pertanyaan.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu tuli?" Darren seolah tidak suka dengan keterdiaman Sam. Padahal Sam bukannya tuli, melainkan menata degup jantungnya yang berdetak cepat karena gugup.
"Apa kurangnya adikku coba? Dia cantik, kaya, single. Dia juga pintar, meski kadang sedikit slow respon sih. But it's fine" Darren bersikap begitu santainya. Sedangkan kaki Sam seakan tidak berpijak lagi di atas bumi. Dia merasa kakinya kini telah mati rasa.
"Apa karena dia lebih tua darimu? I think you are older than her" Darren mengamati wajah Sam dan juga badannya.
"Iya kamu terlihat lebih tua dari Davina. Entahlah apa yang dia lihat dari dirimu ini. Handsome? Aku lebih handsome dari kamu. Rich? Jauh banget bedanya. Kamu pelet apa sih my hyeena itu?" dari tadi hanya Darren yang mencerocos berbicara. Kalau untuk ukuran seorang pria. Boleh dikatakan kalau Darren tipikal pria yang cerewet dan banyak bicara.
"Kamu ini selain tuli apa juga bisu? Kena sindrom apa sih kamu jadi diam membeku begini? Apa seperti ini kamu berbicara kepada yang lebih tua? Dengan Robert kamu begitu lancar sekali bicaranya" kembali Darren menanyai Sam yang masih terdiam.
Darren oh Darren. Bicara sama calon adik ipar seperti sedang negoisasi bisnis saja. Satu pertanyaan saja belum dijawab, ini diberi pertanyaan lainnya lagi. Sabar dulu dong.
"Mulutmu itu minta dijahit ya" Darren menatap tajam kepada Sam.
"Saya ingin melamar Davina" ucap Sam berbicara dengan cepat. Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa dia sadari. Sam dapat melihat sekilas senyuman Darren dari wajah dinginnya itu.
"Hah, kamu mau melamar adik kesayangan aku itu".
"Apa yang membuatmu ingin melamarnya?" Darren bertanya begitu serius.
__ADS_1
Sam terdiam kemudian dia menggelengkan kepalanya. Dia sendiri pun tidak yakin kenapa ada rasa ingin memiliki Davina seutuhnya. Untuk perasaanya sendiri Sam belum tau pasti. Tapi yang pasti, setiap kali dia melihat senyum Davina hatinya begitu berbunga-bunga.
"Memangnya kamu mau menyakiti hati adik saya?" Darren seperti hendak menelan Sam hidup-hidup.
"Bukan begitu maksudnya" Sam berusaha untuk menjelaskan. Tapi dia bingung harus merangkai kata seperti apa. Namun kemudian Sam melihat sosok Davina yang tengah berdiri di atas balkon. Menggunakan gaun tidurnya yang sepanjang lutut dengan bagian lengan terbuka.
"Cantiknya" gumam Sam tanpa dia sadari. Darren pun melirik ke arah mata Sam berhenti. Dia membuat senyuman di wajah tuanya itu.
"Bidadari tanpa sayap itu memang terlihat berbeda. Degup jantung ini rasanya berdetak sangat cepat. Seakan habis lari marathon seratus kilometer".
"Dia lebih indah dari bulan purnama yang bertahta megah di atas langit sana. Sinarnya lebih terang dari sinar sang rembulan. Senyumannya lebih manis dari madu yang disukai para lebah".
"Ah, ingin rasanya aku gapai dirimu dewi Athena" Sam benar-benar telah lupa kalau dia kini masih bersama dengan Darren. Dia mengeluarkan rasa yang ada dalam hatinya. Seolah tengah mencurahkan rasa hati kepada angin malam. Berharap semua yang dia ucapkan akan disampaikan sang angin.
Kini Darren tau, kalau sebenarnya Sam juga memiliki rasa yang sama. Tapi dia tidak berani mengungkapkan, mungkin lebih tepatnya dia tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan rasa dihatinya. Darren sadar jika selama ini adiknya lah yang begitu agresif terhadap Sam. Mungkin Sam membutuhkan tantangan untuk mendapatkan hati Davina dengan cara dia yang mengejarnya.
"Kejarlah dan gapai cintanya" ujar Darren.
"Tak perlu dikejar, karena dia yang sudah mengejar" Sam masih belum sadar dalam imajinasi percintaan versi dirinya. Darren jadi bingung dengan maksud Sam. Jika dia tidak ingin mengejar, terus kenapa dikejar oleh Davina dia seolah selalu menolak dan tak merespon. Sam selalu terlihat begitu dingin kepada Davina.
"Kamu maunya bagaimana?" tanya Darren.
"Ajari saya untuk tidak gugup didepannya" Sam meraih kedua tangan Darren, terlihat begitu mesra jika dilihat dari atas balkon. Kebetulan mata Davina menemukan dua sosok yang begitu dia kenal yang tengah asyik berduaan. Sam kemudian menciumi tangan Darren. Pertunjukkan yang nampak di depan matanya sungguh membuat Davina tidak percaya.
__ADS_1
"Kak, Darren belok?".
"Pantas saja Sam selalu menghindari aku. Ternyata dia" Davina menutup kedua mulutnya. Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya. Hatinya merasa terkhianati oleh sang kakak. Jika kakaknya memang belok, kenapa harus pria yang dia suka yang menjadi menjadi pasangannya.
"Apa mungkin Sam yang menyukai kak Darren? Bukan kak Darren yang menyukainya. Soalnya tangan Sam yang memegang tangan kak Darren. Dia juga yang mencium tangan kak Darren" gumam Davina sambil berjalan bolak balik di kamarnya dengan begitu gelisah.
"Oh ****. Kenapa harus kamu sih Sam yang mengambil hatiku?" Davina kini tampak begitu frustasi. Dua kali dia jatuh cinta kepada laki-laki. Dua-duanya ternyata bukan cowok yang normal.
"Wahai hati, kenapa kamu selalu menempatkan rasa dihati yang selalu salah orang?" Davina benar-benar frustasi dan juga kecewa.
Padahal apa yang dilihat Davina tadi adalah bentuk rasa bahagia Sam karena Darren merestuinya. Dia juga berjanji akan membantu Sam untuk mendapatkan Davina dengan cara yang gentleman. Darren menyuruh Sam untuk lebih perhatian dan mengejar Davina. Bukan dengan cara menghindarinya. Cewek yang agresif akan sedikit berkurang agresifnya jika lebih diagresifin.
"Biasanya tipe cewek kayak Davina itu jika diladeni, mereka akan merasa tertantang untuk beradu skill. Oleh sebab itu kamu jangan kalah sama dia" Darren seolah memberikan dukungan kepada Sam untuk benar-benar menjerat Davina dalam hidup Sam. Sam mengangguk dengan mantap atas wejangan dari Darren.
"Tapi satu hal lagi" Sam nampak berpikir untuk membicarakan hal yang menurut Sam sedikit dewasa.
"Apa lagi yang mengganjal dalam hati kamu?" Darren sedikit puyeng berhadapan dengan pria polos dan amatir seperti Sam ini.
"Apa lagi?" Sam tampak melirik kiri dan kanannya sebelum berbicara dengan Darren. Kemudian Sam membisikkan sesuatu di telinga Darren. Hal yang dibisikkan oleh Sam membuat Darren membuka matanya lebar. Sam hanya mengangguk mengiyakan tentang ucapannya barusan.
"Serius" Darren seolah tidak percaya. Kemudian dia mengulas sebuah senyuman.
"Kamu datang kepada orang yang tepat kalau tentang masalah tersebut. Aku adalah masternya, jadi kamu tidak perlu khawatir" Darren merasa begitu tertantang dengan kisah percintaan Sam dan juga Davina. Sekarang skillnya sebagai cowok terpopuler dimasanya dulu yang digilai oleh banyak wanita akan bangkit kembali. Semua jurus menarik perhatian wanita yang dia miliki akan segera dia turunkan kepada Sam sang calon adik iparnya.
__ADS_1