Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
part 14


__ADS_3

Orang bilang dalam kehidupan itu, kita mencintai seseorang dua kali saja. Cinta pertama dan terakhir. Namun, kebanyakan cinta pertama menjadi sebuah kenangan.


Bukan sesaat, melainkan kenangan seumur hidup. Sebenarnya dari cinta pertama kita bisa banyak belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi.


Cinta pertama memang indah. Sangat indah.


Dan ini yang aku rasakan.


Lelaki itu adalah cinta pertamaku. Tanpa aku sadari rasa itu telah tumbuh seiring berjalannya waktu. Meski cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Butuh banyak waktu untuk melupakan semua kenangan tentang. Terlalu banyak kenangan indah yang kita lalui. Hingga begitu sulit melupakan.


Bahkan saat kami terpisah pun tak ada sedikit kenangan yang hilang dari ingatan.


“Kamu yakin akan pulang?” tanya Kak Tomy.


Aku hanya bisa mengangguk. Setiap kali ingin berucap di hadapannya, selalu saja kedua mata ini memanas. Tak kuasa menahan perih di dada.


Selemah ini kah aku? Hanya karena cinta tak terbalas.


“Mey, sampai kapan kamu diemin Kakak?” ucapnya terdengar memelas.


Sampai kamu menjelaskan semuanya padaku. Apa maksud dari semua ini? Mengapa kamu deketin aku dan bilang kalau akan nepatin janji yang pernah terucap dulu.


Ya, seharusnya itu yang aku katakan. Sayangnya hanya bisa terucap dalam hati saja.


“Mey, jawab pertanyaan Kakak!”


Suasana malam ini begitu sunyi. Di sebuah taman dekat rumah Kak Tomy, kami duduk berdua. Menikmati udara malam bersama taburan bintang. Mereka yang menjadi saksi bisu rasa sakit ini.


Aku hanya menatap ke rerumputan. Menerawang jauh tentang semua yang telah terjadi. Sungguh tidak masuk di akal. Dia yang membuka hatiku karena dia alasan mengapa aku bertahan.


Lalu dengan mudahnya dia pergi meninggalkan ribuan pisau yang tertancap di hati. Saat rasa ini mulai yakin bahwa masa depanku adalah dia.


“Maaf, kalau Kaka ada salah.”


Aku masih diam membisu. Ingin meluapkan semuanya, tapi entah bagaimana caranya.


Berteriak? Memukul? Menangis?


Mungkin semua itu akan percumah, karena tidak akan mengubah keadaan. Dia akan menikahi wanita lain.


“Aku mau pulang, udah malem.” Aku berdiri lalu hendak melangkah.


Dia menarik tanganku. “Setidaknya berikan Kakak penjelasan dulu. Mengapa kamu seperti ini!”


Aku menghela napas. Menahan semua gejolak dalam hati.


“Seharusnya Kakak yang beri penjelasan! Bukan aku! Kenapa Kakak tega bohongi aku, Hah!”


Setidaknya ini sedikit mengurangi rasa sakit ini.


Kak Tomy menatapku heran. Lalu dia berdiri dan memelukku erat.

__ADS_1


Luruh sudah hati ini. Kelemahan yang membuat air mata menetes. Dalam pelukannya aku masih merasakan kenyamanan itu. Meski aku tahu aku akan merindukan moment ini.


“Maafkan Kakak, Mey. Kalau sikap Kakak membuatmu sesakit ini.”


Aku terus terisak dalam pelukannya. Membuat kaos yang di kenakan basah di bagian dada.


“Kakak akan jelasin semuanya.” Kak Tomy melepaskan pelukan.


“Kamu tenang ya. Jangan nangis lagi.” Dia menghapus air mataku.


“Nggak perlu, Kak. Aku udah tahu semuanya. Semoga Kakak bahagia dan acaranya lancar. Aku pulang dulu.”


Aku berlari tanpa memperdulikan Kak Tomy yang memanggil namaku.


Mungkin ini pertemuan dan pelukan terakhir. Selanjutnya aku tidak akan lagi berjumpa dengannya. Menghapus jejak tentang dirinya bersama kenangan masa lalu.


***


Pagi telah tiba, aku masih terjaga bersama air mata uang tak lagi bisa tertahan. Mata mungkin sudah terlihat sembab. Rasa kantuk telah kalah oleh rasa sakit ini.


Semua barang telah aku kemasi. Menunggu taksi online untuk mengantarku ke bandara.


“Mey, kamu mau kemana?” tanya ibu yang pertama kali melihatku keluar dari kamar membawa koper.


“Aku mau pulang, Bu. Sebentar lagi taksi datang.”


“Ya Allah, Mey. Wajahmu pucat, pulangnya besok aja ya?”


“Nggak, Bu. Aku sudah pesan tiket juga.”


“Nggak apa-apa, Bu. Aku bisa sendiri. Maafkan Mey ya, Bu. Selama di sini Mey ngerepotin Ibu.”


Ibu memelukku erat, setetes air mata itu mengalir dari sudut matanya.


“Mey, ibu nggak pernah merasa di reportin sama kamu. Ibu selalu menganggap kamu ini seperti anak ibu.”


“Terima kasih, Bu. Mey sayang banget sama Ibu.”


“Ah, sebentar ya, ibu bangunkan Tomy dulu.”


“Bu, jangang!” Aku mencegahnya.


Namun, Ibu telah masuk ke dalam kamar Kak Tomy, bersamaan dengan suara mesin mobil berhenti. Taksi yang kupesan telah datang.


Aku segera pergi dari rumah Kak Tomy tanpa berpamitan pada Ibu, Kak Tomy juga Raisa.


Selamat tinggal semuanya. Mungkin aku tidak akan pernah lagi merasakan memiliki seorang ibu.


***


[Mey, kamu dimana?] Pesan dari Kak Tomy.

__ADS_1


Aku mengabaikannya. Melanjutkan sarapan meski perut enggan menerima. Mual, badan mulai terasa dingin. Sepertinya kurang enak badan. Ingin beristirahat tapi mana mungkin aku kembali ke rumah Ibu.


“Nduk, kamu sakit?” tanya pemilik warung yang sedang aku kunjungi untuk menikmati sarapan.


“Nggak, Bu. Mungkin kurang istirahat aja.”


Pemilik warung itu menatapku lalu beralih ke koper yang kubawa.


“Mau kemana memangnya? Cari kost ya?”


“Nggak, Bu. Saya mau pulang ke Jakarta.”


“Oalah, sendiri? Kamu yakin? Wajahmu pucet banget lho, Nduk.”


Aku tersenyum. “Yakin, Bu. Dua jam lagi pesawat ke Jakarta datang.”


“Eh, masih lama. Istirahat di rumah ibu saja mau Ndak?”


“Sebelumnya terima kasih atas tawarannya. Tapi saja ada janji sama seseorang buat ketemuan.”


“Oh, ya sudah. Kalau gitu hati-hati ya, Nduk.”


Aku mengangguk. Rasanya masih nyaman di kota ini. Orangnya baik-baik. Terutama ibu warung makan itu. Meski belum kenal beliau sangat baik padaku.


Selesai menyantap sarapan dan menghabiskan dua gelas teh manis hangat, aku pergi tanpa tujuan. Kemana harus aku pergi selama menunggu jadwal pesawat.


Dua gelas teh tadi memberikan sedikit rasa enak di perut.


“Mey!” Suara seseorang memanggil namaku.


Aku menghentikan langkah. Mana mungkin ada yang mengenalku di sini selain ....


Kak Tomy?


“Mey, tunggu!” Dia berlari ke arahku.


Aku terus melangkah meski langkah ini terasa semakin melambat. Keringat bercucuran dan tubuh terasa lemas.


Perlahan panggilan itu terdengar menjauh bersamaan dengan pandanganku yang gelap. Semua menghilang berganti kegelapan. Terdengar samar suara Kak Tomy memanggil namaku. Lalu tak lagi terdengar apapun selain kegelapan ini.


Entah apa yang terjadi.


Next ....


Hay semuanya, thanks ya yang selalu kasih like di setiap partnya. Kalian baik banget.


Ingat ya. Jangan lupa vote, like, dan berikan hati.


Oh, ya. Dukung aku di cerita tentang anak SMA ya. Lagi ikutan lomba cerianya.


Klik aja profil aku, nanti bakal muncul pilihan cerita.

__ADS_1


Klik judul “ Aku, kau dan Cinta.” Dukung aku dalam lomba ya.


Thank you.


__ADS_2